(Reposted) Perjalanan ke Lumajang Jawa Timur. bag. 5 (selesai)


Ringkasan cerita yang lalu :

Saya ingatkan Gusmang dan Agung Wira untuk berhati-hati, karena pasir begini biasanya menjebak kita. Apalagi ban yang dipakai adalah Simex Extra Trekker yang notabene hanya berperforma bagus di Lumpur, kalau di medan berpasir seharusnya kami pakai Dessert Dueller atau ban A/T saja.

Teman-teman yang lain pun mulai beraksi dan melompat kearah padang sabana itu. Beberapa Trooper lolos sampai bisa masuk ke bibir pantai. Namun beberapa Trooper yang lainnya stag di pertengahan jalan karena terjebak dipasir tebal, dan akhirnya ditarik oleh FJ Canvas Ko Jiang yang bermesin 15BT.

Selanjutnya :

Giliran kami lewat, Agung Wira yang mengendalikan si Coklat mencari posisi yang pas dan mulai tancap gas. Dan begitu diertengahan si Coklat berhenti dan ban Simexnya amblas ke dalam pasir hingga menyentuh dek bodi.

Si Coklat akhirnya terjebak juga di pasir
Si Coklat akhirnya terjebak juga di pasir

 

Terpaksa kami minta tolong Ko Jiang lagi untuk menarik dengan strap agar bisa keluar dari jebakan pasir.
Karena penasaran, Agung Wira kembali mencoba untuk trek pasir itu, mulai dari start awal, dengan menggerak-gerakkan stir Agung Wira tancap gas dan si Coklat melesat kedepan beberapa meter dan sekali lagi begitu tiba di pertengahan si Coklat tidak bisa melaju lagi dan semakin di gas, rodanya semakin amblas ke dalam pasir.

Ko Jiang datang lagi melemparkan strapnya dan menarik si Coklat keluar dari trek pasir. Begitulah, kami semua terjebakdan kesulitan untuk melewati trek pasir di Pantai Selok Awar-awar ini. Hampir semua kendaraan sempat stag di pasir.

Terjebak Semakin dalam...
Terjebak semakin dalam...

Setelah berhasil keluar dari jebakan pasir, kami terus mendekati bibir pantai dan berhenti sejenak untuk menikmati alam pantai Selok Awar-Awar yang merupakan pantai laut selatan.

Bibir pantai agak terjal dengan ombak yang tinggi dan arus air yang sangat kuat sehingga sangat berbahaya jika kita berenang disini.
Apalagi pasir yang  berwarna hitam rasanya tidak terlalu menarik untuk bersantai.
Kami turun dari Trooper kami dan mengabadikan beberapa moment untuk kenang-kenangan.

Akhirnya di tarik dengan strap
Akhirnya ditarik dengan strap

 

Saya melirik ke jam digital di console box yang telah menunjukkan pukul 11.49 WIB. Rencananya kami kami akan kembali ke Denpasar pukul 14 WIB agar bisa santai di jalan dan tidak dikejar-kejar waktu.

Kami berunding dengan Agus Pendit, Gusmang dan Agung Wira untuk memutuskan apakah kita tetap ikut teman-teman KTI Surabaya untuk ke gunung Semeru atau langsung memisahkan diri dari rombongan dan pulang ke Bali.

Setelah menimang-nimang dan menghitung waktu kami, akhirnya kami putuskan untuk memisahkan diri di jalan utama dan kembali ke Denpasar.

Pasir berdebu
Pasir berdebu

Setelah hampir 2 jam kami bermain main di trek pasir, akhirnya rombongan bergerak keluar dari pantai Selok Awar- Awar menuju ke gunung Semeru di desa Senduro.

Karena jalanan kembali yang kami lalui adalah jalanan kampung yang berdebu dan model jalannya juga terlihat sama, rombongan sempat nyasar dan terjebak dijalan buntu.

Pak Arif sebagai guide juga tampak bingung dan  akhirnya akhirnya bertanya kepada penduduk arah menuju ke jalan utama menuju kota Lumajang.

Kami semua akhirnya berbalik arah, kembali ke jalan masuk dan setelah beberapa kali nyasar, kami akhirnya keluar dari perkampungan penduduk dan masuk ke sungai dangkal yang ternyata adalah tambang pasir. Ada beberapa truk dan pekerja yang sedang menaikkan pasir keatas truk dengan skop.

Senyum ceria Pak Tonny
Senyum ceria Pak Tonny

 

Kami berjalan di jalur sungai yang tidak terlalu dalam dengan air sungai yang sebatas ban atau kurang lebih sedalam 40 cm dengan dasar sungai yang berpasir.

Kami sempat berhenti menunggu Pak Dokter karena FJ40 biru metallic yang dikendarai Pak Dr. Sumartono terjebak di pasir. Ko Jiang dan Pak Sudirman akhirnya kembali ke pantai untuk me-recovery Pak Dokter Sumartono.

Balik lagi
Balik lagi

 

Pukul 12.17 WIB kami baru keluar memasuki dataran proyek jalan yang sedang di urug. Kami memutuskan untuk berpisah disini, sementara teman-teman KTI Surabaya dan Komunitas 4 X 4 Jawa Timur dan tuan rumah Lumajang Jeep Club meneruskan acara ke Gunung Semeru di desa Senduro.

“Mas Tonny dan semua teman-teman KTI Surabaya dan Komunitas 4 X 4 Jawa Timur, kami mohon ma’af tidak    bisa mengikuti acara sampai selesai dan mohon pamit untuk kembali ke Bali.” Melalui radio saya mengucapkan salam perpisahan kepada teman-teman KTI Surabaya maupun Komunitas 4 x 4 Jawa Timur yang iktu dalam rombongan.

Rombongan berhenti di jalan sempit sebelum memasuki jalan besar yang menuju ke arah Lumajang. Kami bersalam-salaman dan saling berjanji untuk bertemu lagi pada acara yang lainnya.

Setelah semua teman-teman kami salami, akhirnya kami meneruskan perjalanan menyusuri jalan proyek untuk keluar ke jalan aspal yang menuju kota Lumajang.

Hari semakin siang, dan kami harus bergegas untuk bergerak ke Bali agar bisa tiba di Denpasar tidak terlalu larut malam.

Pukul 13.37 WIB kami memasuki kota Lumajang dan kami segera ke Kantor Perumahan dan Pemukiman Kota Lumajang untuk mengambil Trooper Hijau DK999GN kesayangan Agung WIra yang ditinggal di sana.
Cerita mengenai kondisi terakhir si Hijau akan saya laporkan jika memungkinkan.
Agus Pendit dan Agung Wira berpindah ke Trooper Hijau, sementara saya tetap bersama Gusmang dengan si Coklat.

Kami bergegas bergerak keluar dari kota Lumajang lewat jalur selatan. Kali ni kami tidak terlalu banyak ngobrol, mengingat Agung Wira belum memasang antena radio di bumper depan, sehingga kami tidak dapat berkomunikasi dalam perjalanan.

“Kita cari tempat makan yang enak dulu yuuk.” Kata Gusmang, kemudian menghubungi Agung Wira di phone selulernya.

Kami terus bergerak kearah timur dan akhirnya kami berhenti di perbatasan Lumajang – Jember untuk makan siang.di warung makan yang bernama “Warung Bebas”. Penasaran ‘kan..? Begitu juga kami, agak pensaran juga seperti apa sih modelnya kok namanya “Warung Bebas”

Sebenarnya kami agak khawatir akan kesulian untuk mencari rumah makan atau warung makan, mengingat masih dalam suasana puasa.
Beruntung warung “Bebas” ini buka sampai malam menjelang buka puasa.

“Warung Bebas” ini cukup bersih, dengan suasana layaknya makan di rumah kita sendiri. Nasi boleh diambil sesukanya, sesuai dengan kemampuan kita makan yang wajar. Ditengah ruangan ada empt Magic Jar tempat nasi. Tersedia nasi putih, nasi dengan beras merah dan nasi yang dicampur jagung Hanya saja untuk lauk pauknya disajikan sesuai dengan jumlah orang yang memesan makan.
Karena kami makan berempat, maka diatas meja disajikan beberapa jenis lauk pauk untuk empat orang. Ada gulai ayam dengan empat potong daging, ada tempe goring empat potong, ada sepiring ikan teri goring, ada sepiring sate ayam
dengan isi dua puluh tusuk, ada empat potong empal sapi, se-toples krupuk udang, ada empat potong ayam goreng lengkap dengan lalapannya, dan se mangkuk besar sayur lodeh serta sayur asem.
Karena perut kami memang sudah lapar sedari pantai tadi sang, maka tanpa menunggu wwaktu kami segera saja menyenduk hidangan itu dan makan sepuasnya.

Pukul 14.35 WIB kami sudah meluncur lagi ke arah timur ber-iring-iringan dengan Agus Pendit yang mengendalikan Trooper Hijau kesayangan Agung Wira dengan kecepatan sedang rata-rata 70 km per jam.

Satu jam kemudian kami sudah keluar daerah Jember dan memasuki desa Tanggul dan menyusuri jalandi pinggir kali kea rah timur

Kami mampir di SPBU di daerah Jember beberapa kilometer setelah Warung Bebas tempat kami makan siang untuk mengisi bahan bakar, Gusmang mengisi solar si Coklat sementara Agung Wira mengisi bensin untuk Si Hijau. Semenar mengisi bensin si Hijau, Agung Wira memasang antena radio komunikasi yang baru ketemu setelah dicari cari di bawah jok tengah. Hari semakin sore.

Beberapa kali kami berpapasan dengan pick up yang  pengangkut penumpang yang berdesak desakan di bak belakang. Rupanya mereka adalah buruh di tempat pemotongan tembakau yang baru pulang dari tempat permosesan tembakau.

Kami terus melaju ke timur semakin dekat ke arah pelabuhan Ketapang. Kami melewati Glemor, melewati hotel Kalibaru dan terus kearah timur semakin dekat ke Banyuwangi. Rencananya kami akan mampir di Banyuwangi untuk membeli oleh-oleh sekedarnya.

Pukul 18.17 kami memasuki kota Banyuwangi, dan Agus Pendit mengarahkan si Hijau ke komplek pertokoan untuk mencari oleh-oleh, sementara kami membuntuti di belakang si Hijau.

Kami memarkir Trooper kami di pinggir jalan di depan toko tempat kami berbelanja. Beberapa orang yang lewat memperhatikan kami yang baru turun dari da Trooper kami masing-masing yang belepotan lumpur dan pasir di kap mesinnya,

Kami masuk ke dalam toko dan mulai memilih-milih jenis oleh-oleh yang akan kami beli. Wuah binngung juga mesti beli apa. Begini nih jadinya kalau kita jarang berbelanja. Akhirnya saya ambil beberapa bungkus pisang sale untuk sekedar oleh-oleh.

Beberapa kali saya berpapasan dengan Agus Pendit dengan tas belanjaan yang sudah penuh dengan berbagai oleh-oleh. Rupanya Agus Pendit memborong beberapa dus pisang sale dan berbagai camilan lainnya.

Begitu juga Agung Wira, Gusmang, semuanya membeli jenis oleh-oleh yang sama. Kami benar-benar kompak ya.

Setelah acara belanja oleh-oleh selesai, kami segera bergerak lagi ke timur menuju Ketapang untuk menyeberangi Selat Bali. Pukul 18.21 kami tiba di Ketapang dan segera membayar tiket masuk seharga Rp.80.000,- per Trooper dan segera masuk ke dalam perut ferry yang akan menyeberangkan kami kembali ke Bali.

Nampaknya ferry yang menyeberang ke Gilimanuk tidak terlalu padat penumpang, di deck kendaraan masih menyisakan beberapa tempat parkir untuk kendaraan, sehingga truk yang masuk terakhir di biarkan melintang ditengah-tengah tempat yang kosong itu, untuk menjaga agar berat bobot kapal terbagi dengan seimbang.

Hari mulai gelap, namun ferry belum juga bergerak. Kami segera naik ke deck penumpang untuk duduk beristirahat. Kamimenunggu kurang lebih 20 menit ferry baru beranjak dari dermaga Ketapang. Kami segera naik ke deck pemumpang di lantai dua.

Memasuki deck penumpang kami disambut oleh suara musik pop dangdut creative yang menghentak. Sambil mencari tempat duduk, saya memperhatikan deretan kursi yang banyak kosong. Ternyata penumpang ferry ini tidak terlalu banyak. Saya melihat ke TV monitor di depan tempat duduk yang sedang menampilkan seorang penyanyi dang dut dengan goyangannya yang sensual.

Karena tidak terlalu konsen, saya tidak tahu siapa penyanyi yang sedang life show itu sampai menjelang turun dari kapal, saya baru ngeh ternyata itu penyanyi itu adalah Inul Daratista. Rupanya karena kurang tidur kemarin malam, membuat fikiran ini tidak fokus.
Pukul 19.05 ferry baru meninggalkan pelabuhan Ketapang menuju pelabuhan Gilimanuk.

Ferry yang kami tumpangi ini agak lambat, dan sepertinya terseok-seok untuk menyeberangkan kami. Kaena kecapaian dan kurang tidur, Agung Wira tertidur di kursi penumpang deretan paling depan, sementara saya duduk bersandar disebelahnya dengan fikiran yang masih melayang kesana kemari. Sulit untuk memicingkan mata.

Pukul 20.17 WITA kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Begitu keluar dari pelabuhan Gilimanuk, kami segera melesat dengan kecepatan penuh rata-rata 110 km per jam, mengingat jalanan yang sangat sepi. Sampai di perbatasan Negara Tabanan kami barumengurangikeceopatan, karena jalanan yang mulai ramai oleh bus malam dan truk yang akan ke Jawa.

Selama perjalanan kembali ini kami tidak banyak bercakap-cakap. Saya yang menjadi navigator si Coklat yang di kemudikan oleh Gusmang hanya duduk bersandar di jok depan, sementara Gusmang menyulut rokok sambil tetap mengendalikan si Coklat.

Gilimanuk – Denpasar kira-kira akan kami tempuh sekitar 2 jam. Sementara digital clock si Coklat telah menunjukkan pukul 20.47 WITA. Estimasi saya kami akan tiba di Denpasar kurang lebih pukul 23.00 WITA.

Sementara jalanan semakin ramai oleh bus malam dan truk muatan yang akan berangkat ke Jawa dan kendaraan lainnya, membuat kami tidak bisa melaju lebih kencang lagi.

Akhirnya pukul 22.52 WITA kami memasuki desa Kapal. Disini kami berpisan dengan Agung Wira dan Agus Pendit dengan Trooper Hijau, Gusmang berbelok ke kiri menuju rumah saya sementara Agus Pendit dan Agung Wira lurus kearah Terminal Ubung.

Pukul 23.11 WITA kami tiba di depan rumah. Setelah menurunkan barang-barang bawaan saya, Gusmang pamitan tanpa turun dari Troopernya dan kami pun berpisah.

Demikian laporan perjalanan kami ke Lumajang Jawa Timur untuk mengikuti survey trek ke pantai Selok Awar-awar, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Semoga bermanfa’at bagi teman-teman da Trooper Bali dan visitors website da Trooper Bali dimanapun berada.

It's me and wife
It's me and wife

Salam da Trooper Bali

Dewa
DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s