(Repost) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Jawa Timur. bag. 5


Ringkasan cerita yang lalu :

Wilayah Kabupaten Bondowoso merupakan daerah dengan luas yang mencapai 1.560,10 km2, yang secara administratif terdiri dari 20 kecamatan,185 desa, dan 10 kelurahan.

Sekilas sejarah tentang Kabupaten Bondowoso.

Berawal dari nama dari Demang Walikromo yang bernama bernama Raden Bagus Assra. pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu dari Raden Tjakraningrat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo  adalah putra dari Raden Adikoro IV.

Pada tahun 1743 terjadi pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak darisalah seorang selir. Pertempuranpun terjadi di desa Bulangan dan  menewaskan Raden Adikoro IV, Tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap.

 Setelah pertempuran selesai dilakukan  pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak dari Raden Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Namun tak beberapa lama kemudian kembali terjadi perebutan kekuasaan.  

Dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya dan menyingkir dengan diam-diam mengikuti perpindahan besar-besaran bekas pengikut Adikoro IV ke Besuki.

Semetara itu Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di sembunyikan dan dididik ilmu bela diri dan ilmu agama. Pada usia yang ke 17 tahun Assra  diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 dan ditugaskan untuk memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan. Pada tahun tu juga Assra telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo.

Pada tahun 1794 dalam usahanya  memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis yang kemudian  disebut Bondowoso. Dan dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan natas jasanya itu dia diangkat menjadi penguasa di Bondowoso dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno.

Begitulah, dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada bulan Agustus 1819 atau hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo sebagai orang kuat yang diangkat dan mendapat kepercayaan Gubernur Hindia Belanda, untuk memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Raden Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai dengan penyerahan Tombak Tunggul Wulung. .Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember. Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.

 Begitulah sedikit cerita mengenai Kabupaten Bondowoso.

 Kami masih terus bergerak untuk menuju Probolinggo. Sambil menunggu kabar dari pak Wiranto dan Pak Frans yang berjanji akan ketemuan di kota Bondowoso untuk bersama-sama ke Probolinggo.

 “Pak Wiranto monitor Pak.?” terdengar Pak Ketut Boncel memanggil di radio.

 “Dimana rencananya Pak Wiranto dan Pak Frans menunggu Pak Tut..?” tanya saya di radio.

 “Katanya sih di jalur ini Pak.” Jawab Bli Boncel. “Tapi kok ngga nyahut ya.”  Katanya lagi.

“Pak Dewa monitor Pak.” Terdengar Pak Yudi memanggil saya di radio.

 “Masuk pak Yudi.” jawab saya.

“Pak nanti di pertigaan itu lurus aja pak, biar lebih cepat keluar kota arah ke Probolinggo. “Saya sudah bersama Pak Wiranto dan Pak Frans neh.” katanya lagi.

 “Okey Pak.” Jawab saya, sambil terus maju.

Namun saya tertahan oleh kemacetan. Rupanya sedang ada  karnaval disini. Saya tertahan cukup lama sehingga akhirnya tertinggal oleh Pak Yudi. Dibelakang saya masih ada Pak Ketut Uban, Pak Yande, Agung Wira dan Bli Boncel.

“Kita belok kiri saja Pak Dewa.” Kata Bli Boncel.

“Wah saya tidak hafal jalannya Pak Tut.” kata saya. “Silahkan Bli Boncel saja yang didepan ya.” Kata saya lagi sambil mengurangi kecepatan dan memberi kesempatan keopada Bli Boncel untuk mendahului.

“Okey.” Saya di depan.” “Kita lurus saja disini mengikuti jalan utama, nanti kita akan turun kebawah menuju jalur utama Probolinggo.” katanya lagi.

Hujan deras tiba-tiba turun, membuat jalanan agak licin dan pandang mata kedepanpun jadi terbatas. Jalan semakin menurun dan banyak tikungan tajam yang menghadang.

Matahari tertutup oleh mendung yang menggantung membuat gelap dan muram pemandangan di depan. Padahal masih cukup siang. Jam digital diconsole box menunjukkan pukul 11.17 WITA atau pukul 10.17 waktu setempat.

Trooper Hijau Agung Wira mogok di puncak.

Kami masih terus bergerak dijalanan yang terus menurun menuju jalur utara kearah Probolinggo, sementara hujan mulai mereda.  Nun jauh di bawah sana tampak jalan utama menuju Probolinggo.  Ternyata di sana tidak ada hujan, malah matahari besinar cukup terik.

Kami terus bergerak kearah bawah dan setelah memasuki tikungan “S” yang agak panjang, akhirnya kami tiba di bawah namun Pak Yudi dan Pak Wiranto sudah taktampak lagi oleh kami.

Karena itu akhirnya kami terus saja bergerak menuju terminal Probolinggo yang  tak begitu jauh lagi.

Tiba-tiba hand phone saya berbunyi yang ternyata dari Mas Echa yang menanyakan posisi kami.  Saya sampaikan bahwa kami sudah mendekat ke terminal Probolinggo dan sebentar lagi akan berbelok untuk memasuki terminal.

Dan beberpa saat kemudian kami telah tiba di depan terminal dan mencari tempat parkir yang nyaman agar tidak kepanasan. Matahari masih memancarkan sinar teriknya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 14.54 WITA atau pukul 13.54 WIB.

Tampak banyak Trooper dari beberapa chapter yang telah berkumpul diparkiran Terminal Probolinggo ini. Saya segera turun setelah mematikan mesin dan mencabut kunci kontak.

“Hi Dewa” terdengar ada yang memanggil saya.

Ketika menoleh kearah suara, tampak mas Echa datang menghampiri.

Saya segera menyongsong dan kamipun bersalaman.

“Kapan sampai mas..?” tanya saya.

“Baru saja. Ada 30 menit yang lalu.” Katanya.

“Babe ngga ikut..? tanya saya lagi.

“Babe nyusul nanti belakangan,langsung naik keatas.” Katanya lagi.

“Sebagian teman-teman yang lain sudah berangkat ke CR lo.” Katanya lagi menjelaskan.“Teman-teman Balimau masuk CR juga…? Tanyanya lagi.

“Kayanya ngga deh mas.”  “Teman-teman kecapaian. Terutama anak-anak. Mungkin kita mau istirahat sejenak dulu disini mas. Tadi sih rencananya mau ke rumah Pak Irwan teman KTI Bali yang sekarang pindah disini Karena istrinya pindah tugas.”  “Cuma kami mesti berkumpul dulu ya.” kata saya lagi.

“Iya sudah. Gua ikut teman-teman Bali aja deh.”  “Cuma mesti nunggu Ryco dulu. Tadi sih dia bilang sudah dekat pintu masuk kabupaten.” katanya lagi.

“Okey mas Echa. Kita tunggu mas Ryco ya.” Kata saya kemudian.

“Saya mau nemuin teman-teman dari Blitar, Surabaya dan Yogya sebelum mereka masuk trek hutan ya.” kata saya lagi.

“Okey. Monggo bli.” Jawab mas Echa.

Saya segera beringsut ke rombongan Trooper yang sedang line up menunggu waktu pemberangkatan ke trek.

“Halo bli Dewa..!”  mas Ervan menyalami saya ketika sudah dekat Trooper warna sand white denga strip American look yang dibawanya.

“Apa kabar bli..? “ “Kapan berangkat dari Bali…? tanyanya beruntun sambil menyalami saya.

“Kami berangkat hari Minggu tanggal 28 Desember kemarin mas.” Jawab saya.

“Bagaimana perjalanan..? Aman… ? Ngga ada hambatan ‘kan…? Tanyanya lagi.

“Iya. Alhamdulilah. Aman mas. Semuanya lancar-lancar.  Jawab saya lagi.

Saya menyalami satu demi satu teman-teman dari chapter lainnya yang masih menunggu giliran keberangktan masuk trek, namun hanya sebagian saja yang sempat bertemu karena sebagian besar telah berangkat masuk trek yang kabarnya akan memakan waktu sekitar 5 jam untuk sampai ke Lava View.

Beberapa saat kemudian tampak mas Ryco dengan Nissan X-Trail hitamnya masuk ke parkir terminal dimana kami masih menunggu.Pak Irwan menelpon saya dan menanyakan posisi saya. Ditelepon, Pak Irwanmemberi tahu saya bahwa Pak Yudi akan menjemput ke terminal untuk mampir ke rumah Pak Irwan yang tak seberapa jauh dari terminal.

Setelah semua teman-teman Trooper berangkat ke trek, kami juga beranjak meninggalkan terminal dituntun oleh Pak Yudi menuju rumah Pak Irwan.

Saya mendampingi mas Echa di Big Hornnya sementara si Hitam dikemudikan oleh anak lelaki saya Yoga. Disusul oleh Bli Ketut Boncel, Pak Ketut Uban dan Pak Frans Yeni.

Hanya 10 menit dari terminal kami sudah tiba di rumah Pak Irwan.  Tampak Pak Wiranto, Agung Wira dan Gusmang sudah tiba terlebih dahulu disana. Kami disambut oleh Pak Irwan istri dan anaknya.

Setelah bersalam-salaman kami duduk dan saling berbagi cerita mengenai perjalanan kami dan rencana kami untuk bermalam di Sukapura Inn nanti malam.

Cukup lama kami beristirahat di kediaman Pak Irwan sambil menikmati suguhan berupa buah-buahan dan juga serombong bakso yang sengaja diundang untuk menjamu kami. Wah terimakasih Pak Irwan atas jamuannya yang unik.

Pukul  15.27 WIB atau pukul 16.27 WIB kami pamitan dari kediaman Pak Irwanuntuk berangkat ke Bromo namun akan mampir di Sukapura Inn dulu untuk mandi-mandi sebelum ke Hall Lava View tempat pembukaan ceremonial TIG VIII digelar nanti pukul 19.00 WIB. Pak Irwan ikut mengantar kami sampai ke Sukapura Inn.  Pukul 17.19 WITA atau 17.19 WIB kami tiba di Sukapura Inn. Setelah memarkir kendaraan masing-masing kami mendaftar ke kantor depan untuk mengambil kunci kamar.

Setelah masing-masing mendapat kunci kamar kami menurunkan barang-narang bawaan dan beristirahat sejenak di teras sambil ngobrol dengan Pak Irwan.

Hampir satu jam kami ngobrol dengan Pak Irwan sebelum akhirnya beliau pamitan karena hari sudah mulai gelap.

Setelah mandi dan berkemas-kemas pukul 18.55 WIB atau 19.55 WITA saya menemani Mas Echa di Big Horn-nya bergerak ke Lava View di atas.

Perjalanan dari Sukapura ke Lava View seitar 45 menit, ditambah jalanan yang berliku dan sempit membuat kita mesti extra hati-hati di daerah ini. Apalagi jalanan yang gelap gulita.

Tikungan demi tikungan kami lalui dan pada portal pintu masuk kawasan Puncak Bromo, mas Echa menghentikan si Big Horn dan turun dari kendaraan. Rupanya temperature mesin naik karena radiatornya bocor. Tanpa mematikan mesin mas Echa membuka engine hood dan membuka tutup radiator dengan hati-hati dan kemudian menuangkan air untuk menambah air radiator.

Kami akan bergerak kembali ketika si Hitam yang dikemudikan Yoga anak saya mendekat. 

“Kenapa mobilnya om…? tanya anak saya kepada mas Echa.

“Radiatornya bocor. Jadi airnya berkurang terus neh.” Jawab mas Echa.

“Jalan aja deh. Sudah selesai kok.”  “Hati-hati ya. Tikungannya tajam-tajam dan terjal.” katanya lagi.

Selesai mengisi radiator, kami meneruskan perjalanan yang tinggal beberapa meter dari Lava View.

Akhirnya pukul 20.39 WIB kami tiba di Lava View. Kami memarkir kendaraan di depan Hall Lava View disusul oleh teman-teman yang lainnya.

Dari radio kami dengar kalau Trooper Hijau kinclong milik Agung Wira mogok persis didepan portal pintu masuk ke Lava View.

Setelah diperiksa olehBli Ketut Boncel danbeberap ateman lainnya ternyata tidak ada arus yang masuk ke pompa solar sehingga solar tidak ada yang masuk ke ruang bakar. Padahal pemiliknya sangat telaten mengurus si Hijau yang telah mengadopsi mesin turbo diesel 4JB1T. Untuk memudahkan perbaikan dan keamanan kendaraan akhirnya terpaksa si Hijau ditarik ke halaman Lava View.

Setiba di halaman parkir Lava View, Pak Frans mencoba mencari-cari keruskan si Hijau,namun tidak ketemu. Dari pemeriksaan sementara diketahui solar tidak mau naik ke ruang bakar. Kemungkinan besar tidak ada arus yang menggerakkan kerja pompa ke ruang bakar mesin. Asumsi sementara pompa solar macet atau filter solar mampat. Sehingga dicoba untuk membuka filter solar dan menggantinya dengan yang baru.

Pak Ketut Boncel dimintai tolong untuk turun ke Probolinggo lagi untuk mencari mekanik sekalian membeli filter solar untuk pengganti sekalian membeli solar untuk memancing solar agar mau naik keruang bakar.

Setelah Pak Ketut Boncel kembali membawa filter solar dan satu jerigen kecil solar dan memasukkan solar ke filter ternyata si Hijau belum mau hidup juga.

Mas Ervan datang membantu dan memeriksa sekring di fuze box pengaman. Ternyata ada satu sekring pengaman yang putus.  Namun karena sudah mengadopsi mesin diesel, wiring fuze jadi tidak pasti urutannya. Tetapi mas Ervan coba untuk mengganti sekringnya.

 “Ada sekring 10 ampere tidak bli…?”  tanyanya kepada Agung Wira.

 “Wah ngga ada mas.” Jawab Agung Wira lagi.

“Ini saya punya.” kata Pak Frans sambil meyerahkan sekring merah yang dibawanya. Mas Ervan mencabut sekring yang putus dan memasang sekring yang baru. Tetapi begitu dipasang sekring itu langsung putus dan berasap.

 “Wah ini ada yang korsleting bli.” Katanya sambil mencabut lagi sekring yang sudah putus itu.

 “Tapi yang mana ya.” gumamnya.

 Pak Frans, Pak James dari KTI Surabaya, Mas Ervan dari KTI Yogya, Bli Ketut Boncel dan beberapa teman dari KTI Jakarta juga ikut membantu mencari-cari kerusakan itu, namun si Hijau ini tetap mogok dan belum ada tanda-tanda akan hidup.

Malam semakin larut dan udara semakin dingin di puncak gunung ini.  Suhu di Lava View ini berkisar 11 sampai 14 derajat celcius. Sangat dingin.

 Sementara itu teman-teman yang masuk trek sudah kembali dan mulai datang ke hall untuk pembukaanacara TIG VIII ini. Karenanya saya menyarankan untuk menunda dulu untuk memperbaiki si Hijau ini untuk mengikuti acara pembukaan TIG VIII yang akan segera di buka beberapa saat lagi.

Suasana di Lava View semakin ramai, karena banyak juga pelancong yang sedang ber week end dan menginap di Hotel Lava View ini.

Saya meninggalkan si Hijau yang masih diperiksa oleh beberapa teman-teman dan masuk ke hall Lava View kaerna lupa membawa jaket dan tidak kuat menahan udara dingin hanya dengan kaos T-Shirt yang say apakai dari tadi sore. Saya mencari istri dan anak-anak yang ternyata sudah duduk didalam hall sisi selatan didekat pintu masuk, karena sudah tidak tahandengandinginnya udara, meski telah mengenakan  jaket tebal dan syal serta topi hangat khar bromo dan juga slop tangan. Saya bergabung dan duduk di sebelah istri dan anak-anak diantara teman-teman dari KTI Chapter lainnya.

Beberapa saat kemudian pembawa acara mengundang teman-teman yang masih diluar  agar segera masuk ke hall karena acara pembukaan TIG VIII Jawa Timur ini akan segera di mulai. Malam sudah semakin larut. Sudah pukul 21.17 WIB ketika teman-teman dari semua chapter mulai masuk ke hall. Suasana di hall mulai agak hangat karena sudah mulai dipenuhi oleh teman-teman dari semua chapter.

Panggung diisi life musik dengan lagu-lagu berirama pop rock yang cukup enak didengar sehingga menambah hangatnya suasana. Sekali lagi pembawa acara mengundang para peserta untuk segera masuk ke hall karena acara akan segera di mulai.

(bersambung)

salam dari Bali

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s