(Reposted) KopDar KTI Jawa Timur – Bali. bag. 5 selesai.


Panaasssss

Ringkasan cerita yang lalu :

Tiba-tiba ponsel saya bergetar. Rupanya dari Bli Boncel yang menanyakan posisi saya. Saya sampaikan bahwa saya ada di warung makan diseberang dan saya tanyakan apakah Bli Boncel mau pesan juga, mengingat stok ikan hanya ada beberapa ekor lagi.

Akhirnya Bli Boncel juga minta dipesankan satu ekor yang sedang besarnya. Saya segera menambah pesanan satu ekor ikan yang sedang besarnya untuk Bli Boncel dan keluarga.

Cukup lama juga pesanan kami selesai.

Setelah menunggu hampir satu jam, pesanan kami pun datang juga.  Ikan bakar itu ditemani dengan sambal terasi, kacang panjang dan kecipir yang direbus. Tidak ada mentimun, kubis dan juga kemanggi yang biasanya menjadi lalapan ikan bakar seperti yang biasa kami temui di Bali jika makan ikan bakar diwarung tenda. 

Jangan dibandingkan dengan ikan bakar di kafe Jimbaran yang dibumbui dengan bumbu lengkap, plecing kangkung dengan 6 jenis sambal.

Disini ikan bakar cuma dibumbui dengan bumbu ringan, sehingga bagi saya malah lebih nikmat, karena rasa ikan aslinya terasa benar. He he he he…  

Setelah ikan bakar dan kawan-kawannya terhidang, saya coba mencicipi ikan bakarnya dengan mencuilnya sedikit tanpa sambal terasi. Daging ikan snaper ini begitu tebal dan gurih.  Yuummm yummm yummm… nikmat sekali. Ikan yang benar-benar segar. Tidak salah saya memilih tadi. he he he he…..

Dan ternyata ikan ini sebenarnya terlalu banyak bagi kami yang cuma bertiga. 

“Wah ini ikannya jadi besar sekali, lebih besar dari waktu mentahnya.” kata istri saya sambil mengambil ikan dari piring oval dan memindahkannya  ke piring nasinya.

Dengan ujung telunjuk saya mencicipi sambal terasinya. Entah karena perut yang memang sudah lapar atau memang adonan sambalnya yang memang pas, semua yang saya cicipi terasa enak di lidah.

Jadi ingat pepatah lama dari orang bijak yang bunyinya “Makanlah disaat perutmu lapar dan tidurlah disaat matamumemang mengantuk, maka semua makanan akan terasa nikmat dan tidur jadi nyenyak”.

Mungkin pepatah itu ada benarnya juga. Terbukti seperti yang saya alami saat ini semua yang saya makan terasa nikmat, ya mungkin karena memang lagi lapar.

Saat kami makan, Bli Boncel menelpon lagi menanyakan pesanannya. 

Setelah saya tanyakan ke Ibu pemilik warung, bahwa pesanannya sudah  siap saya beri tahu Bli Boncel bahwa pesanannya sudah siap.

“Aduh sudah kekenyangan neh.” Kata Dewinta anak perempuan saya. 

“Ngga habis jik.” Katanya lagi. 

“Iya sudah. Makan ikannya saja.” Kata saya lagi. 

“Sudah ngga muat lagi.” Jawabnya.

“Iya sudah.” Minum saja.

“Nanti biar ajik yang makan ikannya.’”Kata saya lagi.  

Ajik adalah panggilan untuk ayah, bagi orang menak di Bali.

Begitulah, akhirnya saya jadi penampungan makanan yang tidak habis dimakan oleh anak dan istri. He he he he… 

Dua ekor snapper seberat 1 kilogram ini memang agak kebanyakan bagi kami bertiga. Belum lagi nasi putihnya yang porsinya cukup besar juga.

Saya menghabiskan ikan terakhir sebelum menutup dengan minum teh panas manis.

Uggghhh. Terasa sulit bernafas karena kekenyangan. Tapi makan malam ini benar-benar puas, setelah beberapa kali makan dalam setiap perjalanan kami biasanya makan nasi soto ayam atau nasi rawon. He he he he… Bosan juga. Terutama istri saya, katanya terasa blenek kalau touring makan nasi soto atau nasi rawon terus. 

Sebelum saya bangkit untuk meninggalkan warung, Bli Boncel dan teamnya datang dan langsung makan karena sudah dihidangkan oleh ibu pemilik warung.

Begitu menghadapi hidangan di meja, istri Bli Boncel langsung nyeletuk.

“Waduh kok pesanannya sebanyak ini sih Pa..?” “Mana habis aku segini banyaknya.” Keluhnya. 

“Udah makan aja dulu, nanti kalau ngga abis aku yang abisin.” Timpal Bli Boncel sambil menarik tempat duduk agak mendekat ke meja.

Maklum Bli Boncel sekeluarga termasuk orang yang irit. He he he he he.. Maksudnya berbadan imut dan mungil. Begitupun istrinya. Jadi seekor ikan bakar yang sedang besarnya itu jadi terasa kebanyakan untuk mereka berempat dengan anak-anaknya. 

Kami meninggalkan warung makan mendahului teman-teman yang lain, karena hendak mandi dan berbersih bersih diri sebelum mengikuti acara berikutnya, yaitu ramah tamah dan diskusi setelah makan malam nanti.

Istri dan anak saya sudah mendahului ke kamar mandi yang kebetulan telah kosong.  Sementara menunggu mereka mandi, saya berjalan-jalan ke pinggir pantai untuk melihat-lihat pantai yang mulai gelap. Nun di tengah laut terlihat titik lampu neon yang berjalan yang rupanya adalah lampu perahu nelayan yang melaut.

Memandang langit di pantai seperti ini rasanya semua beban hidup terlepas dari pundak dan yang ada hanya perasaan damai dan tenang. Leganya rasa hati ini…

Setelah istri dan anak saya usai mandi, saya bergegas masuk kekamar mandi dan mengguyur badan sepuasnya. Segar rasanya setelah sehari penuh berada di kendaraan.

Acara selanjutnya adalah ramah tamah di bangsal. Pukul 19.47 WITA sebagian besar telah berkumpul dan ada yang buka lapak pernak pernik Trooper dan 4 X 4.  Bli Boncel juga membuka lapak T-Shirt Trooper. Laris manis dangannya.

Demikian cerita perjalanan kami dari Bali ke pantai Tanjung Papuma dalam acaa Kopi Darat Komunias Trooper Indonesia Jawa Timur – Bali. Semoga dapat memberi pengalaman bagi teman-teman dan pengunjung website ini.

Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita semua.

Panorama Tanjung Papuma di sore hari

salam dari Bali

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s