Perjalanan ke TIG X Dieng, Jawa Barat


Dear all of “da Trooper bali” friends.  Selamat Tahun baru 2011, semoga di tahun yang baru ini apa yang kita harapkan, yang kita cita-citakan dapat tercapai dan Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberi kita kemudahan. Amin.

Pada awal tahun ini saya ingin menceritakan sekilas perjalanan si Hitam ke Pegunungan Dieng di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Perjalanna ini memang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari agar bisa menghadiri Trooper Indonesia Gathering atau TIG X  yang dihelat di dataran tinggi Dieng. Namun mengingat kondisi saya dan juga financial kami yang terkena musibah yang bertubi-tubi membuat saya mesti menghitung lagi anggaran yang mesti dikeluarkan untuk bepergian yang cukup jauh seoperti Dieng ini, Istri saya sebenarnya sudah menolak untuk berangkat mangingat kondisi keuangan kami yang memang benar-benar sedang down dan morat marit. Namun kecintaan dan semangat saya untuk dapat bertemu dengan teman-teman dan saudara-saudara dari anggota KTI chapter seluruh negeri, saya memaksakan diri untuk berangkat walau dengan persiapan yang seadanya serta dana yang benar-benar mesti dihemat. Rencananya kami berangkat bertiga dengan istri dan Dewinta anak perempuan kami yang sangat ingin ke Dieng. Namun apa daya,  sehari sebelum berangkat tiba-tiba Dewinta demam tinggi dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan dari hasil pemeriksaan Dewinta mendapat gejala thypoid atau typus. Sehingga Dokter menganjurkan untuk istirahat di tempat tidur untuk memulihkan kondisinya. Jadilah kami berangkat berdua saja dengan perasaaan galau karena memikirkan anak kami dirumah.

Start dari McD Gatos Subroto barat.

Pada tanggal 28 Desember 2010, dua hari sebelum keberangkatan, kami ketemuan dengan Mr. Holger dan istrinya Ibu Rina Holger di McD untuk mendiskusikan rencana keberangkatan ke Dieng. Dan kami mendiskusikan rencana keberangkatan dan persiapan persiapan lainnya. Begitulah akhirnya kami sepakat untuk berangkat tanggal 30 Desember 2010 dengan meeting point di McDonald Gatot Subroto Barat dekat rumah saya.

Pada tanggal 30 Desember 2010 pukul 5.45 saya sudah di McD dan ternyata Mr. Holger dan istrinya Ibu Rina serta Pak Yudi mekanik Mas Anto sudah menunggu. Mas Anto pemilik Kurnia Motor memberikan kami untuk mengajak mekaniknya, Pak Yudi untuk menemani berjaga-jaga jika si Landy ada masalah teknis dijalan. Dengan adanya Pak Yudi, saya menjadi lega, karena jika ada masalah dengan kendaraan kami ada yang bisa diandalkan untuk menangani.

Kami masih sempat minum kopi di McDonald sebelum berangkat, meski tadi sebelum  ke McDonald saya dan istri sudah sarapan ringan dirumah. Setelah berdiskusi sejenak, pukul 06.17 WITA kamipun bergerak menuju Gilimanuk dengan kecepatan sedang. Rata-rata 60 km per jam.

Semalam tangki si Hitam sudah saya isi full dengan tambahan 45 liter senilai Rp.245.000,- sehingga fuel meter nyender ke kanan saat kunci kontak di on kan.

Pukul 9.37 kami memasuki Gilimanuk dan alhamdulilah tanpa menunggu, kami langsung masuk keperut ferry. Tak banyak kendaraan yang menyeberang di pagi ini, hanya ada 3 truk, 2 bus besar, 1 Taruna Biru, 1 Kijang Kapsul Silver, satu minibus Daihatsu Zebra Biru, 1 Sedan Nissan Sunny, 1 Landy White Sand milik Mr. Holger dan si Hitam milik saya, serta sejumlah sepeda motor yang tidak sempat saya hitung jumlahnya. Cukup banyak sepeda motor yang menyeberang ke Ketapang.

Kami turun dari kendaraan masing-masing dan naik keatas geladak kemudin duduk berbaur dengan penumpang lainnya. Ferry ini cukup bersih dan nampaknya tidak terlalu lama habis direnovasi. Catnya putihnya masih bersih begitupun kaca jendela masih jernih.  Saya dan Mr. Holger duduk dimeja diseberang deretan kursi sambil ngobrol, sementara istri saya dan Ibu Rina duduk dideretan kursi terdepan sambil ngobrol juga. Seperti biasa musik dangdut selalu menemani ferry dari dan ke Ketapang menambah riuhnya suasana di atas ferry ini. Gelombang dan ombak tidak terlalu tinggi sehingga kami tidak merasakan ferry yang kami tumpangi terus berlayar dan pukul 10.07 karena asyik berbincang tanpa kami sadari ferry yang menyeberangkan kami telah berlabuh di Ketapang. Kami segera turun ke parkir mobil sambil berbincang dan masuk kedalam kendaraan masing-masing dan meneruskan perjalanan yang masih jauh menuju Dieng. Matahari sudah mulai naik sehingga membuat cuaca terasa hangat. Rencananya kami akan terus bergerak sampai terasa lelah dan akan menginap di daerah Ngawi atau Nganjuk.

Pengendara motor berebutan untuk keluar dari perut ferry yang kami tumpangi sehingga suasana hiruk pikuk dan bising karena suara mesin motor yang berebut hendak keluar dari ferry.

Saya dan istri masuk kedalam kabin si Hitam dan menghidupkan mesin dan AC untuk menyejukkan kabin sementara menunggu giliran keluar dari perut ferry.  Setelah Daihatrsu Zebra birudidepan si Hitam bergerak keluar, saya menginjak pedal gas si Hitam untuk maju perlahan lahan, dan berhenti sejenak karena tiba-tiba Daihatsu Zebra di depan berhenti karena mesinnya mati. 

Setelah si Zebra keluar disusul si Hitam dan Mr. Holger dengan short landy White sand nya mengekor dibelakang si Hitam.  Kami berhenti di depan dermaga sambil mendiskusikan perjalanan nanti. Setelah menyepakati rute dan tempat istirahat, kami kemudian bergerak dengan kecepatan sedang, rata-rata 60 – 70 km perjam dan rencananya akan istirahat saat waktu makan siang nanti didaerah Pasir putih.

Pada pukul 12.27 akhirnya kami tiba di Pasir Putih, Besuki  dan segera memasuki halman deretan rumah makan yang ada. Setelah memarkir kendaraan masing-masing, Mr. Holger dan istrinya masuk ke rumah makan Padang, seelah berdiskusi saya dan istri mengikuti mengikuti Mr. Holger, makan di Rumah makan Padanmg.

Kami makan dengan cepat untuk mempersingkat waktu, dan pukul 13.17 WITA kami sudah selesai makan dan bergegas naik kekendaraan masing-masing.

Namun ternyata si Landy tidak bisa start. Setelah di periksa ternyata dynamo starter ngadat. Terpaksa kami mendorongnya dan untungnya sekali dorong mesin si White Sand Landy ini langsung hidup.

Kami meneruskan perjalanan dan terus bergerak. Dan pada pukul 13.35 kami masuk SPBU di Besuki, Situbondo untuk mengisi tangki si Hitam yang tinggal setengahnya. Setelah diisi 40 liter tangki si Hitam penuh lagi Si White Sand Landy tidak mengisi bensin karena di tangkinya masih 3/4nya.

Pukul 21.27 WITA kami memasuki Jombang, mengingat perjalanan yang masih jauh, akhirnya kami putuskan untuk menginap  di Jombang. Kami menginap di Hotel Sentral, di Jalan Merdeka Jombang dengan harga semalam Rp.225.000,- perkamarnya.

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami makan malam. Kebetulan diseberang hotel ada rumah makan bebek goring. Jadilah malam itu kami makan bebek goreng.

Pada pukul 22.15 makan malam diwarung bebek goreng diseberang hotel Sentral Rp.93.000,-

Kami sempatkan berbelanja di Alfa Mart disebelah warung bebek goreng itu untuk membeli camilan untuk bekal dalam perjalanan.

Tanggal 31 Desember 2011 rencananya kami akan berangkat pagi-pagi sekali untuk mengejar waktu agar bisa tiba di Dieng tidak terlalu malam.

Tiba-tiba hand phone saya bergetar. Saya membuka Hp dan rupanya dari Mas Erik  KTI Surabaya menelpon dan mengajak kami untuk berangkat bareng berkonvoy ke Dieng. Senang rasanya ada teman KTI Jawa Timur yang akan menemani kami yang hanya dua mobil dalam perjalanan sehingga menambah semangat.

Sambil menunggu rombongan KTI Surabaya kami minum segeals kopi susu dikantin penginapan.

(bersambung)

Advertisements