(Reposted) Adventure ke Sukamade dan Merubetiri. bag. 6


Ringakasan cerita yang lalu :

Satu persatu kami mulai turun ke sungai dan menyeberang ke seberang. Ini adalah sungai terakhir yang kami seberangi. Setelah ini kami akan memasuki pemukiman penduduk. Pemukiman ini ditinggali oleh sekitar 350 kepala yang sebagian besar adalah petani penggarap. Dusun Sukamade ini masih merupakan wilayah Desa Sarongan. Disini ada Sekolah Dasar  Negeri 2  Sarongan dimana anak-anak petani disini bersekolah. Rencananya besok usai acara di Merubetiri kami akan mengunjungi SD N 2 Sarongan ini untuk sekedar membagi sedikit bantuan.

Tiba di Sukamade

Mas Amin Azis dari KTI Jember telah menunggu kami disini untuk selanjutnya bersama-sama menuju Merubetiri. Dari sini Mas Amin Azis menjadi leader menuju Meru Betiri. Namun karena kurang memperhatikan rombongan dibelakang, mas Amin Azis akhirnya malah meninggalkan kami jauh dibelakang. Dan akhirnya Bli Boncel malah jadi leader rombongan.

Kami melintas di pemukiman ini sudah agak gelap. Sehingga tidak dapat melihat pemandangan di pemukiman ini dengan jelas dan bahkan akhirnya Bli Boncel yang jadi leader malah tersesat ke jalan buntu.

“Salah jalan-salah jalan.” Kata Bli Boncel sambil nongol dari jendela Stallion-nya.

Saya yang dibelakangnya akhirnya mundur. Dan kebetulan ada seorang bapak-bapak yang berdiri di pinggir jalan dengan sepeda pancal dan saya tanyakan kepadanya arah ke Pantai Merubetiri.

“Oh iya pak arah sini.” Katanya sambil menunjuk kedepan.

“Ikuti saya saja pak.” katanya lagi sambil menaiki dan mengayuh sepedanya dengan cepat.

Saya mengikuti bapak tua itu dari belakang dan diikuti oleh teman-teman yang lainnya. Kami memasuki pemukiman yang cukup padat penduduknya. Tiba-tiba bapak tua tadi berbelok ke perumahan dan menaruh sepedanya.  Saya berhenti kebingungan, karena saya fikir bapak tua itu akan mengantar kami ke arah pantai yang tidak begitu jauh lagi.

Ternyata bapak tua itu kembali lagi dan menghampiri saya dan memberi petunjuk agar mengikuti jalan utama yang berupa jalan setapak.

“Terus saja pak. Ikuti jalan ini sampai habis. Itu sudah jalan menuju ke pantai.” Katanya lagi.

Sayapun mengarahkan si Hitam ke jalan setapak itu dan terus bergerak mengikuti jalan. Hari sudah sangat gelap. Dan tampaknya tidak ada tanda-tanda orang yang lalu lalang dijalan itu. Saya sempat ragu akan kebenaran arah yang kami lewati, namun selain jalan itu tidak ada lagi jalan yang mungkin bisa kami lalui.

“Pak Agus monitor..?” saya memanggil Pak Agus Pendit di radio.

“Masuk Pak Dewa” jawab pak Agus.

“Jalan ini sudah benar Pak Agus.” Tanya saya lagi.

“Kayanya benar Pak. Tidak ada jalan lain lagi.” katanya lagi.

“Ok Pak.” kata saya sambil terus mengendarai si Hitam.

Rupanya kami sudah mulai memasuki hutan karet dan coklat. Dan suasana sangat gelap. Apalagi suara aneka serangga malam membuat kami sedikit takut. Suara serangga malam yang bersahut-sahutan ditambah kadang-kadang suara burung hantu membuat kami semakin takut. Namun karena banyak teman dibelakang kami, rasa takut itu agak berkurang.

Jalan setapak yang kami lalui penuh lubang dan kubangan yang cukup dalam. Saya menghidupkan semua lampu yang ada termasuk lampu tembak di atap untuk menerangi semua sisi jalan yang kami lalui, sehingga agak mengurangi rasa takut. Semua kendaraan teman-teman di belakang juga menghidupkan semua lampu yang ada sehingga hutan itu tampak terang benderang pada malam hari itu. Pada satu saat itu kami seperti berenang di sungai kecil, karena air menggenangi jalan sepanjang hampir satu kilometer, sehingga ban terasa amblas dijalan itu. Benar-benar menegangkan, namun untungnya tidak ada jurang yang menghantui kami karena disisi kanan-kiri jalan masih hutan karet dan hutan coklat yang sangat lebat. Bahkan cahaya lampupun tidak mampu menembus lebatnya hutan itu. Ternyata perjalanan dari pemukiman ke Merubetiri ini masih cukup jauh. Sudah hampir 1 jam kami berkendara namun belum sampai jugadi Merubetiri. Anak-anak sudah mulai bosan berkendara.

Setelah hampir satu setengah jam lebih berkendara akhirnya kami tiba di Sukamade Resort pukul 19.26 WIB dan disambut oleh 3 orang petugas yang menjaga Mess Perhutani. Petugas tersebut selain menjaga  penginapan, juga merangkap sebagai petugas pengawas habitat penyu dan menetaskan telur penyu yang diambil pada malam hari beberapa saat setelah penyu bertelur.

Setelah memarkir kendaraan di samping bangunan tempat menetaskan telur penyu, kami menyiapkan tenda.  Sebagian ada juga yang menyewa kamar di mess Perhutani.

Saya dan pak Agus memilih memasang tenda di lapangan rumput didepan gazebo. Kami mendirikan dua buah tenda Dome. Satu untuk pak Agus dan istri satu untuk saya dan keluarga. 10 menit kemudian kami sudah selesai mendirikan tenda dan bergegas mandi agar segar karena pukul 21.00 WIB rencananya kami akan ke pantai untuk melihat penyu yang naik kedarat untuk bertelur.

“Melihat penyu bertelur”

Pukul 21.30 semua peserta sudah selesai memasang tenda, dan membongkar perbekalan masing-masing. Troopernita juga tampak sibuk menyiapkan makan malam. Aroma bau masakan yang tercium menambah rasa lapar kami yang sudah tak tertahan, setelah hampir seharian penuh kami berkendara di medan yang cukup berat yang menguras tenaga  karena treknya memang berat dan sangat panjang untuk ukuran kami yang sebagian besar dengan Trooper standar.

Karena lapar berat, akhirnya sebagian besar dari peserta menyantap makan malam terlebih dulu sebelum mandi, begitupun saya dan keluarga. Makan malam bareng dengan Mbak Irma dan Pak Agus. Ternyata makan dialam terbuka seperti ini memang beda dan makanan yang seadanyapun akan terasa nikmat. Apalagi makanan yang dibawa Pak Agus Pendit yang memang lengkap. Wah kami bukannya makan dengan menu kamping, tapi makan full menu layaknya di restaurant berbintang. he he he.   Ada fried chicken wings, ada soup dengan sosis ayam, nasi goring ikan asin lengkap dengan buahnya. Waaah.. memang benar-benartruk KIA nya Pak Agus Pendit layaknya restaurant berjalan. He he he he…

Tidak terasa waktu terus berjalan, pukul 21.55 WIB kami akhirnya menyudahi acara santap malam di camp itu dan bersiap-siap untuk ke pantai untuk melihat penyu bertelur.

Untuk sampai ke lokasi, kita harus berjalan kaki kurang lebih  1,5 km. Sebenarnya diisini ada peraturan yang mengharuskan pengunjung menggunakan jasa guide, karena selain mereka telah hafal situasi sekitar kawasan tersebut, juga mengingat dikiri kanan sepanjang jalan yang kita lalui ke lokasi pantai adalah kawasan hutan lindung dan beresiko binatang liar seperti macan tutul dan biawak atau binatang buas lainnya masih sering berkeliaran di areal itu.

Kami berjalan berendengan dalam beberapa kloter. Sejauh kami berjalan rasanya belum ada tanda-tanda bahwa kami ada didaerah pantai.  Umumnya jika kita berada didekat pantai kita akan merasa dan bisa mencium udara yang berbau air laut. Tidak demikian halnya di Sukamade ini, meskipun kami sudah berjalan sekitar 15 menit namun belum tercium aroma air laut ataupun terdengar hempasan ombak di pinggir laut. Suasana disepanjang jalan ini sangat sunyi dan hening, hanya sesekali terdengar suara serangga dan binatang hutan dikejauhan.

Setelah hampir 20 menit kami berjalan dan hutan mulai menipis, terdengar hempasan dan debur ombak yang semakin jelas, dan tanah yang kami injak mulai terasa berpasir dan sesekali kami menginjak kulit lokan yang mungkin terhempas atau terbawa oleh angin kepinggir.

Akhirnya kami tiba di pinggir laut, dan menuruni undak-undakan di tanah ke pesisir pantai yang ber pasir putih. Karena situasi yang sangat gelap kami tidak bisa melihat dengan jelas alam disekeliling. Dan ada larangan untuk menghidupkan lampu senter agar penyu yang hendak naik ke darat hendak berterlur tidak berbalik dan kembali ke tengah laut.

Sesampainya di pantai, dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh bintang-bintang dilangit kami melihat ada beberapa penyu sedang naik ke pantai hendak  bertelur. Namun ketika penyu-penyu itu telah selesai menggali lubang dan mulai bertelur kami bisa menyalakan lampu ataupun senter untuk melihat bagaimana penyu-penyu itu bertelur dan malah kalau berani dapat juga menadahkan tangan untuk menangkap telur yang baru keluar dari induk penyu itu.

Kami diarahkan untuk melihat penyu yang sedang berterlur di bibir pantai didekat semak pandan.  Kamipun bergerak kesana dimana seekor induk penyu yang sangat besar sedang bertelur.  Induk penyu ini sangat besar dan rupanya sudah cukup tua. Terlihat dari punggungnya yang sudah ditumbuhi oleh karang dan ukuran tubuhnya yang besar . Hampir sebesar ban Trooper ukuran 31.

Kami semua berjongkok mengelilingi penyu yang sedang berterlur itu. Ada yang mengelus punggungnya, ada yang membelai kepalanya, ada yang mengambil fotonya ada yang minta difoto sambil memegang telur penyu dan lain sebagainya.

Hampir satu jam kami dipinggir pantai melihat induk penyu yang sedang bertelur. Saya sempat menghitung ada 8 ekor induk penyu yang naik kedarat untuk bertelur.  Setelah puas melihat penyu penyu yang bertelur akhirnya kami kembali ke base campi untuk beristirahat karena esok hari akan diadakan bakti sosial melepas tukik atau anak penyu yang berumur 3 sampai 5 hari ketengah laut dan juga akan menanam pandan berduri untuk mengurangi abrasi laut dan juga tempat yang disukai oleh penyu untuk berterlur. Tak terasa malam sudah semakin larut, dan udara dipinggir pantai  ini mulai terasa dingin.

Kami tiba di base camp hampir pukul 11.50 WIB tengah malam.  Udara semakin dingin sehingga membuat sebagian peserta mulai beranjak untuk kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat, kecuali om Boncel dan beberapa rekan yang masih ngobrol sambil menenggak “air mineral” untuk menghangatkan badan. Upacara minum air mineral ini dikomandani oleh Bli Boncel.

Saya sendiri kembali ke tenda untuk beristirahat.  Sudah pukul 12.14 WIB ketika saya masuk ke tenda.

(bersambung)

Ikuti terus cerita perjalanan adventure ini…

salam “da Trooper Bali”

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s