(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Bromo. (bagian 1)


Dear KTI Friends and all of our loyal visitors…..

Trooper Indonesia Gathering  VIII yang dilaksanakan

BUKIT TELETUBIS BROMO
BUKIT TELETUBIS BROMO

 pada tanggal 29 sampai dengan 31 Desember 2008 usai sudah. Banyak kenangan manis yang tak terlupakan sepanjang perjalanan dan pada acara penanaman 1.000 pohon di atas bukit di kawasan Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger itu.

 Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, inilah cerita perjalanan KTI Bali menuju Gunung Bromo untuk menghadiri Trooper Indonesia Gathering VIII yang kali ini pembukaannya akan mengambil tempat di Gunung Bromo dan penutupannya akan dilakukan di perkebunan teh Wonosari Lawang.

CALDERA GUNUNG BROMO
CALDERA GUNUNG BROMO

Trooper Indonesia Gathering VIII 2008 akan dilaksanakan di Jawa Timur dengan panitia dari KTI Jawa Timur dengan dimotori oleh KTI Surabaya. TIG VIII kali ini akan dimulai dari tanggal 29 Desember dan berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.

KTI Bali sendiri telah melakukan berbagai persiapan-persiapan untuk mengikuti TIG VIII ini dan beberapa kali pertemuan dilaksanakan untuk mematangkan segala persiapan keberangkatan kami.  Dari beberapa kali pertemuan akhirnya disepakati untuk berangkat hari Minggu tanggal 28 Desember 2008 dengan rute, Gunung Ijen dan menginap di Catimor Home stay milik perkebunan Kopi PT. Perkebunan Nusantrara XII di Blawan, Kabupaten Bondowoso. Dari sini kemudian kami akan meneruskan perjalanan ke Bromo ldanakan berkumpul di Terminal Probolinggo untuk bergabung dengan KTI dari berbagai chapter sebelum akhirnya kami menuju Bromo.

Inilah cerita lengkapnya.

Setelah disepakati, meeting point keberangkatan KTI Bali menuju TIG VIII adalah di depan Circle K, Ubung di depan rumah Pak Ketut Sugiata salah seorang anggota KTI Bali yang juga akan ikut ke Bromo. Keberangkatan yang rencananya pukul 06.00 WITA akhirnya agak terlambat karena mesti menunggu beberapa teman lainnya. Begitulah setelah semua peserta lengkap, minus Agung Wira dan Gusmang yang akan menyusul kami karena ada masalah dengan kendaraannya.

ME WITH MYBLACK TROOPER IN BROMO SEA SAND

Yang sudah berkumpul adalah 5 Trooper dan 1 FJ 40 Canvas Ungu milik Pak “Boncel” Tirtayasa.  Sementara Pak Hadi dengan Chevy Pick-up nya telah berangkat dari Bedugul dan akan menunggu kami di Pura Rambut Siwi,Negara.

Sebelum berangkat kami berkumpul dan berdoa bersama memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kami dituntun dalam perjalanan dan selamat mengikuti acara sampai pulang kembali ke Denpasar nanti.

Sudah pukul 07.15 WITA ketika kami mulai bergerak kearah barat, menuju penyeberangan Gilimanuk. Kami bergerak perlahan dengan kecepatan rata-rata 60 km perjam.  Jalan Denpasar – Gilimanuk memang sangat padat beberapa hari ini. Mungkin karena musim liburan, banyak wisatawan domestik luar daerah yang datang ke Bali untuk berlibur dan menyambut pergantian tahun yang tinggal beberapa hari lagi. Namun kami beruntung karena berangkatnya agak pagi sehingga tidak terlalu banyak kendaraan d jalan. Hanya sesekali kami berpapasan dengan kendaraan plat luar daerah dengan barang bawaan di atapnya, yang mungkin akan menghabiskan hari liburnya di Bali. Kami bergerak terus sambil tetap berkoordinasi melalui radio komunikasi untuk tetap memantau kendaraan dan kondisi kami masing-masing.

Sebenarnya saya dan keluarga nyaris membatalkan turut dalam acara Trooper Indonesia Gathering VIII ini, mengingat istri kondisinya kurang fit. Sudah dua malam ini dia mengalami kejang perut.  Kolik kata dokter. Sehingga dia agak tersiksa dengan kondisinya itu. Namun mengingat persiapan dan juga komitmen saya untuk ikut TIG VIII ini, istri saya memaksakan diri untuk ikut walau dalam perjalanan cuma duduk berbaring di jok depan. Kondisinya yang demikian membuat saya juga kurang bersemangat. Namun rupanya dengan semangat dan komitmennya mendukung saya istri saya tidak banyak mengeluhkan sakitnya. Hanya sesekali dia merintih menahan sakit. Begitulah dia tidak banyak berbicara selama perjalanan sampai kami berhenti sejenak di Pura Rambut Siwi untuk sembahyang bersama. Sudah beberapa tablet obat sakit perut yang ditelan istri saya untuk mengurangi rasa sakitnya.

Dari radio kami mendapat informasi bahwa Agung Wira dan Gusmang sudah mendekat dan berada kurang lebih 10 kilometer di belakang kami.

Pukul 09.17 WITA kami tiba di Rambut Siwi. Kami turun dan melakukan persembahyangan bersama di Pura Rambut Siwi ini memohon agar perjalanan kami lancar dan aman hingga kembali pulang ke Bali nanti.

Setelah selesai sembahyang bersama,  kami segera melanjutkan perjalanan  menuju penyeberangan Gilimanuk yang kurang lebih 60 kilometer dari Pura Rambut Siwi.

Ternyata begitu kami meninggalkan Pura Rambut Siwi Agung Wira dan Gusmang baru tiba di Pura Rambut Siwi dan memberi tahukan agar kami menunggu di penyeberangan Gilimanuk saja.

Kami terus melaju dengan kecepatan rata-rata 60 atau 70 kilometer per jam.  Dan pukul 10.22 WITA akhirnya kami tiba di penyeberangan Gilimanuk. Kami menunggu Agung Wira dan Gusmang agar bisa menyeberang dalam satu kapal. Pukul  10 34 WITA tampak Agung Wira dengan Trooper Hijaunya di ikuti oleh Vitara warna Coklat muda metalik yang dikemudikan oleh Gusmang memasuki parkir penyeberangan di mana kami menunggu. Setelah semua peserta lengkap kami segera bergerak untuk memasuki gerbang penyeberangan untuk membeli tiket seharga 95 ribu rupiah.

Setelah semua membeli tiket penyeberangan kami segera naik ke Ferry Gilimanuk 2 untuk dan menyeberang. Semua peserta masuk ke dalam perut ferry yang akan menyeberangkan kami ke Ketapang di tanah Jawa. Kami beruntung dapat menyeberang tanpa mesti menunggu dan cuaca serta ombak juga cukup bersahabat. Belakangan ini kami mendapat informasi bahwa penyeberangan masih di buka tutup, mengingat cuaca dan ombak yang tidak menentu belakangan ini.

Setelah naik ferry, semua teman-teman turun dan naik ke dek atas termasuk anak-anak saya. Saya tetap tinggal di dalamTrooper menemani istri saya.

Pukul 10.51 WITA ferry terasa mulai bergerak.  Laut yang tenang membuat penyeberangan ini tidak begitu terasa. Penyeberangan ini terasa lama karena ferry  ini bergerak agak lambat. Pukul 11.48 waktu di da Trooper, ferry merapat di pelabuhan Ketapang.

 Kami segera keluar dari perut ferry dan line up di pintu keluar.sebelum bergerak.  Setelah semua kendaraan lengkap kamipun bergerak keluar kearah kiri pelabuhan menuju kota Banyuwangi. 

Dalam perjalanan istri saya mulai merintih lagi. Rupanya sakit perutnya bertambah parah dan katanya terasa melilit. Saya semakin khawatir dengan kondisinya itu. Saya ajak istri untuk balik pulang ke Bali, namun dia menolak dan coba bertahan. Saya mengambil kotak P3K dan mengambilkan balsam cap Lang untuk dibalurkan diperutnya agar terasa lebih nyaman.

 “Teman-teman KTI Bali, apakah semua sudah sudah bergerak…?” terdengar pak Hadi memanggil dari radio komunikasi.

 “Oke. Semua sudah bergerak.” Sahut Pak Tut Boncel di radio.

 “Oke. Bagaimana kalau kita makan siang dulu…?” tanya Pak Hadi lagi.

 “Oke. Pak Hadi. Kita cari makan siang dulu saja. Ini sudah jam 12.10 lho.” Kata Agung Wira.

 “Baik. Kita makan rawon Bik Atik saja ya.” Kata Pak Hadi lagi yang mengendarai Chevy Luv Pick Up 4WD.

“Di Traffic light di depan kita belok kiri ya.”  “Ikuti saya yang di belakang.” katanya lagi.

Kami bergerak terus kedepan mengikuti Pak Hadi dengan LUV Hijaunya untuk mencari tempat makan siang.

Matahari bersinar cukup terik di kota Banyuwangi ini.  Saya jadi teringat dengan asal muasal cerita nama kota Banyuwangi. (Baca juga tulisan saya sebelumnya Let’s go Banyuwangi). Namun di arah utara sana mendung menggantung terlihat pekat. Mungkin sudah hujan di gunung sana.

“Oke teman-teman semua, di traffic light ini kita belok kanan, lurus sedikit langsung ambil jalur kiri dan caritempat parkir yang aman.” Demikian Pak Hadi kembali memberi info dari radio komunikasi.

Kami segera menepi dan mencari tempat parkir yang aman didekat sekolah taman kanak-kanak.

Kami segera turun dari kendaraan dan memasuki rumah makan Bik Atik yang konon rawonnya sangat enak. Sebuah Nissan Navara dan Toyota Rush tampak parkir di depan rumah makan itu., disamping ada beberapa kendaraanlain dan juga beberapa sepeda motor. Tampaknya pengunjung rumah makan ini cukup ramai.

Hmm. Dari luar rumah makan ini kelihatan tidaklah terlalu besar, namun cukup bersih. Rumah makan ini terbagi menjadi dua ruangan. Satu ruangan yang terbuka lengkap dengan rak display yang berisi berbagai jenis krupuk dan juga sekaligus sebagai meja kasir di tengah ruangan. Disisi luarnya ada rak display yang agak tinggi.yang juga berfungsi sebagai penghalang pandangan dari luar memenuhi sebagian sisi ruang yang terluar itu. Ada 6 set meja dengan 6 kursi di masing-masing meja. Dua meja sudah terisi oleh pengunjung yang tampak sedang menikmati makan siangnya.

Kami masuk ke ruangan yang didalam. Ruangan ini dilengkapi dengan tiga unit AC split, namun terasa tidak cukup, karena ruangan masih terasa panas walau AC sudah di hidupkan ketiganya. Ruangan ini lebih sempit dari ruangan yang diluar. Namun diujung ruangan dipasang televisi ukuran besar 42 inchi dan saat itu diputar VCD lagu-lagu Indonesia.  Ada 6 meja dengan 6 kursi juga di masing-masing meja. 3 meja sudah terisi oleh pengunjung yang sedang makan siang. Melihat kami memasuki ruangan pengunjung yang sedang makan itu menoleh kearah kami yang masuk dengan serombongan. Saya dan Yande duduk satu meja bersama Agung Wira dan istri sementara istri saya dengan anak-anak di meja seberang.  Sementara Pak Ketut Sugiata duduk di meja ujung ruangan dengan keluarganya. Pak Yudi dan Yayang anaknya serta Pak Made temannya dan Pak Hadi dan keluarga duduk di meja ditengah ruangan dibelakang meja istri saya.

Sementara Pak Wiranto, Gusmang, Pak Ketut Boncel Tirtayasa dan Pak Frans  dengan keluarganya masing-masing memilih duduk di meja yang di ruangan depan.

Kami semua memesan rawon pisah dengan nasi putih dan minum es jeruk. Setelah menunggu beberapa saat pesanan kami diantar. Saya segera menyendok nasi dan mencicipi rawon itu. Lumayan. Not bad. Gumam saya dalam hati.

Rasanya tidak beda jauh dengan rawon di Rumah makan Rawon Nguling di Probolinggo yang terkenal itu.

Saya menyuap nasi dan hanya sekejap saja nasi dan rawon telah berpinah dari mangkok dan piring ke perut saya dan segera menghirup es jeruk untuk melepas dahaga. Cukuplah makan siang itu.

Usai makan, istri saya masih kelihatan meringis menahan sakit. Katanya perutnya makin sakit dan melilit. Persediaan obat sakit perut yang ada di kotak P3K sudah habis. Saya minta Yoga anak saya untuk membeli obat diwarung sebelah, tapi tidak ada. Apotik yang terdekat juga tutup karena hari Minggu.

Pak Wiranto yang melihat kondisi istri saya kemudian memberikan sebutir tablet bakterim yang langsung ditelan. Dan tablet itu cukup membantu meredakan sakit perut isri saya. Terimakasih pak Wiranto.

Setelah semua selesai makan, kami segera beranjak dan masuk kekendaraan masing-masing. Setelah siap kami mulai bergerak kearah selatan menuju Gunung Ijen.  Namun sebelumnya kami mengisi BBM di SPBU terdekat di tengah-tengah kota Banyuwangi.

Saya melihat ke fuel meter si Hitam yang menunjuk ke full kurang sedikit. Dan karena agak ragu tidak akan menemui SPBU yang akan kami lewati, saya putuskan untuk mengisi bensin juga agar tangki tetap penuh.  Setelah mendapat giliran mengisi saya masuk ke fuel nozzle dan minta petugas untuk memenuhi tangki. Meter SPBU menunjukan angka 22.70 lieter ketika bensin meluap dari tangki karena kepenuhan. Saya lihat takometer yang menunjukkan bahwa kami telah menempuh 157 kilometer sejak dari Bali dimana saya juga telah mengisi tangki full. Setelah saya hitung dengan membagi jarak tempuh dan  BBM yang dibeli terakhir, saya perkirakan konsumsi BBM si Hitam kurang lebih 1 liter untuk 6.91 km dengan AC nonstop. Masih bisa lebih irit ngga sih ya…?

Pak Hadi sempat mampir ke rumah saudaranya untuk menjemput  ikan tuna segar yang akan kami bakar nanti malam untuk barbeque.

Setelah semua siap kami meneruskan perjalanan. Convoy tetap dipimpin oleh Pak Hadi dengan Chevy Pick Up 4 WD-nya. Kami terus kearah selatan menyusuri jalanan sempit yang terus menanjak dan berkelak-kelok. Kami berharap dapat tiba di Gunung Ijen kurang lebih pukul 2 siang agar dapat menikmati indahnya pemandangan perkebunan kopi dan jarak yang akan kami lewati.

Pukul 13.31 WITA atau pukul 12.31 WIB kamipunmemasuki komplek perkebunan Kali Bendo di Desa Licin, masih di Kabupaten Banyuwangi.  Di komplek perkebunan ini tanaman yang di budidayakan adalah kopi Robusta. Komplek perkebunan ini merupakan peninggalan jaman Belanda yang terus di lestarikan oleh pihak PN Perkebunan XI.  Altimeter dida Trooper menunjuk ke angka 650 meter diatas permukaan laut. Pantas saja udara disini agak sejuk, walau belum terasa dingin bagi saya yang masih mengenakan singlet putih saja sejak berangkat dari Denpasar, Bali pagi tadi.

Sementara istri saya sesekali masih merintih menahan sakit. Dan sesekali meminum larutan isotonic untuk menjaga kondisinya tidak drop.

Kami terus bergerak semakin keatas ke dataran yang lebih tinggi menuju home stay Catimor di Blawan, Kabupaten Bondowoso, dimana kami akan bermalam. Jalanan semakinsempit dan banyak rusak disana sini sehingga kami mesti ekstra hati-hati melintas di atasnya, belum lagi kadang-kadang ada bekas pohon tumbang dan tanah longsor dari bagian atas yang menutupi sebagian badan jalan.  Benar-benar membuat kami kesti berhati-hati. Untungnya cuaca cukup bersahabat. Matahari bersinar tidak terlalu terik, karena nampaknya mendung tipis menghalangi sinarnya menerpa bumi secara langsung.

Pukul 15.12 WITA atau pukul 14.12 WIB kami memasuki perbatasan Ijen. Dan udara disini teras sangat dingin menusuk tulang. Apalagi saya yang masih hanya mengenakan singlet tanpa baju lagi diluarnya. Suasana tampak damai dan tenang. Saya lihat altimeter sudah menunjuk ke angka 1.650 meter diatas permukaan laut. Pantasan dingin dan udara terasa lembab. Pepohonan sekitar juga tampak sangat subur dan batang serta daunnya terlihat basah oleh embun yang terus turun membasahinya.

Kami terus bergerak semakin keatas menuju lapangan parkir Kawah Ijen dimana kami akan beristirahat sejenak sambil melihat-lihat pemandangan alam yang damai dengan berbagai tumbuhan tropis. Udara juga terasa dingin menyegarkan membuat kami merasa nyaman.

“Kurang lebih 600 meter lagi kita akan memasuki pelataran parkir Gunung Ijen.” terdengar Pak Hadi memberi informasi kepada kami melalui radio komunikasi.

Oke Pak Hadi. “ Terimakasih atas info-nya.” Jawab saya di radio juga.

Kami mulai memperlambat laju kendaraan agar bisa lebih menikmati pemandangan.

“Kita sudah tiba di pelataran parkir Gunung Ijen.” Kata Pak Hadi. 

Dan saya lihat Chevy Pick-Up Pak Hadi sudah berbelok kanan dan naik ke lapangan parkir yang menghijau nan luas. Saya berada diurutan paling belakang dari convoy, sehingga dapat melihat semua kendaraan teman-teman yang berbelok naik ke lapangan parkir itu. Saya lihat ada 3 Land Rover yang telah parkir, dan beberapa kendaraan lain seperti Kijang Inova, Avanza. Sementara di sebelah kiri tampak ada 5 tenda kecil yang telah dipasang. Mungkin pemiliknya sedang naik ke kawah  melihat bibir kawah Gunung Ijen.

Saya segera berbelok naik mengikuti teman-teman yang sudah parkir di lapangan itu. Setelah memarkir si Hitam, saya melompat turun diikuti oleh istri dan anak-anak saya Yoga dan Dewinta yang sudah mengeluh dari tadi karena pegal duduk di mobil dari tadi siang.

Bertemu Mas Wenda, Mas Nanang dan Pak Imam.

(bersambung)

Ikuti terus cerita perjalan KTI Bali ke Trooper Indonesia Gathering VIII Yogyakarta.

Cheers…

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s