(Reposted) PerjalananKTI Bali ke TIG VIII Bromo ( bag. 5)


Synopsys cerita yang lalu :

“Iya neh kita agak khawatir dengan anak-anak nanti mereka bosan. Soalnya dengar-dengar CR ny akurang lebih 5 jam.” “Terlalu lama buat anak-anak.” Kata saya lagi.

“Dari sini kita coba langsung ke Probolinggo ya.” kata saya lagi.

“Maaf saya tinggal dulu ya.” “Giliran untuk mandi neh.” Kata saya sambil beranjak ke kamar untuk mandi.

Ketika saya  beranjak, tampak Bli Boncel sedang memasukkan barang-barang ke FJ 40 ungunya. Rupanya dia sudah selesai mandi dan berkemas-kemas.

Selengkapnya silahkan baca berikut ini :

Saya segera masuk ke kamar mandi, sementara isti dan anak-anak sudah mengemasi barang-barang bawaan dan memasukkannya ke dalam mobil.

Saya mandi dengan cepat. Satu gayung air saya guyurkan dari atas kepala.

Hhhhh. Ternyata memang dingin. Setelahmengguyur banda dengan 2 – 3 gayung dingin baru terasa agak berkurang, karena badan sudah mulai beradaptasi dengan dinginnya air dan udara.  Sepuluh menit kemudian sya sudah selesai mandi dan siap untuk sarapanpagi.

“Ayo dong semuanya kita sarapan dulu. Mumpung masih agak pagi.” kata saya kepada semua teman-teman yang sudah tampak siap untuk sarapan.

Pak Ketut Uban, istri dan anak-anaknya juga sudah siap.

Pukul 8.17 WITA kami sudah berkumpul di meja makan yang telah disiapkan di teras bangunan utama. Sarapan pagi berupa Nasi putih, telur asin rebus, telur mata sapi, tempe goring dan sayur pecel. Lha, pagi-pagi kok sarapannya pakai pecel. Gumam saya dalam hati.

Tetapi karena udara yang dingin membuat kami merasa lapar. Dan saat perut lapar makanan apapun yang tersedia akan terasa enak dimakan. He he he he…

Kamipun makan dengan lahap sambil sesekali mengomentari hidangan yang disiapkan itu. Makan pagi ini sudah termasuk dalam harga kamar yang Rp. 125.000,- permalam untuk dua orang.

“Pak Tut ayo makan dulu. Nanti dihabisin sama Gusmang makanannya.” Kata Agung Wira sambil tertawa bercanda kepada Bli Boncel yang baru datang dari memasukkan barang-barang bawaan ke FJ40 nya.

“Iya-iya. Silahkan makan duluan. Ini nunggu Ayin.” Katanya. Ayin adalah anak perempuan Bli Boncel.

Sementara yang lain masih menyelesaikan sarapan paginya saya pergi ke kantor Catimor homestay untuk membayar sewa penginapan agar bisa berangkat lebih cepat begitu teman-teman selesai sarapan.

Pukul 08.57 kami telah siap untuk bergerak ke Bondowoso dan kemudian ke Probolinggo. Kami akan bertemu dengan Pak Wiranto dan Pak Frans yang terpisah penginapan karena kekurangan kamar kemarin.

“Okey kita siap untuk berangkat. Radio-radio tolong dihidupkan dan kita main di Frequensi 142.750 Mhz ya.” kata saya mengingatkan.

“Oke pak.” Terdengar Pak Yudi di radio.

“Pak Dewa dan teman-teman semua, saya mohon ma’af tidak bisa ikut sampai ke Bromo. Saya akan menemani sampai di pintu keluar perkebunan dan selanjutnya teman-teman yang mau ke Bondowoso lurus saja di portal pos keamanan, sementara saya akan belok kiri untuk kembali ke Denpasar,” kata pak Hadi di radio.

“Okey pak. Salam untuk Pak Agus dan sampaikan terimakasih saya dan teman-teman atas segala dukungannya dan juga barbequenya.” Jawab saya melalui radio.

“Baik Pak Dewa.” Nanti akan saya sampaikan kepada beliau.” jawabnya.

Kamipun bergerak meninggalkan Catimor homestay milik PN Perkebunan XII yang terletak di Blawan kabupaten Bondowoso,  menyusuri jalan aspal sempit dengan kebun kopi dan pohon jarak disisi kiri kanan jalan.

Matahari mulai menyinarkan sinarnya yang hangat membuat badan kami hangt setelah udara dingin tadi pagi sehabis mandi.

Perjalanan ke Bondowoso dan ke Probolinggo masih cukup panjang. Memerlukan kurang lebih 2 – 3 jam untuk sampai disana. Beruntung  jalanan tidak begitu ramai, sehingga kami bisa bergerak dengan kecepatan yang cukup untuk mempercepat kami tiba di Probolinggo.

Kami masih melintas di aeral perkebununan milik PN Perkebunan XII yang sangat luas. Tampak beberapa rumah semi permanen milik penduduk yang merupakan pekerja di perkebunan ini. J

arak satu rumah dengan rumah berikutnya agak jauh.

“Teman-teman semua, sampai dipertigaan ini kita  berpisah, saya akan berbelok ke kiri untuk kemba ike Denpasar. Teman-teman silahkan ikuti jalan yang lurus di portal pos keamanan itu. Nanti ikuti saja jalan utama, jangan berbelok-belok sampai dipertigaan nanti, ikuti jalan besar yang menuju jalan utama ke Jember dan Probolinggo”. kata Pak Hadi lagi.

“Okey Pak Hadi. Selamat jalan. Hati-hati dijalan dan salam untuk Pak Agus.” jawab saya.

Kamipun berpisah. Chevy pick Up 4 X 4 yang dibawa Pak Hadi harus kembali ke Denpasar karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Mentari Restaurant.

Sementara kami terus bergerak menyusuri jalanan beraspal yang sempit dengan semak hutan kecil dan alang-alang dikiri kanan. Daerah di Bondowoso ini berbukit-bukit dengan tanah yang bercampur batu cadas.

Sesekali kami melewati bongkahan batu cadas yang mungkin longsor dari atas dan akhirnya jadi bukit batu yang ditumbuhi alang-alang disekelilingnya.

“Awas banyak bebatuan lepas.” kata Pak Yudi yang paling depan kemudian diikuti oleh Pak Yande, Agung Wira, Gusmang, Pak Tut Uban, Saya dan paling akhir Pak Tut Boncel dengan FJ40 ungunya.

Jalanan mulai agak rusak dan banyak batu dan kerikil yang lepas sehingga membuat jalan agak licin, ditambah dengan bahu jalan yang sangat sempit membuat kita mesti ekstra hati-hati melintas diatasnya. Banyak tikungan tajam yang sempit dengan tebing dan jurang yang menganga di kiri atau kanan jalan.

Kami terus meluncur dengan hati-hati diantara tebing dan jurang yang menganga di kiri dan kanan jalan. Jalanan mulai terasa menurun. Altimeter menunjuk keangka 1.250 meter DPL dan terus menurun dengan cepat seseuai dengan gerakan kami yang terus menuruni bukit terus kebawah menuju dataran rendah di Bondowoso.

Beberapa saat kemudian kami memasuki daerah pemukiman dan udara mulai terasa agak hangat cenderung panas, padahal baru pukul 10.49 WITA atau pukul 09.49 waktu setempat. Kami sudah memasuki wilayah kabupaten Bondowoso.

Secara geografis Kabupaten Bondowoso berada di bagian paling timur wilayah Jawa Timur dengan jarak kurang lebih 200 kilometer dari Ibu kota Provinsi  Jawa Timur sekitar 200 kilometer.

Wilayah Kabupaten Bondowoso tidak dilalui jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Utara yaitu Banyuwangi – Situbondo -Probolinggo – Pasuruan – Surabaya dan jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Tengah yaitu Banyuwangi – Jember – Lumajang – Probolinggo – Pasuruan -Surabaya. Kedua jalur tersebut memiliki daya-dukung sumber daya potensial bagi pengembangan ekonomi dan perdagangan Kabupaetn Bondowoso.

Namun Bondowoso merupakan daerah tujuan yang hanya dilalui jalur provinsi dari Bondowoso – Situbondo dan Bondowoso – Jember.

Wilayah Kabupaten Bondowoso merupakan daerah dengan luas yang mencapai 1.560,10 km2, yang secara administratif terdiri dari 20 kecamatan,185 desa, dan 10 kelurahan.

Sekilas sejarah tentang Kabupaten Bondowoso.

Berawal dari nama dari Demang Walikromo yang bernama bernama Raden Bagus Assra. pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu dari Raden Tjakraningrat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo  adalah putra dari Raden Adikoro IV.

Pada tahun 1743 terjadi pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak dari salah seorang selir. Pertempuranpun terjadi di desa Bulangan dan menewaskan Raden Adikoro IV, tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap.

Setelah pertempuran selesai dilakukan  pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak dari Raden Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Namun tak beberapa lama kemudian kembali terjadi perebutan kekuasaan.  

Dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya dan menyingkir dengan diam-diam mengikuti perpindahan besar-besaran bekas pengikut Adikoro IV ke Besuki.

Semetara itu Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di sembunyikan dan dididik ilmu bela diri dan ilmu agama. Pada usia yang ke 17 tahun Assra  diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 dan ditugaskan untuk memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan. Pada tahun tu juga Assra telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo.

Pada tahun 1794 dalam usahanya  memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis yang kemudian  disebut Bondowoso. Dan dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan natas jasanya itu dia diangkat menjadi penguasa di Bondowoso dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno.

Begitulah, dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada bulan Agustus 1819 atau hari Selasa

Kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo sebagai orang kuat yang diangkat dan mendapat kepercayaan Gubernur Hindia Belanda, untuk memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Raden Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai dengan penyerahan Tombak Tunggul Wulung. .Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember. Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.

Begitulah sedikit cerita mengenai Kabupaten Bondowoso.

Saya segera masuk ke kamar mandi, sementara isti dan anak-anak sudah mengemasi barang-barang bawaan dan memasukkannya ke dalam mobil.

 

 

Saya mandi dengan cepat. Satu gayung air saya guyurkan dari atas kepala.

Hhhhh. Ternyata memang dingin. Setelahmengguyur banda dengan 2 – 3 gayung dingin baru terasa agak berkurang, karena badan sudah mulai beradaptasi dengan dinginnya air dan udara.  Sepuluh menit kemudian sya sudah selesai mandi dan siap untuk sarapanpagi.

 

“Ayo dong semuanya kita sarapan dulu. Mumpung masih agak pagi.” kata saya kepada semua teman-teman yang sudah tampak siap untuk sarapan.

 

Pak Ketut Uban, istri dan anak-anaknya juga sudah siap.

 

Pukul 8.17 WITA kami sudah berkumpul di meja makan yang telah disiapkan di teras bangunan utama. Sarapan pagi berupa Nasi putih, telur asin rebus, telur mata sapi, tempe goring dan sayur pecel. Lha, pagi-pagi kok sarapannya pakai pecel. Gumam saya dalam hati.

 

Tetapi karena udara yang dingin membuat kami merasa lapar. Dan saat perut lapar makanan apapun yang tersedia akan terasa enak dimakan. He he he he…

Kamipun makan dengan lahap sambil sesekali mengomentari hidangan yang disiapkan itu. Makan pagi ini sudah termasuk dalam harga kamar yang Rp. 125.000,- permalam untuk dua orang.

 

“Pak Tut ayo makan dulu. Nanti dihabisin sama Gusmang makanannya.” Kata Agung Wira sambil tertawa bercanda kepada Bli Boncel yang baru datang dari memasukkan barang-barang bawaan ke FJ40 nya.

 

“Iya-iya. Silahkan makan duluan. Ini nunggu Ayin.” Katanya. Ayin adalah anak perempuan Bli Boncel.

 

Sementara yang lain masih menyelesaikan sarapan pagi,nya aya pergi ke kantor Catimor homestay untuk membayar sewa penginapan agar bisa berangkat lebih cepat begitu teman-teman selesai sarapan.

 

Pukul 08.57 kami telah siap untuk bergerak ke Bondowoso dan kemudian ke Probolinggo. Kami akan bertemu dengan Pak Wiranto dan Pak Frans yang terpisah penginapan karena kekurangan kamar kemarin.

 

“Okey kita siap untuk berangkat. Radio-radio tolong dihidupkan dan kita main di Frequensi 142.750 Mhz ya.” kata saya mengingatkan.

 

“Oke pak.” Terdengar Pak Yudi di radio.

 

“Pak Dewa dan teman-teman semua,saya mohon ma’af tidak bisa ikut sampai ke Bromo. Saya akanmenemani sampai di pintu keluar perkebunan dan selanjutnya etman-temanyang mau ke Bondowoso lurus saja di portal pos keamanan, sementara saya akan belok kiri untuk kembali ke Denpasar,” kata pak Hadi di radio.

 

“Okey pak. Salam untuk Pak Agus dansampaikan terimakasih saya dan teman-teman atas segala dukungannya dan juga barbequenya.” Jawab saya melalui radio.

 

“Baik Pak Dewa.” Nanti akan saya sampaikan kepada beliau.” jawabnya.

 

Kamipun bergerak meninggalkan Catimor homestay milik PN Perkebunan XII yang terletak di Blawan kabupaten Bondowoso,  menyusuri jalan aspal sempit dengan kebun kopi dan jarak disisi kiri kanan jalan.

Matahari mulai menyinarkan sinarnya yang hangat membuat badan kami hangt setelah udara dingin tadi pagi sehabis mandi.

 

Perjalanan ke Bondowoso dan ke Probolinggo masih cukup panjang. Memerlukan kurang lebih 2 jam untuk sampai disana. Beruntung jalanan tidak begitu ramai, sehingga kami bisa bergerak dengan kecepatan yang cukup untuk mempercepat kami tiba di Probolinggo.

Kami masih melintas di aeral perkebunun amilik PN Perkebunan XII yang sangat luas. Tampak beberapa rumah semi permanen milik penduduk yang merupakan pekerja di perkebunan ini. Jarak satu rumah dengan rumah berikutnya agak jauh.

 

“Teman-teman semua, sampai dipertigaan ini kita  berpisah, saya akan berbelok ke kiri untuk kembaike Denpasar. Teman-teman silahkan ikut ijalan yang lurus di portal pos keamanan itu. Nanti ikuti saja jalan utama, jangan berbelok-belok sampai dipertigaan nanti, ikuti jalan besar yang menuju jalan utama ke Jember dan Probolinggo”. kata Pak Hadi lagi.

 

“Okey Pak Hadi. Selamat jalan. Hati-hati dijalan dan salam untuk Pak Agus.” jawab saya.

 

Kamipun berpisah. Chevy pick Up 4 X 4 yang dibawa Pak Hadi harus kembali ke Denpasar karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Mentari Restaurant.

Sementara kami terus bergerak menyusuri jalanan beraspal yang sempit dengan semak hutan kecil dan alang-alang dikiri kanan. Daerah di Bondowoso ini berbukit-bukit dengan tanah yang bercampur batu cadas. Sesekali kami melewati bongkahan batu cadas yang mungkin longsor dari atas dan akhirnya jadi bukit batu yang ditumbuhi alang-alang disekelilingnya.

 

“Awas banyak bebatuan lepas.” kata Pak Yudi yang paling depan kemudian diikuti oleh Pak Yande, Agung Wira, Gusmang, Pak Tut Uban, Saya dan paling akhir Pak Tut Boncel dengan FJ40 ungunya.

 

Jalanan mulai agak rusak dan banyak batu dan kerikil yang lepas sehingga membuat jalan agak licin, ditambah dengan bahu jalan yang sangat sempit membuat kita mesti ekstra hati-hati melintas diatasnya. Banyak tikungan tajam yang sempit dengan tebing dan juang di kiri atau kanan jalan.

 

Kami terus meluncur dengan hati-hati diantara tebing dan jurang yang menganga di kiri dan kanan jalan. Jalanan mulai terasa menurun. Altimeter menunjuk keangka 1.250 meter DPL dan terus menurun dengan cepat seseuai dengangerakan kami yang terus menuruni bukit terus kebawah menuju dataran rendah di Bondowoso.

 

Beberapa saat kemudian kami memasuki daerah pemukiman dan udara mulai terasa agak hangat cenderung panas, padahal baru pukul 10.49 WITA atau pukul 09.49 waktu setempat. Kami sudah memasuki wilayah kabupaten Bondowoso.

 

Secara geografis Kabupaten Bondowoso berada di bagian paling timur wilayah Jawa Timur dengan jarak kurang lebih 200 kilomeer dari Ibu kota Provinsi  Jawa sekitar 200 kilometer. Wilayah Kabupaten Bondowoso tidak dilalui jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Utara yaitu Banyuwangi – Situbondo -Probolinggo – Pasuruan – Surabaya dan jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Tengah yaitu Banyuwangi – Jember – Lumajang – Probolinggo – Pasuruan -Surabaya. Kedua jalur tersebut memiliki daya-dukung sumberdaya potensial bagi pengembangan ekonomi dan perdagangan Kabupaetn Bondowoso. Namun Bondowoso merupakan daerah tujuan yang hanya dilalui jalur provinsi dari Bondowoso – Situbondo dan Bondowoso – Jember.

 

Wilayah Kabupaten Bondowoso merupakan daerah dengan luas yang mencapai 1.560,10 km2, yang secara administratif terdiri dari 20 kecamatan,185 desa, dan 10 kelurahan.

 

Sekilas sejarah tentang Kabupaten Bondowoso.

 

Berawal dari nama dari Demang Walikromo yang bernama bernama Raden Bagus Assra. pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu dari Raden Tjakraningrat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo  adalah putra dari Raden Adikoro IV.

 

Pada tahun 1743 terjadi pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak darisalah seorang selir. Pertempuranpun terjadi di desa Bulangan dan  menewaskan Raden Adikoro IV, Tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap.

 

Setelah pertempuran selesai dilakukan  pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak dari Raden Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Namun tak beberapa lama kemudian kembali terjadi perebutan kekuasaan.  

Dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya dan menyingkir dengan diam-diam mengikuti perpindahan besar-besaran bekas pengikut Adikoro IV ke Besuki.

 

Semetara itu Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di sembunyikan dan dididik ilmu bela diri dan ilmu agama. Pada usia yang ke 17 tahun Assra  diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 dan ditugaskan untuk memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan. Pada tahun tu juga Assra telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo.

 

Pada tahun 1794 dalam usahanya  memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis yang kemudian  disebut Bondowoso. Dan dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan natas jasanya itu dia diangkat menjadi penguasa di Bondowoso dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno.

Begitulah, dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada bulan Agustus 1819 atau hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo sebagai orang kuat yang diangkat dan mendapat kepercayaan Gubernur Hindia Belanda, untuk memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Raden Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai dengan penyerahan Tombak Tunggul Wulung. .Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember. Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.

Begitulah sedikit cerita mengenai Kabupaten Bondowoso.

Kami masih terus bergerak untuk menuju Probolinggo. Sambil menunggu kabar dari pak Wiranto dan Pak Frans yang berjanji akan ketemuan di kota Bondowoso untuk bersama-sama ke Probolinggo.

(bersambung)

Ikuti terus cerita ini, kaena kisahnya semakin meanrik untuk disimak.

Salam Trooper dari Bali

  

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s