(Reposted) Perjalanan ke Pulau Lombok. bag. 2


 

Pukul 07.03 kami masuk ke dalam perut ferry Marina Primera yang akan menyeberangkan kami ke Lombok. Ferry ini cukup besar dan juga bersih.

Kami masuk diurutan kelima setelah sebuah Ford Laser 1997 Silver, Honda Accord Prestige 1987 Abu-abu metalic, Taruna CSX Abu-abu metallic dan Kijang LGX Biru metallic dengan plat nomor  daerah Waru, Surabaya. Setelah kami masuk ke ferry ternyata banyak juga kendaraan lainnya yang menyeberang ke Lembar. Tercatat ada 11 kendaraan penumpang termasuk kami, satu bus kecil 20 seat, dan dua buah truk ringan yang menyeberang ke Lembar.

Setelah memarkir si Hitam  dengan posisi yang aman, kami semua turun dari Trooper dan naik ke dek penumpang di lantai dua.  Kami memilih duduk di dekat railing dek yang menghadap kebelakang ferry sehingga bisa melihat pemandangan kesibukan pelabuhan Padangbai.

Laut terlihat tenang nyaris tanpa ombak. Bayangan ombak dan gelombang yang akan membuat kami mabuk laut besar hilang sudah.

“Toeett…Toeeet…Toeeet.” Terdengar bell ferry dibunyikan.

Pukul 07.15 WITA bel terakhir berbunyi pertanda bahwa ferry yang kami tumpangi akan segera berangkat.  Dan beberapa saat kemudian ferry kami terasa mulai bergerak, semakin lama semakin cepat meninggalkan riak-riak di air yang membentuk garis putih meninggalkan dermaga pelabuhan Padangbai.

Jarak Padangbai – Lembar kurang lebih 190 mil atau kurang lebih 120 km akan ditempuh kira-kira dalam 4 jam.

Ferry kami meninggalkan Padangbai pukul 07.15 WITA jika pelayaran lancar memakan waktu kurang lebih 4 Jam maka kami akan merapat di Lembar kurang lebih pukul  11.15 waktu setempat.

Setelah ferry berlayar kurang lebih 1 jam, angin laut terasa kencang menerpa kami, yang membuat kepala agak pening. Terutama Bapak dan Ibu mertua serta adik ipar saya. Akhirnya atas saran Bapak kami menyewa satu kamar untuk sekedar berbaring agar tidak pusing karena masuk angina yang bisa mengakibatkan mabuk laut.

Sementara saya sendiri masih duduk di dek sambil melihat pulau kecil yang kami lewati. Dikejauhan tampak Pulau Nusa Penida dan Nusa Lembongan yang kebiruan . Dengan micro kamera saya mengambil beberapa gambar untuk dokumentasi dan laporan perjakanan ke Lombok ini.

Sambil duduk saya memperhatikan beberpa burung camar yang terbang didekat ferry sambil sekali-sekali menukik ke arah air laut mencari ikan untuk santapannya.  Sayang tidak tampak ikan lumba-lumba ataupun ikan lainnya yang biasanya timbul dipermukaan air laut.

Sejauh mata memandang hanya lautan yang membiru dengan riak-riak kecil. Laut dipagi hari ini sangat tenang. Tidak terasa sedikit goncanganpun. Serasa naik bus malam saja.  Namun menurut Bapak mertua saya yang sering bepergian ke Lombok dengan menumpang ferry memasuki Selat Lombok akan terasa ada goyangan yang cukup keras, karena itu saya tetap duduk di kursi yang menghadap ke belakang ferry untuk merasakan goyangan yang mungkin akan terjadi beberapa jam  lagi saat kami memasuki Selat Lombok..

Kami semakin jauh meninggalkan Padangbai. Tak terasa sudah hampir 2 jam kami ditengah laut ketika terdengar suara berderik dan gemerincing kaca yang bergetar. Saya menoleh kesumber suara dan ternyata suara gemerincing itu berasal dari suara lis kaca jendela yang longgar, sehingga saat ferry bergoyang dan bergetar, lis aluminium kaca jendela itu bergetar dan bergesekan dengan daun kacanya sehingga menimbulkan suara gemerincing.

Saya menoleh kedepan melihat di kejauhan. Didepan. samar-samar terlihat pulau Lombok  yang kebiruan seperti gunung yang sedang tidur. Semakin lama semakin jelas.  Rupanya kami telah berada di tengah-tengah Selat Lombok. Dan Ferry kami mulai bergoyang karena ombak diselat Lombok sedikit lebih besar dibandingkan dengan ditengah lautan tadi. Ferry kami masih meluncur cukup kencang, kira-kira dengan kecepatan kurang lebih 40 km per jam. Hari makin siang, kadang pantulan sinar matahari di air laut membuat mata kami silau olehnya.  Sebagian besar penumpang tertidur di kursi. Banyak juga penumpang yang tidur di lantai dengan beralaskan koran. Pemandangan yang aneh rasanya, penumpang yang tidur di lantai dikoridor atau di gang tempat orang lau lalang ke toilet ferry.

Semakin lama goyangan semakin keras dan beberapa saat kemudian reda. Rupanya kami telah melewati dan keluar dari Selat Lombok dan beberapa saat lagi memasuki Laut Lombok yang tidak begitu besar ombaknya. Samar-samar daratan Pulau Lombok tampak nun jauh didepan. Kini semakin jelas terlihat.

Semakin lama semakin dekat dan akhirnya kami dapat melihat pepohonan   didaratan Pulau Lombok dengan semakin jelas. Tampak samara-samar tanah Lombok dengan pepohonan yang meranggas dengan tanah merah yang berdebu. Tampak gersang.

“Upps…  teramat gersang.”

Beberapa penumpang menunjuk-nunjuk kearah daratan sambil berbincang-bincang dengan temannya.  Ternyata kami sudah mendekati dermaga pelabuhan Lembar.

Karena saya tidak memakai jam tangan, saya membuka hand phone Sony Ericsson P910i untuk melihat waktu. Pukul 11.18 WITA. Beberapa saat lagi kami akan merapat ke Lembar.

Matahari telah memancarkan sinar teriknya seolah menyapa kami danmengucapkan selamat datang di Bumi Gora. Gogo rancah.

Marina Primera ferry yang kami tumpangi mulai memperlambat jalannya dan dua orang awak kapal mulai naik ke tempat jangkar yang terikat dengan tali tambang untuk membuang sauh. Beberapa saat kemudian, ferry Marina Primera sudah terrtambat dan pintu  palka mulai diturunkan. Para penumpang sudah mulai turun dari dek penumpang dan memenuhi dek didepan pintu palka. Rupanya mereka sudah tidak sabar lagi untuk segera turun ke daratan.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.18 WITA. Beberapa saat lagi kami akan menginjakkan kaki di tanah Lombok.

Tepat pukul 11.29 WITA Marina Primera kapal ferry yang kami tumpangi untuk menyeberang, sudah berhasil bersandar dan merapat ke dermaga Lembar dengan selamat. Padangbai – Lembar ditempuh dalam waktu 4 Jam 14 menit. Pelayaran yang cukup cepat menurut saya.

Kamipun segera naik ke Trooper Hitam kami. Saya menghidupkan mesin dan mengaktifkan AC agar kabin sejuk dan tidak pengap sementara saya duduk dibelakang kemudi sambil menunggu pintu palka terbuka dan kami siap naik ke dermaga.

Begitu pintu palka menyentuh bibir dermaga para penumpang berebutan keluar dari perut ferry dan naik ke trotoar dermaga. Sepeda motor juga tidak mau kalah, ikut berebutan dengan para penumpang yang berjalan kaki. Sungguh tidak disiplin dan cenderung membahayakan diri sendiri dan penumpang lain kelakuan para penumpang itu. Bayangkan jika pintu palka tiba-tiba bergesar dari posisinya dan mereka tercebur ke laut yang cukup dalam. Apa ngga akan berbahaya.. Saya miris melihat ketidak disiplinan masyarakat Indonesia yang sudah pada tingkat yang membahayakan.

Berbicara masalah disiplin bangsa, saya jadi  teringat dengan obrolan saya dengan kenalan bule yang kebetulan saya temui ditempat aktifitas saya yang mengeluhkan kurangnya disiplin masyarakat kita, bangsa Indonesia, kata dia saat menyeberang di jalan Raya Kuta dia tertabrak oleh mobil yang tidak mau mengurangi kecepatannya walau dia sudah melambaikan tangan memberi tanda kalau dia akan menyeberang jalan, namun si pengendara tidak peduli hingga akhirnya dia tertabrak, namun masih beruntung lukanya tidaklah parah.

Begitupun saat dia menumpang taxi, dari Kuta ke Sanur, para pengendara motor tidak peduli dengan pemakai jalan lainnya, seolah-olah kendaraannya tidak ada remnya sehingga tetap saja bablas meski lampu kuning tanda beberapa detik lagi lampu merah akan menyala tanda harus berhenti. Hal itu tentu akan membuat jalanan menjadi semakin simpang   siur dan tentu saja akhirnya menimbulkan kemacetan di jalan. Saya hanya mengelus dada dan tersenyum kecut sambil berkata “Welcome to Indonesia”.

Kasihan juga ya bangsa kita ini. Entah kapan bisa maju kalau disiplinnya masih seperti ini.

Penumpang pejalan kaki masih berhamburan keluar ferry diikuti oleh penumpang yang mengendarai sepeda motor.  Saya masih menunggu giliran karena didepan masih ada Kijang LGX Biru,  Maestro Abu-abu, Taruna Abu-abu  serta Ford Laser Silver yang mulai bergerak kearah pintu keluar.

Begitu Ford Laser berada didepan pintu palka, saya segera menendang pedal gas si Hitam agar bergerak maju dan keluar perut ferry mengikuti Ford Laser Silver itu.

Begitu kami turun dari dermaga, dan keluar pelabuhan, debu tebal mengepul dari depan karena kendaraan melintas dijalan yang rusak yang berdebu tebal dan disana sini teronggok pasir dan batu yang membuat jalanan yang sudah sempit menjadi bertambah  sempit lagi. Kami terus mengikuti jalan utama untuk keluar pelabuhan.

Mengingat kami semua sudah merasa lapar, akhirnya saya mengarahkan si Hitam ke kota Mataram untuk mencari rumah makan terdekat yang kata Bapak mertua saya lumayan enak. Apalagi kalau bukan ayam Taliwang yang merupakan masakan khas Lombok.  Wah, laparnya semakin menjadi-jadi deh.

Dari Lembar ke Mataram kami tempuh sekitar 36 menit. Sambil tetap mengemudi saya melihat kekiri dan kekanan jalan dimana sawah dengan pohon cabai dan pohon gamal di pematangnya, namun daun pepohonan hampir seluruhnya tertutup oleh debu. Putih kecoklatan tertutup oleh debu yang mengepul kemana-mana setiap ada kendaraan yang lewat. Sayang sekali pemandangan kebun yang menghijau mestinya menambah segarnya pemandangan tidak dapat kami nikmati karena hampir seluruh daunnya tertutup debu dan malah membuat dada saya serasa sesak.

Kami terus melaju kearah utara mengikuti jalan lama menuju Mataram, dan sesaat sebelum memasuki kota Mataram, kami mulai berpapasan dengan cidomo (Cikar-Dokar-beMo). Cidomo ini adalah sarana transportasi yang dirakit dari komponen Cikar, Dokar dan beMo. Cikar adalah sebuah bak dari kayu yang diberi roda  yang di Bali biasanya dipakai mengangkut bahan bangunan, di Lombok ini Cikar di rubah dengan memasang roda beMo dan diberi tempat duduk sepeti layaknya bemo sehingga bisa mengangkut penumpang seperti bemo, karena ditarik oleh Kuda maka sarana transport itu disebut CiDoMo,

(bersambung)

salam “da Trooper Bali”

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s