(Reposted) KopDar KTI Jawa Timur – Bali. bag. 3


Just action

Ringkasan cerita yang lalu : 

Jalan tanah dan makadam yang kami lewati kini keluar dari perumahan penduduk dan mengarah ke rimbunnya kebun tebu. Kini kami menyusuri parit lebar yang membelah hutan tebu itu. Tanaman tebu ini sangat rapat dan tinggi, sehingga kami tidak dapat melihat kedepan dengan jelas. Semenatara parit disisi kiri kami cukup lebar dan kelihatannya dalam juga. Namun be-rair yang cukup jernih.

Hari semakin siang dan matahari semakin panas mememancarkan sinarnya. Dan kini kami keluar dari hutan tebu dan menyusuri sungai yang cukup lebar. Kami berjalan disisi kanan sungai yang tampak lebih tinggi dari badan jalan setapak yang kami susuri. Jalan setapak yang sempit membuat kami mesti hati-hati dan mengatur perseneling agar tidak kesulitan melintas di jalan setapak yang semakin sempit dan kini kami mulai terguncang di dalam kabin ken daraan karena jalan setapak ini ber gelombang ekstrim dan terkadang mesti melindas gundukan yang cukup tinggi.

Gundukan ini sepertinya terjadi karena Lumpur sungai yang dinaillan untuk memperbaiki danmenjaga arus air sungai tetap lancar. Lumpur yang dinaikkan dari sungai tidak diratakan sehingga membetuk gundukan tinggi yang keras membuat sudut kemiringan kendaraan cukup ekstrim dan bahkan terkadang menghantam  seal plate pelindung blok mesin yang menibulkan bunyi “dukk” cukup keras. Untungnya gundukan itu hanyalah tanah kering sehingga tidak membuat penyok seal plated ataupun  pelindung dek dasar kendaraan.

Saya melihat Panther merah yang diarahkan oleh Mas Iwan ke jalan tanah disisi kanan jalan setapak agar tidak mengalami masalahyang mungkin menimpa si Panther merah mengingat kondisi jalan yang sangat ekstrim untuk kendaraan jalan raya. Ternyata jalan setapak yang kami lalui ini sejajar dengan jalan tanah yang dilewati oleh Panther Merah itu sehingga kami bisa tetap mengawasi Panter itu agar tidak nyasar.

Begitulah kami mulai terguncang-guncang oleh gundukan tanah disepanjang jalan stapak menyusuri sungai kecil. Cukup panjang jalan setapak yang kami lalui itu sampai akhirnya kami tiba di pertigaan kami mengambil jalur kanan dan si Panter Merah kembali bergabung dalam rombongan.

Keluar dari jalan setapak ini kami memotong jalan aspal yang sempit dan menyeberang memasuki jalan setapak ditengah sawah yang sedang mengering sehabis panen. Disana sini terlihat onggokan jerami yang mulai hitam kecoklatan karena tersiram embun dan terpapar teriknya matahari. Jerami-jerami itu dibiarkan membusuk dan ada juga yang dibakar.

Pada jaman kakek saya para petani jarang sekali menggunakan pupuk buatan. Sebagian besar petani hanya menggunakan jerami yang dibiarkan membusuk dan akhirnya jadi pupuk organik yang sangat baik untuk tanaman padi. Setelah panen padi biasanya para petani akan mengeringkan sawahnya dan menanam palawija berumur pended seperti kacang hijau, kedelai atau jagung. Setelah panen palawawija selesai sawah kembali direndam dengan air sampai tanah sawah kembali lunak dan menjadi lumpur yang sangat subur untuk tanaman padi.  Itulah sebabnya nasi jaman dulu, jaman saya masih kanak-kanak seumuran 5 atau 7 tahun makan nasi saja dengan sambal terasi sudah nikmat. Jauh berbeda dengan jaman sekarang ini. Makan nasi saja tanpa lauk yang enak tidak akan terasa nikmat. Kadang nasipun terasa hambar tidak berasa. Cuma saya mengerti dan menyadari bagaiman nasi mau enak dan pulen seperti jaman dulu, masa tanam cuma tiga bulan panen sudah dapat dilakukan, so jangan dibandingkan dengan padi jaman dulu yang masa tanamnya sampai setahun baru bisa dipanen.

Saya tercenung sejenak mengingat masa kanak-kanak saya yang empat puluh tahun yang lalu. Saya biasa berlarian diatas pematang mengejar bebek-bebek yang bergerombol dan menangkapnya untuk hiburan kemudian melepasnya lagi ditengah sawah yang sedang direndam air sebelum ditanami padi. Kadang-kadang kami bermain lempar-lemparan lintah sambil tertawa-tawa jika ada teman yang terkena lintah dan berteriak-teriak karena lintahnya menempel dibetisnya. Kadang mencuri telur bebek yang tercecer di pematang sawah saat pemiliknya tidak ada. Telur itu kemudian dibakar di tumpukan jerami yang teronggok dan bersama teman-teman kemudian membagi telur itu sambil berebutan. Kenangan itu angat indah tertanam dalam benak saya. Disaat musim palawija, kadang kami mencuri ketela rambat yang sedang gemuknya, kemudian membakarnya bersama teman-teman sepermainan. Sungguh kenangan itu sering membuat saya tersenyum sendiri namun kadang sedih juga karena tidak dapat lagi bertemu dengan teman-teman yang sudah pindah entah kemana.

Anyway, back to our journey. Rombongan masih terus bergerak di jalan setapak ditengah sawah. Matahari semakin terik memancarkan sinarnya membuat kami kegerahan. Beruntung angin bertiup sepoi-sepoi membuat panasnya sinar mentari agak berkurang. Nun di kejauhan sana, tampak bebukitan yang cukup tinggi. Penduduk disekitar daerah ini menyebutnya gumuk. Gumuk yang artinya onggokan tanah yang cukup tinggi. Kami akan mengunjungi desa terpencil yang berada dibalik bukit itu. Di desa itulah rencananya kami akan mengadakan bakti sosial untuk membagi sedikit sembako yang kami bawa disetiap Trooper.

Perjalanan kedesa itu membutuhkan sekitar 1 atau 2 jam perjalanan dari lokasi kami ditengah sawah ini dengan asumsi semuanya berjalan lancar sesuai rencana, tidak ada kendaraan yang mendapat masalah, tidak ada hambatan dijalan. Digital clock da Trooper Hitam saya menunjukkan pukul 13.37 WITA atau masih pukul 12.37 WIB.

Tiba-taiba Pak Rudi dari KTI Surabaya berhenti. Rupanya kendaraan didepannya juga berhenti. Setelah menunggu cukup lama tidak bergerak, saya turun dari kendaraan untuk melihat apa yang terjadi didepan sana. Pak Rudi juga turun dari Taft kebo warna cream yang ditungganginya.

“Ada apa didepan pak.” tanya saya.

“Itu ada kendaraan yang berhenti, karena tempratur mesinnya naik.” Jawabnya.

“Masih menunggu dingin sebelum di isi lagi radiatornya.” katanya lagi.

“Oh ya.” kata saya sambil memperhatikan kerombongan terdepan.

Memang terlihat ada Trooper yang membuka kap mesin dan tampak asap mengepul dari ruang mesinnya.

Setelah menunggu hampir 25 menit, akhirnya kami bergerak lagi menyusuri jalan setapak ditengah sawah yang sedang mengering itu. Keluar dari areal persawahan itu kami memasuki areal perkebunan yang tengah meranggas dan debu mengepul disana sini karena angin bertiup cukup kencang.

Daerah perkebunan ini cukup luas dan terasa panjang, karena kami telah berkendara hampir 1 jam lamanya.

Pukul 14.47 WITA akhirnya kami memasuki pemukiman yang cukup padat. Rumah-rumah penduduk terlihat sangat sederhana, hanya beberapa yang terlihat permanent, selebihnya adalah rumah semi permanent.

Pak Yoyok dan Pak Iwan Jember turun dari kendaraannya masing-masing dan mengatur kendaraan teman-teman yang lain agar parkir dengan rapi dan aman.

Saya parkir ditempat yang agak teduh didekat rumah kepala dusun kemudian turun dari kendaraan untuk bergabung dengan Pak Iwan Pak Yoyok dan teman-teman lainnya. 

Jalan-jalan di desa ini masih berupa jalan tanah dan tampaknya sudah lama tidak turun hujan, sehingga tampak gersang dan debu yang mengepul disana-sini membuat mata perih. Banyak lahan kosong yang tidak terawat karena kesulitan air. Sangat memperihatinkan juga melihat anak-anak yang bertelanjang dada, dengan pakaian seadanya. Menyedihkan juga melihat kondisi desa ini.

Pak Dani dengan Chevy Luv merahnya telah parkir dihalaman rumah kepala dusun, karena  Pick Up ini membawa bantuan sembako yang akan kami bagikan kepada penduduk desa ini.

Dihalaman sebelah kanan rumah kepala dusun tampak ibu-ibu penduduk desa ini duduk lesehan dengan beralaskan terpal plastik. Cukup banyak. Mereka sangat antusias menunggu kedatangan kami.

Sebelum pembagian sembako dimulai, Pak Iwan Jember meminta saya untuk memberikan sambutan singkat maksud dan tujuan kami kedesa ini.

Sambil menunggu pembagian sembako, saya minta bantuan seorang penduduk untuk membagikan permen kepada para ibu yang menunggu agar tidak jenuh menunggu.

Setelah memberi sambutan singkat, kepala dusun bapak Sugeng Bawono memberikan sambutan dan ucapan terimakasih atas kepedulian kami terhadap penduduk desa itu.

Setelah berjabat tangan dan menyerahkan bantuan sebanyak 61 paket, kamipun mohon diri untuk meneruskan perjalanan ke Tanjung Papuma yang akan kami tempuh kurang lebih 1 ½ jam dari desa ini.

“Perjalanan ke Tanjung Papuma.”

Kami bergerak meninggalkan desa yang terpencil ini menuju Tanjung Papuma. Perjalanan ke Tanjung Papuma ini menyusuri jalan kecil dengan hutan jati yang sedang meranggas karena kemarau yang cukup lama. Jalan setapak ini memang sangat jarang dilalui kendaraan sehingga ranting dan dahan jati serta tumbuhan lainnya terutama pohon krasi benar-benar menutupi jalan sehingga kami mesti hati-hati untuk melintas dijalan setapak ini agar jangan sampai menabrak ranting pohon yang besar.

Di trek ini ada fun game rally untuk peserta dengan tiga cek point yang mesti dilewati dan mendapatkan cap panitia. Sebelumnya tiap-tiap peserta sudah dibekali dengan tulip dan peraturan dari fun game ini. Saya acungkan jempol untuk Panitia dari KTI Jember, KTI Blitar, KTI Paiton, KTI Surabaya dan juga support beberapa mobil dari teman-teman Land Rover Jawa Timur yang turut partisipasi dari teman-teman Lumajang Jeep Club yang berkenan bergabung.

Di hutan jati ini ternyata ada juga kubangan berlumpur yang cukup dalam,sehingga beberapa kendaraan mesti mengulang beberapa kali untuk lolos dari obstacle itu. Terutama Trooper berbodi panjang. Agak kesulitan untuk lolos dari kubangan karena posisi kubangan ditikungan patah dengan parit yang cukup dalam disisi kiri dan kanannya, namun bukan Trooperist namanya jika lantas patah semangat . He he he he…

Akhirnya semua peserta lolos dengan aman di kubangan itu meski bodi mobil jadi berlepotan lumpur dan bahkan ada peseta yang kecipratan lumpur kedalam karena jendela yang terbuka. Namun kejadian itu malah menambah funnya perjalanan. Terutama anak-anak sangat menikmati perjalanan ini.

Fun game rally ini akan finish di Tanjung Papuma dimana kami akan membuka tenda dan malamnya akan diadakan gathering dan diskusi seputar Trooper dan rencana kedepan Komunitas Trooper ini.

Pukul 15.45 WITA satu persatu kami keluar dari hutan jati yang cukup lebat dan mulai line up di luar hutan dijalan country road yang berdebu yang akan kami lewati menuju Tanjung Papuma.

Setelah semua teman-teman line up, kami bergerak lagi dijalan berdebu yang lurus ke depan. Dikejauhan tampak perbukitan yang juga mulai meranggas karena kering. Dibalik bukit itulah lokasi pantai Tanjung Papuma. Artinya, kami akan mendaki membelah perbukitan itu.

Digital clock di console box si Hitam menunjuk ke pukul 16.59 WITA, sementara kami masih akan berkendara kurang lebih 40 menit lagi untuk mencapai pantai Tanjung Papuma. Estimasi saya kami akan tiba di Tanjung Papuma menjalang magrib nanti.

Kami terus melaju. Beberapa teman kegirangan melihat trek jalan lurus berdebu ini dan tancap gas dengan kecepatan yang cukup kencang. Debu mengepul mengikuti kendaraan yang melaju cepat di trek berdebu membuat kami harus menutup kaca jendela dan menghidupkan AC. Pandangan kedepan agak kabur karena debu yang tebal menutup pandangan mata.

“Mohon kendaraan didepan untuk mengurangi kecepatan, karena teman-teman dibelakang tidak bisa melihat kedepan dengan jelas.” terdengar suara pak Widodo di radio komunikasi mengingatkan.

(bersambung)

Me in Bendungan Torpedo, Jember

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s