Tip : Mengganti bola lampu da Trooper kita


 

Hai my dearest friends of Troopermania, dimanapun anda berada.

Apa kabar…?  Saya yakin semuanya dalam keadaan sehat-sehat saja , begitupun da Trooper sobat.  Sehat juga ‘kan…?.

Sebelumnya atas nama Redaksi dan semua teman-teman KTI Bali kami mengucapkan “Selamat Hari Natal 25 Desember 2010 bagi sahabat yang merayakayannya dan Selamat Tahun Baru 2011 ” bagi kita semua.

 Kami  mohon ma’af  jika selama ini ada kata-kata maupun gambar-gambar yang kurang berkenan dan menyinggung perasaan para pencinta Trooper dan para pengunjung website “da Trooper Bali” ini, percayalah tidak ada maksud kami    untuk menyinggung siapapun dan jika  itu terjadi benar-benar diluar kesadaran kami.

Kami senantiasa terbuka dan  akan sangat berterimakasih jika sekiranya ada teman-teman yang sudi menuliskan kritik membangun demi meningkatkan isi maupun tampilan website” “da Trooper Bali”  ini.  Kritik membangunnya kami tunggu.

Okay my friends, this time I want to share to all of you a simply tips, “How to replace the bulb of your da Trooper”  After reads this simple tips, I believe that you will be able to replace the bulb on your da Trooper by your self easily.

Baca  dan simaklah artikel berikut selengkapnya.

Mungkin selama ini sobat tidak pernah mengganti sendiri bola lampu pada da Trooper sobat, karena tidak tahu cara menggantinya atau sebab yang lain.  Membawa ke bengkel langganan memang cara yang paling mudah, namun bagaimana jika lampu da Trooper kita mati ditengah hutan atau di jalan di tempat terpencil yang ngga ada bengkelnya..? Nah lo..  Susah jadinya ‘kan..? Coba kalau kita bisa menggantinya sendiri, tentu masalah ini akan terselesaikan.

Sebelum hal itu menimpa kita, saya akan berbagi dengan sobat Troopermania bagaimana cara mengganti bola lampu utama pada da Trooper ataupun kendaraan yang lain.

Umumnya hampir semua kendaraan Jepang menggunakan bola lampu H4 untuk lampu utama pada kendaraannya. Begitu juga da Trooper. Bola lampu jenis H4 adalah bola lampu yang mempunyai dua filament, satu untuk lampu normal, dan satunya lagi untuk “Dim” atau lampu jarak jauh. Pada ujung terminal atau bagian bawah bola lampu mempunyai dua titik penghubung ke soket / dudukan kutub  penyambung ke arus.

Biasakanlah membawa bola lampu cadangan di dalam toolkits box atau di laci kabin yang terlindung dan aman. Sehingga sewaktu-waktu kita membutuhkannya dalam keadaan darurat kita tidak kebingungan mencari bola lampu.

Mengganti bola lampu.

Sebelumnya sediakan kunci pas atau kunci ring ukuran 10 dan 13 serta jangan lupa tang penjepit untuk membuka klem accu dan kabel-kabel yang ada pada kutub accu.

Bukalah kap mesin, kemudian pasang penopang kap mesin agar kompartment mesin tetap terbuka.  Jika lampu yang sebelah kiri mati, angkatlah terlebih dahulu reservoir / tangki cadangan air radiator agar mudah menjangkau batok lampu. Lepaskan socket pada kaki bola lampu, buka karet pengaman socket kaki lampu, kemudian lepaskan pin penjepit bola lampu yang berupa kawat seperti per.  Setelah pin penjepit yang berupa kawat seperti per dilepas dari kancingannya, peganglah dengan erat bagian belakang kaki bola lampu dan tariklah dari dudukannya dengan hati-hati,  jangan sampai terlepas dari tangan kita dan jangan sampai masuk kedalam batok lampu, karena akan susah untuk mengambilnya.  Jika sampai masuk ke dalam batok lampu, batok lampu mesti dibuka dari dudukannya, jadi ribet deh.

Untuk mengganti lampu sebelah kanan, accu mesti diturunkan dari tempatnya, karena batok lampu terhalang oleh accu. Jadi bukalah kabel-kabel accu. Untuk memudahkan, tandai dan ikatlah kabel-abel accu sesuai dengan masing-masing kutubnya. Kabel positive diikat jadi satu, demikian juga kabel negative/massa diikat jadi satu dan ditandai.

Selanjutnya tahap pengerjaannya sama.

Ambil bola lampu yang baru dan masukkan ke tempatnya dengan hati-hati. Hindarkan jangan sampai menyentuh ujung bola lampu yang baru, karena sentuhan tangan pada ujung bola lampu halogen dapat merusak atau bahkan bola lampu akan mati sebelum sempat dipakai.

Pasang kembali kawat kancingan  bola lampu, pasang karet pengaman kaki  lampu,  pasang socket kaki lampu,  terakhir pasang kembali reservoir / tangki cadangan air radiator atau accu pada tempatnya. Coba hidupkan lampu dengan menarik saklar lampu. Jika lampu masih tidak mau menyala, coba periksa sekring-sekring lampu didalam box sekring apakah sekring-nya ada yang putus. Box sekring terletak disisi sebelah kiri  di kompartmen mesin dengan diagram ditutup-nya. Untuk yang telah memakai kabel set relay, sekring lampu utama ada dua, satu yang ada di kabel set. Biasanya terletak didekat accu atau di ekat batok lampu. Periksalah semua sekeringya sebelum membuka bola lampu.

Sebelum menutup kap mesin, pastikan dan periksa sekeliling kap mesin, barangkali saja ada obeng atau peralatan kerja lainnya yang tertinggal.  Kemudian tutuplah kap mesin.  Nah pengantian bola lampu depan telah selesai.  Bagaimana…?  Ternyata gampang ‘kan menganti lampu utama da Trooper kita.…?

Semoga tips sederhana ini bermanfa’at bagi semua sobat and sohib da Troopermania….. Okay….?

See you arround…..

My Silent-Black-Trooper
My Silent-Black-Trooper

 

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper.

Advertisements

Selamat hari Natal dan Tahun Baru 2011


 

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2011
Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2011

Dear all of my “da Trooper Bali” friends.

Tak terasa kita telah berada dipenghujung tahun 2010, satu tahun telah kita lalui dengan berbagai rasa, sedih, gembira rindu, dendam, berbagai rasa amarah juga pernah kita lakukan.

Dengan akan berlalunya waktu setahun yang lewat, artinya bertambah setahun pula bertambah usia kita dan sekaligus setahun juga umur kita telah berkurang.

Ada baiknya kita mengadakan perenungan diri, introspeksi diri apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun 2010 yang lalu.

There is a good and bad we did which is naturally as a human being, tetapi marilah kita merenung sejenak untuk memperbaiki apa yang telah kita perbuat diwaktu yang lalu sehingga semuanya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Amin…  Semoga….

“Selamat Hari Natal 25 Desember 2010 dan Selamat Tahun Baru 2011”

 

salam dari Bali

  

 
 

Bersama kita kuat
Bersama kita kuat

 

Dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

  

 

Bahaya Benzine atau Bensol bagi kesehatan kita


Me with "Black da Trooper"
Me with "Black da Trooper"

Hello sobat-sobat semuanya, apa kabar…?

Bai-baik saja ‘kan…? Great…!!!

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kita karuniaNYA. Kesehatan yang baik, fikiran yang baik jiwa dan raga yang sehat juga.  Amin.

Berikut ada info kesehatan bagi kita yang sering berkendara dalam keseharian kita.  Seringkali kita memarkir kendaraan dalam jangka waktu yang cukup lama di tempat yang terbuka dibawah terik matahari. Nah, tahukan kawan bahwa benzine yang terkandung di dalam bahan dashboard itu dapat menguap dan sangat berbahaya bagi kesehatan kita.

Simaklah artikel ini lebih lanjut.

Jika anda memasuki mkendaraan setelah diparkir cukup lama apalagi dparkir dibawah terik matahari, maka sebelum  berkedara bukalah pintu atau jendela kaca kendaraan setelah masuk ke dalam kendaraan dan jangan terburu-buru menyalakan AC.  Hal ini dilakukan agar udara yang terjebak  di dalam mobil saat diparkir bisa segera keluar dan tergantikan dengan udara
yang lebih segar.  Ternyata udara yg ada di dalam mobil saat diparkir
mengandung Benzene/Bensol.

Darimanakah Benzene ini berasal?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh para pakar, dashboard mobil, sofa, air freshener akan memancarkan Benzene, hal ini bisa disebabkan oleh suhu
ruangan yang meninggi.  Hati-hati bila mencium bau plastik terbakar di dalam kendaraan anda, segera cek asal bau tersebut.  

Saya pernah membaca thread tentang bahaya action figure yg kebakar di dalam mobil.. Artikel ini berhubungan dengan thread tersebut, hanya saja g saya belum bisa menemukan thread tersebut sampaisaat ini.

Tingkat Benzene yang dapat diterima dalam ruangan adalah 50 mg per sq ft.
Sebuah mobil yg parkir di ruangan dengan jendela tertutup akan berisi
400-800 mg  Benzene.

Jika parkir di luar rumah di bawah sinar terik matahari pada suhu di atas 60 derajat F, tingkat Benzene naik sampai 2000-4000 mg, 40 kali dengan tingkat yang aman untuk kesehatan kita. Orang-orang di dalam mobil
pasti akan menyedot kelebihan jumlah toksin.

 

*Bahaya Benzene…*

Efek singkat menghirup high level benzene dapat mengakibatkan kematian,
sedangkan menghirup low level benzene dapat menyebabkan kantuk, pusing, mempercepat denyut jantung, sakit kepala, tremors, kebingungan, dan ketidak sadaran atau pinsan.

Long term efeknya bisa menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang dan dapat menyebabkan penurunan sel darah merah, yang mengarah ke anemia.

Benzine juga dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan dan menurunkan sistem kekebalan, meningkatkan kemungkinan infeksi, menyebabkan leukemia dan lainnya degenerative lainnya yang terkait dengan kanker darah dan pra-kanker dari darah.

Benzene adalah toksin yang menyerang hati, ginjal, paru-paru, jantung dan
otak dan dapat menyebabkan kerusakan kromosonal. Saat ini sedang diadakan penelitian tentang pengaruh benzene terhadap tingkat kesuburan pria dan wanita.

Benzene adalah racun yg berbahaya karena tubuh kita sangat kesulitan untuk mengeluarkan jenis racun ini.

Karena itu sangat disarankan agar Anda membuka jendela dan pintu untuk
memberikan waktu pada udara yang ada di dalam agar keluar sebelum Anda masuk kedalammnya dan berkendara.

Semoga info singkat ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

salam dari Bali

Driving smart
Driving smart

 

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan ke Lumajang Jawa Timur. bag. 5 (selesai)


Ringkasan cerita yang lalu :

Saya ingatkan Gusmang dan Agung Wira untuk berhati-hati, karena pasir begini biasanya menjebak kita. Apalagi ban yang dipakai adalah Simex Extra Trekker yang notabene hanya berperforma bagus di Lumpur, kalau di medan berpasir seharusnya kami pakai Dessert Dueller atau ban A/T saja.

Teman-teman yang lain pun mulai beraksi dan melompat kearah padang sabana itu. Beberapa Trooper lolos sampai bisa masuk ke bibir pantai. Namun beberapa Trooper yang lainnya stag di pertengahan jalan karena terjebak dipasir tebal, dan akhirnya ditarik oleh FJ Canvas Ko Jiang yang bermesin 15BT.

Selanjutnya :

Giliran kami lewat, Agung Wira yang mengendalikan si Coklat mencari posisi yang pas dan mulai tancap gas. Dan begitu diertengahan si Coklat berhenti dan ban Simexnya amblas ke dalam pasir hingga menyentuh dek bodi.

Si Coklat akhirnya terjebak juga di pasir
Si Coklat akhirnya terjebak juga di pasir

 

Terpaksa kami minta tolong Ko Jiang lagi untuk menarik dengan strap agar bisa keluar dari jebakan pasir.
Karena penasaran, Agung Wira kembali mencoba untuk trek pasir itu, mulai dari start awal, dengan menggerak-gerakkan stir Agung Wira tancap gas dan si Coklat melesat kedepan beberapa meter dan sekali lagi begitu tiba di pertengahan si Coklat tidak bisa melaju lagi dan semakin di gas, rodanya semakin amblas ke dalam pasir.

Ko Jiang datang lagi melemparkan strapnya dan menarik si Coklat keluar dari trek pasir. Begitulah, kami semua terjebakdan kesulitan untuk melewati trek pasir di Pantai Selok Awar-awar ini. Hampir semua kendaraan sempat stag di pasir.

Terjebak Semakin dalam...
Terjebak semakin dalam...

Setelah berhasil keluar dari jebakan pasir, kami terus mendekati bibir pantai dan berhenti sejenak untuk menikmati alam pantai Selok Awar-Awar yang merupakan pantai laut selatan.

Bibir pantai agak terjal dengan ombak yang tinggi dan arus air yang sangat kuat sehingga sangat berbahaya jika kita berenang disini.
Apalagi pasir yang  berwarna hitam rasanya tidak terlalu menarik untuk bersantai.
Kami turun dari Trooper kami dan mengabadikan beberapa moment untuk kenang-kenangan.

Akhirnya di tarik dengan strap
Akhirnya ditarik dengan strap

 

Saya melirik ke jam digital di console box yang telah menunjukkan pukul 11.49 WIB. Rencananya kami kami akan kembali ke Denpasar pukul 14 WIB agar bisa santai di jalan dan tidak dikejar-kejar waktu.

Kami berunding dengan Agus Pendit, Gusmang dan Agung Wira untuk memutuskan apakah kita tetap ikut teman-teman KTI Surabaya untuk ke gunung Semeru atau langsung memisahkan diri dari rombongan dan pulang ke Bali.

Setelah menimang-nimang dan menghitung waktu kami, akhirnya kami putuskan untuk memisahkan diri di jalan utama dan kembali ke Denpasar.

Pasir berdebu
Pasir berdebu

Setelah hampir 2 jam kami bermain main di trek pasir, akhirnya rombongan bergerak keluar dari pantai Selok Awar- Awar menuju ke gunung Semeru di desa Senduro.

Karena jalanan kembali yang kami lalui adalah jalanan kampung yang berdebu dan model jalannya juga terlihat sama, rombongan sempat nyasar dan terjebak dijalan buntu.

Pak Arif sebagai guide juga tampak bingung dan  akhirnya akhirnya bertanya kepada penduduk arah menuju ke jalan utama menuju kota Lumajang.

Kami semua akhirnya berbalik arah, kembali ke jalan masuk dan setelah beberapa kali nyasar, kami akhirnya keluar dari perkampungan penduduk dan masuk ke sungai dangkal yang ternyata adalah tambang pasir. Ada beberapa truk dan pekerja yang sedang menaikkan pasir keatas truk dengan skop.

Senyum ceria Pak Tonny
Senyum ceria Pak Tonny

 

Kami berjalan di jalur sungai yang tidak terlalu dalam dengan air sungai yang sebatas ban atau kurang lebih sedalam 40 cm dengan dasar sungai yang berpasir.

Kami sempat berhenti menunggu Pak Dokter karena FJ40 biru metallic yang dikendarai Pak Dr. Sumartono terjebak di pasir. Ko Jiang dan Pak Sudirman akhirnya kembali ke pantai untuk me-recovery Pak Dokter Sumartono.

Balik lagi
Balik lagi

 

Pukul 12.17 WIB kami baru keluar memasuki dataran proyek jalan yang sedang di urug. Kami memutuskan untuk berpisah disini, sementara teman-teman KTI Surabaya dan Komunitas 4 X 4 Jawa Timur dan tuan rumah Lumajang Jeep Club meneruskan acara ke Gunung Semeru di desa Senduro.

“Mas Tonny dan semua teman-teman KTI Surabaya dan Komunitas 4 X 4 Jawa Timur, kami mohon ma’af tidak    bisa mengikuti acara sampai selesai dan mohon pamit untuk kembali ke Bali.” Melalui radio saya mengucapkan salam perpisahan kepada teman-teman KTI Surabaya maupun Komunitas 4 x 4 Jawa Timur yang iktu dalam rombongan.

Rombongan berhenti di jalan sempit sebelum memasuki jalan besar yang menuju ke arah Lumajang. Kami bersalam-salaman dan saling berjanji untuk bertemu lagi pada acara yang lainnya.

Setelah semua teman-teman kami salami, akhirnya kami meneruskan perjalanan menyusuri jalan proyek untuk keluar ke jalan aspal yang menuju kota Lumajang.

Hari semakin siang, dan kami harus bergegas untuk bergerak ke Bali agar bisa tiba di Denpasar tidak terlalu larut malam.

Pukul 13.37 WIB kami memasuki kota Lumajang dan kami segera ke Kantor Perumahan dan Pemukiman Kota Lumajang untuk mengambil Trooper Hijau DK999GN kesayangan Agung WIra yang ditinggal di sana.
Cerita mengenai kondisi terakhir si Hijau akan saya laporkan jika memungkinkan.
Agus Pendit dan Agung Wira berpindah ke Trooper Hijau, sementara saya tetap bersama Gusmang dengan si Coklat.

Kami bergegas bergerak keluar dari kota Lumajang lewat jalur selatan. Kali ni kami tidak terlalu banyak ngobrol, mengingat Agung Wira belum memasang antena radio di bumper depan, sehingga kami tidak dapat berkomunikasi dalam perjalanan.

“Kita cari tempat makan yang enak dulu yuuk.” Kata Gusmang, kemudian menghubungi Agung Wira di phone selulernya.

Kami terus bergerak kearah timur dan akhirnya kami berhenti di perbatasan Lumajang – Jember untuk makan siang.di warung makan yang bernama “Warung Bebas”. Penasaran ‘kan..? Begitu juga kami, agak pensaran juga seperti apa sih modelnya kok namanya “Warung Bebas”

Sebenarnya kami agak khawatir akan kesulian untuk mencari rumah makan atau warung makan, mengingat masih dalam suasana puasa.
Beruntung warung “Bebas” ini buka sampai malam menjelang buka puasa.

“Warung Bebas” ini cukup bersih, dengan suasana layaknya makan di rumah kita sendiri. Nasi boleh diambil sesukanya, sesuai dengan kemampuan kita makan yang wajar. Ditengah ruangan ada empt Magic Jar tempat nasi. Tersedia nasi putih, nasi dengan beras merah dan nasi yang dicampur jagung Hanya saja untuk lauk pauknya disajikan sesuai dengan jumlah orang yang memesan makan.
Karena kami makan berempat, maka diatas meja disajikan beberapa jenis lauk pauk untuk empat orang. Ada gulai ayam dengan empat potong daging, ada tempe goring empat potong, ada sepiring ikan teri goring, ada sepiring sate ayam
dengan isi dua puluh tusuk, ada empat potong empal sapi, se-toples krupuk udang, ada empat potong ayam goreng lengkap dengan lalapannya, dan se mangkuk besar sayur lodeh serta sayur asem.
Karena perut kami memang sudah lapar sedari pantai tadi sang, maka tanpa menunggu wwaktu kami segera saja menyenduk hidangan itu dan makan sepuasnya.

Pukul 14.35 WIB kami sudah meluncur lagi ke arah timur ber-iring-iringan dengan Agus Pendit yang mengendalikan Trooper Hijau kesayangan Agung Wira dengan kecepatan sedang rata-rata 70 km per jam.

Satu jam kemudian kami sudah keluar daerah Jember dan memasuki desa Tanggul dan menyusuri jalandi pinggir kali kea rah timur

Kami mampir di SPBU di daerah Jember beberapa kilometer setelah Warung Bebas tempat kami makan siang untuk mengisi bahan bakar, Gusmang mengisi solar si Coklat sementara Agung Wira mengisi bensin untuk Si Hijau. Semenar mengisi bensin si Hijau, Agung Wira memasang antena radio komunikasi yang baru ketemu setelah dicari cari di bawah jok tengah. Hari semakin sore.

Beberapa kali kami berpapasan dengan pick up yang  pengangkut penumpang yang berdesak desakan di bak belakang. Rupanya mereka adalah buruh di tempat pemotongan tembakau yang baru pulang dari tempat permosesan tembakau.

Kami terus melaju ke timur semakin dekat ke arah pelabuhan Ketapang. Kami melewati Glemor, melewati hotel Kalibaru dan terus kearah timur semakin dekat ke Banyuwangi. Rencananya kami akan mampir di Banyuwangi untuk membeli oleh-oleh sekedarnya.

Pukul 18.17 kami memasuki kota Banyuwangi, dan Agus Pendit mengarahkan si Hijau ke komplek pertokoan untuk mencari oleh-oleh, sementara kami membuntuti di belakang si Hijau.

Kami memarkir Trooper kami di pinggir jalan di depan toko tempat kami berbelanja. Beberapa orang yang lewat memperhatikan kami yang baru turun dari da Trooper kami masing-masing yang belepotan lumpur dan pasir di kap mesinnya,

Kami masuk ke dalam toko dan mulai memilih-milih jenis oleh-oleh yang akan kami beli. Wuah binngung juga mesti beli apa. Begini nih jadinya kalau kita jarang berbelanja. Akhirnya saya ambil beberapa bungkus pisang sale untuk sekedar oleh-oleh.

Beberapa kali saya berpapasan dengan Agus Pendit dengan tas belanjaan yang sudah penuh dengan berbagai oleh-oleh. Rupanya Agus Pendit memborong beberapa dus pisang sale dan berbagai camilan lainnya.

Begitu juga Agung Wira, Gusmang, semuanya membeli jenis oleh-oleh yang sama. Kami benar-benar kompak ya.

Setelah acara belanja oleh-oleh selesai, kami segera bergerak lagi ke timur menuju Ketapang untuk menyeberangi Selat Bali. Pukul 18.21 kami tiba di Ketapang dan segera membayar tiket masuk seharga Rp.80.000,- per Trooper dan segera masuk ke dalam perut ferry yang akan menyeberangkan kami kembali ke Bali.

Nampaknya ferry yang menyeberang ke Gilimanuk tidak terlalu padat penumpang, di deck kendaraan masih menyisakan beberapa tempat parkir untuk kendaraan, sehingga truk yang masuk terakhir di biarkan melintang ditengah-tengah tempat yang kosong itu, untuk menjaga agar berat bobot kapal terbagi dengan seimbang.

Hari mulai gelap, namun ferry belum juga bergerak. Kami segera naik ke deck penumpang untuk duduk beristirahat. Kamimenunggu kurang lebih 20 menit ferry baru beranjak dari dermaga Ketapang. Kami segera naik ke deck pemumpang di lantai dua.

Memasuki deck penumpang kami disambut oleh suara musik pop dangdut creative yang menghentak. Sambil mencari tempat duduk, saya memperhatikan deretan kursi yang banyak kosong. Ternyata penumpang ferry ini tidak terlalu banyak. Saya melihat ke TV monitor di depan tempat duduk yang sedang menampilkan seorang penyanyi dang dut dengan goyangannya yang sensual.

Karena tidak terlalu konsen, saya tidak tahu siapa penyanyi yang sedang life show itu sampai menjelang turun dari kapal, saya baru ngeh ternyata itu penyanyi itu adalah Inul Daratista. Rupanya karena kurang tidur kemarin malam, membuat fikiran ini tidak fokus.
Pukul 19.05 ferry baru meninggalkan pelabuhan Ketapang menuju pelabuhan Gilimanuk.

Ferry yang kami tumpangi ini agak lambat, dan sepertinya terseok-seok untuk menyeberangkan kami. Kaena kecapaian dan kurang tidur, Agung Wira tertidur di kursi penumpang deretan paling depan, sementara saya duduk bersandar disebelahnya dengan fikiran yang masih melayang kesana kemari. Sulit untuk memicingkan mata.

Pukul 20.17 WITA kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Begitu keluar dari pelabuhan Gilimanuk, kami segera melesat dengan kecepatan penuh rata-rata 110 km per jam, mengingat jalanan yang sangat sepi. Sampai di perbatasan Negara Tabanan kami barumengurangikeceopatan, karena jalanan yang mulai ramai oleh bus malam dan truk yang akan ke Jawa.

Selama perjalanan kembali ini kami tidak banyak bercakap-cakap. Saya yang menjadi navigator si Coklat yang di kemudikan oleh Gusmang hanya duduk bersandar di jok depan, sementara Gusmang menyulut rokok sambil tetap mengendalikan si Coklat.

Gilimanuk – Denpasar kira-kira akan kami tempuh sekitar 2 jam. Sementara digital clock si Coklat telah menunjukkan pukul 20.47 WITA. Estimasi saya kami akan tiba di Denpasar kurang lebih pukul 23.00 WITA.

Sementara jalanan semakin ramai oleh bus malam dan truk muatan yang akan berangkat ke Jawa dan kendaraan lainnya, membuat kami tidak bisa melaju lebih kencang lagi.

Akhirnya pukul 22.52 WITA kami memasuki desa Kapal. Disini kami berpisan dengan Agung Wira dan Agus Pendit dengan Trooper Hijau, Gusmang berbelok ke kiri menuju rumah saya sementara Agus Pendit dan Agung Wira lurus kearah Terminal Ubung.

Pukul 23.11 WITA kami tiba di depan rumah. Setelah menurunkan barang-barang bawaan saya, Gusmang pamitan tanpa turun dari Troopernya dan kami pun berpisah.

Demikian laporan perjalanan kami ke Lumajang Jawa Timur untuk mengikuti survey trek ke pantai Selok Awar-awar, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Semoga bermanfa’at bagi teman-teman da Trooper Bali dan visitors website da Trooper Bali dimanapun berada.

It's me and wife
It's me and wife

Salam da Trooper Bali

Dewa
DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan ke Lumajang Jawa Timur, bag. 4


Ringkasan cerita yang lalu :

Baik mas nanti saya minta sama mas Asep biar di kasi baut bajanya.” Kata Pak Tonny kemudian.

“Okey mas silahkan berisitirahat dulu, biar besok pagi bisa seger dan bisa jalan ke pantai untuk survey trek.” Kata mas Tonny lagi.

“Okey mas.” “Sampai besok pagi ya.” Kata saya lagi kemudian mematikan lampu dan berbaring di spring bed disebelah Agung Wira.

Selanjutnya :

Hanya beberapa menit setelah berbaring terdengar dengkurannya Gusmang, Agus Pendit yang berbaring bersebelahan dengan Gusmang juga terlelap, demikian juga Agung Wira sudah tertidur, hanya saya yang masih sulit memejamkan mata, karena keracunan makanan yang saya alami hari Jum’at malam belum sepenuhnya sembuh. Walau sempat di infuse di UGD Surya Husada pada tengah malam dan dilanjutkan dengan obat anti alergi yang saya minum, namun belum juga sembuh total. Seperti subuh itu, rasa gatal panas di sekujur badan saya masih datang dan pergi. Begitu pengaruh obat penawar yang diminum hilang pengaruhnya, maka bental bentol dan gatalserta panas datang lagi yang membuat saya kebingungan garuk sana garuk sini. Waaah kaya monyet dech aku. He he he he…

Teras rumah Dr. sumartono yang asri

Terpaksa subuh itu saya minum obat penawar lagi agar bisa tidur nyenyak. Setelah minum obat, kira-kira 30 menit kemudian atau kira-kira pukul 04.00 saya baru tertidur.

Pukul 07.00 saya terbangun dan saya lihat Agung Wira sudah tampak segar.
“Pak Dewa cepat mandi, sebelum antreannya panjang.” “Saya sudah mandi.” Katanya. Sambil memberikan kunci Trooper ke saya.

Saya segera turun mengambil ransel di Trooper untuk mengambil perlengkapan mandi dan baju ganti.
Saya melihat tangan saya bekas bental bentol tadi malam yang masih terlihat kemerahan.

Setelah mengambil ransel dan mengeluarkan sikat gigi, handuk, sabun dan perlengkapan kecli lainnya, saya masuk kekamar mandi di lantai bawah di ruang keluarga Dr. Sumartono yang tampak asri.

Rasa kantuk masih tersisa, mengingat hanya sempat tidur kurang dari 3 jam.
Saya segera mengguyur badan dari ujung kepala sampai keujung kaki dengan air dingin agar badan lebih segar.

Setelah selesai mandi, giliran Gusmang yang masuk ke kamar mandi, kemudian Agus Pendit disusul Pak Sudirman dan yang lain-lainnya.

Setelah selesai mandi saya baru keluar rumah untuk melihat-lihat lebih detail lagi rumah Dr.Sumartono.SpBd.

Plang rumah Dr. SumartonoSp.Bd
 

Rumah yang terletak di seberang kantor Perumahan dan Pemukiman Penduduk, Kabupaten Lumajang itu dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 300 meter persegi, dengan menyisakan sedikit halaman didepan dan belakang. Namun karena tanaman hias yang tertata rapi dan terawat, membuat suasana rumah terasa sangat teduh dan asri. Dihalaman depan ditanam pohon palm botol yang sudah cukup besar, dengan berbagai tanaman hias cantik disekitar pohon palm itu membuat halaman tampak asri dan indah. Senang rasanya memandangi taman kecil itu.

Di Garase tampak sebuah FJ40 dengan ban Super Swamper TXL sedang dicuci oleh pembantu Pak Dokter. FJ40 berwarna biru metallic itu tampak gagah dengan Hi Lift Jack yang terikat di pilar A didepan spion. Winch Warn 8274 yang masih terbungkus vinnyl hitam nangkring di bumper depan membuat tongkrongan si FJ 40 makin gagah dan berwibawa. Wah saya jadi menimbang-nimbang untuk meminang FJ40 nih.

Fj40 Hardtop Dr.Sumartono

 

Sambil menunggu teman-teman lain yang masih mandi dan berkemas-kemas, saya melihat-lihat ruang keluarga Dr. Sumartono yang tertata apik dan harmonis dengan pernak pernik dan berbagai foto-foto anak-anak dan keluarga pak Dokter yang ditata rapi di tembok ruangan.  Pendek kata rumah Pak Dokter ini akan membuat betah siapapun yang duduk didalamnya.

Saya berjalan ke halaman belakang. Di belakang ada teras kecil yang rupanya dibuat untuk mencari angin dan bersantai sambil minum teh atau kopi. Hal itu terlihat dari dispenser dan tea box yang tertata rapi di atas meja kecil di teras itu.

Teras depan rumah Dr.Sumartono. Asri....
Teras depan rumah Dr.Sumartono. Asri...

Sementara di depan teras tertata berbagai tanaman hias, bunga adenium, anggrek dendrobium dan beberapa anggrek catlya yang sedang berbunga disamping berbagai tanaman hias cantik lainnya yang tidak saya ketahui namanya. Maklum saya bukan ahli di bidang itu. He he he..

Setelah taman di teras itu, masih menyisakan beberapa ruangan yang tampaknya adalah untuk kamar dan ruang kerja pembantu. Terdengar ada beberapa ekor anjing yang menggonggong dari tempat itu.

Karena sangat terkesan, saya sempat mengambil beberapa gambar taman Pak Dokter untuk koleksi pribadi,

Setelah semua teman-teman siap, kami berkumpul di halaman kantor Pemukiman dan Perumahan untuk mendengarkan briefing dari panitia dan ternyata ada sarapan pagi berupa nasi pecel daripanitia.
Padahal pagi tadi kami berempat sempat kebingungan mau cari makan dimana, mengingat ini masih dalam bulan puasa.

Briefing sebelumberangkat
Briefing sebelum berangkat

Setelah briefing dan sarapan pagi, kami masih menunggu beberapa teman-teman dari Lumajang Jeep Club yang akan menjadi guide kearah barat daya menuju pantai Selok Awar-awar, Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang, kurang lebih 40 km kearah barat daya kota Lumajang.

Tercatat ada 7 Trooper, 6 FJ 40, 1 FJ 40 dengan mesin 13BT milik Ko Jiang, 1 Pick Up Chevy Luv 4×4 Diesel, 3 Taft GT, 2 Taft Kebo Diesel, 1 Suzuki Caribean SJ413, 2 Suzuki Jimnny SJ410 dan1 Wyllis dengan mesin 2 LT. Total ada 24 kendaraan yang ikut dalam rombongan.

Saya coba tanyakan kepada Pak Tonny berapa lama jarak tempuh ke Pantai Selok Awar-awar dari tempat kami ngumpul. Dari salah seorang panitia kami diberi tahu bahwa kurang lebih 1 jam perjalanan kami akan tiba di pantai Selok Awar-Awar.

Kami bergerak pukul 8.30 waktu Jawa, mengikuti jalan utama ke arah barat. Suasana didaerah ini tidak begitu ramai. Sepanjang perjalanan kami banyak berpapasan dengan mesin giling padi yang disebut grandong yang bergerak mencari pelanggan. Malah sempat berpapasan dengan grandong yang berbodi FJ40 tapi bermesin Kubota. Wha ha ha ha…… lucu juga.

Perjalanan menuju pantai Selok Awar-Awar
Perjalanan menuju pantai Selok Awar-Awar

 

Setelah hampir 20 menit kami menyusuri jalan aspal mulus, kami berbelok kekiri memasuki desa Pandanarum. Jalanan mulai berlubang-lubang dan berdebu. Kami semakin jauh menyusup kepedalaman, dan akhirnya kami memasuki perkampungan penduduk yang sangat gersang. Debu mengepul beterbangan membuat kami tidak bisa melihat kedepan karena pandangan tertutup debu yang mengepul sangat sangat tebal. Saya sempat terharu melihat penduduk yang bertelanjang dada kepanasan dan kehausan karena kesulitan air, melambaikan tangan kearah kami yang melintas didepan mereka. Ada perasaan malu dalam diri saya melihat mereka yang dalam penderitaan, sementara kami didalam Trooper yang berpenyejuk ruangan minum air mineral. Tuhan ampuni kami. Saya berdoa dalam hati.

Kami terus menyusuri jalan perkampungan yang gersang, pohon-pohon kayu sengon yang meranggas karena kekeringan, rumput yang mongering dan debu yang beterbangan mengepul dihempas oleh kendaraan yang lewat.

Melintas dijalan setapak yang berdebu
Melintas dijalan setapak yang berdebu

Sungguh

menyedihkan melihat kebun-kebun penduduk yang tidak bisa ditanami karena kekeringan. Tanah yang pecah-pecah dan udara yang panas menyengat menambah penderitaan masyarakat. Saya khawatir banyak anak-anak yang mengalami sakit pernafasan akibat udara yang bercampur debu ini.

Setelah bergerak kurang lebih 37 menit di atas Trooper, kami memasuki dataran dengan tanah gembur bercampur pasir yang nampaknya masih dalam proyek pengurugan. Hal itu tampak dari bekas-bekas roda alat-alat berat traktor yang meratakan tanah. Tampaknya daerah ini akan menjadi jalan lingkar luar kota kelak. Kami terus bergerak diantara debu-debu yang mengepul tebal sehingga jarak pandang kedepan tidak lebih dari 3 meter. Karenanya kami mesti ekstra hati-hati, Karena salah salah bisa menyeruduk teman yang didepan.

Tiba-tiba kendaraan didepan kami berhenti. Saya memanggil dan bertanya lewat radio, namun tak ada yang menjawab. Akhirnya kami semua turun dari Trooper.
Ternyata kami berhenti karena jalan masuk ke pantai terhalang oleh truk pengangkut pasir yang stag ditanjakan masuk ke jalan pantai.

Si sopir truk masih mencoba berupaya untuk menaikkan truknya, namun karena beratnya muatan pasir basah yang masih mengeluarkan air, tampaknya usahanya sia-sia. Rupanya kopling truk Elf itu slip.

Setelah berunding, akhirnya salah satu FJ dari rombongan kami membantu si truk keluar dari posisi terperangkapnya.

Dengan strap FJ 40 canvas merah pemandu kami yang dikemudikan oleh Pak Arif akhirnya megevakuasi truk itu keluar dari posisi stagnya. Si sopir mengucapkan terimakasih kepada Pak Arif dan meneruskan perjalanannya.

Pukul 9.56 kami memasuki jalanan sempit dengan sawah dengan padi dikiri kanan. Kami terus bergerak menyusuri jalanan sempit itu, disini suasananya berbeda sekali dengan perkampungan penduduk yang kami lewati sebelumnya. Disini air cukup melimpah dan air sampai meluber kejalan membuat genangan air di tengah jalan yang tentu saja membuat kami senang melibasnya.

Beberapa ekor sapi dan kerbau yang ditambatkan dipematang sawah tampak terbengong-bengong melihat kami berkubang di kubangan mereka. Mungkin mereka berfikir, kok ada kerbau jelek segi empat berkaki bulat berkubang ditempat gue. Mahluk apa itu. Kami berempat tertawa terbahak-bahak melihat sapi dan kerbau yang terlongong-longong itu.

Pukul 10.17 waktu Jawa kami telah memasuki pantai Selok Awar-Awar. Beberapa meter sebelum memasuki pantai Selok Awar-Awar kami dihadang oleh padang sabana yang cukup luas, kurang lebih 400 meter dari bibir pantai adalah padang pasir tebal degnan rerumputan yang mulai meranggas karena kekeringan. Mirip seperti padang sabana yang ada di Bromo.

Saya ingatkan Gusmang dan Agung Wira untuk berhati-hati, karena pasir begini biasanya menjebak kita. Apalagi ban yang dipakai adalah Simex Extra Trekker yang notabene hanya berperforma bagus di Lumpur, kalau di medan berpasir seharusnya kami pakai Dessert Dueller atau ban A/T saja.

Teman-teman yang lain pun mulai beraksi dan melompat kearah padang sabana itu. Beberapa Trooper lolos sampai bisa masuk ke bibir pantai. Namun beberapa Trooper yang lainnya stag di pertengahan jalan karena terjebak dipasir tebal.

Sawah sebelum masuk ke pantai Selok Awar-Awar
Sawahsebelummasuk ke pantai Selok Awar-Awar

 

Ikuti terus cerita seru fun offroad di PantaiSelok Awa-Awar, Lumajang ini.

Ikuti terus ceritanya ya...
Ikuti terus ceritanya ya...

 

salam dari Bali

(c) dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalan ke Lumajang Jawa Timur, bag. 3


Ringkasan cerita yang lalu :

Kira-kira pukul pukul 23.00 waktu Jawa kami memasuki kota Jember. Kami terus berjalan sambil melihat-lihat berkeliling mencari tempat makan.

“Stop itu ada warung tenda ikan bakar.” Seru Gusmang. “Kita makan disana yuuk.” Katanya lagi.

Selanjutnya :

“Ayo,” kata Agung Wira dan segera memutar Trooper kami berbalik arah dan memarkir tepat disebelah warung tenda yang tampak bersih.

Gus Mang dan Agus Pendit

Kami melompat dari Trooper dan mencari tempat duduk.

“Ada apa saja bu.?” Tanya Pak Agus kepada ibu penjualnya.

“Ini ada ikan gurami, lelenya tinggal satu ekor dan ada ikan kenjer.”

“Ayam gorengnya habis pak.” Katanya.

“Ikan Kenjer itu seperti apa bu.” Saya bertanya kepada ibu penjual itu sambil celingak celinguk melihat penggorengan yang lagi mengepul dengan suara gemericik minyak panas didalamnya.

“Ini mas. Ikan Kenjer itu seperti ini.” Kata ibu penjual itu lagi.

Saya memperhatikan ikan kecil-kecil seperti teri, namun tidak kering seperti itu. Ikan kenjer ini sudah di setengah matang digoreng dengan tepung.

Saya mengambil sedikit dan menggigitnya dan bertanya.

“ Ini sudah dimasak ya bu.?” tanya saya lagi.

“Ini sudah digoreng setengah matang mas. Kalau mau saya goreng lagi biar matang.” Kata ibu penjual itu menjelaskan.

“Iya deh bu. Saya mau ikan kenjer satu porsi ya.” Kata saya sambil kembali duduk di kursi plastik di depan meja disebelah Gusmang.

“Guraminya dua ekor, lele satu terus ikan kenjernya satu porsi, nasi putih empat bu.” Pesan Agus Pendit memastikan pesanan kami.

“Minumnya apa pak..?” tanya ibu penjual itu.

”Saya teh panas manis satu, dua es jeruk, satu aqua tanggung.” Kata Gusmang menimpali.

Sambil menunggu makanan siap, kami masih membicarakan as panjang yang lepas di Rogojampi, sambil tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas kemurahan hatiNYA kepada kami sehingga kami bisa mendapat bantuan ditempat yang tepat dan orang yang tepat juga.

Coba kalau lepasnya di daerah yang tak berpenduduk, kami tentu tak akan bisa sampai di tujuan kami sesuai rencana.
Terima kasih Tuhan.

Dinner yang jadi supper di Kota Jember

Sambil makan, kami membicarakan rencana kami esok.

Agung Wira menjelaskan, bahwa teman-teman KTI Surabaya dan Lumajang Jeep Club akan mengajak kami ke trek pasir di pantai, namun sejauh ini Agung Wira tidak tahu nama pantai dan desa apa yang akan kami tuju besok.

Tak beberapa lama, makanan pesanan kami terhidang diatas meja. Ada 2 ekor gurami goreng yang cukup besar, ada 1 ekor lele goreng, ada tempe goring dan sambal ulek dengan lalapan.

Kami makan dengan lahap, karena memang kami sangat lapar, setelah menempuh perjalanan Denpasar – Jember sejauh 296 km.

Beberapa saat kemudian ikan kenjer pesanan kami juga terhidang di meja. Saya mengambilnya sedikit dan encicipinya.

“Wah enak juga nih.” Kata saya sambil mengambil ikan kenjer lagi.

Ikan kenjer ini rasanya seperti udang kecil-kecil yang di goring kering.

“Enak ya.” Kata Gusmang dan ikut mengambil ikan kenjer dan menyuapkan ke mulutnya, sambil manggut-manggut.

Nikmat rasanya makan yang kami akan di saat lapar.
Betul kata orang bijak, sesederhana apapun makanan yang kita makan, akan sangat nikmat jika kita makan di saat perut lapar.

Kmi menyantap semua makanan yang terhidang sampai tandas, dan begitupun minumannya kami minum sampai tandas juga.

Saya membuka HP dan melihat jam. Sudah jam 23.31.

Agus Pendit membayar makanankami dan kami bergeras naik ke Trooper kami kemudian meluncur meninggalkan kota Jember menuju Lumajang.

Segar rasanya badan dan fikiran kami setelah makan malam yang nikmat.

Saya menghidupkan radio komunikasi dan mencari fekwensi 147.760, dan mulai memanggil-manggil teman-teman KTI Surabaya, namun belum terdengar tanda-tanda ada teman-teman KTI Surabaya yang memonitor di frekwensi 146.760 Mhz.

Kami terus bergerak dengan kecepatan rata-rata 100 km perjam.

to be continued to part 2.

Ikuti terus laporan gperjakana tim KTI Bali ke Lumajang, jawa Timur.

Lanjutan sebelumnya.
Hi all of the da Troopermania and our loyal visitors wherever you are…

Saya kembali hadir di depan anda sekalian untuk melaporkan perjalanan tim KTI Bali ke Lumajang Jawa Timur untuk mengikuti survey trek yang akan dilakukan oleh KTI Surabaya dan Lumajang Jeep Club.

Seperti yang telah saya laporkan sebelumnya, bahwasanya kami sempat tertahan di Rogojampi karena mengalami lepas As panjang, dan setelah makan malam yang terlambat di Jember, kami meneruskan perjalan dengan driver tetap Agung Wira yang terus menggeber si Coklat dengan mesin 4JB1T. Kecepatan rata-rata 100 km perjam mengingat jalanan yang cukup sepi.

Begitu memasuki desa Tanggul saya kembali memanggil teman-teman KTI Surabaya lewat radio komunikasi pada frekwensi 146.760 Mhz. Namun belum juga terdengar tanda-tanda kehadiran mereka.
Agung Wira masih terus membejek pedal gas si Coklat sehingga kami serasa terbang saja diatas jalan.

Tiba-tiba kami mendengar sayup-sayup ada yang memanggil “KTI Bali ada monitor disini..” demikian terdengar di radio.

Saya segera mengambil mikrofon dan menjawab panggilan itu. “Disini tim KTI Bali sedang meluncur melintas di desa Tanggul apakah bisa didengar..?” kata saya.
“Roger… Bisa didengar walau mash sangat lemah pancarannya.” “Ini dengan siapa..?” terdengar suara diseberang sana. Saya tidak mampu untuk menduga siapa orang yang berbicara di radio itu. Kami terus meluncur menyusuri kali masih didesa Tanggul.

“Roger.. Ini dengan operator siapa ya…?” saya memasang telinga dan mendekatkan telinga ke radio di dashboard.

Namun suranya belum jelas juga.

“Mohon ma’af mas. Kami belum bisa mendengar dengan jelas pancaran anda.” Kata saya lagi.

“Disini Asep mas.” Terdengar suara di radio. Kali suaranya mulai lebih jelas.

“Kami sudah menunggu di alun-alun ditengah kota Lumajang.” Kami dengan tujuh Trooper, satu FJ Canvas sudah nongkrong di alun-alun mas.” Terdengar suaranya di radio lagi.

“Baik mas, terimakasih telah menunggu kami di alun-alun. Tapi kami masih di daerah Tanggul menyusuri kali menuju arah utara mas.” “Kira-kira berapa kilometer dari sini sampai di alun-alun mas.” Tanya saya kepada Pak Asep dari KTI Surabaya.

“Kurang lebih 40 km lagi.” Jawabnya. “Saya akan tuntun lewat radio ya, biar ngga nyasar.” Katanya lagi. “Jalan terus saja ikuti jalan utama, nanti ada pertigaan yang ditengahnya ada tugu, belok kiri.” Katanya lagi.

“Terimakasih mas Asep.” Saya meletakkan mikrofon di atas console box digital clock si Coklat.

Digital clock diconsole box telah menunjukkan pukul 01.30 WITA dini hari. Kami masih belum melihat pertigaan seperti yang disampaikan Pak Asep tadi.

“Mas Dewa monitor.” Terdengar suara pak Asep memanggil manggil.

“Masuk.. masuk mas. “ jawab saya.

“Kalau sudah ketemu pompa bensin di sebelah kiri, kurangi kecepatan karena beberapa meter lagi akan memasuki pertigaan.” “Dipertigaan itu ambil kiri.” Katanya lagi.” “Ikuti jalan utama sampai ketemu dengan pertigaan yang ada tugu dengan lampu hias yang berbentuk payung.” Ambil kearah kiri lagi.” Katanya lagi. “Kalu sudah memasuki jalan itu. Beberpa meter lagi akan memasuki jalan yang ke alun-alun kota.” Katanya lagi.

“Okey mas.” Jawab saya sambil tetap memegang mikrofon.

Beberapa saat kemudian kami melihat pertigaan pertama dan kami berbelok ke kiri kemudian mengikuti jalan dua jalur. Kami terus menyusuri jalan dan akhirnya melihat pertigaan dengan tugu dengan lampu hias yang berbentuk payung di tengah-ditengahnya. Kami berbelok kekiri lagi, dan terus mengikuti jalan utama.

“Hai itu mereka.” Kata Agung Wira sambil tetap mengendalikan kemudi dan mengurangi kecepatan, kemudian menepikan siTrooper ke pinggir jalan didekat trotoar lapangan. Saya sempat melirik digital clock di console box yang telah menunjukkan pukul 01.53 WITA atau pukul 00.53 waktu Jawa. Sudah menjelang pagi.

Ada satu, dua, tiga, empat, lima, enam, Trooper dan satu FJ Canvas Hijau yang diparkir berjejer, termasuk si Hijau DK999GN milik Agung Wira juga ikutan diparkir disana.
Kami segera turun dari Trooper dan menyalami teman-teman yang telah menunggu kedatangan kami sejak satu jam yang lalu.

Setelah bersalam-salaman kami segera naik ke Trooper masing-masing dan bergerak ke rumah Bapak Dr. Sumartono SpBd yang terletak tidak jauh dari alun-alun kota, di seberang Kantor Pemukiman dan Perumahan Kabupaten Lumajang.

Kami diarahkan masuk ke halaman Kantor Pemukiman dan Perumahan Kabupaen Lumajang. Ternyata disana sudah ada beberapa Trooper yang diparkir.

Kami turun dari Trooper Coklat kami dan diantar menyeberang jalan ke kediaman Dr.Sumartono SpBd. Belakangan saya baru tahu kalau Dr. Sumartono adalah anggota Lumajang Jeep Club dan Komunitas 4 X 4 Jawa Timur, Surabaya yang karena tugasnya sebagai Dokter Spesialis Bedah yang ditempatkan di Lumajang kemudian berdomisili di Lumajang, namun Dokter Sumartono wara wiri Surabaya – Lumajang.
Kami disambut oleh Dr.Sumartono dan anaknya serta dipersilahkan untuk makan yang terpaksa kami tolak karena kami baru saja makan satu jam yang lalu di Jember.

Malam itu kami menginap di rumah Dr. Sumartono SpBd, di kamar, dilantai dua bersama Mas Erik, Mas Wenda, mas Asep, Mas Andre dan beberapa teman dari KTI Surabaya yang telah tidur pulas.

Kami menurunkan kasur spring bed ke lantai, dan baru saja kami hendak tidur, ketika Pak Tonny dan Pak Sudirman dari KTI Surabaya masuk kekamar menyapa kami dan bersalam-salaman.
Akhirnya kami ngobrol panjang lebar sampai pukul 03.00 dinihari.

“Jam berapa masuk Lumajang mas Dewa.” .tanya Pak Tonny kepada saya.

“Tadi kami sampai di alun-alun jam satu kurang 7 menit mas.” Jawab saya.

“Mestinya bisa tiba lebih awal mas, kalau saja kami tidak mengalamai lepas As panjang sebelum Rogojampi.” “Tapi kami sangat beruntung berhenti persis didepan bengkel knalpot yang ada lubang untuk ngolong.” Saya jelaskan lebih detail.

“Sekarang bagaimana keadaannya ?” tanya PakTonny lagi.

“Iya semoga saja tidak ada masalah mas, tapi kata Mas Asep, Ko Jiang punya baut baja ya ?” “Saya minta tolong biar boleh kami minta untuk spare di jalan pulang ke Bali nanti mas.” “Semoga sih baut yang sekarang cukup kuat sampai di Bali.” “Nanti kami diganti di Bali saja,” jawab saya lagi.
‘Baik mas nanti saya minta sama mas Asep biar di kasi baut bajanya.” Kata Pak Tonny kemudian.

(bersambung )

Ikuti terus lanjutan cerita ini….

salam dari Bali

(c) dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan ke Lumajang Jawa Timur, bag. 2


Ringkasan cerita yang lalu :

Setelah terkatung-katung hampir 30 menit ditengah laut Selat Bali, akhirnya kami bersandar di Ketapang pada pukul 21.23 WITA di console box si Coklat.

Dinner yang terlambat di Kota Jember

Kami keluar dari perut ferry dan begitu menyentuh aspal diluar pelabuhan Agung Wira menginjak pedal gas dalam-dalam dan Trooper kami melesat kencang mengikuti jalan raya Ketapang – Banyuwangi lewat pantai selatan.

Ikutilah cerita selanjutnya :

Kami melintas dikota Banyuwangi yang mulai sepi pukul 21.57 WITA, mengingat kami mesti mengejar waktu agar tiba di Lumajang tidak terlalu larut malam, kami tidak sempat melihat-lihat kota Banyuwangi dengan legenda dan cerita tentang nama Banyuwangi, yang sempat saya tulis beberapa waktu yang lalu di website KTI Bali ini. (simak artikel “Let’s go Banyuwangi” di website ).

Jalanan aspal yang bergelombang membuat tubuh kami sedikit berguncang sementara suara desingan ban Simex menemani kami dengan setia…

Saya sempat agak was-was mengingat kami tidak membawa tool kit sama sekali, dan keberangkatan kami tanpa persiapan yang memadai. Saya berdoa agar kami mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sementara malam merayap dengan cepat dan jalanan yang kami lewati mulai sepi. Apa lagi masih dalam suasana puasa, membuat masyarakat enggan keluar setelah berbuka puasa. Kami terus melaju dengan kecepatan rata-rata 80 sampai 90 km perjam dan kadang-kadang kalau jalanan lurus Agung Wira menginjak pedal gas lebih dalam dan kami melaju kencang dengan kecepatan 130 km perjam.

Pukul 22.40 ketika melintas di daerah Genteng beberapa saat sebelum memasuki Rogojampi kami dikagetkan oleh suara-suara aneh dari bawah. Saya fikir itu adalah suara ban yang berbenturan dengan bebatuan karena jalanan memang bergelombang, baru saja saya akan berkomentar tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras…”Chroang…Chroang…klontang… Chroang dan kruang..kruang…..” seperti besi berputar yang bergesekan. Kami semua kaget dan terlonjak dari tempat duduk kami. Agung Wira segera menghentikan si Coklat keluar dari badan jalan aspal dan segera turun dari Trooper kami. “Waduh As Panjangnya lepas neh…” celetuk Agus Pendit.

Si Coklat 123 YA

Kami segera mengambil lampu yang sempat dibawa dan mengarahkannya kekolong mobil Namun karena posisi yang agak sulit untuk melihat, kami tidak bisa melihat apa sebenarnya yang terjadi dikolong sana.

Saya melihat berkeliling dalam kegelapan. Ternyata kami berhenti tepat di depan bengkel knalpot yang ada lubang untuk memasang knalpot dari bawah. Saya segera menyeberang dan masuk kepekarangan tukang knalpot itu. Rumahnya tampak gelap. Saya sempat membuka HP untuk melihat jam, karena saya tidak pernah mengenakan jam tangan. Pukul 22.53 waktu HP saya atau pukul 21.53 WIB. Sudah larut malam

Saya mengetuk pintu kayu dan mengucapkan salam. Saya tunggu beberapa saat. Dan kembali mengetuk pintu. Tetap tidak ada jawaban. Saya hampir saja berbalik ke seberang dimana Gusmang, Agung Wira dan Agus Pendit menunggu ketika terdengar suara laki-laki dibelakang saya. “Ada apa pak…..?.” Saya membalikkan badan dan berhadapan dengan seorang pria berperawakan sedang. “Mau minta tolong mas. Mobil kami ada gangguan di kolong. Yang tidak kami ketahui. “ jawab saya. Pria itu mengamati saya sejenak kemudian berkata, bisa dinaikkan kesini kendaraannya pak..?”.

“Iya mas.” jawab saya dan segera ke seberang jalan untuk memberi tahu Agung Wira agar si Trooper dinaikan ke atas lubang.

Agung Wira naik ke Trooper dan mencoba memundurkan si Trooper, namun ternyata si Trooper tidak bisa beranjak dari tempatnya. Wah bagaimana ini…? “Coba masukkan handle dan jalankan kedepan.” Kata Gusmang. Dan si Trooper bergerak maju. “ Berarti memang benar As panjang-nya lepas.” Kata Gusmang lagi. Akhirnya kami mendorong si Trooper mundur dulu untuk mencari posisi yang pas agar bisa naik ke lubang tempat bengkel ngolong.

Dengan usaha yang ekstra keras akhirnya kami berhasil menaikkan si Trooper ke atas lubang dan si pemilik bengkel turun ke lubang, diikuti oleh Agus Pendit untuk memeriksa apa yang terjadi pada As panjang Trooper kami.

“Baut As panjangnya tinggal satu pak. Ada 4 baut. Jadi yang hilang ada 3 baut.” kata pemilik bengkel dari kolong mobil. Agus Pendit turun memeriksa As panjang dan berkata “As-nya tidak apa-apa.” katanya.

“Punya bautnya mas…?” tanya Gusmang kepada pemilik bengkel itu.

“Coba saya cari dulu pak.” “Pakainya baut 12. mudah-mudahan saya punya.” katanya lagi sambil berlalu masuk ke dalam.”

Beberapa saat pria itu keluar membawa beberapa buah baut dan masuk kekolong mobil.

Agus Pendit turut ngolong dan melihat kondisi as panjang si Cokat. Saya berjongkok disisi sebelah kiri Trooper dan memegangi lampu untuk menerangi as panjang yang sedang dikerjakan..

“Wah bautnya kebesaran” seru pemilik bengkel sambil keluar dari kolong dan masuk kedalam ruangan.

Beberapa saat kemudian dia keluar lagi dari ruangannya dan kembali membawa beberapa buah baut lagi.

“Bautnya bisa cocok mas…?” Tanya Agung Wira yang tampaknya sudah ngga sabar menunggu kepastian. Kami semua berdoa dalam hati agar masalah ini dapat ditangani setidaknya kami bisa sampai di Lumajang.

“Bisa masuk mas, tapi ini baut biasa bukan baut baja.” Katanya lagi.

Saya tanya Agus Pendit, apakah baut itu kuat sampai di Lumajang. “Oh kuat kok. Tambahin ring per juga mas ya, biar lebih nekan.” Kata Agus Pendit kepada pemilik bengkel.

“Baik pak.” Ini sudah terpasang satu.” Coba tolong mobilnya di dorong ke depan biar posisi lubang bautnya pas.” katanya lagi.

Kami mendorong mobil maju mundur, sampai lubang bautnya pas. Dan beberapa saat kemudian, keempat baut sudah terpasang dengan baik pada posisinya.

“Sudah semua baut dikencangkan mas.?” Saya tanya ke pemilik bengkel itu.

“Sekalian deh diperiksa semua baut-baut as panjang-nya mas.” kata Agus Pendit dan Gusmang berbarengan.

“Sudah pak.” “Semua sudah saya periksa dan semuanya sudah kencang.” katanya lagi sambil keluar dari kolong mobil.

Saya bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena masalah As panjang ini cepat bisa diselesaikan, sehingga kami bisa melanjutkan perjalananan yang tertunda tadi.

Saya melihat jam di HP sambil menggumam. Sudah jam 10.23 menit waktu Jawa.

Agung Wira mengontak Ko Jiang yang ternyata juga dalam perjalanan menuju Lumajang. Saat dikontak rombongan KTI Surabaya yang bergerak dengan 7 Trooper sedang melintas di kemacetan daerah Porong, Sidoarjo.

“Mas kalau ke Lumajang dari sini kira-kira berapa jam?.” Tanya Agus Pendit kepada pemilik bengkel itu.

“Oh ngga jauh kok pak. Kira-kira 90 kiloan, ya sekitar 2 sampai 3 jam dari sini.” katanya lagi.

“Oh iya. Kita bisa cepat nyampai neh kata Agung Wira bersemangat.” “Jam 1 nyampai ya.” Katanya lagi.

Gusmang segera mengeluarkan dompet dan memberikan selembar lima puluh ribuan kepada pemilik bengkel. Berapa mas.?” tanyanya. “

“Sebentar pak saya ambil kembalian dulu.” “Ini kebanyakan.” Katanya.

“Sudah biarin aja mas. Ambil saja kembaliannnya. Yang penting ngga kurang kan…? Godanya pada pemilik bengkel itu. Ah dasar Gusmang suka becanda.

Setelah mencuci tangan kami yang kotor, kami semua melompat naik ke Trooper dan bergerak ke arah barat menuju Lumajang.

“Yakin bautnya kuat neh.” Tanya Agung Wira sambil mengendalikan si Coklat.

“Oh yakin.” Kuat kok. Saya pernah mengalami hal yang sama persis. Bautnya kuat kok.” jawab Agus Pendit sambil menyandarkan kepala di head rest jok tengah.

Agung Wira segera mempercepat laju kendaraan, dan sebentar saja dia sudah lupa akan hal yang baru saja kami alami di Rogojampi itu dan membejek gas lebih dalam lagi sehingga si Coklat kesayangan Gusmang ini menedesing dan melaju lebih kencang lagi.

Pak Tonny dari KTI Surabaya sms ke saya, menanyakan posisi kami, saya sampaikan bahwa kami sudah bergerak dengan kecepatan rata-rata 90 km per jam dan akan memasuki daerah Jember.

Hari semakin larut. Jalanan semakin sepi, sekali-sekali kami berpapasan dengan truk yang sarat beban sehingga tidak bisa bergerak dengan cepat.

Saya memindahkan frekwensi radio Icom IC 228H di dashboard ke frekwensi KTI yaitu 146.760 Mhz sambil memanggil manggil; “ KTI Surabaya apakah ada yang monitor disini.?” Tidak ada jawaban. Saya buka squelch dan hanya terdengar suara desisan keras dari speaker radio.

“Oh berarti kita masih jauh dengan teman-teman KTI Surabaya.” Saya menjelaskan kepada semua yang ada di Trooper.

Si Coklat terus meluncur kencang menuju arah barat dengan kecepatan rata-rata 90 km perjam.

Tiba-tiba HP saya berbunyi. Ternyata dari Mas Asep KTI Surabaya. Yang memberi tahukan bahwa kami akan ditunggu di alun-alun kota Lumajang di tengah kota.

Kami terus meluncur dikegelapan malam. Kota Kalibaru telah kami lewati dengan cepat,

“Kita makan dimana neh.? Tanya Gusmang yang tampaknya sudah mulai kelaparan.

“Kita jalan terus saja yuuk, nanti sambil jalan kita lihat lihat tempat makan.” Kata Agus Pendit lagi.

Kira-kira pukul pukul 23.00 waktu Jawa kami memasuki kota Jember. Kami terus berjalan sambil melihat-lihat berkeliling mencari tempat makan.

“Stop itu ada warung tenda ikan bakar.” Seru Gusmang. “Kita makan disana yuuk.” Katanya lagi.

(bersambung)

Ikuti cerita ini seterusnya..

salam dari Bali

(c) dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

da Trooper Bali