(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta. bag. 2


Ringkasan cerita yang lalu :

Beberapa saat Pak Ketut Sugiata, Pak Wiranto dan Pak Wayan Murya melintas didepan saya, disusul oleh, Agung Wiratama, Agus Mahendra Pendit, dan terakhir IB. Budi. Tenyata Pak Yudi tidak ada dalam rombongan. Hal ini sedikit mengganggu fikiran saya, sebaba bagaimanapun juga sebagai ketua KTI Bali saya merasa bertanggung jawab secara moral jika ada hal-ha yang terjadi yang menimpa salah satu anggota KTI Bali yang berangkat ke Yogya ini. Saya coba kontak ke teman-teman yang lain dan mendapat info bahwa Pak Yudi dan keluarganya telah brangkat mendahului rombongan untuk mencari saya untuk mengambil antenna Larsen yang saya siapkan untuk radionya. Namun setelah saya panggil-panggil di radio, tidak juga menjawab. Kekhawatiran semakin menjadi-jadidalam diri saya, namuntidak saya ungkapkan kepada teman-teman yang lain, khawatir akan mengganggu fikiran teman-teman yang lain, sehingga saya memutuskan untuk menunggu barangkali akan menunggu di tempat lain, atau mungkin juga mendahului dan menunggu dipelabuhan Gilimanuk.

Pukul 14.25 WITA kami sudah bergerak kearah barat menuju pelabuhan Gilimanuk kurang lebih 99 km kearah barat kota Tabanan. Jika perjalanan lancar menurut estimasi, kami akan tiba di pelabuhan Gilimanuk kurang lebih pukul 16.45 WITA.

Cuaca tampak cerah seolah merestui perjalanan panjang kami,  sinar matahari bersinar terang. Kami semua sangat gembira bisa berangkat sesuai dengan rencana. Sepanjang perjalanan kami senantiasa saling berkomunikasi untuk mengetahui kondisi dari masing-masing Trooper kami beserta awak kabin yang turut serta. Sejauh ini perjalanan cukup lancar dan tidak ada hambatan yang berarti. Kami melaju dengan kecepatan rata-rata 80 ke 90 km perjam dengan tetap menjaga ketertiban dan keamanan diri sendiri dan orang lain  dengan selalu mamatuhi rambu-rambu lalu lintas. Ini penting untuk memberi contoh kepada para anggota dan juga pengguna jalan lain untuk selalu menjaga keamanan diri dan orang lain selama kita berkendara.

Pukul 15.45 WITA kami tiba di Pura Rambut Siwi, Jemberana dan mengadakan persembahyangan memohon keselamatan agar kami senantiasa dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi selama perjalan kami ke Yogya hingga kembali pulang ke Bali.

Pura Rambut Siwi ini adalah salah satu pura tertua di Bali, di percayai lebih tua dari Pura terbesar di Bali yaitu Pura Besakih. Rambut Siwi adalah tempat pertama kalinya Dang Hyang Nirartha menginjakkan kaki di tanah Bali. Pura Rambut SIwi ini adalah  peninggalan Dang Hyang Nirartha atau yang sering disebut Pedanda Sakti Wawu Rauh. Beliau inilah yang menyebarkan agama hindu dari Jawa ke Bali. Konon menurut cerita sastra kuno, kurang lebih pada tahun 1821 Sebelum Masehi pada saat masa keemasan Kerajaan Medang Kemulan beliau menyeberangi selat Bali dengan mengendarai pelepah daun kelapa, dan karena ombak yang sangat besar beliau mampir di Rambut Siwi ini dan mengajarkan ajaran Hindu kepada masyarakat setempat yang saat itu masih menganut faham animisme ataupun menyembah berhala.

Selepas mengajarkan agama Hindu dan tata cara bercocok tanam Dang Hyang Nirartha hendak meneruskan perjalanan menyusuri pantai selatan Pulau Bali, namun masyarakat memohon kepada beliau untuk tinggal. Untuk memenuhi harapan masyarakat, maka beliau memotong beberapa helai rambutnya dan meninggalkannya di sebuah batu yang kemudian oleh penduduk setempat dibuatkan monument atau yang biasa disebut pelinggih, dan akhirnya untuk selalu mengenang kehadiran Dang Hyang Nirartha di Jemberana, nama pelinggih itu diberi nama Rambut Siwi dan akhirnya sampai dengan saat ini menjadi salah satu pura sad kahyangan yang disungsung oleh umat Hindu se Bali. Demikian sekilas mengenai Pura Rambut Siwi,Jembrana.

Beberapa angota KTI tampak minum dan ada beberapa yang makan di warung di seberang pura, sambil menunggu anggota lain yang masih bersembahyang.

Seperti yang telah direncanakan, ternyata tepat pukul 16.55 WITA kami sudah memasuki parkir pelabuhan Gilimanuk. Dan sayup sayup terdengar Pak Yudi memanggil rombongan kami dan menginformasikan bahwa dia dan keluarga telah menunggu di parkir pelabuhan sejak pukul 16.00 WITA. Berarti 1 jam lebih awal dari kami.

Setelah membeli tiket penyeberangan seharga Rp.80.000,- permobil, kami bersiap masuk ke perut ferry untuk menyeberang ke pelabuhan Ketapang. Semua awak Trooper turun dan naik ke deck atas Ferry untuk menunggu tiba di seberang. Ombak tampak tidak terlalu besar sehingga saya fikir akan lebih cepat merapat ke pelabuhan Ketapang.

Pukul 17.33 WITA ferry sudah  membuang sauh dan bergerak menuju pelabuhan Ketapang. Menurut informasi sebelumnya penyeberangan Gilimanuk – Ketapang membutuhkan waktu kurang lebih 30 – 45 menit. Jadi estimasi tiba di Ketapang kurang lebih pukul 18.03 WITA. Namun tidak sampai 25 menit ternyata kami telah tiba di Ketapang. Penyeberangan yang sangat cepat menurut saya.

Setelah keluar dari ferry kami semua kembali line up untuk berkonvoi kearah utara menyusuri pantai utara menuju ke Gunung Bromo. Waktu telah menunjukkan pukul 20.35 WITA atau 19.35 WIB. Waktunya untuk makan malam.

Setelah berkoordinasi akhirnya kami makan malam dengan menu nasi rawon di warung Bu Harti beberapa kilo meter sebelum Bajulmati.

Kami makan dengan sangat cepat karena harus mengejar waktu agar bisa tiba di penginapan Sukapura, Bromo tidak terlalu arut malam.

Selesai makan malam, kami segera berangkat, kali ini kami tidak akan berhenti kecuali mengisi bahan bakar si Trooper. Kami melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km perjam mengingat jalanan yang mulai agak ramai oleh bus malam dan truk dengan trailer. Digital clock di console box perseneleng Trooper kami menunjuk ke angka 08.45 WITA karena sejak dari Bali kami tidak menyesuaikan jam di Tooper kami ke waktu Indonesia Barat atau WIB.

Kami berhenti di Bondowoso untuk mengisi bahan bakar. Hampir semua Trooper kecuali Pak Yudi dan Pak Wayan Murya yang tidak mengisi bahan bakar. Setelah selesai mengisi bahan bakar, kami bergerak lagi dengan Pak Wiranto sebagai ujung tombak, karena beliaulah yang hafal jalan dan sejak awal rapat persiapan keberangkatan ke TIG VII dan diskusi di Bali ditunjuk sebagai Tour Leader KTI Bali ke TIG VII Yogya ini.

Kami terus bergerak kearah barat mengikuti Pak Wiranto kearah Pasuruan dan berbelok kearah Gunung Bromo. Saya melirik trip meter yang telah menunjukkan angka 367 km. Berarti kami telah menempuh perjalanan sejauh 367 km meter dari Denpasar. Sambil berkoordinasi via radio komunikasi saya tanya Pak Wiranto kira-kira kita sampai pukul berapa. Estimasi beliau kemungkinan kami akan tiba di Penginapan Sukapura tempat kami menginap menjelang dini hari.

Awak kabin sudah sepi tidak banyak yang bercakap-cakap, karena sebagian besar dari mereka telah tertidur. TInggal para driver yang saling berkoordinasi  menginformasikan kondisi jalan dan keadaan sekitar.

Pukul 00.54 WITA kami memasuki desa Sukapura dan berhenti di SPBU Sukapura untuk mengisi bahan bakar mengingat setelah SPBU ini pak Wiranto sebagai Tour Leader tidak tahu persis dimana SPBU terdekat. Karena itu belia nmenyarankan mengisi full tangki Trooper kami sebelum memasuki Hotel Sukapura.  Setelah semua Trooper mengisi bahan bakar, kami bergerak ke Hotel Sukapura yang hanya beberapa ratus meter dari SPBU Sukapura.

Kami tiba dihotel Sukapura pukul 01.20 WITA.  Alti meter di Trooper yang menunjukkan ketinggian desa Sukapura berada pada 1.450 meter diatas permukaan laut. Tidak heran udara sangat dingin. Kurang lebih 16 derajat Celcius. Hal ini membuat kami segera mengambil jakcket mauopun sweater untuk menjaga badan kami tetap hangat.   Tour Leader kami Pak Wiranto segera ke Lobby untuk registrasi dan mengambil kunci kamar.

Saya melihat-lihat ke sekeliling hotel. Hotel Sukapura ini mempunyai 40 kamar dengan bangunan berlantai 2. Dengan membayar Rp.125.000,- kita dapat menginap semalam lengkap dengan makan pagi berupa nasi goreng untuk dua orang.

Setelah menurunkan barang seperlunya, kami segera masuk kamar untuk beristirahat. Sementara waktu telah menunjukkan pukul 01.55 WITA atau 00.55 WIB. Dan semua Trooperist dan keluargaya masing-masing masuk kamar untuk berisitrahat untuk menjaga stamina dalam menempuh perjalanan panjang esok hari.

Esok hari kami berencana mengexplore Gunung Bromo dan lautan pasirnya……

Dewa-Juli/07

DK999YQ

Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s