(Reposted) KopDar KTI Jawa Timur – Bali. bag. 4


Ringkasan cerita yang lalu :

“Roger. Di copy”. terdengar sahutan di radio.

Kendaraan didepan tampak mengurangi kecepatan dan kembali berjalan normal dengan kecepatan 30 sampai 40 km perjam. 

Jalanan mulai mendaki. Rupanya kami telah menapak ke perbukitan yang kami lihat dari jauh tadi. Di sisi jalan setapak perbukitan ini rupanya di manfaatkan oleh penduduk setempat untuk menanam jagung, cabai besar dan tanaman palawija lainnya. Saat kami melintas  di tanjakan tertinggi bukit itu Pak Widodo berhenti diikuti oleh teman-temanyang alin termasuk saya. 

“Ini dataran jalan tertinggi dari bukit ini mas. Dari sini kita bisa melihat indahnya pantai Papuma. Itu disebelah kanan kita.” Katanya sambil menunjuk ke sisi kanan jalan. 

Saya menoleh kearah yang ditunjuk dan memang terlihat laut dikejauhan dan ada batu karang ditengah laut dengan perahu yang cukup besar terlihat dibibir pantai. Sementara di ufuk barat, terlihat matahari bersinar lemah dengan bias jingga kemerahan menambah eksotiknya pemandangan. 

“Wow pemandangannya luar biasa mas Wid.” kata seorang peserta yang ikut turun dari Troopernya. 

Istri dan anak saya Dewinta serentak berseru mengekspresikan kekagumannya pada karya Tuhan yang luar biasa ini.

Setelah cukup melihat pemandangan pantai Tanjung Papuma dari atas bukit, kami bergerak  lagi untuk menuruni bukit menuju pantai yang kelihatannya tidak terlalu jauh lagi dari atas bukit ini.

Kami masih menyusuri jalan setapak di atas bukit, namun kini jalanan mulai menurun tajam dengan kelokan patah ditambah rumput tebal yang setinggi lutut orang dewasa, dengan semak-semak pohon krasi yang rimbun dengan ujung dahan yang tajam. Rupanya pohon krasi ini sempat dirabas oleh teman-teman panitia di Jatim saat survey jalur beberapa minggu sebelumnya.

Saya agak merinding ketika terdengar suara kreeettttt…kriiiiittt….. disisi mobil karena ujung dahan krasi yang tajam itu mulai menggores cat kinclong si Hitam. Tapi apa mau dikata semak belukar ini mesti dirambah untuk bisa mencapai pantai.

Jalanan terus menurun dengan belokan dan rumput tebal. Kadang ada bekas alur air yang cukup dalam di jalan setapak yang kami lintasi itu, sehingga berkali-kali kami terguncang saat mobil dalam posisi miring yang agak ekstrim sehingga barang-barang bawaan kami yang tidak terikat bergeser kesana kemari.

Jalan yang sempit ditambah semak belukar yang lebat dan rumput yang tinggi dengan  bekas alur air yang dalam dijalan, benar-benar membuat kami mesti berhati-hati melewatinya. Karena jika stag, winching point yang memadai juga sukar didapat karena tidak ada pohon keras yang kami lihat disekitarnya. Hanya semak belukar krasi dan tumbuhan perdu lainnya.

Jalanan semakin menurun dan suara ombak di laut mulai kami dengar, pertanda pantai sudah didepan mata. Namun kami masih berjuang untuk melewati jalan setapak yang rasanya menyiksa kaki-kaki si Hitam dan teman-temannya.

Beberapa saat sebelum ditikungan pada turunan terakhir kami berhenti. Rupanya kami mesti turun bergiliran disini, mengingat turunan terjal dan ternyata ada bekas alur air yang dalam menganga ditengah jalan.

Pak Widodo sudah turun tangan jadi marshal untuk mengarahkan para driver melintasi jalan dengan lubang menganga ditengahnya itu.

Satu persatu kami turun atas bantuan dan arahan dari Pak Widodo. Hari mulai menjelang magrib sehingga kami mulai mesti bergegas untuk segera keluar dari tengah semak belukar ini. Ahirnya sekitar pukul 17.15 WITA kami keluar dari semak belukar itu.

Begitu melewati turunan tajam berliku itu, kami memasuki kawasan pantai Tanjung Papuma yang terlihat masih ramai mesti hari sudah menjelang magrib.

Kami memarkir kendaraan di depan bangsal di areal Taman Wisata Pantai Tanjung Papuma itu. Sebagian ada yang memarkir kendaraannya di dekat bungalow yang bisa disewa untuk bermalam jika kita malas mendirikan tenda.

Saya melihat-lhat sekeliling areal komplek Taman Wisata itu untuk mencari tempat MCK yang berada dibeberapa titik. Ada 4 kamar madi dan WC disebelah kiri dan ada 4 lagi disebelah kanan dekat pintu masuk kompleks. 

Sementara beberapa warung meja ada didekat bibir pantai yang menjual nasi soto serta beberapa penganan kecil lainnya. Tampak beberapa pengunjung sedang duduk dikursi kayu seadanya dan beberpa ada juga yang duduk lesehan diatas pasir yang beralaskan tikar pandan.

Diseberang sana agak jauh dari kompleks, ada beberapa  warung makan yang menyediakan ikan bakar segar dengan lalapan.

Wah nanti setelah mandi dan berbersih saya ingin makan ikan bakar segar. Yummy yummm yummm…..

Setelah semua peserta berkumpul,  Pak Iwan Jember ditemani Pak Yoyok memberi sambutan selamat datang dan menjelaskan sekitar kompleks kepada peserta dan mempersilahkan untuk mendirikan tenda atau mencari bungalow bagi yang tidak mau buka tenda.

Begitulah, kami semua mulai menyiapkan diri untuk membuka tenda. Saya memilih membuka tenda didekat bangsal bersebelahan dengan Bli Boncel yang sudah mengeluarkan tendanya dari FJ Canvas Ungunya.

Dibantu oleh istrinya Bli Boncel dengan sigap mendirikan tenda. Tidak lebih dari 15 menit tendanya sudah berdiri.

Sementara saya baru memulai untuk membuka tenda dome yang saya bawa. Setelah menggelar alas karet, saya membuka tenda diatasnya. Kemudian mengeluarkan kasur lipat dan perlengkapan lainnya.

Teman-teman yang lain tampak sudah selesai juga mendirikan tendanya dan ada yang sudah mulai siap-siap untuk memasak hidangan makan malamnya.

Deburan ombak di pantai dan semilir angin laut benar-benar membuat kami betah, dan ingin rasanya berlama-lama di sini. Pasir yang putih dengan pemandangan teluk di kejauhan dan tonggak karang di tengah laut menjadi daya tarik pantai Tanjung Papuma ini. Begitu juga bungalow-bungalownya. Menutut beberapa teman-teman yang terlanjur memesannya mengatakan, sebagian besar bungalownya kurang layak untuk dihuni. Kalau saja belum terlanjur memesan, ingin rasanya buka tenda saja katanya. Wah saya beruntung juga tidak memesan bungalow, karena memang niat sedari Bali akan memasang tenda saja.

Pemandangan yang elok dengan pasir putih harusnya cukup bagus untuk menarik pengunjung ke pantai ini, hanya saja sayang taman wisata ini sepertinya kurang mendapat  perhatian yang cukup memadai dari pemerintah daerah. Masih banyak potensi untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata yang bisa jadi akan menjadi primadona di Jember nantinya.

Menikmati ikan bakar segar di warung makan.

Sambil menunggu kamar mandi yang terus antri, saya mengajak istri dan Dewinta anak perempuan saya untuk makan ikan bakar di warung makan yang letaknya agak jauh diseberang lokasi kamping kami. Berjalan kaki sekitar 5 menit kami tiba di warung makan yang berjajar dilokasi itu. Ada 4 warung makan dan 3 toko yang tengah tutup karena sudah magrib.

Ibu pemilik warung meyambut kami dengan ramah dan menanyakan apa yang ingin kami pesan.

“Ada ikan segar bu…?” tanya saya.

“Ada dik. Mau ikan apa..? Ada Snapper merah, Snapper putih dan ada juga belanak.” Katanya lagi.

“Snapper saja bu. Berapa per ekor bu..? tanya saya lagi.

“Oh jualnya per kilo dik.”  “Sekilonya empat puluh ribu, sudah dengan lalapan dan nasi putih jawab ibu itu.

“Iya bu. Kami mau sekilo ya. Tapi kalau bisa jadi dua ekor.” kata saya lagi.

“Oh begitu.” “Silahkan dipilih saja dik, nanti Ibu timbang.” katanya lagi.

Saya dan istri mengikuti ibu itu ke belakang warung dan memilih dua ekor snaper yang sedang besarnya.

Saya mengingat pesan teman yang pemilik kafe ikan bakar di Jimbaran Bali, katanya untuk memilih ikan segar dapat kita lihat dari insangnya. Kalau insang ikan berwarna merah cerah dan tidak kusam ikan itu masih segar, kemudian lihat juga matanya. Mata ikan haruslah kelihatan cerah dan bersih.

Saatnya mempraktekkan teori itu. he he he he…

Ada 9 ekor ikan segar di box sterofoam yang diisi dengan es batu untuk menjaga kesegaran. Setelah memilih dua ekor ikan yang terlihat segar, kami kembali kedepan untuk menunggu ikan dibersihkan sebelum dimasak.

“Sambalnya jangan terlalu pedas ya bu.” “Yang sedang saja ya.” Kata istri saya sebelum beranjak ke ruang makan didepan.

“Oh iya dik.” Jawab ibu itu.

“Minumnya apa .” tanya ibu itu setelah kami duduk didepan meja.

“Teh panas manis saja tiga bu.” Jawab istri saya.

Sambil menunggu pesanan kami, saya melihat jauh ke pinggir pantai yang sudah mulai gelap, meski sinar lembayung di ufuk barat masih terlihat merona di horizon langit barat.  Para pengunjung masih terlihat asyik bermain-main di pasir pantai.

Dibelakang warung tampak asap mulai menggepul tebal dari tempat pemanggangan ikan di warung itu. Rupanya asap yang mengepul itu mengundang para pengunjung untuk datang dan ikut memesan ikan bakar. Tampak Pak James Ridwan dari KTI Surabaya, Andhika dan David dari KTI Solo, Alfis KTI Blitar dan beberapa teman yang saya tidak hafal namanya.

Mereka duduk lesehan di tempat duduk besar seluas tempat tidur sambil mendiskusikan perjalanan yang kami lalui dari pagi tadi. Sambil minum kelapa muda obrolan mereka terdengar ramai diselingi tawa gembira. 

Tiba-tiba ponsel saya bergetar. Rupanya dari Bli Boncel yang menanyakan posisi saya. Saya sampaiakanbahwa saya ada di warung makan diseberang dan saya tanyakan apakah Bli Boncel mau pesan juga, mengingat stok ikan hanya ada beberapa ekor lagi.

Akhirnya Bli Boncel juga minta dipesankan satu ekor yang sedang besarnya. Saya segera memenambah pesanan satu ekor ikan yang sedang besarnya untuk Bli Boncel.

Cukup lama juga pesanan kami selesai.

Setelah menunggu hampir satu jam, pesanan kami pun datang juga.  Ikan bakar itu ditemani dengan sambal terasi, kacang panjang dan kecipir yang direbus. Tidak ada mentimun, kubis dan juga kemanggi yang biasanya menjadi lalapan ikan bakar seperti yang biasa kami temui di Bali jika makan ikan bakar diwarung tenda. 

(bersambung)

My daughter Dewinta and my wife posing in Watu Ulo beach

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s