(Reposted) Perjalanan ke Lumajang Jawa Timur, bag. 2


Ringkasan cerita yang lalu :

Setelah terkatung-katung hampir 30 menit ditengah laut Selat Bali, akhirnya kami bersandar di Ketapang pada pukul 21.23 WITA di console box si Coklat.

Dinner yang terlambat di Kota Jember

Kami keluar dari perut ferry dan begitu menyentuh aspal diluar pelabuhan Agung Wira menginjak pedal gas dalam-dalam dan Trooper kami melesat kencang mengikuti jalan raya Ketapang – Banyuwangi lewat pantai selatan.

Ikutilah cerita selanjutnya :

Kami melintas dikota Banyuwangi yang mulai sepi pukul 21.57 WITA, mengingat kami mesti mengejar waktu agar tiba di Lumajang tidak terlalu larut malam, kami tidak sempat melihat-lihat kota Banyuwangi dengan legenda dan cerita tentang nama Banyuwangi, yang sempat saya tulis beberapa waktu yang lalu di website KTI Bali ini. (simak artikel “Let’s go Banyuwangi” di website ).

Jalanan aspal yang bergelombang membuat tubuh kami sedikit berguncang sementara suara desingan ban Simex menemani kami dengan setia…

Saya sempat agak was-was mengingat kami tidak membawa tool kit sama sekali, dan keberangkatan kami tanpa persiapan yang memadai. Saya berdoa agar kami mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sementara malam merayap dengan cepat dan jalanan yang kami lewati mulai sepi. Apa lagi masih dalam suasana puasa, membuat masyarakat enggan keluar setelah berbuka puasa. Kami terus melaju dengan kecepatan rata-rata 80 sampai 90 km perjam dan kadang-kadang kalau jalanan lurus Agung Wira menginjak pedal gas lebih dalam dan kami melaju kencang dengan kecepatan 130 km perjam.

Pukul 22.40 ketika melintas di daerah Genteng beberapa saat sebelum memasuki Rogojampi kami dikagetkan oleh suara-suara aneh dari bawah. Saya fikir itu adalah suara ban yang berbenturan dengan bebatuan karena jalanan memang bergelombang, baru saja saya akan berkomentar tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras…”Chroang…Chroang…klontang… Chroang dan kruang..kruang…..” seperti besi berputar yang bergesekan. Kami semua kaget dan terlonjak dari tempat duduk kami. Agung Wira segera menghentikan si Coklat keluar dari badan jalan aspal dan segera turun dari Trooper kami. “Waduh As Panjangnya lepas neh…” celetuk Agus Pendit.

Si Coklat 123 YA

Kami segera mengambil lampu yang sempat dibawa dan mengarahkannya kekolong mobil Namun karena posisi yang agak sulit untuk melihat, kami tidak bisa melihat apa sebenarnya yang terjadi dikolong sana.

Saya melihat berkeliling dalam kegelapan. Ternyata kami berhenti tepat di depan bengkel knalpot yang ada lubang untuk memasang knalpot dari bawah. Saya segera menyeberang dan masuk kepekarangan tukang knalpot itu. Rumahnya tampak gelap. Saya sempat membuka HP untuk melihat jam, karena saya tidak pernah mengenakan jam tangan. Pukul 22.53 waktu HP saya atau pukul 21.53 WIB. Sudah larut malam

Saya mengetuk pintu kayu dan mengucapkan salam. Saya tunggu beberapa saat. Dan kembali mengetuk pintu. Tetap tidak ada jawaban. Saya hampir saja berbalik ke seberang dimana Gusmang, Agung Wira dan Agus Pendit menunggu ketika terdengar suara laki-laki dibelakang saya. “Ada apa pak…..?.” Saya membalikkan badan dan berhadapan dengan seorang pria berperawakan sedang. “Mau minta tolong mas. Mobil kami ada gangguan di kolong. Yang tidak kami ketahui. “ jawab saya. Pria itu mengamati saya sejenak kemudian berkata, bisa dinaikkan kesini kendaraannya pak..?”.

“Iya mas.” jawab saya dan segera ke seberang jalan untuk memberi tahu Agung Wira agar si Trooper dinaikan ke atas lubang.

Agung Wira naik ke Trooper dan mencoba memundurkan si Trooper, namun ternyata si Trooper tidak bisa beranjak dari tempatnya. Wah bagaimana ini…? “Coba masukkan handle dan jalankan kedepan.” Kata Gusmang. Dan si Trooper bergerak maju. “ Berarti memang benar As panjang-nya lepas.” Kata Gusmang lagi. Akhirnya kami mendorong si Trooper mundur dulu untuk mencari posisi yang pas agar bisa naik ke lubang tempat bengkel ngolong.

Dengan usaha yang ekstra keras akhirnya kami berhasil menaikkan si Trooper ke atas lubang dan si pemilik bengkel turun ke lubang, diikuti oleh Agus Pendit untuk memeriksa apa yang terjadi pada As panjang Trooper kami.

“Baut As panjangnya tinggal satu pak. Ada 4 baut. Jadi yang hilang ada 3 baut.” kata pemilik bengkel dari kolong mobil. Agus Pendit turun memeriksa As panjang dan berkata “As-nya tidak apa-apa.” katanya.

“Punya bautnya mas…?” tanya Gusmang kepada pemilik bengkel itu.

“Coba saya cari dulu pak.” “Pakainya baut 12. mudah-mudahan saya punya.” katanya lagi sambil berlalu masuk ke dalam.”

Beberapa saat pria itu keluar membawa beberapa buah baut dan masuk kekolong mobil.

Agus Pendit turut ngolong dan melihat kondisi as panjang si Cokat. Saya berjongkok disisi sebelah kiri Trooper dan memegangi lampu untuk menerangi as panjang yang sedang dikerjakan..

“Wah bautnya kebesaran” seru pemilik bengkel sambil keluar dari kolong dan masuk kedalam ruangan.

Beberapa saat kemudian dia keluar lagi dari ruangannya dan kembali membawa beberapa buah baut lagi.

“Bautnya bisa cocok mas…?” Tanya Agung Wira yang tampaknya sudah ngga sabar menunggu kepastian. Kami semua berdoa dalam hati agar masalah ini dapat ditangani setidaknya kami bisa sampai di Lumajang.

“Bisa masuk mas, tapi ini baut biasa bukan baut baja.” Katanya lagi.

Saya tanya Agus Pendit, apakah baut itu kuat sampai di Lumajang. “Oh kuat kok. Tambahin ring per juga mas ya, biar lebih nekan.” Kata Agus Pendit kepada pemilik bengkel.

“Baik pak.” Ini sudah terpasang satu.” Coba tolong mobilnya di dorong ke depan biar posisi lubang bautnya pas.” katanya lagi.

Kami mendorong mobil maju mundur, sampai lubang bautnya pas. Dan beberapa saat kemudian, keempat baut sudah terpasang dengan baik pada posisinya.

“Sudah semua baut dikencangkan mas.?” Saya tanya ke pemilik bengkel itu.

“Sekalian deh diperiksa semua baut-baut as panjang-nya mas.” kata Agus Pendit dan Gusmang berbarengan.

“Sudah pak.” “Semua sudah saya periksa dan semuanya sudah kencang.” katanya lagi sambil keluar dari kolong mobil.

Saya bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena masalah As panjang ini cepat bisa diselesaikan, sehingga kami bisa melanjutkan perjalananan yang tertunda tadi.

Saya melihat jam di HP sambil menggumam. Sudah jam 10.23 menit waktu Jawa.

Agung Wira mengontak Ko Jiang yang ternyata juga dalam perjalanan menuju Lumajang. Saat dikontak rombongan KTI Surabaya yang bergerak dengan 7 Trooper sedang melintas di kemacetan daerah Porong, Sidoarjo.

“Mas kalau ke Lumajang dari sini kira-kira berapa jam?.” Tanya Agus Pendit kepada pemilik bengkel itu.

“Oh ngga jauh kok pak. Kira-kira 90 kiloan, ya sekitar 2 sampai 3 jam dari sini.” katanya lagi.

“Oh iya. Kita bisa cepat nyampai neh kata Agung Wira bersemangat.” “Jam 1 nyampai ya.” Katanya lagi.

Gusmang segera mengeluarkan dompet dan memberikan selembar lima puluh ribuan kepada pemilik bengkel. Berapa mas.?” tanyanya. “

“Sebentar pak saya ambil kembalian dulu.” “Ini kebanyakan.” Katanya.

“Sudah biarin aja mas. Ambil saja kembaliannnya. Yang penting ngga kurang kan…? Godanya pada pemilik bengkel itu. Ah dasar Gusmang suka becanda.

Setelah mencuci tangan kami yang kotor, kami semua melompat naik ke Trooper dan bergerak ke arah barat menuju Lumajang.

“Yakin bautnya kuat neh.” Tanya Agung Wira sambil mengendalikan si Coklat.

“Oh yakin.” Kuat kok. Saya pernah mengalami hal yang sama persis. Bautnya kuat kok.” jawab Agus Pendit sambil menyandarkan kepala di head rest jok tengah.

Agung Wira segera mempercepat laju kendaraan, dan sebentar saja dia sudah lupa akan hal yang baru saja kami alami di Rogojampi itu dan membejek gas lebih dalam lagi sehingga si Coklat kesayangan Gusmang ini menedesing dan melaju lebih kencang lagi.

Pak Tonny dari KTI Surabaya sms ke saya, menanyakan posisi kami, saya sampaikan bahwa kami sudah bergerak dengan kecepatan rata-rata 90 km per jam dan akan memasuki daerah Jember.

Hari semakin larut. Jalanan semakin sepi, sekali-sekali kami berpapasan dengan truk yang sarat beban sehingga tidak bisa bergerak dengan cepat.

Saya memindahkan frekwensi radio Icom IC 228H di dashboard ke frekwensi KTI yaitu 146.760 Mhz sambil memanggil manggil; “ KTI Surabaya apakah ada yang monitor disini.?” Tidak ada jawaban. Saya buka squelch dan hanya terdengar suara desisan keras dari speaker radio.

“Oh berarti kita masih jauh dengan teman-teman KTI Surabaya.” Saya menjelaskan kepada semua yang ada di Trooper.

Si Coklat terus meluncur kencang menuju arah barat dengan kecepatan rata-rata 90 km perjam.

Tiba-tiba HP saya berbunyi. Ternyata dari Mas Asep KTI Surabaya. Yang memberi tahukan bahwa kami akan ditunggu di alun-alun kota Lumajang di tengah kota.

Kami terus meluncur dikegelapan malam. Kota Kalibaru telah kami lewati dengan cepat,

“Kita makan dimana neh.? Tanya Gusmang yang tampaknya sudah mulai kelaparan.

“Kita jalan terus saja yuuk, nanti sambil jalan kita lihat lihat tempat makan.” Kata Agus Pendit lagi.

Kira-kira pukul pukul 23.00 waktu Jawa kami memasuki kota Jember. Kami terus berjalan sambil melihat-lihat berkeliling mencari tempat makan.

“Stop itu ada warung tenda ikan bakar.” Seru Gusmang. “Kita makan disana yuuk.” Katanya lagi.

(bersambung)

Ikuti cerita ini seterusnya..

salam dari Bali

(c) dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

da Trooper Bali

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s