Mau Week end kemana …?


 

Dear all of the Trooper lover and who love trekking agro tour… How are you…?!?

I am back to see you again. Hopely you so still loyal visit  our website “da Trooper Indonesia Bali website….

 

Week end kemana..?

Mungkin brother and sister sering bingung juga kalau mau ber-akhir pekan..

Mau ke mall hanya itu-itu saja, bosan…..  Mau ke ke pantai sudah terlalu sering….

Mau rendesvous di cafe…?   Uuugh jenuh….

.

Nah kalau sudah begitu kita akan bingung kemana ya akhir pekan ini..?

 

Kami dari “da Trooper Indonesia Bali memberikan tips untuk berakhir pekan. Ini adalah oleh-oleh kami setelah menjajal paket yang ditawarkan. Kami mencoba paket tours 2 hari satu malam, dengan budget yang relative murah untuk ukuran saya yang hanya pegawai rendahan di perusahaan swasta. Coba simak laporan selengkapnya dibawah ini….

 

Week end ke gunung sambil ber wisata ke farm atau perkebunan sayur mayur di Candikuning, Bedugul pasti akan sangat menarik.  Kami yakin sobat-sobat akan terpesona oleh keelokan alam Candikuning dengan kebun sayuran yang tertata rapi dan apik yang membuat mata betah berlama-lama menikmati pemandangan disana.  Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa di Candikuning tersimpan alam yang luar biasa elok dengan pemandangan yang indah, udara yang sejuk dan damainya hutan lindung di balik kebun sayuran yang ada.

 

Sebenarnya teman-teman  dari Trooper Indonesia Bali atau yang lebih dikenal dengan KTI Bali telah beberapa kali diberi kesempatan menjajal trek ditengah hutan ini,  dan menjelajahi alam dan country road di tengah perkebunan rakyat desa Candikuning, termasuk menjelajah ke tengah hutan lindung yang membentang seluas kurang lebih 255 hektar dikaki sebelah timur Gunung Batukaru dengan panjang rute kurang lebih 3.5 km dengan waktu tempuh dari start kurang lebih 2 jam. Cuaca alam disini sangat sejuk dengan ketinggian kurang lebih 1.350 meter diatas permukaan laut membuat udara terasa sejuk nyaman dan alam yang masih natural membuat kita merasa damai dan tenteram.

 

Untuk membantu sobat atau siapa saja yang ingin menikmati alam pegunungan dengan kebun sayuran yang membentang dan tertata apik, pada tanggal 12 Agustus yang lalu kami telah mencoba paket tour yang ditawarkan dan berikut ini adalah oleh-olehnya yang kami sajikan khusus buat pencinta da Trooper dan para penyuka trekking dan adventure.

 

Untuk mengetahui dan dapat menikpmati semua paket yang ditawarkan, kami memilih paket 2 days 1 night tour. Enaknya biaya dapat di sesuaikan dengan budget para sobat dengan kepuasan yang tak akan terlupakan sepanjang hidup para sobat.

Paket Tours minimal untuk 4 orang, dengan fasilitas kendaraan Trooper 4WD yang. Paket tour 2 days 1 night termasuk 4 kali Snack,  2 kali makan siang, 1 kali makan malam dengan barbeque dan api unggun, cendera mata,  Sobat juga bisa menjajal Trooper 4WD jika ingin merasakan bagaimana mengemudi dan merasakan kenyamanan dan ketangguhan SUV 4WD Trooper.  

 

 

Paket 2 days Tours. 07.30 to 16.00 (34 hours)

 

Berangkat dari Denpasar pukul 7.30 WITA. Rute – Denpasar – Kintamani – Baturiti.

 

Perjalanan ke Kintamani dari Denpasar ditempuh dalam waktu 1 jam 45 menit

Kurang lebih pukul 10.15 kami tiba di Penelokan, Kintamani. Setelah menikmati  indahnya pemandangan Kintamani dan Gunung Batur dan hamparan kebun sayurannya selama kurang lebih 30 menit kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan pegunungan bukit Kintamani menuju ke  bukit Penulisan dan seterusnya menuju jembatan tertinggi di Asia di pegunungan didesa Plaga yang melintas diatas tukad Bangkung. Jembatan Tukad Bangkung ini diklaim adalah merupakan jembatan tertinggi di asia dengan ketinggian dari dasar sungai setinggi 745 meter dengan panjang 450 meter menghubungkan desa Plaga dengan bukit Penulisan, Kintamani. Sepanjang perjalanan dari Kintamani ke desa Plaga kami disuguhi pemandangan alam yang sangat elok dengan kebun sayuran dan pemandangan alam yang indah, dengan jalan yang berkelak-kelok dan kebun jeruk di kiri kanan jalan.

 

Kurang lebih pukul 12.15 dari jembatan tertinggi di Asia ini perjalanan dilanjutkan ke desa Baturiti dengan melalui country road dengan pemandangan yang indah disepanjang jalan, melewati hamparan sawah dan kebun cabai yang membentang luas, melewati jalan desa yang berkelak kelok dengan udara yang sejuk.

 

Pukul 13.15 kami memasuki desa Baturiti untuk selanjutnya menuju Mentari Restaurant yang terletak Candikuning dipinggir jalan Denpasar – Singaraja di seberang Danau Beratan.. Pukul 13.35 kami telah duduk di meja Mentari Restaurant untuk makan siang dengan buffet lunch. yang telah termasuk didalam paket tour.

 

Dengan menu yang nikmat dan lengkap, Dine in di Mentari Restauratan akan memberikan sobat pengalaman makan siang yang sangat luar biasa. Terletak diatas ketinggian di bukit sisi barat jalan raya Denpasar Singaraja di seberang Danau Beratan. Dengan ketinggian kurang lebih 1.350 meter diatas permukaan laut, membuat udara terasa sejuk nyaman. Duduk di Mentari Restaurant sambil menikmati hidangan makan siang sungguh merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Sambil menikmati hidangan kami dapat melihat aktifitas water sport yang ada di danau, seperti Parasailing, Boat, Jet skiing, dan fishing. Sementara di kejauhan sana kita bisa melihat bukit diseberang danau yang menghijau menambah indahnya panorama.

 

Puas menikmati hidangan makan siang dan kopi perjalanan dilanjutkan untuk menikmati alam pedalaman Candikuning dengan trekking melewati country road untuk  melihat-lihat kebun strawberry dan aneka sayuran, seperti Tomat, Wortel, Kentang, Cabbage, Brocolli, Kaelan, Sawi hijau, Pree, Daun bawang, Arcis, dan banyak lagi berbagai jenis sayuran lainnya yang ditanam oleh masyarakat Candikuning dan sekitarnya.

 

Dari sini perjalanan dilanjutkan untuk light of road di tengah hutan lindung  dengan panjang rute kurang lebih 3.5 km. Peserta dapat menjajal kendaraan SUV Trooper  4WD yang nyaman namun tangguh. Perjalanan light off road berdurasi kuarng lebih 2 jam.

Pukul 17.00 kita akan ke base camp di Buyan Camping Ground  yang terletak di tengah hutan lindung dipinggir Danau Buyan untuk beristirahat sejenak. Buyan Camping Ground 1 mempunyai tempat MCK yang sangat memadai.

 

Pukul 19.00 kami bersiap untuk menikmati makan malam dengan barbeque dan api unggun dengan menu ikan bakar air tawar, atau seafood, (optional on request) ala petualang.

 

Peserta dipersilahkan memilih ikan yang diinginkan dan membakarnya sendiri pada griller / api yang telah disediakan, atau bisa minta untuk dimasakkan. Makan malam dengan suasana pegunungan dipinggir danau sambil berdiang di api unggun sungguh terasa nikmat dan menjadi pengalaman dan kenangan yang sangat indah bagi kami.

 

Oh ya mengikuti tour ini, jangan lupa membawa jaket serta kaos tebal untuk megusir dingin, kalau punya syaal dan topi wool dengan penutup telinga akan banyak membantu kita menahan hawa dingin. Suhu pada siang hari mencapai 23 derajat celcius sementara malam hari turun sangat ekstrem hingga dibawah 18 derajat celcius. So jaket dan kaos kaki tebal mutlak dibutuhkan.

 

Keesokan harinya setelah mandi dan berbersih-bersih, breakfast dengan menu nasi goreng, kopi atau teh panas, serta hidangan pencuci mulut berupa buah segar disediakan dan di set-up dipinggir danau. Wow sungguh eksotis dan nikmat rasanya makan pagi sambil menikmati pemandangan danau Buyan dengan latar belakang Gunung Batukaru.   

 

Perjalanan selanjutnya adalah  jalan-jalan ke atas bukit untuk menikmati pemandangan bukit dan gunung serta lembah dengan pemandangan danau Tamblingan di bawah sana. Dengan mengendarai Tooper kita akan mendaki  ke atas ke desa Wanagiri, dimana Danau Tamblingan akan berada dibawah kita dengan kecuraman kurang lebih 500 meter dibawah. Pemandangan disinipun luar biasa indahnya.  Perjalanan akan dilanjutkan menyusuri jalan kecil asphalt menuju desa Munduk. Pemandangan sepanjang jalan ini sangat elok, dengan kebun cengkeh dan kopi di sisi kiri dan kanan. Dengan ketinggian kurang lebih 1.700 meter diatas permukaan laut udara disini masih cukup dingin., sesekali kabut turun didepan kami.

 

Pukul 10.00 kita diajak istirahat di pinggir tebing dengan pemandangan alam yang sungguh-sungguh elok. Nun di kejauhan kita bisa melihat megahnya gunung Batukaru dengan bukit-bukit yang menghijau. Sementara pohon cengkeh dan pohon kopi menyapa kita dengan gemulai dedaunannya yang ditiup angin sepoi-sepoi.  Wah benar-benar merupakan pengalaman yang indah dalam hidup.

 

Perjalanan masih diteruskan ke utara menembus desa Banyuatis ditengah-tengah perkampungan yang padat. Banyak penginapan disini yang acap kali dikunjungi oleh turist-turis dari luar negeri. Mereka menginap disini hingga beberapa minggu.

 

Pukul 12.15 kita kembali ke Candikuning, Bedugul untuk santap siang di Mentari Restaurant. Buffet lunch dengan menu Continental dan Indonesia.

 

Pukul 14.30 kita diajak ke pasar tradisional Candikuning, yang terletak beberapa ratus meter dari Mentari Restaurant untuk melihat-lihat pasar tradisional dan jika ingin membeli cendera mata berupa handicraft dan pernak-pernik assesori wanita, untuk oleh-oleh juga tersedia.

Kurang lebih pukul 15.00 perjalanan kembali ke Denpasar melalui jalan utama untuk kembali ke Denpasar.

 

Wah pengalaman trekking ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam yang indah bagi kami, dan anak-anaka kami. Rasanya kami ingin kembali untuk menmpuh trek yang kami lalui. Begitulah kami jadi ketagihan untuk kembali ke trek.

 

Nah jika sobat ingin ber-week end menikmati pemandangan alam dengan kebun sayuran yang beraneka ragam di Bedugul silahkan kontak kami. Komunitas Trooper Indonesia atau disingkat KTI Bali. Silahkan menghubungi Hot line kami di nomor 081 657 2800 atau e-mail ditta@yahoo.com dengan senang hati kami akan meng-arrange liburan sobat dengan

 

Semoga bermanfaat…

 

 

Salam.

 

 

 

 

Dewa Dwipayana

DK999YQ

Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Adventure to the heart of Pengotan village, Bangli regency (part 3)


Hi my beloved friends…  How are you today..?

Hope I finds you well.  I am back again to continue the story of our last adventure to Pengotan, Bangli regency. Please enjoy….!

Last synopsys :

We start from the meeting point at 8.45 WITA by normal cruise following Jl. Cok Agung Trisna, Jalan Puputan, Jalan Hang Tuah, and entering Jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai Padang Galak, U turn to Jalan Ida Bagus Mantra, Ketewel and will use the regular route to the east side of Gianyar City thru Tulikup village.

I am pretty happy to realized that so far the trip are in order as like what we plan.

Now about the route.

This is the first touring of KTI Bali after a few months. I personally very happy that this journey can be a real one as I am not pretty sure that this plan can be real due to most of the members are busy with their own activities or with their family. I really really happy with this journey.

Driving on the way...

 

 

 

 

 

 

We are still in Jalan By Pass Tohpati – Nusa Dua, when my mobile rang. It was from Pak Ketut Suarno of Baliwoso. He asking do we have move on to Pengotan?

“Selamat pagi Pak Dewa. Where is the position of the convoy this time…?” He asks me.

“Selamat pagi Pak Ketut. Thank you for your phone call. We are on the way and still in Jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai and will turn to Jl. Ida Bagus Mantra, Ketewel.” I said over the phone.

“Ach OK. Just follow the main road and find direction to Tulikup village after the cross road of Pantai Saba.” He said again.

“Please come to my home first. We stop over in my home and had a coffee break before continue the journey”. He mentions.

“Ok. Pak Ketut. It could be will reach your home in an hour”. I said while I still controlling the steering wheel to fix in the right trek forward.

We driving with normal cruise to avoid any accident as the road quiet crowded.

We are now entering Jalan Ida Bagus Mantra which is the ending of the Denpasar city against Gianyar regency. Jalan Ida Bagus Mantra is built to make a short cut to Gianyar, Klungkung and Karangasem regency. Thru this way we may each Klungkung or Semarapura and the last east of Bali Island regency Karangasem faster. Almost 2 hours faster than if we must go thru the regular main road. Before this road built, we must go thru Gianyar city which is a smaller wide road than this road. The name of Professor Ida Bagus Mantra taken from the name of the second Governor of Bali.

Host by Pak Ketut Suarno aka nang Gatot

Along of this road, now a days is become a center of the stone carved and  furniture antique and some other goods for the Balinese art. Even now also there is plenty of the traditional “warong “ which serve the fish grilled and “fish satay” called “sate languan” with serve in hot spicy taste. We can try it later on just to experience. Hah hah.

Back to the journey, we are now entering the road to the Tulikup village, which is the short cut to Bangli regency. The digital clock in the console box displayed 9.15 Bali time, while take to another half an hour to reach Pengotan village. We will stop to Pak Ketut Suarno home as he invite just now.

Coffee break with pure black balinese coffee and fries sweet potato

 

We continue driving passing the Tulikup village and entering the Taman Bangli in the normal cruise about 60 kilometers per hour in speed. And in a few minutes we entering the capitol of Bangli regency, and start to slowly because of the activities of the people. We just passing the hospital and continuing the driving out of the city and start entering the Kubu village. We expecting will reach Pengotan village in the next 25 minutes.

To avoid miss direction, I call Pak Ketut Suarno and explaining that we just passing Kubu village and ask his opinion.

“ Pak Ketut we are now in Kubu village. Please advise me how long will reach your home and what is the signage of your home.” I asked hm.

“Well Pak Dewa. Just follow the main road. It is closed now. It is only about 10 kilometers a head. You will find the gasoline station in your left side. That is the Pengotan village”. He said again.

“Just continue a head. I will ask my staff to waiting in front of my home area. There is a Daihatsu Taft park in front of my home and one of my staff waiting for your there.” He said again.

“Ah, OK Pak Ketut. It is great…” I replied.

I then inform to all the members thru the radio communication about the clue and to have a look in front on the left side.

The adventure start from here....

In about 10 minuet, finally we found the gasoline in our left side and we then slowly driving and yes about 2 kilometers after the Gasoline Station we then see the Taft Jeep parking in the left side of the main road, and one guy raise his hand from the jeep and give us a sign to turn and entering the yard of the house. Finally we reach Pak Ketut home at 9.37 Bali time.

Start in1000 meters above the sea level and increasing...

After parking our vehicle we then jump out of the car and Pak Ketut Suarno welcoming us and we shaking hands and entering the home. The home is in a natural as like most people village has, with a wide yard some building. There is a kitchen building in the south side, the main building  of the beds room in the east side and in the north is a building call “bale daje” mostly use to host the guests. There also a antique building with in our forefather use to safe the paddy called “jineng “ or “klumpu” or “lumbung” in bahasa.

Pak Ketut and his staff and relative escort us to “bale daje”. And in few minutes we have been preparing a hot original Balinese coffee and two plate of Balinese French fries” Hah hah hah, It is the fries sweet potato taken from Pak Ketut Suarno field. It was planted in organic. There is none chemical used for every plantation in Pengotan.

Host by Pak Ketut Suarno aka nang Gatot

We enjoy the sweet potato as taste so sweet nice. Companying with hot Balinese black coffee is delicious and make us more fresh with spirit., while we discuss and talking about our trip from Denpasar to Pengotan.

We quickly had the coffee and the fries sweet potato as we must a hurry the adventure tour as we plan to have a lunch in Baliwoso camping site at 13.00 Bali time.

We take some picture in here and prepare to the journey. I suggest a ladies and the children to the rest room to avoid stop in the forest to find the rest room.

Before start, I ask Andhika to take my seat to drive my Black Trooper as I need his opinion about the engine, the suspension and the torsion in order to make a list of what must improve later on.

By 9.53 Bali time we start move from Pak Ketut Suarno to the trek and realized we must back trek to the Gasoline Station and start the journey from the pathways nearby. Apparently, the pathways seem declining and surrounding by the cabbage and the tangerine field. We driving slowly to keep it on the trek as well to maintain the distance among the vehicle.

Entering the forest

 

Pak Ketut Suarno staff lead in front of us riding Kawasaki D-Tracker as a pathfinder and a companying by one guy as a photographer and cameraman to filming the journey.

So far so good and every things are run smoothly as like what we plan earlier. We keep rolling and communicate each other on the 2 meter band radio communication.

The surround seem very interesting fresh and greeny as the green green grass and green trees everywhere. We keep rolling while I take a picture by my mobile and SLR to memorize the journey.

In front of me is Pak Rumpika with his Grey Trooper powered by C223 standard. He bring all of his family, wife, and 2 children and 1 infant. Back from this journey he will continue to visit his family in other village of Bangli regency in Sulahan, about a few kilometers from Pengotan. He very enthusiast join to this trip.  

The trek

While, following in my back, is Putu Andy with his Series Long Land Rover green army with the original engine. I am quiet wondering when in the main road, his Landy run so fast and seem so powerful and I just thought that it have been swap the engine by 4JB1T or others.

Deep inside of the forest

While on the last is Pak Agung with his FJ40 Red Maroon. Not worries with FJ40 a legendary Land Cruiser. He drives pretty cool and climbs the trek easily. He he he…

We have been drive for about half an hour in the trek. So far the trek is a dust and a bit wet, then with a coral mixed the sand and in other part only the wet grass with the dew on it.

Suddenly, Pak Ketut stop his Silver Hi Roof Trooper which is make all of us stop and watch what is going on. I jump out of the Trooper and walk to reach him, but he only need to check whether all the members are safe.  He he he..

The grass..

After almost 1 and half an hour, we out from the forest and entering the asphalt with surrounding by the corn field and see Pak Ketut stop his Hi Roof Silver Trooper and following by Yande with his Hi Roof  Black Trooper. While 3 Taft of Pak Ketut staff seem already been parking there.

Stop over in the corn field for coffee break

 

 

 

 

 

 

We stop the car and jump out and come to Pak Ketut. He smile and approaching me and said :

“Lets take a rest and coffee break in this cottage.” He said.

“This is my brother field.” “We take a coffee break and a steam sweet corn prepared by my brother.” He said. 

We stop and take a coffee and steam corn to refresh.

Coffee break with steam corn in the field

We enjoy a steam corn and a coffee for refresehment. Thanks for the coffee break Pak Ketut. We enjoy it very much yuor courtessy and the sweet corn. It is really really amazing day we have.

Every body are happy enjoying the coffee break

 

 

 

 

 

 

 

(to be continued)

Cheers,

 

Dewa Dipayana

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Adventure to the heart of Pengotan village, Bangli regency (part 2)


Hi all of my beloved da Trooper Indonesia friends. How are you today…? Hope every things are well with you.

I am back again to continue the story of the adventure to the heart of Pengotan village in Bangli regency.

Last synopsis  :

But, the day after, some friends call me and propose to delay the journey until the next week or on 20 May 2012 as he and family really want to join, but have some works that cannot wait to do this week.  I than once again invite them and make sure if they really wants to join and asked to list how many person will join as Pak Ketut wants to know how many person will join in order to enable prepare a meals for coffee break and the lunch, to avoid the problem of the meals less or too much.

Once again then I call Pak Ketut and explain the situation and ask his approval to reschedule the tour and luckily he approved with pleasant. And now the time to prepare our vehicle and ourselves too.

I personally almost un patient to go to Pengotan as it was my pleasure to do the adventure with my Black Trooper after long time not do so.

About Pengotan village.

Pengotan village is one of the ancient old original Balinese village call “Bali Aga”. The village placed very closed with Kintamani and still in the same area with popular active volcanic mountain in Bali, Mount Batur. The situation is about 900 to 1100 meters above the sea level, hence make the weather pretty cold nice which is about 23 to 26 degrees in the day time and will significantly drop till 16 to 19 degrees at the night and will make a wet of the grass and the trees trunk when the morning has broken.

It is not difficult to find the village, it’s only driving for about 1 to 2 hours to reaches. There is two route we can choice. The first route is the regular route thru the east side of Gianyar City. While the other route is thru the famous art village thru Ubud where we stop over to buy some things of the handycraft.

Pengotan village population with about 700 people with most of them are a farmer. They planting cabbage, tangerine, carrot, sweet potatos, green bean and some of other plantation.

Pengotan village pretty good to visit especially for the people who love to learn the traditional original Balinese culture. Pengotan people are originate Balinese. Meaning, they are not came from Java during the Majapahit Royal Kingdom. They are pure Balinese. Pengotan village a holy priest leader who assign  because she or he has a special power and knowledge about the supra natural where the people belief their leader will help to communicate with their gods and goddess in order to keep them secure and give them all the things needed in their life. Their leader is really a special wise person and has a good talent to get in touch with the god and goddess who can arrange the structure of principle of life for the people of Pengotan village to keep their village safely.

In the structure of the principle of life of Pengotan people, there is a unique tradition and culture which could not be found in other places or village. There is the Mass Wedding Ceremony which could be join about 40 to 70 wedding couple blessing during the wedding ceremony. There is also the “mass cremation for the people of Pengotan. The ceremony will held twice a year according to the Balinese calendar. According to Pak Ketut Suarno or famous called as Nang Gatot who also one of the village organizer, the Mass Wedding ceremony ritual will held within March to April every year, while the Mass Cremation will held within February every year in accordance with the Balinese calendar. But the exact date are not mandatory. That’s way not all of the visitor has a chance to watch the ceremony, but nevertheless the Pengotan still interesting to visit. He he he…

Okay, that is the story of the Pengotan village. Now back to our journey.

After fixing the plan and arrange all the things, I send short message to all friends who wants to join and ask their commitment not to cancel or inform me in advance if there is any changes of the members.

And yes on 11 May 2012 I records that there is 6 Trooper, 1 Chevy Luv 4 X 4 and 2 land Rover Series long on the list, with about 23 pax including 17 adults and 6 children. Me with my Black Trooper DK 999 YQ powered by 4ZD1 standard, still wearing old tire R15/7.5″ Rim with  Achilles Desert Hawk in 60% condition occupying by my self as a navigator, Andhika as pilot, my wife Ditta in the center raw seat.  An then Pak Komang Artayasa with his Blue LWB Trooper 3 doors powered by 4JB1T powerful engine acompanying by his brother and his 2 children, Yande Suartika with his Hi Roof Black Trooper with license DK 777 CL powered by 4ZD1 standard using 15R with 30” tire BS/MT in good condition above then 80% condition, Gusti Made Rumpika with his Grey LWB 5 doors powered by C223 standard wearing R15 BS A/T new tire let say still 95% because change a few before bring all of his family, wife and 3 children, Putu Andy with his Landy long with gasoline engine standard bring his family, wife and 3 children also 1 adult of his relative and Pak Agung a friend of Putu Andy with hard Top 79 with engine swap to diesel from Toyota Dyna accompanying by his relative. While 3 members, Bli Gde Roda, Pak Murya and Pak Ketut Uban could not join because they have work which could not wait to do. So there will be 6 vehicle going to join adventure to Pengotan village Bangli regency this morning.

As discuss earlier, the meeting point is in gasoline station in Jl. Cok Agung Tresna, nearby the TVRI Bali station and we prepare to be there by 7.30 WITA.

While I and my wife stay in my “kampong village” since last night has get up by 5.30 am WITA as we must do an offering to our family temple in our forefather house before leaving to Denpasar.

I get up early in the morning and get a shower after my wife finish and get ready at 6.00 WITA. I have prepare my Black Trooper since yesterday noon and checked  the engine bay to make sure everythings are alright. Check the water coolant, the deep stick engine oil, liquid of the battery and seem every things are OK. I start the engine and let it warming up in it’s garage while I preparing the logistic to carry on for the trip.

By 6.05 WITA we leave my home village and moving to our forefather house nearby to praying as today is the holly day for Hindu. Just take about 20 minutes, we than move on to Denpasar. From my kampong in Sam Sam village in Tabanan regency take time about 45 minutes if no traffic jam. My kampong placed in main road of Denpasar – Gilimanuk which is the only road to and from Denpasar to Java. I quiet afraid that the road will crowded and traffic jam by the trucks full loaded which usually will cause move very slow and makes the traffic jam on this road. It is often happen especially a long on the road nearby my village.

By 6.30 WITA. I ‘ve been in Jalan By Pass Kediri – Pesiapan and facing a traffic jam because of there is a big truck loaded a heavy items move very slowly and causing the other vehicle must quieting on it’s back including me. I try to passing but, from the opposite there is big bus also want to passing the other vehicle and make me must get back and quieting again. It’s really really stagg finally as the trucks in front of me seem facing a problem with the loaded as it seem it is over loaded and it move become more slowly now because of the inclining road.

Suddenly my mobile rang, but for short message sign. I pick up the hand set and watching the display and  it was from Andhika, stating that he is on the way to Renon.

I still driving in a normal cruise when the mobile ringing again. I pick up the hand set and it was from Pak Komang Arthayasa asking where is the meeting point, as there is no body in Gasoline Station that we mention earlier. I just inform that it could be most of the friends still on the way and suggest to waiting for a while, and inform that I am also on the way and take about another 10 minutes to arrive there.

I flash look at the digital clock in console box which is already been shown 7.45 WITA while we still in Tabanan regency and need another 18 kilometers to ward to reach Jalan Cok Agung Tresna in Renon, Denpasar. Just after facing the traffic light in Kediri to Tanah Lot, I can passing the truck and could push the pedal more fast.

Luckily in Kapal village and in Beringkit traditional market the road not really crowded as usual, so I can driving more faster to catch the time to be arrive in Renon in time.

Suddenly my mobile ringing gain and it was from Yande Suartika asking where is the meeting point exactly as he felt he was late. On that time I already been in Jalan Cok Agung Tresna about a few seconds from the meeting points.

Pak Putu Andy also call me informing that he start slowly ahead as need to buy some foods for the children in the near mart in front.He joining by Pak Agung with his Red Maroon FJ 40.

By 8.27 WITA I arrive at the meeting point and drop to the gasoline station to fill the fuel tank fully. And Yande follow me to fill the fuel tank. Upon fully the fuel tank, I ask my wife to line up with the friends who already waiting while I need to visit a rest room.It seem there is Pak Komang Artayasa Trooper, Pak Rumpika already been park there.

We start from the meeting point at 8.45 WITA by normal cruise following Jl. Cok Agung Trisna, Jalan Puputan, Jalan Hang Tuah, and entering Jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai Padang Galak, U turn to Jalan Ida Bagus Mantra, Ketewel and will use the regular route to the east side of Gianyar City thru Tulikup village.

I am pretty happy to realized that so far the trip are in order as like what we plan.

(to be continue)

please visit this web as the story will continue….

Cheers,

Dewa Dwipayana

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Sejarah singkat kecintaan saya terhadap SUV Trooper


  Dear all friends of mine,

  Sedikit cerita asal muasal

  saya mati-matian mencintai
  SUV Trooper. Dulu semasa
  kuliah ada teman bapak saya
  yang kontraktor sering
  bertamu kerumah dengan
  membawa Trooper Diesel
  LWB3 pintu warna Hijau
  metalic.
 
Trooper terlihat begitu gagah dan sosoknya yang tampan membuat saya senang melihat dan sesekali duduk dikabinnya. He he he
 
Hanya saja karena karena pintunya yang hanya 3, 2 di kiri dan 1 di kanan di kabin supir, membuat saya lebih tertarik dengan CJ 7 Biru Tua dengan atap fiber warna krem milik tetangga yang bekerja di Departement Perindustrian.
 
Saat itu masih lebih senang mengendarai Holden Torana dan Premier tahun 1973 milik Bapak. Masih merasa lebih nyaman dengan sedan.

Sampai setelah menikahpun saya  masih lebih senang dengan jenis sedan, walau sempat juga ganti kendaraan jenis jip.

 
Sempat punya jip mulai dari Jimny, FJ Hardtop dan terakhir Escudo 94, namun karena kenyamanannya terasa kurang untuk aktifitas sehari-hari, akhirnya karena kebutuhan keluarga, awal tahun 2000 saya memutuskan untuk pakai Minibus dengan bonet keluaran Mitsubishi yaitu Mitsubishi Kuda bermesin diesel yang mesti  indent 2 bulan sebelum diboyong ke garasi di rumah.

Seiring dengan perjalanan waktu dan beberapa kali melihat Trooper yang wara wiri di jalan,  rasa penasaran terhadap Chevrolet Trooper semakin memanggil sehingga akhirnya pada pertengahan tahun 2003 datanglah satu kesempatan untuk mencoba satu Trooper Bensin Hi Roof Silver di Bandung, saat saya jalan-jalan ke Bandung dengan seorang teman.

Begitu mencoba putar-putar di daerah Budi Luhur saya langsung jatuh cinta kepada si Silver ini. What a great car..!!!   I have to get it one… !! I say to my self…
Begitulah, akhirnya saya putuskan untuk memboyong pulang si Silver.
Akhirnya setelah tanya tanya dan dengansedikit rayuan dari teman saya, si Silver Trooper Hi Roof itu berhasil juga saya pinang.  He he he..
 
Hari itu juga setelah menyelesaikan segala urusan pembayaran, sekitar pukul 3 sore waktu setempat sayapun pulang ke tempat pemondokan di Bandung dan dijalan sempat membeli solder dan timah untuk menyolder konektor kabel antena radio komunikasi VHF (2 meteran) yang putus agar bisa di pasang dan dipakai untuk ngobrol selama perjalanan dari Bandung ke Bali besok.
Sebelum pulang sempat mampir juga di Banceuy pasang lampu kabut opsional agar lebih terang di jalan saat berkendara pada malam hari, mengingat perjalan kami dari Bandung ke Bali cukup jauh dan mungkin akan kemalaman di jalan.
 
 Sesampai di pemondokan saya segera memasang rig radio komunikasi Icom IC 228H yang saya bawa dari Bali. Perangkat radio komunikasi selalu saya pasang disemua kendaraan. Bagi saya radio komunikasi memang cukup penting melengkapi kendaraan. Boleh dikata sejak saya mengenal radio komunikasi saat SMA dulu, saya tidak bisa lepas dari perangkat yang satu ini, apalagi saya masih cukup aktif di dua oranisasi radio komunikasi yang ada di negara kita ini. Perangkat radio komunikasi sangat membantu kita dalam perjalanan jika tiba-tiba tersesat ataupun sekedar menemani ngobrol dengan pengguna radio lain selama dalam perjalanan kita.
Keesokan harinya pukul 4.00 subuh kami sudah meninggalkan kota Bandung. Selama perjalanan kami merasa tenang karena si Silver terasa adem, karena AC nya dingin euy… Maklum sudah double blower. he he he he…

Sempat makan siang di Tasikmalaya dengan menu pepes ikan emas dan lalapan, untuk menyegarkan badan.
Ternyata begitu memasuki perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah hujan turun luar biasa lebat sehingga wifer kaca tidak mampu menghapus kaca dengan cepat. Terasa berat kipas kaca itu menyapu kaca karena tebalnya curah hujan.

Untunglah hujan tidak terlalu lama. Menjelang sore kami memasuki Yogyakarta, kamipun beristirahat untuk makan malam sekitar 1/2 jam. Setelah usai makan kami meneruskan perjalanan dan mungkin tidak akan berhenti lagi dan akan tetap berkendara sejauh yang kami bisa.

Pukul 11.15 malam kami memasuki Probolinggo, dan rasanya kami tidak mampu lagi untuk meneruskan perjalanan karena rasa kantuk dan lelah yang teramat sangat.  Akhirnya kami putuskan untuk beristirahat di penginapan di Probolinggo.

Keesokan harinya, pukul 6.30 pagi kami sudah terbangun. Setelah mandi dan sarapan pagi kami segera meninggalkan penginapan dan memacu si Silver keluar dari Probolinggo. Problinggo – Ketapang mungkin akan kami tempuh kurang lebih 5 jam, dan penyeberangan sekitar 1 jam dan kami prediksi akan tiba di Gilimanuk sekitar pukul 2 siang.

Dari Gilimanuk rencananya kami akan ke Singaraja untuk mengantar teman yang membawa seperangkat barang. Gilimanuk – Singaraja akan ditempuh kurang lebih 2 sampai 3 jam perjalanan. Selanjutnya menjemput istri di desa Busungbiu kurang lebih 30 kilometer dari kota Singaraja. Wah akan malam juga tiba di rumah saya Denpasar.

Benar saja, pukul 1.25 kami telah antre di Ketapang untuk menyeberang ke Gilimanuk. Pukul 2.10 kami baru meninggalkan dermaga Ketapang untuk menyebrangi Selat Bali menuju pelabuhan Gilimanuk. Pukul 2.55 kami keluar dari perut ferry dan menyusuri jalan raya Gilimanuk ke arah Pantai Lovina, Singaraja.

Namun setelah keluar dari perut ferry si Silver terasa berat tidak seringan saat baru keluar dari kota Bandung. Setelah di cek dengan perasaan, rasanya kampas kopling sudah aus sehingga mesin terasa ngeden saat di di gas. Tapi saya tetap meneruskan perjalanan ke Singaraja dan berdoa agar bisa tiba dengan selamat tanpa halangan yang berarti, mengingat perjalana masih cukup jauh pulang ke Denpasar nanti.

Pukul 5.36 kamipun tiba di Singaraja dan menurunkan barang-barang bawaan teman, sehingga beban si Silver jadi lebih ringan. Setelah menurunkan teman tadi, saya melanjutkan perjalanan ke desa Busungbiu untuk menjemput istri dan anak-anak dirumah mertua. Jalanan mulai berliku dan terkadang dengan tanjakan tajam serta curam. Ini yang saya khawatirkan, mengingat kondisi si Silver tidak fit lagi kaena kampas kopling yang sudah aus, namun tidaka da jalan lain selain harus meneruskan perjalanan sampai di Denpasar. Rencananya besok si Silver akan segera di bawa ke bengkel untuk memeriksa dan mengganti kampas kopling.

Hari sudah menjelang magrib ketika saya tiba di rumah mertua yang sedang ada upacara “melaspas”. (house blessing). Ketika akan memasukkan si Silver ke halaman rumah yang agak menanjak, ternyata si Silver sudah tidak mampu naik, dan ban jadi slip. Begitulah karena kopling sudah habis. Akhirnya si Silver terpaksa di parkir diluar saja, sambil menunggu istri dan anak-anak untuk berkemas.

Malam mulai turun ketika kami berangkat ke Denpasar. Untuk menghindari jalan tanjakan dan tikungan tajam di daerah Munduk dan Banyuatis, saya terpaksa mengambil jalur memutar lewat  barat lewat Pupuan – Antosari yang hampir 60 kilometer lebih jauh dibandingkan dengan jalur Bedugul – Denpasar, namun jalan lewat Pupuan ini datar, tidak ada tanjakan terjal yang mesti dilewati.

Akhirnya, pukul 9.15 kami tiba didepan rumah di Denpasar dengan perasaan lega, mengingat kondisi si Silver benar-benar sudah tidak kuat berjalan lagi.

Perjalanan dari bandung mengendarai Trooper Hi Roof bensin memang terasa nyaman, dan tidak membuat kita lelah dalam berkendara. Itulah yan gmembuat say asemakin cinta Trooper Hi Roof Bensin, kabin yang lapang dan lega membuat driver dan penumpang merasa lega, posisi duduk mengemudi yang pas untuk ukuran saya dengan tinggi 183 cm membuat nyaman dan tidak mudah lelah.

 
Begitulah, saya semakin mencintai SUV Trooper hasil kolaborasi Chevrolet dengas isuzu it.
 
 
Salam Trooper
 
 
 
 

 

Perjalanan ke TIG X Dieng, Jawa Barat


Dear all of “da Trooper bali” friends.  Selamat Tahun baru 2011, semoga di tahun yang baru ini apa yang kita harapkan, yang kita cita-citakan dapat tercapai dan Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberi kita kemudahan. Amin.

Pada awal tahun ini saya ingin menceritakan sekilas perjalanan si Hitam ke Pegunungan Dieng di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Perjalanna ini memang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari agar bisa menghadiri Trooper Indonesia Gathering atau TIG X  yang dihelat di dataran tinggi Dieng. Namun mengingat kondisi saya dan juga financial kami yang terkena musibah yang bertubi-tubi membuat saya mesti menghitung lagi anggaran yang mesti dikeluarkan untuk bepergian yang cukup jauh seoperti Dieng ini, Istri saya sebenarnya sudah menolak untuk berangkat mangingat kondisi keuangan kami yang memang benar-benar sedang down dan morat marit. Namun kecintaan dan semangat saya untuk dapat bertemu dengan teman-teman dan saudara-saudara dari anggota KTI chapter seluruh negeri, saya memaksakan diri untuk berangkat walau dengan persiapan yang seadanya serta dana yang benar-benar mesti dihemat. Rencananya kami berangkat bertiga dengan istri dan Dewinta anak perempuan kami yang sangat ingin ke Dieng. Namun apa daya,  sehari sebelum berangkat tiba-tiba Dewinta demam tinggi dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan dari hasil pemeriksaan Dewinta mendapat gejala thypoid atau typus. Sehingga Dokter menganjurkan untuk istirahat di tempat tidur untuk memulihkan kondisinya. Jadilah kami berangkat berdua saja dengan perasaaan galau karena memikirkan anak kami dirumah.

Start dari McD Gatos Subroto barat.

Pada tanggal 28 Desember 2010, dua hari sebelum keberangkatan, kami ketemuan dengan Mr. Holger dan istrinya Ibu Rina Holger di McD untuk mendiskusikan rencana keberangkatan ke Dieng. Dan kami mendiskusikan rencana keberangkatan dan persiapan persiapan lainnya. Begitulah akhirnya kami sepakat untuk berangkat tanggal 30 Desember 2010 dengan meeting point di McDonald Gatot Subroto Barat dekat rumah saya.

Pada tanggal 30 Desember 2010 pukul 5.45 saya sudah di McD dan ternyata Mr. Holger dan istrinya Ibu Rina serta Pak Yudi mekanik Mas Anto sudah menunggu. Mas Anto pemilik Kurnia Motor memberikan kami untuk mengajak mekaniknya, Pak Yudi untuk menemani berjaga-jaga jika si Landy ada masalah teknis dijalan. Dengan adanya Pak Yudi, saya menjadi lega, karena jika ada masalah dengan kendaraan kami ada yang bisa diandalkan untuk menangani.

Kami masih sempat minum kopi di McDonald sebelum berangkat, meski tadi sebelum  ke McDonald saya dan istri sudah sarapan ringan dirumah. Setelah berdiskusi sejenak, pukul 06.17 WITA kamipun bergerak menuju Gilimanuk dengan kecepatan sedang. Rata-rata 60 km per jam.

Semalam tangki si Hitam sudah saya isi full dengan tambahan 45 liter senilai Rp.245.000,- sehingga fuel meter nyender ke kanan saat kunci kontak di on kan.

Pukul 9.37 kami memasuki Gilimanuk dan alhamdulilah tanpa menunggu, kami langsung masuk keperut ferry. Tak banyak kendaraan yang menyeberang di pagi ini, hanya ada 3 truk, 2 bus besar, 1 Taruna Biru, 1 Kijang Kapsul Silver, satu minibus Daihatsu Zebra Biru, 1 Sedan Nissan Sunny, 1 Landy White Sand milik Mr. Holger dan si Hitam milik saya, serta sejumlah sepeda motor yang tidak sempat saya hitung jumlahnya. Cukup banyak sepeda motor yang menyeberang ke Ketapang.

Kami turun dari kendaraan masing-masing dan naik keatas geladak kemudin duduk berbaur dengan penumpang lainnya. Ferry ini cukup bersih dan nampaknya tidak terlalu lama habis direnovasi. Catnya putihnya masih bersih begitupun kaca jendela masih jernih.  Saya dan Mr. Holger duduk dimeja diseberang deretan kursi sambil ngobrol, sementara istri saya dan Ibu Rina duduk dideretan kursi terdepan sambil ngobrol juga. Seperti biasa musik dangdut selalu menemani ferry dari dan ke Ketapang menambah riuhnya suasana di atas ferry ini. Gelombang dan ombak tidak terlalu tinggi sehingga kami tidak merasakan ferry yang kami tumpangi terus berlayar dan pukul 10.07 karena asyik berbincang tanpa kami sadari ferry yang menyeberangkan kami telah berlabuh di Ketapang. Kami segera turun ke parkir mobil sambil berbincang dan masuk kedalam kendaraan masing-masing dan meneruskan perjalanan yang masih jauh menuju Dieng. Matahari sudah mulai naik sehingga membuat cuaca terasa hangat. Rencananya kami akan terus bergerak sampai terasa lelah dan akan menginap di daerah Ngawi atau Nganjuk.

Pengendara motor berebutan untuk keluar dari perut ferry yang kami tumpangi sehingga suasana hiruk pikuk dan bising karena suara mesin motor yang berebut hendak keluar dari ferry.

Saya dan istri masuk kedalam kabin si Hitam dan menghidupkan mesin dan AC untuk menyejukkan kabin sementara menunggu giliran keluar dari perut ferry.  Setelah Daihatrsu Zebra birudidepan si Hitam bergerak keluar, saya menginjak pedal gas si Hitam untuk maju perlahan lahan, dan berhenti sejenak karena tiba-tiba Daihatsu Zebra di depan berhenti karena mesinnya mati. 

Setelah si Zebra keluar disusul si Hitam dan Mr. Holger dengan short landy White sand nya mengekor dibelakang si Hitam.  Kami berhenti di depan dermaga sambil mendiskusikan perjalanan nanti. Setelah menyepakati rute dan tempat istirahat, kami kemudian bergerak dengan kecepatan sedang, rata-rata 60 – 70 km perjam dan rencananya akan istirahat saat waktu makan siang nanti didaerah Pasir putih.

Pada pukul 12.27 akhirnya kami tiba di Pasir Putih, Besuki  dan segera memasuki halman deretan rumah makan yang ada. Setelah memarkir kendaraan masing-masing, Mr. Holger dan istrinya masuk ke rumah makan Padang, seelah berdiskusi saya dan istri mengikuti mengikuti Mr. Holger, makan di Rumah makan Padanmg.

Kami makan dengan cepat untuk mempersingkat waktu, dan pukul 13.17 WITA kami sudah selesai makan dan bergegas naik kekendaraan masing-masing.

Namun ternyata si Landy tidak bisa start. Setelah di periksa ternyata dynamo starter ngadat. Terpaksa kami mendorongnya dan untungnya sekali dorong mesin si White Sand Landy ini langsung hidup.

Kami meneruskan perjalanan dan terus bergerak. Dan pada pukul 13.35 kami masuk SPBU di Besuki, Situbondo untuk mengisi tangki si Hitam yang tinggal setengahnya. Setelah diisi 40 liter tangki si Hitam penuh lagi Si White Sand Landy tidak mengisi bensin karena di tangkinya masih 3/4nya.

Pukul 21.27 WITA kami memasuki Jombang, mengingat perjalanan yang masih jauh, akhirnya kami putuskan untuk menginap  di Jombang. Kami menginap di Hotel Sentral, di Jalan Merdeka Jombang dengan harga semalam Rp.225.000,- perkamarnya.

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami makan malam. Kebetulan diseberang hotel ada rumah makan bebek goring. Jadilah malam itu kami makan bebek goreng.

Pada pukul 22.15 makan malam diwarung bebek goreng diseberang hotel Sentral Rp.93.000,-

Kami sempatkan berbelanja di Alfa Mart disebelah warung bebek goreng itu untuk membeli camilan untuk bekal dalam perjalanan.

Tanggal 31 Desember 2011 rencananya kami akan berangkat pagi-pagi sekali untuk mengejar waktu agar bisa tiba di Dieng tidak terlalu malam.

Tiba-tiba hand phone saya bergetar. Saya membuka Hp dan rupanya dari Mas Erik  KTI Surabaya menelpon dan mengajak kami untuk berangkat bareng berkonvoy ke Dieng. Senang rasanya ada teman KTI Jawa Timur yang akan menemani kami yang hanya dua mobil dalam perjalanan sehingga menambah semangat.

Sambil menunggu rombongan KTI Surabaya kami minum segeals kopi susu dikantin penginapan.

(bersambung)

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Bromo (bag.7)


Synopsys cerita yang lalu :

Kenapa mobilnya om…? tanya anak saya kepada mas Echa.

“Radiatornya bocor. Jadi airnya berkurang terus neh.” Jawab mas Echa.

“Jalan aja deh. Sudah selesai kok.”  “Hati-hati ya. Tikungannya tajam-tajam dan terjal.” katanya lagi.

Selesai mengisi radiator, kami meneruskan perjalanan yang tinggal beberapa meter dari Lava View.

Selengkapnya ikuti cerita dibawah ini :

Akhirnya pukul 20.39 WIB kami tiba di Lava View. Kami memarkir kendaraan di depan Hall Lava View disusul oleh teman-teman yang lainnya.

Dari radio kami dengar kalau Trooper Hijau kinclong milik Agung Wira mogok persis didepan portal pintu masuk ke Lava View.

Setelah diperiksa olehBli Ketut Boncel danbeberap ateman lainnya ternyata tidak ada arus yang masuk ke pompa solar sehingga solar tidak ada yang masuk ke ruang bakar. Padahal pemiliknya sangat telaten mengurus si Hijau yang telah mengadopsi mesin turbo diesel 4JB1T. Untuk memudahkan perbaikan dan keamanan kendaraan akhirnya terpaksa si Hijau ditarik ke halaman Lava View.

Setiba di halaman parkir Lava View, Pak Frans mencoba mencari-cari keruskan si Hijau, namun tidak ketemu.  Dari pemeriksaan sementara diketahui solar tidak mau naik ke ruang bakar. Kemungkinan besar tidak ada arus yang menggerakkan kerja pompa ke ruang bakar mesin. Asumsi sementara pompa solar macet atau filter solar mampat. Sehingga dicoba untuk membuka filter solar dan menggantinya dengan yang baru.

Pak Ketut Boncel dimintai tolong untuk turun ke Probolinggo lagi untuk mencari mekanik sekalian membeli filter solar untuk pengganti sekalian membeli solar untuk memancing solar agar mau naik keruang bakar.

Setelah Pak Ketut Boncel kembali membawa filter solar dan satu jerigen kecil solar dan memasukkan solar ke filter ternyata si Hijau belum mau hidup juga.

Mas Ervan datang membantu dan memeriksa sekring di fuze box pengaman. Ternyata ada satu sekring pengaman yang putus.  Namun karena sudah mengadopsi mesin diesel, wiring fuze jadi tidak pasti urutannya. Tetapi mas Ervan coba untuk mengganti sekringnya.

“Ada sekring 10 ampere tidak bli…?”  tanyanya kepada Agung Wira.

 “Wah ngga ada mas.” jawab Agung Wira lagi. 

“Ini saya punya.” kata Pak Frans sambil meyerahkan sekring merah yang dibawanya. Mas Ervan mencabut sekring yang putus dan memasang sekring yang baru. Tetapi begitu dipasang sekring itu langsung putus dan berasap. 

“Wah ini ada yang korsleting bli.” Katanya sambil mencabut lagi sekring yang sudah putus itu.

“Tapi yang mana ya.” gumamnya.

Pak Frans, Pak James dari KTI Surabaya, Mas Ervan dari KTI Yogya, Bli Ketut Boncel dan beberapa teman dari KTI Jakarta juga ikut membantu mencari-cari kerusakan itu, namun si Hijau ini tetap mogok dan belum ada tanda-tanda akan hidup.

Malam semakin larut dan udara semakin dingin di puncak gunung ini.  Suhu di Lava View ini berkisar 11 sampai 14 derajat celcius. Sangat dingin.

Sementara itu teman-teman yang masuk trek sudah kembali dan mulai datang ke hall untuk pembukaanacara TIG VIII ini. Karenanya saya menyarankan untuk menunda dulu untuk memperbaiki si Hijau ini untuk mengikuti acara pembukaan TIG VIII yang akan segera di buka beberapa saat lagi.

Suasana di Lava View semakin ramai, karena banyak juga pelancong yang sedang ber week end dan menginap di Hotel Lava View ini.

Saya meninggalkan si Hijau yang masih diperiksa oleh beberapa teman-teman dan masuk ke hall Lava View kaerna lupa membawa jaket dan tidak kuat menahan udara dingin hanya dengan kaos T-Shirt yang say apakai dari tadi sore. Saya mencari istri dan anak-anak yang ternyata sudah duduk didalam hall sisi selatan didekat pintu masuk, karena sudah tidak tahandengandinginnya udara, meski telah mengenakan  jaket tebal dan syal serta topi hangat khas bromo dan juga slop tangan. Saya bergabung dan duduk di sebelah istri dan anak-anak diantara teman-teman dari KTI Chapter lainnya.

Beberapa saat kemudian pembawa acara mengundang teman-teman yang masih diluar  agar segera masuk ke hall karena acara pembukaan TIG VIII Jawa Timur ini akan segera di mulai. Malam sudah semakin larut. Sudah pukul 21.17 WIB ketika teman-teman dari semua chapter mulai masuk ke hall. Suasana di hall mulai agak hangat karena sudah mulai dipenuhi oleh teman-teman dari semua chapter.

Panggung diisi life musik dengan lagu-lagu berirama pop rock yang cukup enak didengar sehingga menambah hangatnya suasana. Sekali lagi pembawa acara mengundang para peserta untuk segera masuk ke hall karena acara akan segera di mulai.

Pembukaan resepsi TIG VIII Jawa Timur.

Malam  semakin larut, sementara masih banyak teman-teman dari chapter berbagai wilayah yang belum masuk ke hall, sehingga sekali lagi pembawa acara mengundang mereka untuk segera berkumpul agar acara pembukaan TIG VIII segera bisa di mulai.

Akhirnya pukul 20.49 WIB acara dibuka oleh pembawa acara. Hampir 2 jam molor dari waktu yang seharusnya oukul 19.00 WIB. Namun nampaknya banyak juga eman-teman yanag belum hadir di acara pembukaan ini Saya yakin mereka kelelehan dan mungkin jadi erlamabt untuk berbersih-bersih diri setelah seharian berkutat berjuang ditengah trek untuk bisa lolos dan tiba ti Lava View pada pukul 19.00 WIB seperti yang tertera di Itinerary perjalanan.

Acara pembukaan diawali oleh sambutan dari ketua panitia Pak Iwan dari Surabaya dengan melaporkan persiapan acara dan susunan acara dari siang tadi hingga pembukaan ceremonial malam ini.

Menurut Pak Iwan, acara TIG VIII sudah dimulai siang tadi dengan acara fun ff road melintasi Country Road dari teminal Probolinggo menuju Lava View di puncak gunung Bromo yang melintasi perkebunan teh, kebun coklat dan hutan lindung di taman cagar alam pegunungan Bromo yang memerlukan 5 jam perjalanan dari terminal ke pegunungan Bromo. Beberapa kendaraan peserta yang mendapat kerusakan di berbagai bagian sehingga perjalanan fun off road itu menjadi bertambah lama apalagi jumlah kendaraan yang masuk trek sangat banyak. Ada 73 Trooper yang masuk trek.  Jumlah yang tidak sedikit untuk bisa keluar dari trek tepat waktu. Begitulah rencana tiba di Lava View kurang lebih pukul 19.00 WIB akhirnya baru bisa tiba di Lava View pukul 20.00 WIB, sehingga praktis acara pembukaan TIG VIII jadi molor juga.

Anyway, itulah fun off road. Terkadang sangat sulit untuk memastikan waktu tempuh didalam trek, karena saat survey trek dan saat acara,  trek akan berubah, apalagi jika hujan mengguyur trek itu. Trek yang tadinya fun-fun saja  akan berubah drastis dan tidak tertutup kemungkinan menjadi trek yang sangat ekstrem untuk kendaraan sekelas Trooper yang rata-rata masih standar.

Hal ini sering saya alami di trek kami yang di Baturiti maupun di Bedugul, Bali.  Masih segar dalam ingatan saya saat si hitam terpaksa mesti dibawa kebengkel kaki-kaki dan mondok beberapa hari karena kesalahan prosedur saat di evakuasi dari cerukan dalam, karena posisi roda yang belum lurus saat di winch, sehingga akhirnya lower arm berubah sudutnya dan mesti dibongkar untuk di center ulang.

Berubahnya trek sungguh diluar perhitungan kami, mengingat seminggu sebelumnya trek itu masih sangat light dan cocok untuk fun off road, namun karena hujan lebat yang terus menerus selama beberapa hari rupanya membuat tanah tergerus dan meninggalkan lubang dan alur air dalam dan kontur tanahnya sangat labil karena merupakan tanah humus yang lembut dan mudah amblas saat dilindas. 

Kembali ke TIG VIII Jatim, karena trek Country Road yang panjang dan melelahkan akhirnya banyak teman-teman yang terlambat tiba dan ada juga yang bahkan tidak mengikuti acara pembukaan ini karena masih membersihkan diri. Apalagi sebagaian besar dari kami membawa anak-anak kecil yang mulai rewel karena jenuh atau kelelahan ditrek Country Road siang tadi.

Ini menjadi catatan buat saya untuk memberi masukkan kepada pengurus pusat  agar kedepannya nanti bisa memperbaiki dan membuat Country Road yang lebih ringan sehingga tidak memerlukan waktu yang terlalu panjang melaluinya. Menurut saya pribadi sebaiknya acara jalan-jalan seperti Country Road ini dibuat benar-benar fun sehingga dapat menghibur peserta, utamanya anak-anak dan juga mereka yang baru bergabung di keluarga besar Trooper Indonesia.

Sebab TIG adalah Trooper Indonesia Gathering, seperti namanya semestinya yang diutamakan dalam acara ini dan diberi porsi waktu yang agak banyak adalah Gathering-nya sehingga teman-teman dari berbagai chapter dapat bertemu dan berinteraksi secara fisik dan melakukan “eye balls” istilah dari amatir radio untuk percakapan secara langsung ataupun
”face to face” saat Gathering seperti ini.  Disinilah saatnya para anggota yang tersebar di seluruh Indonesia dapat saling bertemu dan berkenalan secara langsung setelah sebelumnya mungkin hanya bisa berkomunikasi lewat milis di internet atau via hand phone.

Sungguh sayang jika kesempatan bertemu dan bertatap muka langsung yang hanya sekali setahun ini jadi mubazir karena waktunya habis untuk acara fun off road yang sangat melelahkan peserta. Seyogyanya fun off road dibuat hanya sebagai pelengkap acara dan juga melihat waktu yang tersedia. Semoga hal ini dapat menjadi pertimbangan pengurus untuk meninjau kembali acara TIG kedepannya dan TIG agar di fokuskan untuk acara bertemu dan berkumpul untuk saling mengenal sesama anggota. Saya termenung mengingat acara yang sedang berlangsung dan yang akan dilaksanakan sehubungan dengan pelaksanaan TIG VIII Jawa Timur 2008 ini.

Anyway, back to the even now.  Pak Iwan didampingi oleh Pak Sudirman dari KTI Surabaya yang menjadi Panitia pelaksana TIG VIII kali ini masih memberikan laporannya. Pak Iwan juga menjelaskan susunan acara malam ini adalah perkenalan sesama anggota, briefing untuk acara penanaman 1.000 pohon yang akan dilakukan esok pagi di atas pegunungan Bromo di belakang Lava View yang gundul.  Ada 1.000 batang pohon lebih rencananya di tanam diatas gunung Bromo untuk mengikat tanah agar tidak terjadi longsor.

Me presenting the vandal to Mr. Arie from KTI Riau
Me presenting the Vandal to Mr. Arie from KTI Riau

 

 

 

 

 

 

 

Selesai briefing  acara dilanjutkan dengan makan malam bersama secara prasmanan dengan menu ayam goreng, ikan laut goreng dengan sambal tomat dan acar, cap cay dan sayur hijau dilengkapi dengan  hiburan life musik dari band local yang membawakan lagu-lagu pop dan irama country yang cukup menghibur peserta. Makan malam baru dimulai pukul 22.15 WIB karena keterlambatan dari peserta untuk tiba di Lava View setelah mengikuti jalan-jalan Country Road. Untungnya suasana kebersamaan cukup kuat di antara teman-teman KTI sehingga makan malam yang terlambat itu tidak begitu jadi masalah.

Setelah makan malam bersama usai, Panitia menyerahkan panel kenang-kenangan kepada leader dari masing-masing chapter. Yang diserahkan langsung oleh Ketua Panitia Pak Iwan didampingi oleh Pak Sudirman dari KTI Surabaya.

Usai penyerahan plakat kenang-kenangan dari panitia kepada peserta, saya mewakili KTI Bali juga menyerahkan kenang-kenangan dari KTI Bali berupa panel kayu yang cantik kepada perwakilan seluruh chapter yang berkesempatan hadir pada TIG VIII Jawa Timur 2008 kali ini. Semoga panel itu bisa manjadi alat untuk mempererat rasa persaudaraan dan kebersamaan dari semua anggota Komunitas Trooper Indonesia yang ada di seluruh Indonesia tercinta ini.

Acara pembukaan TIG VIII ditutup dengan acara sarasehan yang dihadiri oleh seluruh leader dari masing-masing chapter untuk membahas rencana kedepan Komunitas Trooper Indonesia yang saat ini sudah memiliki 12 chapter di seluruh Indonesia. Yang berdiri mulai dari KTI Pusat Jakarta, KTI Surabaya, KTI Bali, KTI Paiton, KTI Bandung, KTI Yogya, KTI Semarang, KTI  Blitar, KTI Duri, KTI Lampung, KTI Riau daratan dan KTI Jember dan KTI Duri di Riau daratan yang sedang dalam persiapan.

Bukit Teletubis
Bukit Teletubis

Sarasehan dipandu langsung oleh Mas Echa sebagai Ketua Umum Komunitas Trooper Indonesia periode 2008 – 2013 mendatang.

Dari hasil sarasehan itu Ketua Umum KTI akan menyusun program kerja kedepan selama 5 tahun yang akan di laksanakan secara konsisten dan sesuai dengan harapan dari masing-masing chapter yang ada sehingga program kerja dapat berjalan optimal dan memberi azas manfaat bagi semua chapter dan juga masyarakat pada umumnya.

Program kerja diwilayah-wilayah akan diserahkan ke masing-masing chapter dengan mengacu pada program kerja yang telah disusun oleh Pengurus Pusat dan telah disetujui oleh seluruh chapter yang ada. Even KTI yang telah berjalan selama ini adalah :

TIG atau Trooper Indonesia Gathering yang mana pelaksaannya diadakan setiap tahun sekali dengan tempat yang berpindah-pindah yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat itu.

 TIFOR atau Trooper Indonesia Fun Off Road adalah salah satu even dari Komunitas Trooper Indonesia untuk memberi  pembelajaran dan pelatihan dasar bagaimana acara mengoperasikan kendaraan 4 X 4 bagi anggota yang dipandu  oleh Pengurus QQ seksi teknik. Dengan mengikuti TIFOR dan pelatihan diharapkan semua anggota dapat mengoperasikan kendaraan 4 X 4 dengan benar dan aman.

TIAOR atau Trooper Indonesia Adventure Off Road adalah salah satu even dari Komunitas Trooper Indonesia. Disini peserta yang telah mengikuti TIFOR dapat menguji ketrampilannya dalam mengoperasikan kendaraan 4 X 4. Disinilah saatnya menguji ketrampilan, dan menguji nyali para anggota yang telah siap fisik maupun kendaraannya. TIAOR dapat dilakasanakan beberapa kali dalam setahun sesuai dengan situasi dan  kondisi sat itu.

TICA atau Trooper Indonesia Charity Action adalah salah satu acara Komunitas Trooper Indonesia untuk meng-ekspresikan kepeduliannya terhadap lingkungan dengan mengadakan bakti sosial yang mungkin dibutuhkan oleh lingkungan maupun tempat yang lainnya. Dengan TICA anggota diharapkan ikut berpartisipasi dalam masalah sosial dan sedapat mungkin bisa membantu  penanggulangannya. TICA dapat saja dilaksanakan setiap waktu jika keadaan menuntut untuk itu.

Sarasehan diakhiri pukul 23.17 WIB karena malam sudah sangat larut dan mangingat besok pagi kami mesti berkumpul pagi pagi sekali untuk menanam 1.000 pohon di puncak gunung Bromo.Team KTI Bali akan kembali ke hotel Sukapura yang agak jauh dibawah dengan 25 menit berkendara menuruni gunung.

Me and family i Bromo Seasand
Me and family in Bromo Seasand

 

Melihat istri dan anak-anak yang sudah kelelahan, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Hotel Sukapura Inn dan meninggalkan Agung Wira dan Gusmang yang ditemani oleh Bli Boncel, Pak Frans dan teman-teman dari Surabaya yang masih mengutak atik Trooper Hijau Agung Wira yang mogok. Pak Ketut Uban juga ikut turun dibelakang saya diikuti oleh Yande dengan Trooper Hitamnya.

Sedikit catatan saya mengenai Trooper Hijau Agung Wira ini. Tahun lalu ketika mengikuti TIG VII Yogya si Hijau juga mogok dan akhirnya ditinggal di Surabaya hampir 3 bulan. Saat itusi Hijau masih menggendong mesin bawaannya 4ZD1 yang sedang dalam eksperimen dan  dicangkok trubo, namun karena masih menggunakan karburataor, tampaknya turbonya tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan malah membuat mesin bensinnya jadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.

(bersambung)

Ikuti terus cerita selanjutnya hanya di da-trooper-bali.com

Dewa

DK999YQ

Silent-Hi-roof-Black-Trooper

(Reposted) PerjalananKTI Bali ke TIG VIII Bromo ( bag. 5)


Synopsys cerita yang lalu :

“Iya neh kita agak khawatir dengan anak-anak nanti mereka bosan. Soalnya dengar-dengar CR ny akurang lebih 5 jam.” “Terlalu lama buat anak-anak.” Kata saya lagi.

“Dari sini kita coba langsung ke Probolinggo ya.” kata saya lagi.

“Maaf saya tinggal dulu ya.” “Giliran untuk mandi neh.” Kata saya sambil beranjak ke kamar untuk mandi.

Ketika saya  beranjak, tampak Bli Boncel sedang memasukkan barang-barang ke FJ 40 ungunya. Rupanya dia sudah selesai mandi dan berkemas-kemas.

Selengkapnya silahkan baca berikut ini :

Saya segera masuk ke kamar mandi, sementara isti dan anak-anak sudah mengemasi barang-barang bawaan dan memasukkannya ke dalam mobil.

Saya mandi dengan cepat. Satu gayung air saya guyurkan dari atas kepala.

Hhhhh. Ternyata memang dingin. Setelahmengguyur banda dengan 2 – 3 gayung dingin baru terasa agak berkurang, karena badan sudah mulai beradaptasi dengan dinginnya air dan udara.  Sepuluh menit kemudian sya sudah selesai mandi dan siap untuk sarapanpagi.

“Ayo dong semuanya kita sarapan dulu. Mumpung masih agak pagi.” kata saya kepada semua teman-teman yang sudah tampak siap untuk sarapan.

Pak Ketut Uban, istri dan anak-anaknya juga sudah siap.

Pukul 8.17 WITA kami sudah berkumpul di meja makan yang telah disiapkan di teras bangunan utama. Sarapan pagi berupa Nasi putih, telur asin rebus, telur mata sapi, tempe goring dan sayur pecel. Lha, pagi-pagi kok sarapannya pakai pecel. Gumam saya dalam hati.

Tetapi karena udara yang dingin membuat kami merasa lapar. Dan saat perut lapar makanan apapun yang tersedia akan terasa enak dimakan. He he he he…

Kamipun makan dengan lahap sambil sesekali mengomentari hidangan yang disiapkan itu. Makan pagi ini sudah termasuk dalam harga kamar yang Rp. 125.000,- permalam untuk dua orang.

“Pak Tut ayo makan dulu. Nanti dihabisin sama Gusmang makanannya.” Kata Agung Wira sambil tertawa bercanda kepada Bli Boncel yang baru datang dari memasukkan barang-barang bawaan ke FJ40 nya.

“Iya-iya. Silahkan makan duluan. Ini nunggu Ayin.” Katanya. Ayin adalah anak perempuan Bli Boncel.

Sementara yang lain masih menyelesaikan sarapan paginya saya pergi ke kantor Catimor homestay untuk membayar sewa penginapan agar bisa berangkat lebih cepat begitu teman-teman selesai sarapan.

Pukul 08.57 kami telah siap untuk bergerak ke Bondowoso dan kemudian ke Probolinggo. Kami akan bertemu dengan Pak Wiranto dan Pak Frans yang terpisah penginapan karena kekurangan kamar kemarin.

“Okey kita siap untuk berangkat. Radio-radio tolong dihidupkan dan kita main di Frequensi 142.750 Mhz ya.” kata saya mengingatkan.

“Oke pak.” Terdengar Pak Yudi di radio.

“Pak Dewa dan teman-teman semua, saya mohon ma’af tidak bisa ikut sampai ke Bromo. Saya akan menemani sampai di pintu keluar perkebunan dan selanjutnya teman-teman yang mau ke Bondowoso lurus saja di portal pos keamanan, sementara saya akan belok kiri untuk kembali ke Denpasar,” kata pak Hadi di radio.

“Okey pak. Salam untuk Pak Agus dan sampaikan terimakasih saya dan teman-teman atas segala dukungannya dan juga barbequenya.” Jawab saya melalui radio.

“Baik Pak Dewa.” Nanti akan saya sampaikan kepada beliau.” jawabnya.

Kamipun bergerak meninggalkan Catimor homestay milik PN Perkebunan XII yang terletak di Blawan kabupaten Bondowoso,  menyusuri jalan aspal sempit dengan kebun kopi dan pohon jarak disisi kiri kanan jalan.

Matahari mulai menyinarkan sinarnya yang hangat membuat badan kami hangt setelah udara dingin tadi pagi sehabis mandi.

Perjalanan ke Bondowoso dan ke Probolinggo masih cukup panjang. Memerlukan kurang lebih 2 – 3 jam untuk sampai disana. Beruntung  jalanan tidak begitu ramai, sehingga kami bisa bergerak dengan kecepatan yang cukup untuk mempercepat kami tiba di Probolinggo.

Kami masih melintas di aeral perkebununan milik PN Perkebunan XII yang sangat luas. Tampak beberapa rumah semi permanen milik penduduk yang merupakan pekerja di perkebunan ini. J

arak satu rumah dengan rumah berikutnya agak jauh.

“Teman-teman semua, sampai dipertigaan ini kita  berpisah, saya akan berbelok ke kiri untuk kemba ike Denpasar. Teman-teman silahkan ikuti jalan yang lurus di portal pos keamanan itu. Nanti ikuti saja jalan utama, jangan berbelok-belok sampai dipertigaan nanti, ikuti jalan besar yang menuju jalan utama ke Jember dan Probolinggo”. kata Pak Hadi lagi.

“Okey Pak Hadi. Selamat jalan. Hati-hati dijalan dan salam untuk Pak Agus.” jawab saya.

Kamipun berpisah. Chevy pick Up 4 X 4 yang dibawa Pak Hadi harus kembali ke Denpasar karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Mentari Restaurant.

Sementara kami terus bergerak menyusuri jalanan beraspal yang sempit dengan semak hutan kecil dan alang-alang dikiri kanan. Daerah di Bondowoso ini berbukit-bukit dengan tanah yang bercampur batu cadas.

Sesekali kami melewati bongkahan batu cadas yang mungkin longsor dari atas dan akhirnya jadi bukit batu yang ditumbuhi alang-alang disekelilingnya.

“Awas banyak bebatuan lepas.” kata Pak Yudi yang paling depan kemudian diikuti oleh Pak Yande, Agung Wira, Gusmang, Pak Tut Uban, Saya dan paling akhir Pak Tut Boncel dengan FJ40 ungunya.

Jalanan mulai agak rusak dan banyak batu dan kerikil yang lepas sehingga membuat jalan agak licin, ditambah dengan bahu jalan yang sangat sempit membuat kita mesti ekstra hati-hati melintas diatasnya. Banyak tikungan tajam yang sempit dengan tebing dan jurang yang menganga di kiri atau kanan jalan.

Kami terus meluncur dengan hati-hati diantara tebing dan jurang yang menganga di kiri dan kanan jalan. Jalanan mulai terasa menurun. Altimeter menunjuk keangka 1.250 meter DPL dan terus menurun dengan cepat seseuai dengan gerakan kami yang terus menuruni bukit terus kebawah menuju dataran rendah di Bondowoso.

Beberapa saat kemudian kami memasuki daerah pemukiman dan udara mulai terasa agak hangat cenderung panas, padahal baru pukul 10.49 WITA atau pukul 09.49 waktu setempat. Kami sudah memasuki wilayah kabupaten Bondowoso.

Secara geografis Kabupaten Bondowoso berada di bagian paling timur wilayah Jawa Timur dengan jarak kurang lebih 200 kilometer dari Ibu kota Provinsi  Jawa Timur sekitar 200 kilometer.

Wilayah Kabupaten Bondowoso tidak dilalui jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Utara yaitu Banyuwangi – Situbondo -Probolinggo – Pasuruan – Surabaya dan jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Tengah yaitu Banyuwangi – Jember – Lumajang – Probolinggo – Pasuruan -Surabaya. Kedua jalur tersebut memiliki daya-dukung sumber daya potensial bagi pengembangan ekonomi dan perdagangan Kabupaetn Bondowoso.

Namun Bondowoso merupakan daerah tujuan yang hanya dilalui jalur provinsi dari Bondowoso – Situbondo dan Bondowoso – Jember.

Wilayah Kabupaten Bondowoso merupakan daerah dengan luas yang mencapai 1.560,10 km2, yang secara administratif terdiri dari 20 kecamatan,185 desa, dan 10 kelurahan.

Sekilas sejarah tentang Kabupaten Bondowoso.

Berawal dari nama dari Demang Walikromo yang bernama bernama Raden Bagus Assra. pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu dari Raden Tjakraningrat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo  adalah putra dari Raden Adikoro IV.

Pada tahun 1743 terjadi pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak dari salah seorang selir. Pertempuranpun terjadi di desa Bulangan dan menewaskan Raden Adikoro IV, tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap.

Setelah pertempuran selesai dilakukan  pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak dari Raden Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Namun tak beberapa lama kemudian kembali terjadi perebutan kekuasaan.  

Dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya dan menyingkir dengan diam-diam mengikuti perpindahan besar-besaran bekas pengikut Adikoro IV ke Besuki.

Semetara itu Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di sembunyikan dan dididik ilmu bela diri dan ilmu agama. Pada usia yang ke 17 tahun Assra  diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 dan ditugaskan untuk memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan. Pada tahun tu juga Assra telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo.

Pada tahun 1794 dalam usahanya  memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis yang kemudian  disebut Bondowoso. Dan dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan natas jasanya itu dia diangkat menjadi penguasa di Bondowoso dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno.

Begitulah, dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada bulan Agustus 1819 atau hari Selasa

Kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo sebagai orang kuat yang diangkat dan mendapat kepercayaan Gubernur Hindia Belanda, untuk memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Raden Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai dengan penyerahan Tombak Tunggul Wulung. .Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember. Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.

Begitulah sedikit cerita mengenai Kabupaten Bondowoso.

Saya segera masuk ke kamar mandi, sementara isti dan anak-anak sudah mengemasi barang-barang bawaan dan memasukkannya ke dalam mobil.

 

 

Saya mandi dengan cepat. Satu gayung air saya guyurkan dari atas kepala.

Hhhhh. Ternyata memang dingin. Setelahmengguyur banda dengan 2 – 3 gayung dingin baru terasa agak berkurang, karena badan sudah mulai beradaptasi dengan dinginnya air dan udara.  Sepuluh menit kemudian sya sudah selesai mandi dan siap untuk sarapanpagi.

 

“Ayo dong semuanya kita sarapan dulu. Mumpung masih agak pagi.” kata saya kepada semua teman-teman yang sudah tampak siap untuk sarapan.

 

Pak Ketut Uban, istri dan anak-anaknya juga sudah siap.

 

Pukul 8.17 WITA kami sudah berkumpul di meja makan yang telah disiapkan di teras bangunan utama. Sarapan pagi berupa Nasi putih, telur asin rebus, telur mata sapi, tempe goring dan sayur pecel. Lha, pagi-pagi kok sarapannya pakai pecel. Gumam saya dalam hati.

 

Tetapi karena udara yang dingin membuat kami merasa lapar. Dan saat perut lapar makanan apapun yang tersedia akan terasa enak dimakan. He he he he…

Kamipun makan dengan lahap sambil sesekali mengomentari hidangan yang disiapkan itu. Makan pagi ini sudah termasuk dalam harga kamar yang Rp. 125.000,- permalam untuk dua orang.

 

“Pak Tut ayo makan dulu. Nanti dihabisin sama Gusmang makanannya.” Kata Agung Wira sambil tertawa bercanda kepada Bli Boncel yang baru datang dari memasukkan barang-barang bawaan ke FJ40 nya.

 

“Iya-iya. Silahkan makan duluan. Ini nunggu Ayin.” Katanya. Ayin adalah anak perempuan Bli Boncel.

 

Sementara yang lain masih menyelesaikan sarapan pagi,nya aya pergi ke kantor Catimor homestay untuk membayar sewa penginapan agar bisa berangkat lebih cepat begitu teman-teman selesai sarapan.

 

Pukul 08.57 kami telah siap untuk bergerak ke Bondowoso dan kemudian ke Probolinggo. Kami akan bertemu dengan Pak Wiranto dan Pak Frans yang terpisah penginapan karena kekurangan kamar kemarin.

 

“Okey kita siap untuk berangkat. Radio-radio tolong dihidupkan dan kita main di Frequensi 142.750 Mhz ya.” kata saya mengingatkan.

 

“Oke pak.” Terdengar Pak Yudi di radio.

 

“Pak Dewa dan teman-teman semua,saya mohon ma’af tidak bisa ikut sampai ke Bromo. Saya akanmenemani sampai di pintu keluar perkebunan dan selanjutnya etman-temanyang mau ke Bondowoso lurus saja di portal pos keamanan, sementara saya akan belok kiri untuk kembali ke Denpasar,” kata pak Hadi di radio.

 

“Okey pak. Salam untuk Pak Agus dansampaikan terimakasih saya dan teman-teman atas segala dukungannya dan juga barbequenya.” Jawab saya melalui radio.

 

“Baik Pak Dewa.” Nanti akan saya sampaikan kepada beliau.” jawabnya.

 

Kamipun bergerak meninggalkan Catimor homestay milik PN Perkebunan XII yang terletak di Blawan kabupaten Bondowoso,  menyusuri jalan aspal sempit dengan kebun kopi dan jarak disisi kiri kanan jalan.

Matahari mulai menyinarkan sinarnya yang hangat membuat badan kami hangt setelah udara dingin tadi pagi sehabis mandi.

 

Perjalanan ke Bondowoso dan ke Probolinggo masih cukup panjang. Memerlukan kurang lebih 2 jam untuk sampai disana. Beruntung jalanan tidak begitu ramai, sehingga kami bisa bergerak dengan kecepatan yang cukup untuk mempercepat kami tiba di Probolinggo.

Kami masih melintas di aeral perkebunun amilik PN Perkebunan XII yang sangat luas. Tampak beberapa rumah semi permanen milik penduduk yang merupakan pekerja di perkebunan ini. Jarak satu rumah dengan rumah berikutnya agak jauh.

 

“Teman-teman semua, sampai dipertigaan ini kita  berpisah, saya akan berbelok ke kiri untuk kembaike Denpasar. Teman-teman silahkan ikut ijalan yang lurus di portal pos keamanan itu. Nanti ikuti saja jalan utama, jangan berbelok-belok sampai dipertigaan nanti, ikuti jalan besar yang menuju jalan utama ke Jember dan Probolinggo”. kata Pak Hadi lagi.

 

“Okey Pak Hadi. Selamat jalan. Hati-hati dijalan dan salam untuk Pak Agus.” jawab saya.

 

Kamipun berpisah. Chevy pick Up 4 X 4 yang dibawa Pak Hadi harus kembali ke Denpasar karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Mentari Restaurant.

Sementara kami terus bergerak menyusuri jalanan beraspal yang sempit dengan semak hutan kecil dan alang-alang dikiri kanan. Daerah di Bondowoso ini berbukit-bukit dengan tanah yang bercampur batu cadas. Sesekali kami melewati bongkahan batu cadas yang mungkin longsor dari atas dan akhirnya jadi bukit batu yang ditumbuhi alang-alang disekelilingnya.

 

“Awas banyak bebatuan lepas.” kata Pak Yudi yang paling depan kemudian diikuti oleh Pak Yande, Agung Wira, Gusmang, Pak Tut Uban, Saya dan paling akhir Pak Tut Boncel dengan FJ40 ungunya.

 

Jalanan mulai agak rusak dan banyak batu dan kerikil yang lepas sehingga membuat jalan agak licin, ditambah dengan bahu jalan yang sangat sempit membuat kita mesti ekstra hati-hati melintas diatasnya. Banyak tikungan tajam yang sempit dengan tebing dan juang di kiri atau kanan jalan.

 

Kami terus meluncur dengan hati-hati diantara tebing dan jurang yang menganga di kiri dan kanan jalan. Jalanan mulai terasa menurun. Altimeter menunjuk keangka 1.250 meter DPL dan terus menurun dengan cepat seseuai dengangerakan kami yang terus menuruni bukit terus kebawah menuju dataran rendah di Bondowoso.

 

Beberapa saat kemudian kami memasuki daerah pemukiman dan udara mulai terasa agak hangat cenderung panas, padahal baru pukul 10.49 WITA atau pukul 09.49 waktu setempat. Kami sudah memasuki wilayah kabupaten Bondowoso.

 

Secara geografis Kabupaten Bondowoso berada di bagian paling timur wilayah Jawa Timur dengan jarak kurang lebih 200 kilomeer dari Ibu kota Provinsi  Jawa sekitar 200 kilometer. Wilayah Kabupaten Bondowoso tidak dilalui jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Utara yaitu Banyuwangi – Situbondo -Probolinggo – Pasuruan – Surabaya dan jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Tengah yaitu Banyuwangi – Jember – Lumajang – Probolinggo – Pasuruan -Surabaya. Kedua jalur tersebut memiliki daya-dukung sumberdaya potensial bagi pengembangan ekonomi dan perdagangan Kabupaetn Bondowoso. Namun Bondowoso merupakan daerah tujuan yang hanya dilalui jalur provinsi dari Bondowoso – Situbondo dan Bondowoso – Jember.

 

Wilayah Kabupaten Bondowoso merupakan daerah dengan luas yang mencapai 1.560,10 km2, yang secara administratif terdiri dari 20 kecamatan,185 desa, dan 10 kelurahan.

 

Sekilas sejarah tentang Kabupaten Bondowoso.

 

Berawal dari nama dari Demang Walikromo yang bernama bernama Raden Bagus Assra. pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu dari Raden Tjakraningrat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo  adalah putra dari Raden Adikoro IV.

 

Pada tahun 1743 terjadi pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak darisalah seorang selir. Pertempuranpun terjadi di desa Bulangan dan  menewaskan Raden Adikoro IV, Tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap.

 

Setelah pertempuran selesai dilakukan  pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak dari Raden Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Namun tak beberapa lama kemudian kembali terjadi perebutan kekuasaan.  

Dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya dan menyingkir dengan diam-diam mengikuti perpindahan besar-besaran bekas pengikut Adikoro IV ke Besuki.

 

Semetara itu Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di sembunyikan dan dididik ilmu bela diri dan ilmu agama. Pada usia yang ke 17 tahun Assra  diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 dan ditugaskan untuk memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan. Pada tahun tu juga Assra telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo.

 

Pada tahun 1794 dalam usahanya  memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis yang kemudian  disebut Bondowoso. Dan dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan natas jasanya itu dia diangkat menjadi penguasa di Bondowoso dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno.

Begitulah, dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada bulan Agustus 1819 atau hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo sebagai orang kuat yang diangkat dan mendapat kepercayaan Gubernur Hindia Belanda, untuk memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Raden Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai dengan penyerahan Tombak Tunggul Wulung. .Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember. Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.

Begitulah sedikit cerita mengenai Kabupaten Bondowoso.

Kami masih terus bergerak untuk menuju Probolinggo. Sambil menunggu kabar dari pak Wiranto dan Pak Frans yang berjanji akan ketemuan di kota Bondowoso untuk bersama-sama ke Probolinggo.

(bersambung)

Ikuti terus cerita ini, kaena kisahnya semakin meanrik untuk disimak.

Salam Trooper dari Bali

  

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Bromo (bag. 4)


6 botol bir plus satu botol Arak Bali GGH  habis kami tenggak. Udara terasa semakin dingin ditambah hujan rintik rintik membuat kami mesti mengakhiri obrolan kami.

 “Yande sudahan dulu. Berhenti berendam nya.” Kata Pak Ketut Boncel sambil bangun dari tempat duduk.

 Synopsis cerit ayang lalu :

“Iya.” “Ini juga mau selesai”. “Enak lo berendam disini malam-malam.” katanya sambil bangkit dari kolam.

Cerita selanjutnya disini :

“Iya.” “Ini juga mau selesai”. “Enak lo berendam disini malam-malam.” katanya sambil bangkit dari kolam.

 “Enak karena ada yang nemenin atau memang enak.” Kata Gusmang sambil tertawa.

Akhirnya pukul 23.17 WITA kami pergi kekamar masing-masing untuk beristirahat karena besok pag isetelah sarapan kami akan bergerak lagi menuju Probolinggo, untuk bertemu dengan teman-teman KTI dari seluruh Indonesia namun sebelumnya jika memungkinkan kami akan mampir dulu di rumah Pak Irwan salah seorang anggota KTI Bali yang kebetulan istrinya pindah tugas dan untuk sementara waktu menetap di Probolinggo.

Begitulah kami pun segera masuk kamar masing-masing untuk berisitrahat agar bisa segar kembali besok.

 Perjalanan dari Blawan ke Bondowoso.

 Pukul 06.37 WITA atau pukul 05.37 WIB saya sudah terbangun karena mendengar suara burung dan gemericik air di kolam air panas  didepan kamar. Saya membuka pintu kamar dan mengintip keluar. Ternyata hari masih agak gelap. Saya keluar kamar dan duduk di amben sambil memandang ke kolam renang yang masih sunyi. Nampaknya belum ada tamu yang bangun. Saya berjalan-jalan ke sisi kanan kamar ke lapangan tempat menjemur biji kopi, dimana si Hitam saya parkir tadi malam.

Saya menekan remote control untuk membuka pintu si Hitam dan membuka kap mesin untuk  melihat ruang mesin, memeriksa air accu, air radiator dan ketinggian oli di deep stick. Alhamdulilah semuanya baik-baik saja.  Air accu msih dalam batas normal, air radiator juga tidak mengalami penurunan baik di radiator maupun di tabung reservoirnya. Hanya air di tabung washer yang tinggal setengahnya. Saya mengambil botol Aqua besar dan mengisi air yang saya ambildari jerrycan plastic yang saya bawa dikabin belakang, kemudian menuangnya ke tabung washer setelah dicampur dengan sedikit shampoo rambut.

Setelah itu saya hidupkan mesin setelah menendang pedal gas sekali. Dan si Hitam hidup dengan sekali start.  Saya membiarkannya hidup sejenak.

 “Kenapa itu Pak Dewa”. Tiba-tiba terdengar suara Agung Wira di belakang saya.  Rupanya Agung Wira juga baru bangun dan bermaksud memeriksa Trooper Hijaunya yang kinclong yang telah mengalami engine swap eke 4JB1T.

 “Oh. Tidak apa-apa.” “Cuma memeriksa kalau ada apa-apa di mesin”. Jawab saya.

“Sudah mandi pak Agung..?” tanya saya kepadanya.

 “Belum.” “Dingin lo” katanya.

 “He he he he.” “Iya. Lumayan dingin.” Jawab saya.

 “Tapi di Ijen tempat kita berhenti kemarin, pasti jauh lebih dingin dari disini.” Kata saya.

“Iya lo.” “Kemarin sore jam 3 sja sudah begitu dinginnya ya.” “Bagaimana kalau malam ya.” Katanya lagi.

 Agung Wira mengambil lap kanebo dari bawah jok dan membasahinya dengan air kemudian mengelap kaca depan dan kaca jendela Troopernya.

 “jam berapa kita berangkat.?” Tanyanya lagi.

 “Iya secepatnya.” “Setelah sarapan pagi.” Kata saya lagi.

Hari ini rencananya kami akan berangkat ke Probolinggo dan kalau ada waktu akan berkunjung ke rumah pak Irwan salah seorang anggota KTI Bali yang sementara ini menetap di Probolinggokarena istrinya yang bekerja di Telkomsel kini bertugas di PRobolinggo.

 “Yuuk mandi dulu.” kata saya kepada Agung Wira sambil berlalu.

 “Yuuk silahkan duluan deh. “ “Saya juga sebentar lagi mau mandi.” katanya.

 Saya masuk ke kamar lagi, dan hendak kekamar mandi, namun ternyata Dewinta anak saya sedang mandi.

 “Ayo cepetan mandinya.” “Sudah siang neh.” kata saya.

 Kami mandi bergiliran. Sambil menunggu anak-anak dan istri mandi saya keluar kamar dan duduk lagi diamben ketika Gusmang datang menghampiri. Rupanya dia sudah selesai mandi.

 “Sudamandi Pak Dewa..?” tanyanya.

 “Belum.” Masih antri. Tunggu giliran.” jawab saya.

 “Jam berapa mau berangkat..?” tanya lagi.

 “Iya setelah sarapan pagi, langsung berangkat saja.”  Kata saya lagi.

 “Dari sini ke Probolinggo kira-kira 2 ½ jam.” kata saya lagi.

“Kalau bisa kita berangkat jam 9 kita punya waktu untuk mampir di rumah Pak Irwan, sebelum bergabung dengan teman-teman yang lain di Terminal Probolinggo.” kata saya lagi.

 “Ngapain ke Terminal Probolinggo..?” tanya Gusmang lagi.

 “Iya kita ketemuan dengan teman-teman KTI yang lain dari seluruh Indonesia sebelum berangkat ke Gunung Bromo.” “ Kita tidak ikut CR ya.” Kata saya.

“Lo kok ngga ikut…?” tanya Gusmang lagi.

 “Iya neh kita agak khawatir dengan anak-anak nanti mereka bosan. Soalnya dengar-dengar CR ny akurang lebih 5 jam.” “Terlalu lama buat anak-anak.” Kata saya lagi.

(bersambung)

Ikuti terus cerita ini..

Salam Trooper dari Bali

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Bromo (bag.3)


Synopsys cerita yang lalu :

Saya mencari parkir yang diujung, dekat dengan pintu keluar yang terlihat masih agak kosong.  Setelah semuanya turun, saya ditemani Pak Hadi mencari kantor home stay ini untuk melapor dan meminta kunci kamar. Kami disambut oleh Pak Sugiarto dan Ibu Rum yang bertugas untuk  mengelola home stay ini.

Ikutilah cerita selanjutnya dibawah ini…

Sambil berjalan ke kantor home stay ini saya melihat berkeliling areal. Areal home stay ini luasnya kurang lebih 3.000 meter termasuk lahan yang dibeton dan disemen yang dipakai untuk menjemur biji kopi sebelum diproses lebih lanjut. Sekeliling areal dipagari dengan tembok dan sebagian dengan terali besi dengan gapura khas model Jawa Timur di pintu masuknya.

My daughter and my son in tent.

My daughter and my son in tent.

Ada kolam hias kecil didepan loby bangunan utama dan aneka tanaman hias dan tanaman perdu penutup tanah sehingga arealnya cukup asri untuk sebuah home stay dipegunungan. Bangunan utama terletak ditengah-tengah halaman dan terlihat sanagt tua namun cukup terawat. Di lis plang atap masih tertera tahun pembuatan bangunan utama itu. Tertulis tahun 1894. Didominasi warna merah terakota dan off white dengan atap dari seng membuat bangunan utama jadi tampak mencolok di tengah-tengah areal itu karena lebih tinggi dibandingkan dengan bangunan lain disekitarnya..

Bangunan utama ini didirikan lebih tinggi dari bangunan lainnya dan ada gorong-gorong dengan diameter kurang lebih 90 centimeter sehingga cukup untuk seorang dewasa bersembunyi dibawahnya. Sementara lantai bangunan ini juga dibuat cukup tinggi, sekitar 180 centimeter dari halamannya. Ada 11 anak tangga untuk naik ke lantai bangunan utama ini. Cukup tinggi ya.

Menurut  bapak Sugiarto yang sempat berbincang-bincang dengan saya, dulu saat dibangun oleh Belanda di daerah itu mungkin banyak binatang buas dan sering terndam banjir di saat hujan lebat, sehingga arsitek Belanda membangun bangunan utama itu dengan ketinggian yang cukup untuk menghindari binatang buas dan air yang menggenang tinggi.

Bangunan utama ini memiliki 6 kamar yang besar dengan perlengkapan yang lebih baik dari kamar yang kami dapatkan dibagian belakang. Bangunan utama ini dihubungkan dengan koridor yang beratap dengan bangunan kamar di belakang dimana kantor home stay juga memakai salah satu ruangan disana. Di pinggir atap bangunan utama dibibir bawah lantai tersusun satu set meja makan dengan beberapa kursi yang rupanya dipakai untuk menyiapkan sarapan pagi bagi tamu-tamu yang menginap disana.

Di belakang bangunan utama ada 14 kamar lagi. Berderet dari arah sisi kiri ke kanan. Namun tampaknya yang siap ditempati hanya 9 kamar karena yang 5 kamar lagi terlihat berantakan dan sedang dalam pengerjaan.

Kamar di ujung di sisi sebelah kiri berhadapan dengan kolam renang yang cukup besar dan ada semacam “Jakuzi” kolam kecil untuk berendam air hangat dimana terlihat uap air mengepul dari dalamnya.

Pak Sugiarto yang menemani menjelaskan bahwa itu adalah kolam air panas  untuk berendam. Air panas itu berasal dari air panas alam yang dialirkan dari mata air panas Gunung Ijen yang mengandung belerang.  Katanya suhu air panas itu kurang lebih 40 derajat.  

Nanti kalau urusan pembagian kamar sudah selesai saya coba berendam di air belerang yang hangat itu.

Ibu Rum ini belum terlalu tua. Mungkin sekitar 38 tahun, dengan tinggi sekitar 160 centimeter. Saya dan Pak Hadi melapor ke kantornya yang terletak di depan bangunan utama peninggalan Belanda  dibagian belakang.

“Maaf Pak kamar yang tersedia hanya 7 kamar. Tapi yang sudah siap saat ini baru 3 kamar. Yang 4 kamar lagi mungkin baru siap nanti sore kurang lebih 2 jam lagi.” katanya.

“Lho mbak. Pesanan kami kan ada 9 kamar mbak.” Kata saya.

“Maaf sekali Pak. Ternyata ada inspeksi mendadak dari atasan kami ajudan menteri perkebunan dan rombongan sehingga kamar yang telah kami siapkan untuk rombongan bapak terpaksa kami berikan kepada ajudan Bapak Menteri dan rombongannya, sehingga jumlah kamar yang tersedia hanya itu saja.” Kata mbak Rum.

“Waduh bagaimana ya. Kok kami tidak diberi tahu sebelumnya kalau kamar yang tersedia hanya 3 kamar. sehingga kami tidak bingung seperti sekarang ini.” Kata saya.

Ternyata kamar yang benar-benar siap cuma 3 kamar, sementara yang 4 lagi sedang dalam proses pengerjaan, belum ada kasur dan kamar mandinya pun belum selesai juga. 

Dari 3 kamar yang ada, 1 kamar sudah dipakai istri saya yang sudah tidak tahan menahan sakit dan akhirnya tertidur setelah minum obat terakhir yang masih tersisa. 1 kamar dipakai oleh pak Hadi dan keluarganya dan yang 1 kamar lagi dipakai oleh istri Agung Wira dan istri Gusmang dan anak-anaknya. Sementara kami para prianya masih berkutat diluar membicarakan yang terbaik bagi kami semua

“Kalau sejak awal kami diberi tahu, tentu kami akan siap dengan kondisi seperti ini.” kata saya lagi.

Saya coba berunding dulu dengan teman-teman. Nanti saya datang lagi kesini mbak.” kata saya lagi sambil keluar ruangan.

Saya menemui Pak Yudi, Pak Wiranto dan Pak Ketut Boncel untuk mendiskusikan masalah itu.

Setelah berkumpul dengan teman-teman yang lain saya sampaikan masalah yang ada dan mencari solusi yang terbaik untuk kami semua.

Pak Ketut Boncel  dan Pak Yudi siap untuk pasang tenda jika seandainya tidak ada kamar juga.

Sempat terjadi ketegangan antara Pak Yudi dan Pak Wiranto karena masing-masing saling bersikukuh dengan pendapatnya untuk mencari solusi yang terbaik bagi kami.

Hari sudah menjelang magrib saat kami berembug itu.  Sudah pukul 18.45 WITA namun ternyata kami belum mendapatkan kesepakatan apakah akan buka tenda ataukah mau pakai kamar.

Setelah hampir satu jam berdiskusi dan berargumentasi, akhirnya atas permintaan Pak Wiranto yang tidak mau menempati kamar yang baru selesai dan masih berbau cat akhirnya beliau memutuskan untuk mencari hotel terdekat di Bondowoso atau di Probolinggo. 

Mengingat hari yang telah gelap dan jalanan yang sepi dan agak berbahaya, maka kami meminta agar Pak Wiranto ada yang menemani.“Biar saya saja yang ikut Pak.” Kata Pak Frans tiba-tiba.

“Oke kalau Pak Frans mau menemani, silahkan.” “Kalau tidak ada yang menemani biar saya yang menemani.” Kata pak Yudi pula.

“Baik kalau sudah semua sepakat. Kita putuskan Pak Wiranto dan Pak Frans untuk pergi ke hotel terdekat di Bondowoso ataupun di Probolinggo.” Akhirnya saya memutuskan.

“Tapi sebelum berangkat kita makan bersama-sama dulu.” Kata saya sambil berlalu untuk melihat Pak Hadi dan teman-teman yang lain yang sedang membakar ikan dihalaman pabrik kopi disebelah.

Cukup malam ketika kami makan malam bersama. Sudah pukul 20.15 WITA.

Kami makan bersama dipinggir kolam renang dengan hidangan nasi putih, sayur lodeh dan ikan tuna bakar dengan sambal terasi pedas.

Makan bersama seperti itu ternyata terasa sangat nikmat. Saat-saat bersama seperti inilah yang sering membuat saya teringat dan rindu teman-teman KTI Bali.  Walau makan hanya dengan lauk yang sederhana, namun karena makannya bersama membuat semuanya terasa nikmat.

Akhirnya pukul 20.38 WITA Pak Wiranto dan Pak Frans berangkat ke Bondowoso dan kami berjanji untuk menjemput esok pagi untuk kemudian berangkat bersama-sama ke Bromo.

Me

Me

“Hati-hati dijalan pak. Jalanan rusak dan gelap.” “Kalau ada apa-apa mohon kabari kami ya.” pesan saya saat Pak Wiranto bergerak meninggalkan penginapan.

Sepeninggal Pak Wiranto dan Pak Frans kami masih duduk-duduk di depan meja makan sambil minum bir dan Arak Bali GGH produksi Singaraja yang dibawa Pak Ketut Boncel.

Saat itu ada beberapa kendaraan yang mendekat. Rupanya ada tamu yang baru tiba dari tour dan menginap disini. Beberpa dari mereka kemudian berenang di kolam renang di depan kami dan beberapa orang memilih berendam di kolam air hangat. Kami memeperhatikan mereka yang berenang sambil ngobrol seputar perjalanan kami dan masalah kekurangan kamar yang baru saja kami hadapi. Kami sedikit menyesal karena Pak Wiranto tidak mau kompromi untuk tetap bersama kami di sisni dan berbagi kamar.

Tapi apa mau dikata. Semua itu adalah hak beliau untuk memilih yang terbaik menurut beliau.

“Hei hei Yande mau ngapain itu…?” tiba-tiba Gusmang berteriak sambil tertawa.

Kami menoleh kearah Yande yang datang dari kamarnya. Dia Cuma mengenakan celana renang dan bertelanjang dada.

“Yande mau ngapain neh.” Kata Pak Ketut Boncel juga.

“Saya mau berendam neh” katanya.

“Wha ha ha ha. Malam-malam begini berendam. Tadi diajakin ga mau.” tawa Gusmang semakin menjadi.

 “Ah Yande itu mau berendam, bersama perempuan Taiwan itu kaleee…” tawa Pak Ketut Boncel lagi.

Memang ada beberapa turis Taiwan perempuan yang berendam dikolam air hangat itu.  Cantik-cantik juga. He he he…

Kami masih ngobrol sampai larut malam sambil sesekali memperhatikan Yande yang ikut berbaur dengan turis-turis wanita Taiwan berendam dikolam air hangat itu.

 6 botol bir plus satu botol Arak Bali GGH  habis kami tenggak. Udara terasa semakin dingin ditambah hujan rintik rintik membuat kami mesti mengakhiri obrolan kami.

 “Yande sudahan dulu. Berhenti berendam nya.” Kata Pak Ketut Boncel sambil bangun dari tempat duduk.

 “Iya.” “Ini juga mau selesai”. “Enak lo berendam disini malam-malam.” katanya sambil bangkit dari kolam.

(bersambung)

Ikuti terus cerita perjalanan ini.

 Salam Trooper dari Bali

Dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roff-Black- Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Bromo (bag.2)


Synopsys yang lalu :

Saya segera berbelok naik mengikuti teman-teman yang sudah parkir di lapangan itu. Setelah memarkir si Hitam, saya melompat turun diikuti oleh istri dan anak-anak saya Yoga dan Dewinta yang sudah mengeluh dari tadi karena pegal duduk di mobil dari tadi siang.

Silahkan baca cerita selanjutnya disini :

 

 

Mount Bromo

MOunt Bromo

 

Bertemu Mas Wenda, Mas Nanang dan Pak Imam.

Ketika saya saja  menutup pintu da Trooper saya dengar ada yang memanggil nama saya. Saya berbalik dan menoleh kearah suara tadi.

“Mas Dewa” terdengar lagi suara memanggil saya.

Kali ini saya berpaling kearah kiri. Ditikungan yang agak menanjak kurang lebih 20 meter dari tempat saya berdiri  terlihat sebuah Cherokee Biru sedang mendekat dengan kaca jendela yang terbuka. Saya masih belum bisa mengignat-ingat siapa gerangan yang mamanggil saya itu kaerna belum terlihat jelas wajah pengendara Cherokee itu.

MY BLACK TROOPER

MY BLACK TROOPER

Sampai akhirnya setelah lebih deklat lagi, sekitar 7 meter dari tempat saya berdiri di parkiran say abaru bisa mengenali wajah pengendara Cherokee itu. Ternyata Mas Wenda dari KTI Surabaya.

“Hai mas Wenda.” Kata saya sambil melambaikan tangan.

Yang dibalas dengan lambaian tangan juga oleh mas Wenda.

Cherokee Biru itu segera berbelok ke parkiran dimana saya berdiri. Saya segera mendekat kearah Cherokee itu dan menyapa mas Wenda yang segera melompat turun dari dalamnya.

Dengan T-shirt biru tua dengan garis bis kuning dikrah dan di lengan, mas Wenda terlihat lebih gemuk dibandingkan saat terakhir saya ketemu di Lumajang pada September tahun 2007.

Setelah mas Wenda turun dari Cherokee kami bersalaman dan berpelukan.

“Kapan datang mas…?” tanya saya.

“Kami sudah dari kemarin mas” jawabnya. “Mas Dewa sendiri kapan berangkat..?” tanyanya balik kepada saya.

“Kami berangkat tadi pagi pukul 7.15 mas.” Jawab saya.

“Ada berapa mobil yang kesini mas…?” tanya saya lagi.

“Saya, Mas Nanang, Pak Jamal dan Pak Imam Cilegon dan ada satu Trooper lagi. Ada 5 mobil mas.” kata mas Wenda.

“Yang dari Bali ada berapa mobil mas.?” Tanyanya.

“Dari Bali ada 11 mobil mas.” Jawab saya. “ Tapi kami bermalam di Blawan dulu di home stay Catymor milik PN Perkebunan Nusantara XII.” Jawab saya menjelaskan.

“Besok pagi kami berangkat ke Probolinggo dan ketemu dengan teman-teman semua di sana.” Kata saya lagi.

“Oh begitu.” Kata mas Wenda.

“Itu mas Nanang datang.” Kata mas Wenda ketika di tikungan terlihat beberapa kendaraan yang sedang mendaki. Saya hitung ada 4 Trooper sedang mendekat.

Ada Trooper Hijau mas Nanang, Trooper SWB Coklat dengan cutting stiker warna merah, Trooper Hijau Army dan satu lagi Trooper Biru Tua dengan roof rack  yang memuat banyak barang memasuki parkiran.

Satu persatu penumpangnya turun.

“Apa kabar mas Dewa…?” kata mas Nanang yang paling dulu turun dan langsung menghampiri saya yang telah menunggu di dekat Trooper Hijaunya.

“Kabar baik mas.” Mas Nanang bagaimana..?”  kata saya padanya.

“Alhamdulilah sehat mas.” Jawabnya.

“Keluarga ikut semua mas…?” katanya lagi.

Kami bersalaman dan berpelukan. Saya ketemu mas Nanang cuma sekali saja waktu TIG VI Bali dimana saat itu mas Nanang jadi Bendahara Panitia.

Me in Black

Me in Black

Mas Nanang masih terlihat muda dan agak gemuk dibandingkan saat ketemu pada akhir tahun 2006 dulu.

“Iya mas”. “Semua keluarga saya ajak.” jawab saya.

“Wah asyik mas.”  “Saya ngga bawa keluarga, sama navigator saya ini.” katanya menunjuk temannya yang berdiri disebelahnya yang kemudian saya salami.

“Saya langsung balik ke Surabaya sebentar malam mas.” “Besok  dari Surabaya langsung ke Probolinggo.” lanjutnya lagi.

“Bukan main mas.” Kata saya lagi.

“Pak Dewa apa kabar.” Terdengar ada yang menyapa saya dari belakang yang ternyata adalah Pak Imam Prasojo dari KTI Cilegon. Pak Imam juga mengajak seluruh keluarganya. Istri dan putri tertua dan putra kembarnya yang sudah beranjak dewasa.

Kami bersalaman sambil saling menanyakan kabar keluarga masing-masing. Istri Pak Imam menyalami saya dan istri saya yang kemudian terlibat obrolan panjang. Mereka saling bertukar kabar.

 Saya menyalami putra-putra Mas Imam yang sudah besar-besar. Dulu saat TIG VI Bali mereka masih kecil-kecil. Ternyata tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Seperti halnya saya, ternyata di awal tahun ini saya sudah genap berumur 46 tahun. Tepatnya tanggal 5 Januari 2009 kemarin. Usia yang sudah tidak muda lagi sebenarnya, namun hasrat dan semangat untuk terus beraktifitas senantiasa mendorong saya untuk terus bergerak  yang membuat fikiran saya tetap sehat dan jauh dari lelah.

 “Pak Dewa tidak naik ke kawah pak..?” tanya Ibu Imam.

“Oh tidak Bu.” Kami mau langsung ke Blawan untuk bermalam disana.” Jawab saya.

“Wah rugi dong jauh-jauh dari Bali tiadk nengok kawah.” katanya sambil tertawa.

“Iya sih. Mungkin lain kali kalau masih diberi oleh Yang Maha Kuasa  kesempatan kami akan mengunjungi kawah Ijen saja sampai puas.” Jawab istri saya sambil tertawa juga.

“Mas Dewa tadi kesini lewat mana..”? tanya mas Wenda.

 “Lewat  Banyuwangi mas.” Jawab saya.

“Oh ya. Wah jalan ke Bondowoso rusak berat mas. Banyak bebatuan yang lepas.” kata mas Wenda lagi.

“Kan sudah pakai Trooper mas.” Kata saya sambil tertawa.

Langit agak muram. Dan udara sangat dingin di siang hari itu. Pukul 14.17 WITA atau pukul 13.17 WIB. Namun udara di sini sangat dingin. Saya yang hanya mengenakan singlet mulai merasa agak kedinginan.

Parkiran Gunung Ijen berada pada ketinggian 2.240 meter diatas permukaan laut. Tidak heran udara disini agak dingin menusuk.

Saya mengambil Barometer untuk melihat suhu udara disini. 19 derajat Celcius…!!!  Pantaslah udaranya terasa dingin menusuk.

Pak Hadi memberi isyarat kepada kami untuk segera berangkat ke Blawan agar tidak kemalaman disana nanti.

“Maaf Pak Imam, mas Wenda, mas Nanang kami pamit dulu untuk turun ke Blawan agar tidak kemalam nanti.” kata saya.  “Sampai jumpa besok di Bromo.” kata saya lagi.

“Baik Pak. Hati-hati dijalan.” “Banyak batu lepas disepanjang jalan menuju Bondowoso ini.” Kata Mas Nanang.

Setelah bersalam-salaman kami segera naik ke kendaraan kami masing-masing dan segera bergerak kearah barat menuju Bondowoso.

“Pak Hadi monitor pak?”  saya memanggil Pak Hadi melalui radio komunikasi.

 “Masuk pak Dewa.” Kata Pak Hadi.

 “Pak kira-kira berapa jam lagi kita sampai di Blawan..?” tanya saya.

“Kurang lebih 1 1/2 lagi jam pak.” Jawab pak Hadi.

“Ok pak. Terimakasih.” Jawab saya sambil terus mengendalikan si Hitam.

Pemandangan di sepanjang jalan hanya hutan kecil dan diselingi oleh semak-semak dan ilalang yang tinggi. Jalanan terus menurun dan sempit, namun cukup mengasyikkan juga.

Hanya sesekali kami berpapasan dengan kendaraan jenis pick up yang mengangkut hasil bumi.

“Awas. “Hati-hati. Dari arah depan ada Isuzu panther yang meluncur agak cepat.”  seru pak Hadi di radio mengingatkan teman-teman dibelakangnya.

 “Di copy.” jawab saya.

Di belakang saya ada Pak Frans dengan Trooper Silver bensin.

Pak Frans ini baru saja bergabung di KTI Bali, namun saying, belum sempat menikmati keberadaanya di Bali karena harus segera pindah tuigas ke Yogya.

Jadi begitu selesai acara TIG VIII Jatim pak Frans akan terus ke Yogya untuk selanjutnya menetap di Yogya. Diantara kami semua barang-barang bawaan pak Frans-lah yang paling banyak, karena berbagai barang peralatan rumah tangga diangkut dengan da Trooper Silvernya sekalian boyongan ke Yogya, sehingga barangkali Trooper Pak Frans-lah yang paling berat bawaannya.

Kami terus bergerak dijalanan yang terus menurun. Tikungan demi tikungan kami lalui. Mengingat jalanan yang sempit dan berliku serta jurang yang mengana di kiri kanan, kami mesti mengatur kecepatan dan jarak dengan kendaraan di depan agar tidak membahayakan diri sendiri maupun teman yang lain.

Beberapa kali kami melewati dataran yang ditumbuhi padang ilalang dan semak-semak dengan lembah dan ngarai disekitarnya. Pemandangan disini cukup bagus, namun sayang kami tidak sempat mengambil gambar mengingat jalanan yang sempit akan menyulitkan untuk berhenti sejenak.

Belum lagi jalanan yang rusak berat dengan aspal dan bebatuan yang lepas sehingga kita mesti tetap bergerak dengan hati-hati.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 ½ jam, akhirnya kami memasuki kawasan perkebunan Blawan. Dikiri kanan kami tampak kebun kopi dan beberapa pahon perdu-perduan yang saya tidak ketahui namanya. Kami mulai memperlambat laju kendaraan agar dapat menikmati indahnya alam disini.

 “Kita sudah memasuki areal perkebunan PN Perkebunan XII Blawan. Perkebunan ini adalah sisa peninggalan jaman Belanda.” Terdengar Pak Hadi menjelaskan lewat radio.

 “Ok.” “Terimakasih atas infonya pak.” Jawab saya.

 “Mohon berhati hati disini.”  “Karena jalanan terus menurun dan agak curam. Tapi tak pelu memakai 4 wheel drive lah.” katanya lagi.

Kami terus bergerak menuruni jalan  dengan hati-hati.

Jalanan disini cukup bagus dan sudah beraspal dan dikiri kanan jalan ditanami pohon hias dengan berbagai warna dedaunan disamping ada beberapa bunga Chrisantemum atau nama lokalnya bunga Seruni dan juga Gerbra serta ada kembang Mataram warna warni menambah asrinya alam disepanjang jalan.

 Kami terus bergerak mengikuti Pak Hadi sebagai leader. Dan beberapa saat kemudian kami melihat beberapa rumah pemukiman yang rupanya pemukiman untuk para karyawan PN Perkebunan XII yang bekerja di perkebunan ini.

 “Nah kita telah tiba di komplek home stay Catimor.” Terdengar Pak Hadi menjelaskan di radio.

 Pak Hadi berhenti di depan dan melapor kepada petugas security yang berjaga di portal di pos jaga.

“Ok Pak Dewa saya sudah lapor kepada petugas bahwa rombongan Trooper dari Bali akan memasuki komplek Home stay Catimor dengan 11 mobil.” Kata Pak Hadi lagi.

“Baik Pak hadi.”  “Terimakasih.” Jawab saya.

Kami bergerak lagi untuk memasuki halaman home stay yang berjarak kurang lebih satu kilometer lagi kedepan.

Dikiri kanan kami berjejer rapi pohon kopi yang sedang berbuah namun masih nampak hijau. Kami terus bergerak menurun. Dan Altimeter di da Trooper menunjuk ke angka 1100 meter diatas permukaan laut. Udara masih terasa sejuk namun tidak sedingin waktu kami beristirahat di parkiran Gunung Ijen.

Dibawah sana, kami melihat ada bangunan semi permanent yang tampak kuno dengan atap seng dan ada juga bangunan dengan halaman yang di beton dan disemen halus. Saya menduga itu pastilah tempat menjemur biji kopi dan mengolahnya dipabrik untuk diproses jadi kopi bubuk.

Pukul 15.21 waktu da Trooper kami akhirnya memasuki halaman home stay Catimor milik PN. Perkebunan Nusantara XII. Rupanya ada kesibukan yang cukup tinggi di home stay. Perlahan-lahan kami semua memasuki halaman home stay dan mencari tempat parkir yang aman.

Tempat parkir yang tidak terlalu luas ini tampak penuh, karena ada sebuah Nissan Navara Hitam, sebuah Honda New CRV Silver, sebuah Isuzu Panther lama Hijau, Sebuah FJ Hard Top, sebuah Taft GT Abu-abu dan sebuah Truk Mitsubishi diesel merah tampak terparkir di halaman.

Saya mencari parkir yang diujung dekat dengan pintu keluar yang terlihat masih agak kosong.  Setelah semuanya turun, saya ditemani Pak Hadi mencari kantor home stay ini untuk melapor dan meminta kunci kamar. Kami disambut oleh Pak Sugiarto dan Ibu Rum yang bertugas untuk  mengelola home stay ini.

“Kekurangan kamar”

(bersambung)

Ikuti terus cerita ini karena semakin lama ceritanya semakin menarik…

Salam dari Bali

Me

Me

 

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper