(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Bromo (bag.2)


Synopsys yang lalu :

Saya segera berbelok naik mengikuti teman-teman yang sudah parkir di lapangan itu. Setelah memarkir si Hitam, saya melompat turun diikuti oleh istri dan anak-anak saya Yoga dan Dewinta yang sudah mengeluh dari tadi karena pegal duduk di mobil dari tadi siang.

Silahkan baca cerita selanjutnya disini :

 

 

Mount Bromo
MOunt Bromo

 

Bertemu Mas Wenda, Mas Nanang dan Pak Imam.

Ketika saya saja  menutup pintu da Trooper saya dengar ada yang memanggil nama saya. Saya berbalik dan menoleh kearah suara tadi.

“Mas Dewa” terdengar lagi suara memanggil saya.

Kali ini saya berpaling kearah kiri. Ditikungan yang agak menanjak kurang lebih 20 meter dari tempat saya berdiri  terlihat sebuah Cherokee Biru sedang mendekat dengan kaca jendela yang terbuka. Saya masih belum bisa mengignat-ingat siapa gerangan yang mamanggil saya itu kaerna belum terlihat jelas wajah pengendara Cherokee itu.

MY BLACK TROOPER
MY BLACK TROOPER

Sampai akhirnya setelah lebih deklat lagi, sekitar 7 meter dari tempat saya berdiri di parkiran say abaru bisa mengenali wajah pengendara Cherokee itu. Ternyata Mas Wenda dari KTI Surabaya.

“Hai mas Wenda.” Kata saya sambil melambaikan tangan.

Yang dibalas dengan lambaian tangan juga oleh mas Wenda.

Cherokee Biru itu segera berbelok ke parkiran dimana saya berdiri. Saya segera mendekat kearah Cherokee itu dan menyapa mas Wenda yang segera melompat turun dari dalamnya.

Dengan T-shirt biru tua dengan garis bis kuning dikrah dan di lengan, mas Wenda terlihat lebih gemuk dibandingkan saat terakhir saya ketemu di Lumajang pada September tahun 2007.

Setelah mas Wenda turun dari Cherokee kami bersalaman dan berpelukan.

“Kapan datang mas…?” tanya saya.

“Kami sudah dari kemarin mas” jawabnya. “Mas Dewa sendiri kapan berangkat..?” tanyanya balik kepada saya.

“Kami berangkat tadi pagi pukul 7.15 mas.” Jawab saya.

“Ada berapa mobil yang kesini mas…?” tanya saya lagi.

“Saya, Mas Nanang, Pak Jamal dan Pak Imam Cilegon dan ada satu Trooper lagi. Ada 5 mobil mas.” kata mas Wenda.

“Yang dari Bali ada berapa mobil mas.?” Tanyanya.

“Dari Bali ada 11 mobil mas.” Jawab saya. “ Tapi kami bermalam di Blawan dulu di home stay Catymor milik PN Perkebunan Nusantara XII.” Jawab saya menjelaskan.

“Besok pagi kami berangkat ke Probolinggo dan ketemu dengan teman-teman semua di sana.” Kata saya lagi.

“Oh begitu.” Kata mas Wenda.

“Itu mas Nanang datang.” Kata mas Wenda ketika di tikungan terlihat beberapa kendaraan yang sedang mendaki. Saya hitung ada 4 Trooper sedang mendekat.

Ada Trooper Hijau mas Nanang, Trooper SWB Coklat dengan cutting stiker warna merah, Trooper Hijau Army dan satu lagi Trooper Biru Tua dengan roof rack  yang memuat banyak barang memasuki parkiran.

Satu persatu penumpangnya turun.

“Apa kabar mas Dewa…?” kata mas Nanang yang paling dulu turun dan langsung menghampiri saya yang telah menunggu di dekat Trooper Hijaunya.

“Kabar baik mas.” Mas Nanang bagaimana..?”  kata saya padanya.

“Alhamdulilah sehat mas.” Jawabnya.

“Keluarga ikut semua mas…?” katanya lagi.

Kami bersalaman dan berpelukan. Saya ketemu mas Nanang cuma sekali saja waktu TIG VI Bali dimana saat itu mas Nanang jadi Bendahara Panitia.

Me in Black
Me in Black

Mas Nanang masih terlihat muda dan agak gemuk dibandingkan saat ketemu pada akhir tahun 2006 dulu.

“Iya mas”. “Semua keluarga saya ajak.” jawab saya.

“Wah asyik mas.”  “Saya ngga bawa keluarga, sama navigator saya ini.” katanya menunjuk temannya yang berdiri disebelahnya yang kemudian saya salami.

“Saya langsung balik ke Surabaya sebentar malam mas.” “Besok  dari Surabaya langsung ke Probolinggo.” lanjutnya lagi.

“Bukan main mas.” Kata saya lagi.

“Pak Dewa apa kabar.” Terdengar ada yang menyapa saya dari belakang yang ternyata adalah Pak Imam Prasojo dari KTI Cilegon. Pak Imam juga mengajak seluruh keluarganya. Istri dan putri tertua dan putra kembarnya yang sudah beranjak dewasa.

Kami bersalaman sambil saling menanyakan kabar keluarga masing-masing. Istri Pak Imam menyalami saya dan istri saya yang kemudian terlibat obrolan panjang. Mereka saling bertukar kabar.

 Saya menyalami putra-putra Mas Imam yang sudah besar-besar. Dulu saat TIG VI Bali mereka masih kecil-kecil. Ternyata tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Seperti halnya saya, ternyata di awal tahun ini saya sudah genap berumur 46 tahun. Tepatnya tanggal 5 Januari 2009 kemarin. Usia yang sudah tidak muda lagi sebenarnya, namun hasrat dan semangat untuk terus beraktifitas senantiasa mendorong saya untuk terus bergerak  yang membuat fikiran saya tetap sehat dan jauh dari lelah.

 “Pak Dewa tidak naik ke kawah pak..?” tanya Ibu Imam.

“Oh tidak Bu.” Kami mau langsung ke Blawan untuk bermalam disana.” Jawab saya.

“Wah rugi dong jauh-jauh dari Bali tiadk nengok kawah.” katanya sambil tertawa.

“Iya sih. Mungkin lain kali kalau masih diberi oleh Yang Maha Kuasa  kesempatan kami akan mengunjungi kawah Ijen saja sampai puas.” Jawab istri saya sambil tertawa juga.

“Mas Dewa tadi kesini lewat mana..”? tanya mas Wenda.

 “Lewat  Banyuwangi mas.” Jawab saya.

“Oh ya. Wah jalan ke Bondowoso rusak berat mas. Banyak bebatuan yang lepas.” kata mas Wenda lagi.

“Kan sudah pakai Trooper mas.” Kata saya sambil tertawa.

Langit agak muram. Dan udara sangat dingin di siang hari itu. Pukul 14.17 WITA atau pukul 13.17 WIB. Namun udara di sini sangat dingin. Saya yang hanya mengenakan singlet mulai merasa agak kedinginan.

Parkiran Gunung Ijen berada pada ketinggian 2.240 meter diatas permukaan laut. Tidak heran udara disini agak dingin menusuk.

Saya mengambil Barometer untuk melihat suhu udara disini. 19 derajat Celcius…!!!  Pantaslah udaranya terasa dingin menusuk.

Pak Hadi memberi isyarat kepada kami untuk segera berangkat ke Blawan agar tidak kemalaman disana nanti.

“Maaf Pak Imam, mas Wenda, mas Nanang kami pamit dulu untuk turun ke Blawan agar tidak kemalam nanti.” kata saya.  “Sampai jumpa besok di Bromo.” kata saya lagi.

“Baik Pak. Hati-hati dijalan.” “Banyak batu lepas disepanjang jalan menuju Bondowoso ini.” Kata Mas Nanang.

Setelah bersalam-salaman kami segera naik ke kendaraan kami masing-masing dan segera bergerak kearah barat menuju Bondowoso.

“Pak Hadi monitor pak?”  saya memanggil Pak Hadi melalui radio komunikasi.

 “Masuk pak Dewa.” Kata Pak Hadi.

 “Pak kira-kira berapa jam lagi kita sampai di Blawan..?” tanya saya.

“Kurang lebih 1 1/2 lagi jam pak.” Jawab pak Hadi.

“Ok pak. Terimakasih.” Jawab saya sambil terus mengendalikan si Hitam.

Pemandangan di sepanjang jalan hanya hutan kecil dan diselingi oleh semak-semak dan ilalang yang tinggi. Jalanan terus menurun dan sempit, namun cukup mengasyikkan juga.

Hanya sesekali kami berpapasan dengan kendaraan jenis pick up yang mengangkut hasil bumi.

“Awas. “Hati-hati. Dari arah depan ada Isuzu panther yang meluncur agak cepat.”  seru pak Hadi di radio mengingatkan teman-teman dibelakangnya.

 “Di copy.” jawab saya.

Di belakang saya ada Pak Frans dengan Trooper Silver bensin.

Pak Frans ini baru saja bergabung di KTI Bali, namun saying, belum sempat menikmati keberadaanya di Bali karena harus segera pindah tuigas ke Yogya.

Jadi begitu selesai acara TIG VIII Jatim pak Frans akan terus ke Yogya untuk selanjutnya menetap di Yogya. Diantara kami semua barang-barang bawaan pak Frans-lah yang paling banyak, karena berbagai barang peralatan rumah tangga diangkut dengan da Trooper Silvernya sekalian boyongan ke Yogya, sehingga barangkali Trooper Pak Frans-lah yang paling berat bawaannya.

Kami terus bergerak dijalanan yang terus menurun. Tikungan demi tikungan kami lalui. Mengingat jalanan yang sempit dan berliku serta jurang yang mengana di kiri kanan, kami mesti mengatur kecepatan dan jarak dengan kendaraan di depan agar tidak membahayakan diri sendiri maupun teman yang lain.

Beberapa kali kami melewati dataran yang ditumbuhi padang ilalang dan semak-semak dengan lembah dan ngarai disekitarnya. Pemandangan disini cukup bagus, namun sayang kami tidak sempat mengambil gambar mengingat jalanan yang sempit akan menyulitkan untuk berhenti sejenak.

Belum lagi jalanan yang rusak berat dengan aspal dan bebatuan yang lepas sehingga kita mesti tetap bergerak dengan hati-hati.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 ½ jam, akhirnya kami memasuki kawasan perkebunan Blawan. Dikiri kanan kami tampak kebun kopi dan beberapa pahon perdu-perduan yang saya tidak ketahui namanya. Kami mulai memperlambat laju kendaraan agar dapat menikmati indahnya alam disini.

 “Kita sudah memasuki areal perkebunan PN Perkebunan XII Blawan. Perkebunan ini adalah sisa peninggalan jaman Belanda.” Terdengar Pak Hadi menjelaskan lewat radio.

 “Ok.” “Terimakasih atas infonya pak.” Jawab saya.

 “Mohon berhati hati disini.”  “Karena jalanan terus menurun dan agak curam. Tapi tak pelu memakai 4 wheel drive lah.” katanya lagi.

Kami terus bergerak menuruni jalan  dengan hati-hati.

Jalanan disini cukup bagus dan sudah beraspal dan dikiri kanan jalan ditanami pohon hias dengan berbagai warna dedaunan disamping ada beberapa bunga Chrisantemum atau nama lokalnya bunga Seruni dan juga Gerbra serta ada kembang Mataram warna warni menambah asrinya alam disepanjang jalan.

 Kami terus bergerak mengikuti Pak Hadi sebagai leader. Dan beberapa saat kemudian kami melihat beberapa rumah pemukiman yang rupanya pemukiman untuk para karyawan PN Perkebunan XII yang bekerja di perkebunan ini.

 “Nah kita telah tiba di komplek home stay Catimor.” Terdengar Pak Hadi menjelaskan di radio.

 Pak Hadi berhenti di depan dan melapor kepada petugas security yang berjaga di portal di pos jaga.

“Ok Pak Dewa saya sudah lapor kepada petugas bahwa rombongan Trooper dari Bali akan memasuki komplek Home stay Catimor dengan 11 mobil.” Kata Pak Hadi lagi.

“Baik Pak hadi.”  “Terimakasih.” Jawab saya.

Kami bergerak lagi untuk memasuki halaman home stay yang berjarak kurang lebih satu kilometer lagi kedepan.

Dikiri kanan kami berjejer rapi pohon kopi yang sedang berbuah namun masih nampak hijau. Kami terus bergerak menurun. Dan Altimeter di da Trooper menunjuk ke angka 1100 meter diatas permukaan laut. Udara masih terasa sejuk namun tidak sedingin waktu kami beristirahat di parkiran Gunung Ijen.

Dibawah sana, kami melihat ada bangunan semi permanent yang tampak kuno dengan atap seng dan ada juga bangunan dengan halaman yang di beton dan disemen halus. Saya menduga itu pastilah tempat menjemur biji kopi dan mengolahnya dipabrik untuk diproses jadi kopi bubuk.

Pukul 15.21 waktu da Trooper kami akhirnya memasuki halaman home stay Catimor milik PN. Perkebunan Nusantara XII. Rupanya ada kesibukan yang cukup tinggi di home stay. Perlahan-lahan kami semua memasuki halaman home stay dan mencari tempat parkir yang aman.

Tempat parkir yang tidak terlalu luas ini tampak penuh, karena ada sebuah Nissan Navara Hitam, sebuah Honda New CRV Silver, sebuah Isuzu Panther lama Hijau, Sebuah FJ Hard Top, sebuah Taft GT Abu-abu dan sebuah Truk Mitsubishi diesel merah tampak terparkir di halaman.

Saya mencari parkir yang diujung dekat dengan pintu keluar yang terlihat masih agak kosong.  Setelah semuanya turun, saya ditemani Pak Hadi mencari kantor home stay ini untuk melapor dan meminta kunci kamar. Kami disambut oleh Pak Sugiarto dan Ibu Rum yang bertugas untuk  mengelola home stay ini.

“Kekurangan kamar”

(bersambung)

Ikuti terus cerita ini karena semakin lama ceritanya semakin menarik…

Salam dari Bali

Me
Me

 

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s