(Reposted) Perjalan ke Lumajang Jawa Timur, bag. 3


Ringkasan cerita yang lalu :

Kira-kira pukul pukul 23.00 waktu Jawa kami memasuki kota Jember. Kami terus berjalan sambil melihat-lihat berkeliling mencari tempat makan.

“Stop itu ada warung tenda ikan bakar.” Seru Gusmang. “Kita makan disana yuuk.” Katanya lagi.

Selanjutnya :

“Ayo,” kata Agung Wira dan segera memutar Trooper kami berbalik arah dan memarkir tepat disebelah warung tenda yang tampak bersih.

Gus Mang dan Agus Pendit

Kami melompat dari Trooper dan mencari tempat duduk.

“Ada apa saja bu.?” Tanya Pak Agus kepada ibu penjualnya.

“Ini ada ikan gurami, lelenya tinggal satu ekor dan ada ikan kenjer.”

“Ayam gorengnya habis pak.” Katanya.

“Ikan Kenjer itu seperti apa bu.” Saya bertanya kepada ibu penjual itu sambil celingak celinguk melihat penggorengan yang lagi mengepul dengan suara gemericik minyak panas didalamnya.

“Ini mas. Ikan Kenjer itu seperti ini.” Kata ibu penjual itu lagi.

Saya memperhatikan ikan kecil-kecil seperti teri, namun tidak kering seperti itu. Ikan kenjer ini sudah di setengah matang digoreng dengan tepung.

Saya mengambil sedikit dan menggigitnya dan bertanya.

“ Ini sudah dimasak ya bu.?” tanya saya lagi.

“Ini sudah digoreng setengah matang mas. Kalau mau saya goreng lagi biar matang.” Kata ibu penjual itu menjelaskan.

“Iya deh bu. Saya mau ikan kenjer satu porsi ya.” Kata saya sambil kembali duduk di kursi plastik di depan meja disebelah Gusmang.

“Guraminya dua ekor, lele satu terus ikan kenjernya satu porsi, nasi putih empat bu.” Pesan Agus Pendit memastikan pesanan kami.

“Minumnya apa pak..?” tanya ibu penjual itu.

”Saya teh panas manis satu, dua es jeruk, satu aqua tanggung.” Kata Gusmang menimpali.

Sambil menunggu makanan siap, kami masih membicarakan as panjang yang lepas di Rogojampi, sambil tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas kemurahan hatiNYA kepada kami sehingga kami bisa mendapat bantuan ditempat yang tepat dan orang yang tepat juga.

Coba kalau lepasnya di daerah yang tak berpenduduk, kami tentu tak akan bisa sampai di tujuan kami sesuai rencana.
Terima kasih Tuhan.

Dinner yang jadi supper di Kota Jember

Sambil makan, kami membicarakan rencana kami esok.

Agung Wira menjelaskan, bahwa teman-teman KTI Surabaya dan Lumajang Jeep Club akan mengajak kami ke trek pasir di pantai, namun sejauh ini Agung Wira tidak tahu nama pantai dan desa apa yang akan kami tuju besok.

Tak beberapa lama, makanan pesanan kami terhidang diatas meja. Ada 2 ekor gurami goreng yang cukup besar, ada 1 ekor lele goreng, ada tempe goring dan sambal ulek dengan lalapan.

Kami makan dengan lahap, karena memang kami sangat lapar, setelah menempuh perjalanan Denpasar – Jember sejauh 296 km.

Beberapa saat kemudian ikan kenjer pesanan kami juga terhidang di meja. Saya mengambilnya sedikit dan encicipinya.

“Wah enak juga nih.” Kata saya sambil mengambil ikan kenjer lagi.

Ikan kenjer ini rasanya seperti udang kecil-kecil yang di goring kering.

“Enak ya.” Kata Gusmang dan ikut mengambil ikan kenjer dan menyuapkan ke mulutnya, sambil manggut-manggut.

Nikmat rasanya makan yang kami akan di saat lapar.
Betul kata orang bijak, sesederhana apapun makanan yang kita makan, akan sangat nikmat jika kita makan di saat perut lapar.

Kmi menyantap semua makanan yang terhidang sampai tandas, dan begitupun minumannya kami minum sampai tandas juga.

Saya membuka HP dan melihat jam. Sudah jam 23.31.

Agus Pendit membayar makanankami dan kami bergeras naik ke Trooper kami kemudian meluncur meninggalkan kota Jember menuju Lumajang.

Segar rasanya badan dan fikiran kami setelah makan malam yang nikmat.

Saya menghidupkan radio komunikasi dan mencari fekwensi 147.760, dan mulai memanggil-manggil teman-teman KTI Surabaya, namun belum terdengar tanda-tanda ada teman-teman KTI Surabaya yang memonitor di frekwensi 146.760 Mhz.

Kami terus bergerak dengan kecepatan rata-rata 100 km perjam.

to be continued to part 2.

Ikuti terus laporan gperjakana tim KTI Bali ke Lumajang, jawa Timur.

Lanjutan sebelumnya.
Hi all of the da Troopermania and our loyal visitors wherever you are…

Saya kembali hadir di depan anda sekalian untuk melaporkan perjalanan tim KTI Bali ke Lumajang Jawa Timur untuk mengikuti survey trek yang akan dilakukan oleh KTI Surabaya dan Lumajang Jeep Club.

Seperti yang telah saya laporkan sebelumnya, bahwasanya kami sempat tertahan di Rogojampi karena mengalami lepas As panjang, dan setelah makan malam yang terlambat di Jember, kami meneruskan perjalan dengan driver tetap Agung Wira yang terus menggeber si Coklat dengan mesin 4JB1T. Kecepatan rata-rata 100 km perjam mengingat jalanan yang cukup sepi.

Begitu memasuki desa Tanggul saya kembali memanggil teman-teman KTI Surabaya lewat radio komunikasi pada frekwensi 146.760 Mhz. Namun belum juga terdengar tanda-tanda kehadiran mereka.
Agung Wira masih terus membejek pedal gas si Coklat sehingga kami serasa terbang saja diatas jalan.

Tiba-tiba kami mendengar sayup-sayup ada yang memanggil “KTI Bali ada monitor disini..” demikian terdengar di radio.

Saya segera mengambil mikrofon dan menjawab panggilan itu. “Disini tim KTI Bali sedang meluncur melintas di desa Tanggul apakah bisa didengar..?” kata saya.
“Roger… Bisa didengar walau mash sangat lemah pancarannya.” “Ini dengan siapa..?” terdengar suara diseberang sana. Saya tidak mampu untuk menduga siapa orang yang berbicara di radio itu. Kami terus meluncur menyusuri kali masih didesa Tanggul.

“Roger.. Ini dengan operator siapa ya…?” saya memasang telinga dan mendekatkan telinga ke radio di dashboard.

Namun suranya belum jelas juga.

“Mohon ma’af mas. Kami belum bisa mendengar dengan jelas pancaran anda.” Kata saya lagi.

“Disini Asep mas.” Terdengar suara di radio. Kali suaranya mulai lebih jelas.

“Kami sudah menunggu di alun-alun ditengah kota Lumajang.” Kami dengan tujuh Trooper, satu FJ Canvas sudah nongkrong di alun-alun mas.” Terdengar suaranya di radio lagi.

“Baik mas, terimakasih telah menunggu kami di alun-alun. Tapi kami masih di daerah Tanggul menyusuri kali menuju arah utara mas.” “Kira-kira berapa kilometer dari sini sampai di alun-alun mas.” Tanya saya kepada Pak Asep dari KTI Surabaya.

“Kurang lebih 40 km lagi.” Jawabnya. “Saya akan tuntun lewat radio ya, biar ngga nyasar.” Katanya lagi. “Jalan terus saja ikuti jalan utama, nanti ada pertigaan yang ditengahnya ada tugu, belok kiri.” Katanya lagi.

“Terimakasih mas Asep.” Saya meletakkan mikrofon di atas console box digital clock si Coklat.

Digital clock diconsole box telah menunjukkan pukul 01.30 WITA dini hari. Kami masih belum melihat pertigaan seperti yang disampaikan Pak Asep tadi.

“Mas Dewa monitor.” Terdengar suara pak Asep memanggil manggil.

“Masuk.. masuk mas. “ jawab saya.

“Kalau sudah ketemu pompa bensin di sebelah kiri, kurangi kecepatan karena beberapa meter lagi akan memasuki pertigaan.” “Dipertigaan itu ambil kiri.” Katanya lagi.” “Ikuti jalan utama sampai ketemu dengan pertigaan yang ada tugu dengan lampu hias yang berbentuk payung.” Ambil kearah kiri lagi.” Katanya lagi. “Kalu sudah memasuki jalan itu. Beberpa meter lagi akan memasuki jalan yang ke alun-alun kota.” Katanya lagi.

“Okey mas.” Jawab saya sambil tetap memegang mikrofon.

Beberapa saat kemudian kami melihat pertigaan pertama dan kami berbelok ke kiri kemudian mengikuti jalan dua jalur. Kami terus menyusuri jalan dan akhirnya melihat pertigaan dengan tugu dengan lampu hias yang berbentuk payung di tengah-ditengahnya. Kami berbelok kekiri lagi, dan terus mengikuti jalan utama.

“Hai itu mereka.” Kata Agung Wira sambil tetap mengendalikan kemudi dan mengurangi kecepatan, kemudian menepikan siTrooper ke pinggir jalan didekat trotoar lapangan. Saya sempat melirik digital clock di console box yang telah menunjukkan pukul 01.53 WITA atau pukul 00.53 waktu Jawa. Sudah menjelang pagi.

Ada satu, dua, tiga, empat, lima, enam, Trooper dan satu FJ Canvas Hijau yang diparkir berjejer, termasuk si Hijau DK999GN milik Agung Wira juga ikutan diparkir disana.
Kami segera turun dari Trooper dan menyalami teman-teman yang telah menunggu kedatangan kami sejak satu jam yang lalu.

Setelah bersalam-salaman kami segera naik ke Trooper masing-masing dan bergerak ke rumah Bapak Dr. Sumartono SpBd yang terletak tidak jauh dari alun-alun kota, di seberang Kantor Pemukiman dan Perumahan Kabupaten Lumajang.

Kami diarahkan masuk ke halaman Kantor Pemukiman dan Perumahan Kabupaen Lumajang. Ternyata disana sudah ada beberapa Trooper yang diparkir.

Kami turun dari Trooper Coklat kami dan diantar menyeberang jalan ke kediaman Dr.Sumartono SpBd. Belakangan saya baru tahu kalau Dr. Sumartono adalah anggota Lumajang Jeep Club dan Komunitas 4 X 4 Jawa Timur, Surabaya yang karena tugasnya sebagai Dokter Spesialis Bedah yang ditempatkan di Lumajang kemudian berdomisili di Lumajang, namun Dokter Sumartono wara wiri Surabaya – Lumajang.
Kami disambut oleh Dr.Sumartono dan anaknya serta dipersilahkan untuk makan yang terpaksa kami tolak karena kami baru saja makan satu jam yang lalu di Jember.

Malam itu kami menginap di rumah Dr. Sumartono SpBd, di kamar, dilantai dua bersama Mas Erik, Mas Wenda, mas Asep, Mas Andre dan beberapa teman dari KTI Surabaya yang telah tidur pulas.

Kami menurunkan kasur spring bed ke lantai, dan baru saja kami hendak tidur, ketika Pak Tonny dan Pak Sudirman dari KTI Surabaya masuk kekamar menyapa kami dan bersalam-salaman.
Akhirnya kami ngobrol panjang lebar sampai pukul 03.00 dinihari.

“Jam berapa masuk Lumajang mas Dewa.” .tanya Pak Tonny kepada saya.

“Tadi kami sampai di alun-alun jam satu kurang 7 menit mas.” Jawab saya.

“Mestinya bisa tiba lebih awal mas, kalau saja kami tidak mengalamai lepas As panjang sebelum Rogojampi.” “Tapi kami sangat beruntung berhenti persis didepan bengkel knalpot yang ada lubang untuk ngolong.” Saya jelaskan lebih detail.

“Sekarang bagaimana keadaannya ?” tanya PakTonny lagi.

“Iya semoga saja tidak ada masalah mas, tapi kata Mas Asep, Ko Jiang punya baut baja ya ?” “Saya minta tolong biar boleh kami minta untuk spare di jalan pulang ke Bali nanti mas.” “Semoga sih baut yang sekarang cukup kuat sampai di Bali.” “Nanti kami diganti di Bali saja,” jawab saya lagi.
‘Baik mas nanti saya minta sama mas Asep biar di kasi baut bajanya.” Kata Pak Tonny kemudian.

(bersambung )

Ikuti terus lanjutan cerita ini….

salam dari Bali

(c) dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

2 thoughts on “(Reposted) Perjalan ke Lumajang Jawa Timur, bag. 3

  1. Hai mas Abdul Wahid,
    Terimakasih utk komentarnya ya. Maaf baru buka, artikel ini saya tulis sdh lama sekali. Blog ini juga sdh lama tdk saya up date krn berbagai masalah. Namun masih tetap saya kelola. Kami sampai pasa malam hari, karena memang berangkat dari Denpasar setelah lepas magrib. Perjalanan Denpasar – Lumajang normalnya dengan waktu tempuh 7 jam berkendara. Sekali lagi terimakasih sdh berkunjung ke blog ini.

    Salam

    Dewa Dwipayana
    daTrooper Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s