(Reposted) Perjalanan ke Lumajang Jawa Timur, bag. 4


Ringkasan cerita yang lalu :

Baik mas nanti saya minta sama mas Asep biar di kasi baut bajanya.” Kata Pak Tonny kemudian.

“Okey mas silahkan berisitirahat dulu, biar besok pagi bisa seger dan bisa jalan ke pantai untuk survey trek.” Kata mas Tonny lagi.

“Okey mas.” “Sampai besok pagi ya.” Kata saya lagi kemudian mematikan lampu dan berbaring di spring bed disebelah Agung Wira.

Selanjutnya :

Hanya beberapa menit setelah berbaring terdengar dengkurannya Gusmang, Agus Pendit yang berbaring bersebelahan dengan Gusmang juga terlelap, demikian juga Agung Wira sudah tertidur, hanya saya yang masih sulit memejamkan mata, karena keracunan makanan yang saya alami hari Jum’at malam belum sepenuhnya sembuh. Walau sempat di infuse di UGD Surya Husada pada tengah malam dan dilanjutkan dengan obat anti alergi yang saya minum, namun belum juga sembuh total. Seperti subuh itu, rasa gatal panas di sekujur badan saya masih datang dan pergi. Begitu pengaruh obat penawar yang diminum hilang pengaruhnya, maka bental bentol dan gatalserta panas datang lagi yang membuat saya kebingungan garuk sana garuk sini. Waaah kaya monyet dech aku. He he he he…

Teras rumah Dr. sumartono yang asri

Terpaksa subuh itu saya minum obat penawar lagi agar bisa tidur nyenyak. Setelah minum obat, kira-kira 30 menit kemudian atau kira-kira pukul 04.00 saya baru tertidur.

Pukul 07.00 saya terbangun dan saya lihat Agung Wira sudah tampak segar.
“Pak Dewa cepat mandi, sebelum antreannya panjang.” “Saya sudah mandi.” Katanya. Sambil memberikan kunci Trooper ke saya.

Saya segera turun mengambil ransel di Trooper untuk mengambil perlengkapan mandi dan baju ganti.
Saya melihat tangan saya bekas bental bentol tadi malam yang masih terlihat kemerahan.

Setelah mengambil ransel dan mengeluarkan sikat gigi, handuk, sabun dan perlengkapan kecli lainnya, saya masuk kekamar mandi di lantai bawah di ruang keluarga Dr. Sumartono yang tampak asri.

Rasa kantuk masih tersisa, mengingat hanya sempat tidur kurang dari 3 jam.
Saya segera mengguyur badan dari ujung kepala sampai keujung kaki dengan air dingin agar badan lebih segar.

Setelah selesai mandi, giliran Gusmang yang masuk ke kamar mandi, kemudian Agus Pendit disusul Pak Sudirman dan yang lain-lainnya.

Setelah selesai mandi saya baru keluar rumah untuk melihat-lihat lebih detail lagi rumah Dr.Sumartono.SpBd.

Plang rumah Dr. SumartonoSp.Bd
 

Rumah yang terletak di seberang kantor Perumahan dan Pemukiman Penduduk, Kabupaten Lumajang itu dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 300 meter persegi, dengan menyisakan sedikit halaman didepan dan belakang. Namun karena tanaman hias yang tertata rapi dan terawat, membuat suasana rumah terasa sangat teduh dan asri. Dihalaman depan ditanam pohon palm botol yang sudah cukup besar, dengan berbagai tanaman hias cantik disekitar pohon palm itu membuat halaman tampak asri dan indah. Senang rasanya memandangi taman kecil itu.

Di Garase tampak sebuah FJ40 dengan ban Super Swamper TXL sedang dicuci oleh pembantu Pak Dokter. FJ40 berwarna biru metallic itu tampak gagah dengan Hi Lift Jack yang terikat di pilar A didepan spion. Winch Warn 8274 yang masih terbungkus vinnyl hitam nangkring di bumper depan membuat tongkrongan si FJ 40 makin gagah dan berwibawa. Wah saya jadi menimbang-nimbang untuk meminang FJ40 nih.

Fj40 Hardtop Dr.Sumartono

 

Sambil menunggu teman-teman lain yang masih mandi dan berkemas-kemas, saya melihat-lihat ruang keluarga Dr. Sumartono yang tertata apik dan harmonis dengan pernak pernik dan berbagai foto-foto anak-anak dan keluarga pak Dokter yang ditata rapi di tembok ruangan.  Pendek kata rumah Pak Dokter ini akan membuat betah siapapun yang duduk didalamnya.

Saya berjalan ke halaman belakang. Di belakang ada teras kecil yang rupanya dibuat untuk mencari angin dan bersantai sambil minum teh atau kopi. Hal itu terlihat dari dispenser dan tea box yang tertata rapi di atas meja kecil di teras itu.

Teras depan rumah Dr.Sumartono. Asri....
Teras depan rumah Dr.Sumartono. Asri...

Sementara di depan teras tertata berbagai tanaman hias, bunga adenium, anggrek dendrobium dan beberapa anggrek catlya yang sedang berbunga disamping berbagai tanaman hias cantik lainnya yang tidak saya ketahui namanya. Maklum saya bukan ahli di bidang itu. He he he..

Setelah taman di teras itu, masih menyisakan beberapa ruangan yang tampaknya adalah untuk kamar dan ruang kerja pembantu. Terdengar ada beberapa ekor anjing yang menggonggong dari tempat itu.

Karena sangat terkesan, saya sempat mengambil beberapa gambar taman Pak Dokter untuk koleksi pribadi,

Setelah semua teman-teman siap, kami berkumpul di halaman kantor Pemukiman dan Perumahan untuk mendengarkan briefing dari panitia dan ternyata ada sarapan pagi berupa nasi pecel daripanitia.
Padahal pagi tadi kami berempat sempat kebingungan mau cari makan dimana, mengingat ini masih dalam bulan puasa.

Briefing sebelumberangkat
Briefing sebelum berangkat

Setelah briefing dan sarapan pagi, kami masih menunggu beberapa teman-teman dari Lumajang Jeep Club yang akan menjadi guide kearah barat daya menuju pantai Selok Awar-awar, Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang, kurang lebih 40 km kearah barat daya kota Lumajang.

Tercatat ada 7 Trooper, 6 FJ 40, 1 FJ 40 dengan mesin 13BT milik Ko Jiang, 1 Pick Up Chevy Luv 4×4 Diesel, 3 Taft GT, 2 Taft Kebo Diesel, 1 Suzuki Caribean SJ413, 2 Suzuki Jimnny SJ410 dan1 Wyllis dengan mesin 2 LT. Total ada 24 kendaraan yang ikut dalam rombongan.

Saya coba tanyakan kepada Pak Tonny berapa lama jarak tempuh ke Pantai Selok Awar-awar dari tempat kami ngumpul. Dari salah seorang panitia kami diberi tahu bahwa kurang lebih 1 jam perjalanan kami akan tiba di pantai Selok Awar-Awar.

Kami bergerak pukul 8.30 waktu Jawa, mengikuti jalan utama ke arah barat. Suasana didaerah ini tidak begitu ramai. Sepanjang perjalanan kami banyak berpapasan dengan mesin giling padi yang disebut grandong yang bergerak mencari pelanggan. Malah sempat berpapasan dengan grandong yang berbodi FJ40 tapi bermesin Kubota. Wha ha ha ha…… lucu juga.

Perjalanan menuju pantai Selok Awar-Awar
Perjalanan menuju pantai Selok Awar-Awar

 

Setelah hampir 20 menit kami menyusuri jalan aspal mulus, kami berbelok kekiri memasuki desa Pandanarum. Jalanan mulai berlubang-lubang dan berdebu. Kami semakin jauh menyusup kepedalaman, dan akhirnya kami memasuki perkampungan penduduk yang sangat gersang. Debu mengepul beterbangan membuat kami tidak bisa melihat kedepan karena pandangan tertutup debu yang mengepul sangat sangat tebal. Saya sempat terharu melihat penduduk yang bertelanjang dada kepanasan dan kehausan karena kesulitan air, melambaikan tangan kearah kami yang melintas didepan mereka. Ada perasaan malu dalam diri saya melihat mereka yang dalam penderitaan, sementara kami didalam Trooper yang berpenyejuk ruangan minum air mineral. Tuhan ampuni kami. Saya berdoa dalam hati.

Kami terus menyusuri jalan perkampungan yang gersang, pohon-pohon kayu sengon yang meranggas karena kekeringan, rumput yang mongering dan debu yang beterbangan mengepul dihempas oleh kendaraan yang lewat.

Melintas dijalan setapak yang berdebu
Melintas dijalan setapak yang berdebu

Sungguh

menyedihkan melihat kebun-kebun penduduk yang tidak bisa ditanami karena kekeringan. Tanah yang pecah-pecah dan udara yang panas menyengat menambah penderitaan masyarakat. Saya khawatir banyak anak-anak yang mengalami sakit pernafasan akibat udara yang bercampur debu ini.

Setelah bergerak kurang lebih 37 menit di atas Trooper, kami memasuki dataran dengan tanah gembur bercampur pasir yang nampaknya masih dalam proyek pengurugan. Hal itu tampak dari bekas-bekas roda alat-alat berat traktor yang meratakan tanah. Tampaknya daerah ini akan menjadi jalan lingkar luar kota kelak. Kami terus bergerak diantara debu-debu yang mengepul tebal sehingga jarak pandang kedepan tidak lebih dari 3 meter. Karenanya kami mesti ekstra hati-hati, Karena salah salah bisa menyeruduk teman yang didepan.

Tiba-tiba kendaraan didepan kami berhenti. Saya memanggil dan bertanya lewat radio, namun tak ada yang menjawab. Akhirnya kami semua turun dari Trooper.
Ternyata kami berhenti karena jalan masuk ke pantai terhalang oleh truk pengangkut pasir yang stag ditanjakan masuk ke jalan pantai.

Si sopir truk masih mencoba berupaya untuk menaikkan truknya, namun karena beratnya muatan pasir basah yang masih mengeluarkan air, tampaknya usahanya sia-sia. Rupanya kopling truk Elf itu slip.

Setelah berunding, akhirnya salah satu FJ dari rombongan kami membantu si truk keluar dari posisi terperangkapnya.

Dengan strap FJ 40 canvas merah pemandu kami yang dikemudikan oleh Pak Arif akhirnya megevakuasi truk itu keluar dari posisi stagnya. Si sopir mengucapkan terimakasih kepada Pak Arif dan meneruskan perjalanannya.

Pukul 9.56 kami memasuki jalanan sempit dengan sawah dengan padi dikiri kanan. Kami terus bergerak menyusuri jalanan sempit itu, disini suasananya berbeda sekali dengan perkampungan penduduk yang kami lewati sebelumnya. Disini air cukup melimpah dan air sampai meluber kejalan membuat genangan air di tengah jalan yang tentu saja membuat kami senang melibasnya.

Beberapa ekor sapi dan kerbau yang ditambatkan dipematang sawah tampak terbengong-bengong melihat kami berkubang di kubangan mereka. Mungkin mereka berfikir, kok ada kerbau jelek segi empat berkaki bulat berkubang ditempat gue. Mahluk apa itu. Kami berempat tertawa terbahak-bahak melihat sapi dan kerbau yang terlongong-longong itu.

Pukul 10.17 waktu Jawa kami telah memasuki pantai Selok Awar-Awar. Beberapa meter sebelum memasuki pantai Selok Awar-Awar kami dihadang oleh padang sabana yang cukup luas, kurang lebih 400 meter dari bibir pantai adalah padang pasir tebal degnan rerumputan yang mulai meranggas karena kekeringan. Mirip seperti padang sabana yang ada di Bromo.

Saya ingatkan Gusmang dan Agung Wira untuk berhati-hati, karena pasir begini biasanya menjebak kita. Apalagi ban yang dipakai adalah Simex Extra Trekker yang notabene hanya berperforma bagus di Lumpur, kalau di medan berpasir seharusnya kami pakai Dessert Dueller atau ban A/T saja.

Teman-teman yang lain pun mulai beraksi dan melompat kearah padang sabana itu. Beberapa Trooper lolos sampai bisa masuk ke bibir pantai. Namun beberapa Trooper yang lainnya stag di pertengahan jalan karena terjebak dipasir tebal.

Sawah sebelum masuk ke pantai Selok Awar-Awar
Sawahsebelummasuk ke pantai Selok Awar-Awar

 

Ikuti terus cerita seru fun offroad di PantaiSelok Awa-Awar, Lumajang ini.

Ikuti terus ceritanya ya...
Ikuti terus ceritanya ya...

 

salam dari Bali

(c) dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

2 thoughts on “(Reposted) Perjalanan ke Lumajang Jawa Timur, bag. 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s