Kopdar KTI Jawa Timur – Bali I


 

Me and wife in Tanjung Papuma

Dear KTI Friends, saya kembali mengunjungi anda untuk berbagi cerita perjalanan kami ke Tanjung Papuma dalam acara KTI yaitu Kopi Darat I Jawa Timur – Bali.  Simak cerita selengkapnya dibawah ini…

Sesuai dengan yang direncananakan oleh teman-teman KTI Jember seperti Pak Iwan Sentani, Pak Yoyok, Pak Dani dan Mas Amin Azis yang sempat di utarakan kepada saya saat Adventure Tour ke Sukamade untuk mengadakan KopDar (Kopi Darat) atau ketemuan bagi teman-teman KTI se jawa Timur dan Bali, dan setelah berbagai persiapan dan diskusi di cyber akhirnya KopDar se Jawa Timur – Bali bisa di wujudkan dan kegiatan itu di laksanakan pada saat akhir minggu mulai tanggal 8 -10 Mei 2009 dengan mengambil tempat di Tanjung Papuma Jember.

KTI Bali sendiri diwakili oleh 2 Trooper yaitu saya beserta istri dengan anak perempuan saya Dewinta dengan si Hitam, Pak Wiranto dengan Trooper short Kuning di dampingi putra keduanya, Bli Boncel dengan FJ40 Kanvas memboyong istri serta anak-anaknya dan satu teman dari Taft Diesel Indonesia Bali, Mas Hamka dengan istrinya dengan Taft Kebo biru tuanya.

Pada pertemuan seminggu sebelumnya kami sempat mendiskusikan dengan teman-teman mengenai acara KopDar se Jawa Timur – Bali ini, namun karena sebagian besar teman-teman KTI Bali sibuk dengan aktifitasnya maka yang bisa bergabung dalam acara KopDar I Jawa Timur – Bali ini hanya kami berempat.

Setelah disepakati bersama kami putuskan untuk berangkat pada hari Jum’at tanggal 8 Mei 2009 pukul 15.00 WIB.

Saya berangkat pukul 15.27 WITA dari rumah dan untuk menghemat waktu, saya langsung menuju ke arah Tabanan dan menunggu teman teman lainnya di dekat SPBU Kapal.

Pukul 15.48 WITA Bli Boncel sudah merapat dan beberapa saat kemudian Pak Wiranto dan mas Hamka sudah bergabung sehingga kami putuskan untuk segera berangkat agar bisa tiba tidak terlalu larut malam di Jember nanti.

Cuaca cukup cerah dan tampaknya perjalanan kami akan lancar karena jam-jam seperti ini belum akan banyak kendaraan terutama bus malam yang berangkat. Saya dan Bli Boncel saling bercerita via radio komunikasi untuk menghilangkan kejenuhan di jalan. Dan tak terasa kami sudah sampai di Bajera kota kecil sekitar 25 kilometer arah barat kota Tabanan.

Suasana petang hari di Tanjung Papuma

Jalanan mulai macet dan kendaraan bergerak perlahan seakan merayap. Rupanya ada perbaikan jalan sepanjang 3 kilometer dan hanya setengah badan jalan yang bisa dilewati kendaraan. Keadaan ini membuat kami kehilangan banyak waktu, dan mungkin akan masuk kota Jember lewat tengah malam, mengingat pukul 17.15 WITA kami masih terjebak di Bajera. Dari Bajera ke penyebrangan Gilimanuk ditempuh kurang lebih 2 jam, itupun dengan asumsi jalanan cukup lancar. Jika kondisi jalan seperti ini bisa dipastikan kami akan tiba di Gilimanuk sekitar pukul 21.30 WITA bahkan mungkin lebih. Nyebrang ke Ketapang sekitar 45 menit dan Ketapang – Jember akan kami tempuh kurang lebih 3 atau 4 jam lagi. Kami mungkin akan masuk kota Jember sekitar pukul 2.25 dini hari. Wah alamak….

Begitulah kami masih terus merayap mengikuti kendaraan didepan yang berjalan sangat perlahan. Hal ini membuat kami bosan dan kadang ngomel sendiri. he he he he…

Setelah hampir 1 jam terjebak di kemacetan jalan raya Denpasar – Gilimanuk di Bajera akhirnya kami berhasil lolos dan meneruskan perjalanan ke Gilimanuk.

Pukul 18.51 WITA kami tiba di Rambut siwi dan seperti biasa kami mampir untuk sembahyang memohon kepada Ida Hyang Widhi agar dilindungi dari segala mara bahaya hingga kami kembali pulang nanti. Sementara Pak Wiranto dan Mas Hamka menunggu kami sambil minum dan makan di warung seberang jalan.

Pukul 19.16 WITA kami kembali bergerak ke arah Gilimanuk, kali ini kami bergerak cukup kencang untuk mengejar waktu penyeberangan.

Untungnya jalanan tidak terlalu padat, sehingga kami bisa lebih leluasa mengendalikan kendaraan masing-masing dengan cukup kencang.

Pukul 20.21 WITA kami memasuki kota Negara dan Pak Wiranto dan Mas Hamka masuk ke SPBU untuk mengisi solar, sementara si Hitam masihbelumperlu diisi tangkinya karena tangki masih penuh dan baru turun sedikit setelah menempuh perjalanan kurang lebih 115 kilometer sejak dari Denpasar. Kemarin malam sebelum tangki sudah saya isi penuh.

Setelah Pak Wiranto dan Mas Hamka keluar dari SPBU Negara kami meneruskan perjalanan, Pak Wiranto sebagai leader, diikuti oleh Mas Hamka, kemudian saya dan sebagaisweaper Bli Boncel dengan FJ40 Ungunya. Hari sudah sangat gelap. Sudah pukul 20.28 WITA. Kamipun bergerak lagi dan beberapa menit lagi akan memasuki pelabuhan Gilimanuk.

Pukul 21.07 WITA kami memasuki pelabuhan Gilimanuk dan setelah membeli tiket masuk, kami masuk ke jalan arah dermaga, namun ternyata telah banyak kendaraan yang antri menunggu masuk ke perut ferry.

Dari informasi yang saya dapat dari petugas dermaga, antrean panjang ini disebabkan adanya beberapa kapal ferry yang di docking untuk maintenance rutin, sehingga mengurangi armada untuk penyeberangan, sementara jumlah pemakai jasa penyeberangan beberapa hari terakhir ini cukup tinggi.

Terpisah di penyeberangan

Begitulah, akhirnya kami antri di dermaga no.2 dibarisan yang paling akhir, sementara Pak Wiranto dan Mas Hamka berada lima mobil didepan saya dan Bli Boncel.

Mobil-mobil mulai bergerak untuk masuk ke dalam perut ferry, saya dan Bli Boncel pun mengikuti bergerak maju dan semakin dekat ke pintu masuk palka ferry, namun ternyata ferry sudah penuh dan oleh petugas mobil yang belum masuk ke ferry diarahkan ke bandara di sisi sebelah utara, dan kendaraan-kendaraan itu begerak berhamburan menuju dermaga di sisi utara. Hal ini membuat saya agak bingung dan kemudian mengikuti kendaraan lain yang telah putar haluan menuju dermaga disisi sebelah utara dan antri dibelakang beberapa kendaraan lainnya.

Saya panggil Pak Wiranto di radio, namun tidak ada jawaban.

“Mas Boncel monitor mas…?” terdengar suara memanggil di radio. “Ya. Masuk…” terdengar Bli Boncel menyahut di radio.

“Sudah dimana Bli…?” tanya suara itu lagi.

“Masih antri dibelakang truk Pak Wir.” jawab Bli Boncel.

“Hamka nih bli.” kata suara itu lagi.

“Oooh. Kirain Pak Wiranto.” Suaranya mirip sekali lo.” sahut Bli Boncel lagi.

“Masih antri nih mas Hamka. Pak Wiranto dimana.?” tanya Bli Boncel.

“Ini ada didepanku.” jawab mas Hamka lagi.

“Kayanya ferynya penuh nih Bli.” kata Mas Hamka lagi.

“Oh ya. Ya sudah apa mau dikata mas. Kita tunggu ferry yang berikutnya saja.” kata Bli Boncel lagi.

“Nanti kalau kita pisah ferry tunggu saja di parkiran pelabuhan Ketapang ya.” kata Bli Boncel.

“Oke.” jawab mas Hamka.

“Ok bli. aku masuk dulu ya.” kata mas Hamka lagi.

Dikejauhan tampak Trooper kuning Pak Wiranto masuk ke perut ferry disusul oleh Taft Kebo mas Hamka dan kendaraan lainnya.

Dan memang ternyata ferry itu sudah penuh. Dan pintu palka tampak sudah ditup sebelum ferry itu akhirnya bergerak menyeberangi selat Bali.

Saya dan Bli Boncel masih antri menunggu ferry berikutnya yang sedang menuju dermaga untuk bersandar dan menurunkan muatannya.

Sementara menunggu ferry, Bli Boncel sempat mengisi perut sambil tetap duduk di dalam kabin.

Saya turun dari kabin untuk meregangkan otot karena sejak tadi agak pegal juga cuma duduk menunggu.

Sementara itu disebelah sebuah Peugeot 405 tampak sedang overheat dan asap mengepul dari ruang mesin membuat penumpangnya yang terdiri dari orang tua agak panik dan minta tolong kepada orang disekitarnya.

Saya mendekat dan melihat-lihat mesin Peugeot itu, dan sepertinya radiatornya buntu karena air di radiator tidak bersirkulasi layaknya jika radiator sehat. Ketika saya hendak membantu, seseorang dengan perawakan agak pendek dan berbadan subur datang dan memberi perintah ini itu sambil menuang air ke radiator, akhirnya saya cuma melihat-lihat saja.

Asap masih mengepul dari tutup radiator yang sedang terbuka, namun karena posisi kendaraan yang melintang di tengah jalan, petugas dermaga meminta agar kendaraan itu dipindahkan kesisi utara dermaga agar tidak mengganggu pengguna jalan ke dermaga itu.

Setelah menunggu hampir 40 menit lamanya, akhirnya kami dipersilahkan untuk naik ke ferry yang akan menyeberangkan kami ke Ketapang. Digital clock di console box si Hitam menunjukkan pukul 21.50 WITA ketika kami masuk ke perut ferry berbaur dengan truk besar, tronton dan 3 buah bus besar serta satu bus tanggung yang rupanya akan berangkat ke Pura Semeru Agung di Senduro, Lumajang.

Pukul 22.09 WITA terdengar suara trompet ferry sebagai tanda bahwa  beberapa saat lagi ferry akan segera bergerak menuju pelabuhan Ketapang. Ternyata kami memang belum berjodoh untuk merapat di Ketapang saat masih terang. Penyeberangan kali terasa agak lama, angin yan gkencang membuat beberpa kali ferry terguncang-guncang dan saat ombak tinggi dan angin kencang menerpa, Tronton box milik Diamond es Cream yang berada 2 kendaraan disebelah kanan si Hitam tiba-tiba bergeser dan bagian belakangnya menabrak kaca depan bus tanggung yang ditumpangi oleh “pemedek” yang akan sembahyang ke Pura Mandara Giri Semeru Agung dan membuat kaca depan bus itu retak cukup panjang.

Kondektur yang duduk diatas atap truk, hanya diam memandang ke belakang. Entah bagaimana urusannya jika si sopir bus melihat busnya di hantam truk itu.

Ferry terus bergerak menyeberangi selat Bali dan nun dikejauhan tampak kelap kelip lampu pelabuhan Ketapang semakin lama semakin jelas, dan akhirnya pukul 23.17 WITA ferry mulai mengurangi kecepatan nya dan akhirnya terasa berhenti. Rupanya ferry yang kami tumpangi mesti menunggu giliran untuk merapat karena semua dermaga sedang terisi, sehingga kami mesti menunggu cukup lama.

Pukul 23.37 WITA ferry akhirnya merapat ke dermaga. Dankami pun turun bergiliran. SAya turun terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Bli Boncel dengan FJ Ungunya.

Begitu keluar dari dermaga, saya lihat Pak Wiranto dan Mas Hamka menunggu di parkir.

Saya turun dan menghampiri Pak Wiranto untuk berdiskusi sebelum meneruskan perjalanan ke Jember.

Kami bergerak meninggalkan pelabuhan Ketapang pukul 23.42 WITA waktu Trooper. Ketapang Jember akan kami tempuh kurang lebih 3 sampai 4 jam tergantung kondisi keramaian jalan.

Kami bergerak dengan kecepatan sedang dan sesekali berkomunikasi untuk saling melaporkan kondisi masing-masing.

Sementara istri dan anak saya mulai tertidur karena AC yang hidup terus sedari tadi membuat mereka merasa nyaman dan kantukpun datang membuat mereka terlelap.

Tak terasa kami sudah memasuki kota Banyuwangi yang masih tampak menggeliat dan di alun-alun kota tampak cahaya lampu yang bergemerlapan. Tampaknya ada even yang tengah berlangsung disana.

Kami terus bergerak dan telah meninggalkan kota menuju arah Rogojampi dan seterusnya.

Tak terasa kami sudah memasuki kota Banyuwangi yang masih tampak menggeliat dan di alun-alun kota tampak cahaya lampu yang bergemerlapan. Tampaknya ada even yang tengah berlangsung disana.

Kami terus bergerak dan telah meninggalkan kota menuju arah Rogojampi, Singojuruh, Genteng, Glenmore, Silo, dan seterusnya.

Malam sudah semakin larut. Sudah pukul 22.45 WITA. Saya merasa kesepian karena istri dan anak saya sudah tertidur, sementara Bli Boncel sedang menerima telepon. Untuk menghindari kantuk saya memasang DVD film the Incridible Hulk, walau sering dianjurkan dalam berbagai tayangan sebaiknya tidak memutar film kalau sedang mengemudi, namun saya fikir dengan mendengarkan suara dan kegaduhan dari film fikiran dan emosi saya tetap terjaga sehingga tidak mengantuk selama perjalanan ini.

“Pak Dewa, saya akan berhenti sebentar, silahkan jalan terus nanti akan saya susul.” terdengar Bli Boncel di radio.

“Kenapa Pak Tut..?” tanya saya via radio dan mulai memperlambat laju si Hitam.

(bersambung)

Ikuti terus cerita  perjalanan ini…

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

One thought on “Kopdar KTI Jawa Timur – Bali I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s