(Reposted) Adventure ke Sulamade dan Merubetiri. bag. 1


Dear KTI friends and all of our loyal visitors…

Saya kembali mengunjungi sobat semua untuk berbagi cerita mengenai perjalanan kami ke Merubetiri, Sukamade. Pada tanggal 7 sampai dengan 9 March 2009 yang baru lalu. Tour yang diberi title Sukamade 4×4 Adventure 2009 ini digelar oleh rekan-rekan kita dari Komunitas Trooper Indonesia Jember ini bertujuan untuk memberi pengalaman unik dan juga sekaligus berwisata ke Sukamade dimana kita bisa menyaksikan secara langsung penyu-penyu yang bertelur dan turut serta mengadakan pelepasan tukik (anak penyu yang baru berusia 2 sampai5 hari) ke laut di pantai Merubetiri untuk menjaga dan melestarikan penyu di tanah air kita tercinta ini. Tour adventure ke Sukamade ini juga merupakan undangan ayng pernah dilontarkan oleh mas Iwan dariKTI Jember saat beliau datang ke Bali dalam rangka HUT KTI Bali yang ke 3 yang kami laksanakan di Bali Outbound Farmstay, Baturiti. Tabanan, Bali.

Ikutilah cerita selengkapnya berikut ini…..

Sebenarnya undangan dari teman-teman kita KTI Jember agak mendadak. Saya menerima sms dari bli Boncel yang sedang dalam perjalanan pulang dari TIAOR III kemarin. Walau agak mendadak saya memang sejak lama sudah berencana dan mempunyai obsesi tersendiri untuk mengunjungi Merubetiri ini.

Hmmmm… Merubetiri dan Sukamade sudah sering saya dengar dan sering juga saya baca artikelnya di hampir setiap edisi Bali & Beyond magazine yang kebetulan saya sempat baca hampir setiap edisinya di kantor.

Begitulah, begitu ada udnangan dari Mas Iwan Sentahi dariKTI Jember, saya mulai menyiapkan segala sesuatunya, dan saya menyampaikan undangan ini kepada teman-teman KTI Bali lainya.

Akhirnya terdaftar 4 kendaraan yang akan ikut dalam tour ini yakni, saya  dan keluarga dengan Trooper Hitam, Bli Bncel dankeluarga dengan Sallion 4 X 4 nya, Pak Wiranto dengan Trooper muka Cherokee-nya dan Pak Agus Pendit dengan KIA Truk 4 X 4 nya army look-nya.

Kami berangkat dari Denpasar secara sporadis, karena masing-masing masih mempunyai kesibukan yang mesti dikerjakan dan berjanji akan ketemu di Bajra, sekitar 60 km arah barat Denpasar di jalan raya Denpasar – Gilimanuk. Kami berangkat sekitar pukul 16.00 WITA.

Saya sendiri berangkat lebih awal dari rumah. Berangkat pukul 16.10 WITA dari rumah menuju kampong halaman di desa Sam Sam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan untuk melihat tukang yang sedang mengerjakan proyek rumah still Bali untuk rumah tinggal kami saat hari tua nanti. Dijalan Pak Agus Pendit sempat menelpon saya dan menanyakan posisi saya. Dan saya jelaskan kalau saya sudah berangkat dan berjanji untuk menunggu Pak Agus di perempatan dijalan utama untuk berkonvoi ke Bajra dimana kami akan menunggu Bli Boncel dan Pak Wiranto untuk selanjutnya berkonvoi ke Gilimanuk.

Pukul 16.21 WITA saya sudah tiba diproyek di kampong halaman dan meninjau pondasi rumah yang seang dikerjakan. Proyek rumah tinggal yang sedang saya bangun ini berlokasi sekitar 300 meter dari jalan raya utama Denpasar – Gilimanuk di lahan seluas 1.200 meter persegi. Saat ini sedang mengerjakan pondasi rumahnya.  Rencananya akan ada 4 bangunan yang terpisah. Satu bangunan di sisi utara yang disebut balai Bandung yang berukuran 8 X 9 meter yang biasanya dipakai untuk “mebaosan” membicarakan segala sesuatu urusan adat. Balai Bandung ini hanya mempunyai 1 kamar tidur dan satu ruang bebas di depannya, sementara di depannya adalah teras yang cukup luas umumnya berukuran 3 X 8 meter persegi dengan tiang dan kuda-kuda atau orang Bali menyebutnya “Mayong” yang diukir dengan ukliran halus timbul bermotif dedaunan dan bunga-bunga yang kami sebut “bun-bunan” dan biasanya di lapisi dengan cat warna emas yang disebut “Prada” dengan kombinasi cat warna merah. Balai Bandung mempunyai tinggi lantai paling tinggi diantara semua bangunan yang ada. Idealnya lantai Balai Bandung adalah setinggi  120 centimeter dari halaman dengan anak tangga sebanyak 3, 5 atau 7 anak tangga tergantung tinggi yang lantai bangunan.

Semetara ditengah halaman akan dibangun “Balai Astapeta” adalah balai Bali yang mempunyai tiang penyangga sebanyak 8 tiang dan satu “Taban” atau tempat tidur yang juga di ukir halus dengan ukiran motif dedaunan dan bunga “bub-bunan”. Balai ini biasanya dipakai untuk tempat mengatur sesajen disaat hari raya besar Hindu seperti Galungan, Kuninan Nyepi dan upacara manusa yadnya lainnya seperti, upacara akil balik anak-anak dan lain sebagainya. Tinggi lantai balai “Asta peta” ini biasanya mulai100 centimeter sampai 120 centimeter disesuaikan dengan tinggi bali Bandung dan balai lainnya.

Sementara di sisi timur adalah bangunan rumah tempat tinggal yang umumnya ditempati oleh anak-anak dan keluarga yang baru dibentuk.

Disebelah sisi selatan adalah dapur bebas dan bangunan yang paling dekat dengan pintu gerbang dan “Kuri Agung” adalah bangunan yang dipakai untuk Garase dengan luas 10 X 5 meter degnan atap setinggi 3.5 meter. Ini saya rancang untuk mampu menerima Jeep yang tingginya sampai 3 meter. He he hehe.. Maklum masih senang melihat jip yang tinggi.

Sementara di pojok timur laut adalah “Pemerajan” atau Pura pribadi untuk keluarga saya pribadi.

Dan di belakang Balai Bali yang diebut Bale “Astapeta” rencananya akan didirikan lumbung padi sebagai simbol kemakmuran, tentu dengan harapan keluarga kami bisa memperoleh kemakmuran. Bale Astapeta adalah Bale Bali untuk mengadakan upacara “Manusa yadnya” bagi umat Hindu mulai dari siraman sejak ibu mengandung janin yang sudah berumur 7 bulan kandungan, Upacara mepetik, atau upacara 100 hari setelah kelahiran bayi yang kami sebut “Telu bulanan” adalah upacara 105 hari setelaha sang bayi lahir, kemudian upacara akil balik anak yang dari kanak-kanak menjadi remaja, upacara potong gigi atau metatah, pernikahan anak dan sebagainya yang merupakan yadnya untuk umat Hindu. “Manusa  Yadnya” adalah korban suci untuk manusia Hindu.

Begitulah sekilas proyek yang sedang saya kerjakan di kampung halaman untuk ahri tua kami kelak. He he he he.

Alright, back to the topic our Adventure Tour to Sukamade. Pukul 17.37 WITA pak Agus Pendit  menelepon saya dan memberi tahu bahwa beliau sudah sampai di By pass Kediri yang hanya 2 kilometer dari proyek rumah saya.

Karenanya, saya segera meninggalkan lokasi proyek dan menunggu di jalan utama. Hanya beberapa menit menunggu tampak KIA Army look meluncur dari arah timur dan menepi tepat didepan saya. Dari radio komunikasi yang telah kami sepakati frekwensinya di143.000 Mhz saya persilahkan Pak Agus Pendit untuk segera bergerak dan kami akan menunggu Bli Boncel dan Pak Wiranto di Bajra. Hari sudah menjelang magrib ketika kami memasuki daerah Meliling, sekitar 8 kilomeer dari kota Tabanan yang terkenal dengan tikungan tajam dengan tebing dan jurang dikiri kanannya. Tak heran di daerah ini sering terjadi kecelakaan fatal.

Entah berapa truk dan tronton yang memuat semen, keramik, kayu, truk kargo dan  truk yang mengirim mie instant yang terbalik atau menabrak tebing di daerah ini.  Kecelakaan fatal seperti itu terjadi lebih sering karena kesalahan pengemudinya yang memuat barang melebihi kapasitas angkut truknya. Coba saja kita perhatikan di jalur ini, truk memuat barang melebihi tinggi bak pengangkutnya, semakin bertambah berbahaya jika kita mengikuti dibelakangnya, mengingat truk–truk itu juga sudah berumur dan kemampuan mesin yang tidak memadai, membuatny abersusah payah saat menanjak ditikungan tajam dengan tebing atau jurang disisinya. Dan terjadilah kecelakaan fatal. Hampir setiap minggu ada saja truk yang terbalik di sepanjang jalur ini.

Namun kami beruntung tidak berpapasan dengan truk-truk yang seperti itu disepanjang jalur ini. Dan kami terus melaju dengan kecepatan sedang sambil sesekali berkomunikasi dengan pak Agus Pendit untuk menghilangkan kejenuhan.

Akhirnya pukul 18.09 WITA kami tiba di Bajra dan berhenti di depan warung kecil untuk menunggu Bli Boncel dan Pak Wiranto.

Setelah menunggu kurang lebih 20 menit tampak Pak Wiranto dengan Trooper Kuningnya mendekat dan menepi dan berhenti tepat dibelakang Trooper Hitam saya.  Pak Wiranto dan anaknya Ican turun dan mendatangi kami yang tengah duduk di warung dan bergabung bersama kami. Semenara kami masih mesti menunggu Bli Boncel yang ternyata ketinggalan tas pinggang yang berisi semua dokumen-dokumen penting yang mesti dibawanya, sehingga mesti kembali kerumah, padahal dia sudah lumayan jauh dari rumahnya, jadilah keberangkatan kami agak molor dari waktu yang di sepakati.

(bersambung)

Ikuti terus cerita perjalanan ke Sukamade dan Merubetiri ini..

salam dari Bali

dewa

DK999YQ

Silent-H-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s