(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Bromo (bag. 6)


Synopsys cerita yang lalu :

Begitulah sedikit cerita mengenai Kabupaten Bondowoso.

Kami masih terus bergerak untuk menuju Probolinggo. Sambil menunggu kabar dari pak Wiranto dan Pak Frans yang berjanji akan ketemuan di kota Bondowoso untuk bersama-sama ke Probolinggo

Selengkapnya simaklah berikut ini :

Kami masih terus bergerak untuk menuju Probolinggo. Sambil menunggu kabar dari pak Wiranto dan Pak Frans yang berjanji akan ketemuan di kota Bondowoso untuk bersama-sama ke Probolinggo.

“Pak Wiranto monitor Pak.?” terdengar Pak Ketut Boncel memanggil di radio.

“Dimana rencananya Pak Wiranto dan Pak Frans menunggu Pak Tut..?” tanya saya di radio.

“Katanya sih di jalur ini Pak.” Jawab Bli Boncel. “Tapi kok ngga nyahut ya.”  Katanya lagi.

“Pak Dewa monitor Pak.” Terdengar Pak Yudi memanggil saya di radio.

“Masuk pak Yudi.” jawab saya.

“Pak nanti di pertigaan itu lurus aja pak, biar lebih cepat keluar kota arah ke Probolinggo. “Saya sudah bersama Pak Wiranto dan Pak Frans neh.” katanya lagi.

“Okey Pak.” Jawab saya, sambil terus maju.

Namun saya tertahan oleh kemacetan. Rupanya sedang ada  karnaval disini. Saya tertahan cukup lama sehingga akhirnya tertinggal oleh Pak Yudi. Dibelakang saya masih ada Pak Ketut Uban, Pak Yande, Agung Wira dan Bli Boncel.

“Kita belok kiri saja Pak Dewa.” Kata Bli Boncel.

“Wah saya tidak hafal jalannya Pak Tut.” kata saya. “Silahkan Bli Boncel saja yang didepan ya.” Kata saya lagi sambil mengurangi kecepatan dan memberi kesempatan keopada Bli Boncel untuk mendahului.

“Okey.” Saya di depan.” “Kita lurus saja disini mengikuti jalan utama, nanti kita akan turun kebawah menuju jalur utama Probolinggo.” katanya lagi.

Hujan deras tiba-tiba turun, membuat jalanan agak licin dan pandang mata kedepanpun jadi terbatas. Jalan semakin menurun dan banyak tikungan tajam yang menghadang.

Matahari tertutup oleh mendung yang menggantung membuat gelap dan muram pemandangan di depan. Padahal masih cukup siang. Jam digital diconsole box menunjukkan pukul 11.17 WITA atau pukul 10.17 waktu setempat.

Trooper Hijau Agung Wira mogok di puncak.

Kami masih terus bergerak dijalanan yang terus menurun menuju jalur utara kearah Probolinggo, sementara hujan mulai mereda.  Nun jauh di bawah sana tampak jalan utama menuju Probolinggo.  Ternyata di sana tidak ada hujan, malah matahari besinar cukup terik.

Kami terus bergerak kearah bawah dan setelah memasuki tikungan “S” yang agak panjang, akhirnya kami tiba di bawah namun Pak Yudi dan Pak Wiranto sudah taktampak lagi oleh kami.

Karena itu akhirnya kami terus saja bergerak menuju terminal Probolinggo yang  tak begitu jauh lagi.

Tiba-tiba hand phone saya berbunyi yang ternyata dari Mas Echa yang menanyakan posisi kami.  Saya sampaikan bahwa kami sudah mendekat ke terminal Probolinggo dan sebentar lagi akan berbelok untuk memasuki terminal.

Dan beberpa saat kemudian kami telah tiba di depan terminal dan mencari tempat parkir yang nyaman agar tidak kepanasan. Matahari masih memancarkan sinar teriknya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 14.54 WITA atau pukul 13.54 WIB.

Tampak banyak Trooper dari beberapa chapter yang telah berkumpul diparkiran Terminal Probolinggo ini. Saya segera turun setelah mematikan mesin dan mencabut kunci kontak.

“Hi Dewa” terdengar ada yang memanggil saya.

Ketika menoleh kearah suara, tampak mas Echa datang menghampiri.

Saya segera menyongsong dan kamipun bersalaman.

“Kapan sampai mas..?” tanya saya.

“Baru saja. Ada 30 menit yang lalu.” Katanya.

“Babe ngga ikut..? tanya saya lagi.

“Babe nyusul nanti belakangan,langsung naik keatas.” Katanya lagi.

“Sebagian teman-teman yang lain sudah berangkat ke CR lo.” Katanya lagi menjelaskan.

“Teman-teman Balimau masuk CR juga…? Tanyanya lagi.

“Kayanya ngga deh mas.”  “Teman-teman kecapaian. Terutama anak-anak. Mungkin kita mau istirahat sejenak dulu disini mas. Tadi sih rencananya mau ke rumah Pak Irwan teman KTI Bali yang sekarang pindah disini Karena istrinya pindah tugas.”  “Cuma kami mesti berkumpul dulu ya.” kata saya lagi.

“Iya sudah. Gua ikut teman-teman Bali aja deh.”  “Cuma mesti nunggu Ryco dulu. Tadi sih dia bilang sudah dekat pintu masuk kabupaten.” katanya lagi.

“Okey mas Echa. Kita tunggu mas Ryco ya.” Kata saya kemudian.

“Saya mau nemuin teman-teman dari Blitar, Surabaya dan Yogya sebelum mereka masuk trek hutan ya.” kata saya lagi.

“Okey. Monggo bli.” Jawab mas Echa.

Saya segera beringsut ke rombongan Trooper yang sedang line up menunggu waktu pemberangkatan ke trek.

“Halo bli Dewa..!”  mas Ervan menyalami saya ketika sudah dekat Trooper warna sand white denga strip American look yang dibawanya.

“Apa kabar bli..? “ “Kapan berangkat dari Bali…? tanyanya beruntun sambil menyalami saya.

“Kami berangkat hari Minggu tanggal 28 Desember kemarin mas.” Jawab saya.

“Bagaimana perjalanan..? Aman… ? Ngga ada hambatan ‘kan…? Tanyanya lagi.

“Iya. Alhamdulilah. Aman mas. Semuanya lancar-lancar.  Jawab saya lagi. 

Saya menyalami satu demi satu teman-teman dari chapter lainnya yang masih menunggu giliran keberangktan masuk trek, namun hanya sebagian saja yang sempat bertemu karena sebagian besar telah berangkat masuk trek yang kabarnya akan memakan waktu sekitar 5 jam untuk sampai ke Lava View.

Beberapa saat kemudian tampak mas Ryco dengan Nissan X-Trail hitamnya masuk ke parkir terminal dimana kami masih menunggu.

Pak Irwan menelpon saya dan menanyakan posisi saya. Ditelepon, Pak Irwanmemberi tahu saya bahwa Pak Yudi akan menjemput ke terminal untuk mampir ke rumah Pak Irwan yang tak seberapa jauh dari terminal.

Setelah semua teman-teman Trooper berangkat ke trek, kami juga beranjak meninggalkan terminal dituntun oleh Pak Yudi menuju rumah Pak Irwan.

Saya mendampingi mas Echa di Big Hornnya sementara si Hitam dikemudikan oleh anak lelaki saya Yoga. Disusul oleh Bli Ketut Boncel, Pak Ketut Uban dan Pak Frans Yeni.

Hanya 10 menit dari terminal kami sudah tiba di rumah Pak Irwan.  Tampak Pak Wiranto, Agung Wira dan Gusmang sudah tiba terlebih dahulu disana. Kami disambut oleh Pak Irwan istri dan anaknya.

Setelah bersalam-salaman kami duduk dan saling berbagi cerita mengenai perjalanan kami dan rencana kami untuk bermalam di Sukapura Inn nanti malam.

Cukup lama kami beristirahat di kediaman Pak Irwan sambil menikmati suguhan berupa buah-buahan dan juga serombong bakso yang sengaja diundang untuk menjamu kami. Wah terimakasih Pak Irwan atas jamuannya yang unik.

Pukul  15.27 WIB atau pukul 16.27 WIB kami pamitan dari kediaman Pak Irwanuntuk berangkat ke Bromo namun akan mampir di Sukapura Inn dulu untuk mandi-mandi sebelum ke Hall Lava View tempat pembukaan ceremonial TIG VIII digelar nanti pukul 19.00 WIB. Pak Irwan ikut mengantar kami sampai ke Sukapura Inn.  Pukul 17.19 WITA atau 17.19 WIB kami tiba di Sukapura Inn. Setelah memarkir kendaraan masing-masing kami mendaftar ke kantor depan untuk mengambil kunci kamar.

Setelah masing-masing mendapat kunci kamar kami menurunkan barang-narang bawaan dan beristirahat sejenak di teras sambil ngobrol dengan Pak Irwan.

Hampir satu jam kami ngobrol dengan Pak Irwan sebelum akhirnya beliau pamitan karena hari sudah mulai gelap.

 

Setelah mandi dan berkemas-kemas pukul 18.55 WIB atau 19.55 WITA saya menemani Mas Echa di Big Horn-nya bergerak ke Lava View di atas.

Perjalanan dari Sukapura ke Lava View seitar 45 menit, ditambah jalanan yang berliku dan sempit membuat kita mesti extra hati-hati di daerah ini. Apalagi jalanan yang gelap gulita.

 

Tikungan demi tikungan kami lalui dan pada portal pintu masuk kawasan Puncak Bromo, mas Echa menghentikan si Big Horn dan turun dari kendaraan. Rupanya temperature mesin naik karena radiatornya bocor. Tanpa mematikan mesin mas Echa membuka engine hood dan membuka tutup radiator dengan hati-hati dan kemudian menuangkan air untuk menambah air radiator.

 

Kami akan bergerak kembali ketika si Hitam yang dikemudikan Yoga anak saya mendekat. 

“Kenapa mobilnya om…? tanya anak saya kepada mas Echa.

“Radiatornya bocor. Jadi airnya berkurang terus neh.” Jawab mas Echa.

 “Jalan aja deh. Sudah selesai kok.”  “Hati-hati ya. Tikungannya tajam-tajam dan terjal.” katanya lagi.

Selesai mengisi radiator, kami meneruskan perjalanan yang tinggal beberapa meter dari Lava View.

 (bersambung)

 

Ikuti terus cerita perjalanan kami karena banyak kejadian menarik pada perjlanan ini.

 

Salam Trooper dari Bali

 

 

 

 

 

 

Dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s