(Reposted) Adventure ke Sukamade dan Merubetiri. bag. 5


Ringkasan cerita yang lalu :

Jalan yang kami lalui teramat rusak. Tampaknya memang jarang dilalu kendaraan roda empat. Hal itu bisa terlihat dari tingginya rumput yang tumbuh di badan jalan, terutama ditengah-tengah alur jalan. Jalanan hanya dikeraskan dengan bebatuan besar dan ditempatkan tidak beraturan sehingga cukup sulit untuk dilalui kendaraan biasa.

Begitu memasuki pintu gerbang wilayah Taman Nasional menuju lokasi Sukamade, jalanan dengan bebatuan besar telah menghdadang. Disamping licin trek berbatu ini juga cukup membahayakan bodi kendaraan yang terlalu rendah, sebab bisa saja menghantam gardan atau tangki bahan bakar dan membuatnya robek atau pecah. Dan hal itu terbukti ketika Trooper jumbo Pak Iwan Sentani tangkinya bocor karena robek oleh batu runcing saat bertraksi dan menikung di tikungan patah yang penuh batu tajam. Hal ini baru diketahui setelah Pak Agus Pendit melihat solar yang mengucur dari bagian bawah kendaraan. Pak Iwan mungkin kehilangan solar sekitar 5 liter disepanjang jalan itu, sampai akhirnya tangki ditambal dengan sabun sementara waktu.

Sepanjang jalan itu kami disuguhi jalan yang penuh bebatuan tajam meski kepenatan kami terobati oleh indahnya pemandangan disekitar jalan dikiri maupun disebelah kanannya. Trek disepanjang jalan ini sangat menantang untuk dilindas. Semakin dalam masuk ke hutan, semakin besar bebatuan yang harus kami lindas ditambah lagi tikungan naik tajam dan turunan curam dengan jurang yang menganga disisi kiri dan kanan sepanjang 15 km. Dituntut konsentrasi penuh driver agar bisa lolos melewati trek berbatu itu dengan selamat.  Benar-benar trek yang menegangkan.  Menurut kabar berita yang sempat kami dengar, dari penduduk sekitar, jalan tersebut sengaja tidak diperbaiki untuk menghindari pencurian Habitat Penyu dan pembalakan liar pohon di sekitar kawasan itu, sehingga sangat sulit untuk menuju kearah taman cagar alam Merubetiri, Sukamade ini.

Rasa tegang, lelah, capek, pegal, penat dan lain-lain dirasakan oleh semua peserta. Terkadang kita berhenti sesaat  ditempat dimana pemandangannya elok sekaligus untuk melepaskan ketegangan.

Menyeberangi sungai lagi

Setelah berkendara sekitar hampir 1 jam, kami tiba di sebuah sungai yang cukup lebar dengan air yang jernih.  Perasaan tegang, lelah, capek hilang tatkala kami tiba ditepi  sungai ini. Ini adalah sungai yang ke tiga yang kami mesti seberangi. Sungai it tidak terlalu dalam. Nampaknya air setinggi lutut orang dewasa, namun cukup sulit bagi kami untuk menyeberang jika tidak megaktifkan penggerak roda depan. Didepan saya adalah Bli Boncel dengan Stallion 4 X 4 nya. Dia menghentikan kendaraannnya dan istrinya turun untuk mengaktifkan “free lock” pada roda depan.

Saya meminta Yoga untuk turun dan mengaktifkan “free lock “depan dengan tang. Free loock si Hitam memang agak keras saat di putar, sehingga membutuhkan tang untuk meng–engkolnya.

Sungai yang menghandang didepan kami cukup lebar. Kurang lebih 15 meter lebarnya. Dengan airnya yang jernih, udara yang sejuk  karena dikelilingi hutan yang masih asli. Membuat kami dapat menghirup udara yang sangat segar.

Saya menunggu giliran menyeberang. Pak Bambang Widodo dengan Land Rover Abu-abu yang bermesin Trooper diesel yang menyeberang pertama kali, diikuti oleh Jimny Siera Biru,  FJ 40 Abu Tua, si Taft Biru 4 X 2 yang menyeberangi sungai dengan ter-engah-engah kemudian Bli Boncel baru kemudian saya dan selanjutnya  diikuti oleh kendaraan laiinnya.

Di sungai yang ke tiga ini semua kendaraan masih bisa menyeberang dengan selamat. Diseberang sungai kami masih mesti melewati hutan karet dan coklat yang cukup luas dan juga melompati parit yang cukup lebar dan dalam. Kami melintasi jalan setapak dengan tanah yang licin dan air yang menggenang di beberapa titik sehingga jalan menjadi yang licin. Akibatnya kami sering meluncur seperti drifting tanpa bisa mengendalikan kendaraan karena steer tidak merespon  saat dibelokkkan. Untungnya dikiri kanan adalah kebun coklat yang masih kecil dan bukan jurang, sebingga kami tidak terlalu takut akan meluncur ke jurang. Di trek kebun coklat ini banyak parit-parit dalam yang mesti kami lindas sehingga air dan lumpur bercipratan mengotori spakbor dan juga bodi mobil, namun hal itu malah mengasyikkan. Dasar….. He he he he…

“Pak Agus Monitor Pak…?” saya memanggil Pak Agus Pendit di radio.

“Masuk Pak Dewa.”  Terdengar pak Agus menyahuti.

“Masih ada berapa sungai lagi yang mesti diseberangi…? tanya saya kepada Pak Agus Pendit.

“Oh masih ada tiga sungai lagi Pak.” “Satu yang agak besar dan dalam dua lagi agak kecil. Kira-kira 1 jam lagi kita akan sampai di Sukamade.” Kata Pak Agus lagi menjelaskan.

“Kita ini sedang mengarah kemana Pak Agus..?”  “Kearah utara atau keselatan..? tanya saya lagi Karena kebingungan arah mata angin.

“Kita sekarang kearah utara  Pak.”  “ Sebentar Pak ini drivernya agak ragu sedikit.” kata PakAgus.

“Oh drivernya mbak Irma neh..? tanya saya lagi.

“He he he he. Iya. Katanya mau nyobain bawa truknya di sini.” kata Pak Agus lagi.

Ternyata si Truk Army KIA 4 X 4 itu dijokiin oleh mbak Irma, istri Pak Agus Pendit.

Kami terus meluncur di trek basah ditengah kebun coklat itu dan sesekali menerobos genangan air yang cukup dalam sehingga air bercipratan kesana kemari. Disini saya bisa menginjak pedal gas agak dalam sehingga si Hitam meluncur dengan cukup kencang, walau kami terguncang-guncang di dalamnya.

Hari mulai gelap. Sudah pukul 17.47 WITA saat kami tiba di sungai ke empat yang lebarnya sekitar 14 meter dengan air cukup dalam. Satu persatu kami menyeberang dan kemudian menunggu di seberang. Namun sungai yang lebar ditambah air yang jernih menggoda kami untuk turun ke air dan membersihkan kendaraan kami masing-masing. 

Tanpa dikomando, spontan semua teman-teman berhenti dan menyemplungkan diri bermain di sungai, saya. Pak Wiranto, Pak Agus Pendit dan beberapa teman-teman lainnya ber-kesempatan mencuci kendaraan masing-masing. sedang Bli Boncel (si anak ajaib..) sibuk dengan handycam-nya mengabadikan momen yang sangat langka itu. Sementara anak-nak Trooper Kids yang tadinya dikendaraan mendapat kensempatan untuk turun dan bermain air di sungai yang berair sejuk dan jernih itu. Semuanya tak luput dari bidikan camera Bli Boncel..

Rasa tegang di perjalanan berubah menjadi ceria dan senang oleh rasa kebersamaan teman-teman di alam bebas di tengah hutan dan dalam  cuaca yang sangat cerah. KTI memang seperti keluarga yang seutuhnya.  KTI memang top. He he he he…

Setelah puas mencuci kendaraan dan bermain-main air  Jam 18.14 WITA kamipun melanjutkan perjalanan di kebun coklat dankaert yang nampaknya baru ditanam. Masih 1 ½ jam lagi kami baru akan tiba di Sukamade. Matahri sudah menghilang di ufuk barat ketika kami menyebrangi sungai ke lima dengan air yang cukup deras. Derasnya arus tidak lagi kami hiraukan.  Dengan air setinggi perut  orang dewasa yang pastinya air masuk membasahi karpet mobil. Saat saya menyeberang bahkan ada yang berteriak.

“Gas…gas pol… tancaaap. Biar mesin tidak mati.” katanya.

He he he he.. Emangnya off road kali ya….

Satu-persatu mobil berkonvoi menyeberangi sungai dengan aman dan kami meneruskan masih harus meneruskan perjalanan sekitar 1 jam lagi untuk tiba di Sukamade, Kami melanjutkan perjalanan  dengan trek yang sama beratnya  dengan sebelumnya, namun teman-teman masih tampak bersemangat  untuk menyelesaikan trek menuju Sukamade ini.

Dan jalan setapak yang kami lalui mulai tampak samar-samar sehingga kami harus menghidupkan lampu untuk menerangi jalan kami.

“Teman-teman didepan adalah sungai terakhir yang mesti kita lewati. Sungai ini tidak terlalu lebar dan airnyapun tidak terlalu deras. Namun untuk amannya sebaiknya Free lock tetap dipasang.” Terdengar Pak Bambang Widodo memberi penerangan diradio.

Namun saya tidak perlu turun lagi, karena sedari tadi Free lock masih terpasang.  Kami terus bergerak dan mulai memperlambat kendaraan ketika,  didepan kami tampak sungai menghadang.  

Satu persatu kami mulai turun ke sungai dan menyeberang ke seberang. Ini adalah sungai terakhir yang kami seberangi. Setelah ini kami akan memasuki pemukiman penduduk. Pemukiman ini ditinggali oleh sekitar 350 kepala yang sebagian besar adalah petani penggarap. Dusun Sukamade ini masih merupakan wilayah Desa Sarongan. Disini ada Sekolah Dasar  Negeri 2  Sarongan dimana anak-anak petani dan nelayan seempat bersekolah. Rencananya besok usai acara di Merubetiri kami akan mengunjungi SD N 2 Sarongan ini untuk sekedar membagi sedikit bantuan.

Tiba di Sukamade

(bersambung)

Ikuti terus cerita perjalanan KTI Bali dan teman-teman Jeep “Kebo Liar” Banyuwangi dan Jember adventure ke Sukamade dan Merubetiri….

salam dari “da Trooper”

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s