(Repost) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Jawa Timur, bag. 4


Ringkasan cerita yang lalu.

Akhirnya pukul 23.17 WITA kami pergi kekamar masing-masing untuk beristirahat karena besok pag isetelah sarapan kami akan bergerak lagi menuju Probolinggo, untuk bertemu dengan teman-teman KTI dari seluruh Indonesia namun sebelumnya jika memungkinkan kami akan mampir dulu di rumah Pak Irwan salah seorang anggota KTI Bali yang kebetulan istrinya pindah tugas dan untuk sementara waktu menetap di Probolinggo. 

Begitulah kami pun segera masuk kamar masing-masing untuk berisitrahat agar bisa segar kembali besok.

Perjalanan dari Blawan ke Bondowoso.

Pukul 06.37 WITA atau pukul 05.37 WIB saya sudah terbangun karena mendengar suara burung dan gemericik air di kolam air panas  didepan kamar. Saya membuka pintu kamar dan mengintip keluar. Ternyata hari masih agak gelap. Saya keluar kamar dan duduk di amben sambil memandang ke kolam renang yang masih sunyi. Nampaknya belum ada tamu yang bangun. Saya berjalan-jalan ke sisi kanan kamar ke lapangan tempat menjemur biji kopi, dimana si Hitam saya parkir tadi malam.

Saya menekan remote control untuk membuka pintu si Hitam dan membuka kap mesin untuk  melihat ruang mesin, memeriksa air accu, air radiator dan ketinggian oli di deep stick. Alhamdulilah semuanya baik-baik saja.  Air accu msih dalam batas normal, air radiator juga tidak mengalami penurunan baik di radiator maupun di tabung reservoirnya. Hanya air di tabung washer yang tinggal setengahnya. Saya mengambil botol Aqua besar dan mengisi air yang saya ambildari jerrycan plastic yang saya bawa dikabin belakang, kemudian menuangnya ke tabung washer setelah dicampur dengan sedikit shampoo rambut.

Setelah itu saya hidupkan mesin setelah menendang pedal gas sekali. Dan si Hitam hidup dengan sekali start.  Saya membiarkannya hidup sejenak.

“Kenapa itu Pak Dewa”. Tiba-tiba terdengar suara Agung Wira di belakang saya.  Rupanya Agung Wira juga baru bangun dan bermaksud memeriksa Trooper Hijaunya yang kinclong yang telah mengalami engine swap eke 4JB1T.

“Oh. Tidak apa-apa.” “Cuma memeriksa kalau ada apa-apa di mesin”. Jawab saya.

“Sudah mandi pak Agung..?” tanya saya kepadanya.

“Belum.” “Dingin lo” katanya.

“He he he he.” “Iya. Lumayan dingin.” Jawab saya.

“Tapi di Ijen tempat kita berhenti kemarin, pasti jauh lebih dingin dari disini.” Kata saya.

“Iya lo.” “Kemarin sore jam 3 sja sudah begitu dinginnya ya.” “Bagaimana kalau malam ya.” Katanya lagi.

Agung Wira mengambil lap kanebo dari bawah jok dan membasahinya dengan air kemudian mengelap kaca depan dan kaca jendela Troopernya.

“Jam berapa kita berangkat.?” Tanyanya lagi.

“Iya secepatnya.” “Setelah sarapan pagi.” Kata saya lagi.

Hari ini rencananya kami akan berangkat ke Probolinggo dan kalau ada waktu akan berkunjung ke rumah pak Irwan salah seorang anggota KTI Bali yang sementara ini menetap di Probolinggokarena istrinya yang bekerja di Telkomsel kini bertugas di PRobolinggo.

“Yuuk mandi dulu.” kata saya kepada Agung Wira sambil berlalu.

“Yuuk silahkan duluan deh. “ “Saya juga sebentar lagi mau mandi.” katanya.

Saya masuk ke kamar lagi, dan hendak kekamar mandi, namun ternyata Dewinta anak saya sedang mandi.

“Ayo cepetan mandinya.” “Sudah siang neh.” kata saya.

Kami mandi bergiliran. Sambil menunggu anak-anak dan istri mandi saya keluar kamar dan duduk lagi diamben ketika Gusmang datang menghampiri. Rupanya dia sudah selesai mandi.

“Sudah mandi Pak Dewa..?” tanyanya.

“Belum.” Masih antri. Tunggu giliran.” jawab saya.

“Jam berapa mau berangkat..?” tanya lagi.

“Iya setelah sarapan pagi, langsung berangkat saja.”  Kata saya lagi.

“Dari sini ke Probolinggo kira-kira 2 ½ jam.” kata saya lagi.

“Kalau bisa kita berangkat jam 9 kita punya waktu untuk mampir di rumah Pak Irwan, sebelum bergabung dengan teman-teman yang lain di Terminal Probolinggo.” kata saya lagi.

“Ngapain ke Terminal Probolinggo..?” tanya Gusmang lagi.

“Iya kita ketemuan dengan teman-teman KTI yang lain dari seluruh Indonesia sebelum berangkat ke Gunung Bromo.” “ Kita tidak ikut CR ya.” Kata saya.

“Lo kok ngga ikut…?” tanya Gusmang lagi.

“Iya neh kita agak khawatir dengan anak-anak nanti mereka bosan. Soalnya dengar-dengar CR ny akurang lebih 5 jam.” “Terlalu lama buat anak-anak.” Kata saya lagi.

“Dari sini kita coba langsung ke Probolinggo ya.” kata saya lagi.

“Maaf saya tinggal dulu ya.” “Giliran untuk mandi neh.” Kata saya sambil beranjak ke kamar untuk mandi.

Ketika saya  beranjak, tampak Bli Boncel sedang memasukkan barang-barang ke FJ 40 ungunya. Rupanya dia sudah selesai mandi dan berkemas-kemas.

Saya segea masuk ke kamar mandi, sementara isti dan anak-anak sedang sudah mengemasi barang-barang bawaan dan memasukkannya ke dalam mobil.

Saya mandi dengan cepat. Satu gayung air saya guyurkan dari atas kepala.

Hhhhh. Ternyta mamang dingin. Setelahmengguyur banda dengan 2 – 3 gayung dingin baru terasa agak berkurang, karena badan sudah mulai beradaptasi dengan dinginnya air dan udara.  Sepuluh menit kemudian sya sudah selesai mandi dan siap untuk sarapanpagi.

“Ayo dong semuanya kita sarapan dulu. Mumpung masih agak pagi.” kata saya kepada semua teman-teman yang sudah tampak siap untuk sarapan.

Pak Ketut Uban, istri dan anak-anaknya juga sudah siap.

Pukul 8.17 WITA kami sudah berkumpul di meja makan yang telah disiapkan di teras bangunan utama. Sarapan pagi berupa Nasi putih, telur asin rebus, telur mata sapi, tempe goring dan sayur pecel. Lha, pagi-pagi kok sarapannya pakai pecel. Gumam saya dalam hati.

Tetapi karena udara yang dingin membuat kami merasa lapar. Dan saat perut lapar makanan apapun yang tersedia akan terasa enak dimakan. He he he he…

Kamipun makan dengan lahap sambil sesekali mengomentari hidangan yang disiapkan itu. Makan pagi ini sudah termasuk dalam harga kamar yang Rp. 125.000,- permalam untuk dua orang.

“Pak Tut ayo makan dulu. Nanti dihabisinsama Gusmang makanannya.” Kata Agung wira sambil tertawa kepada Bli Boncel yang baru datang dari memasukkan barang-barang bawaan ke FJ40 nya.

“Iya-iya. Silahkan makan duluan. Ini nunggu Ayin.” Katanya. Ayin adalah anak perempuan Bli Boncel.

Sementara yang lain masih menyelesaikan sarapan pagi,nya aya pergi ke kantor Catimor homestay untuk membayar sewa penginapan agar bisa berangkat lebih cepat begitu teman-teman selesai sarapan.

Pukul 08.57 kami telah siap untuk bergerak ke Bondowoso dan kemudian ke Probolinggo. Kami akan bertemu dengan Pak Wiranto dan Pak Frans yang terpisah penginapan karena kekurangan kamar kemarin.

“Okey kita siap untuk berangkat. Radio-radio tolong dihidupkan dan kita main di Frequensi 142.750 Mhz ya.” kata saya mengingatkan.

“Oke pak.” Terdengar Pak Yudi di radio.

“Pak Dewa dan teman-teman semua,saya mohon ma’af tidak bisa ikut sampai ke Bromo. Saya akan menemani sampai di pintu keluar perkebunan dan selanjutnya etman-temanyang mau ke Bondowoso lurus saja di portal pos keamanan, sementara saya akan belok kiri untuk kembali ke Denpasar,” kata pak Hadi di radio.

“Okey pak. Salam untuk Pak Agus dan sampaikan terimakasih saya dan teman-teman atas segala dukungannya dan juga barbequenya.” Jawab saya melalui radio.

“Baik Pak Dewa.” Nanti akan saya sampaikan kepada beliau.” jawabnya.

Kamipun bergerak meninggalkan Catimor homestay milik PN Perkebunan XII yang terletak di Blawan kabupaten Bondowoso,  menyusuri jalan aspal sempit dengan kebun kopi dan jarak disisi kiri kanan jalan.

Matahari mulai menyinarkan sinarnya yang hangat membuat badan kami hangat setelah udara dingin tadi pagi sehabis mandi.

Perjalanan ke Bondowoso dan ke Probolinggo masih cukup panjang. Memerlukan kurang lebih 2 jam untuk sampai disana. Beruntung jalanan tidak begitu ramai, sehingga kami bisa bergerak dengan kecepatan yang cukup untuk mempercepat kami tiba di Probolinggo.

Kami masih melintas di areal perkebunun milik PN Perkebunan XII yang sangat luas. Tampak beberapa rumah semi permanen milik penduduk yang merupakan pekerja di perkebunan ini. Jarak satu rumah dengan rumah berikutnya agak jauh.

“Teman-teman semua, sampai dipertigaan ini kita  berpisah, saya akan berbelok ke kiri untuk kembaike Denpasar. Teman-teman silahkan ikut ijalan yang lurus di portal pos keamanan itu. Nanti ikuti saja jalan utama, jangan berbelok-belok sampai dipertigaan nanti, ikuti jalan besar yang menuju jalan utama ke Jember dan Probolinggo”. kata Pak Hadi lagi.

“Okey Pak Hadi. Selamat jalan. Hati-hati dijalan dan salam untuk Pak Agus.” jawab saya.

Kamipun berpisah. Chevy pick Up 4 X 4 yang dibawa Pak Hadi harus kembali ke Denpasar karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Mentari Restaurant.

Sementara kami terus bergerak menyusuri jalanan beraspal yang sempit dengan semak hutan kecil dan alang-alang dikiri kanan. Daerah di Bondowoso ini berbukit-bukit dengan tanah yang bercampur batu cadas. Sesekali kami melewati bongkahan batu cadas yang mungkin longsor dari atas dan akhirnya jadi bukit batu yang ditumbuhi alang-alang disekelilingnya.

“Awas banyak bebatuan lepas.” kata Pak Yudi yang paling depan kemudian diikuti oleh Pak Yande, Agung Wira, Gusmang, Pak Tut Uban, Saya dan paling akhir Pak Tut Boncel dengan FJ40 ungunya.

Jalanan mulai agak rusak dan banyak batu dan kerikil yang lepas sehingga membuat jalan agak licin, ditambah dengan bahu jalan yang sangat sempit membuat kita mesti ekstra hati-hati melintas diatasnya. Banyak tikungan tajam yang sempit dengan tebing dan juang di kiri atau kanan jalan.

Kami terus meluncur dengan hati-hati diantara tebing dan jurang yang menganga di kiri dan kanan jalan. Jalanan mulai terasa menurun. Altimeter menunjuk keangka 1.250 meter DPL dan terus menurun dengan cepat seseuai dengangerakan kami yang terus menuruni bukit terus kebawah menuju dataran rendah di Bondowoso.

Beberapa saat kemudian kami memasuki daerah pemukiman dan udara mulai terasa agak hangat cenderung panas, padahal baru pukul 10.49 WITA atau pukul 09.49 waktu setempat. Kami sudah memasuki wilayah kabupaten Bondowoso.

Secara geografis Kabupaten Bondowoso berada di bagian paling timur wilayah Jawa Timur dengan jarak kurang lebih 200 kilomeer dari Ibu kota Provinsi  Jawa sekitar 200 kilometer. Wilayah Kabupaten Bondowoso tidak dilalui jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Utara yaitu Banyuwangi – Situbondo -Probolinggo – Pasuruan – Surabaya dan jalur utama Provinsi Jawa Timur bagian Tengah yaitu Banyuwangi – Jember – Lumajang – Probolinggo – Pasuruan -Surabaya. Kedua jalur tersebut memiliki daya-dukung sumberdaya potensial bagi pengembangan ekonomi dan perdagangan Kabupaten Bondowoso. Namun Bondowoso merupakan daerah tujuan yang hanya dilalui jalur provinsi dari Bondowoso – Situbondo dan Bondowoso – Jember.

Wilayah Kabupaten Bondowoso merupakan daerah dengan luas yang mencapai 1.560,10 km2, yang secara administratif terdiri dari 20 kecamatan,185 desa, dan 10 kelurahan.

Sekilas sejarah tentang Kabupaten Bondowoso

(bersambung)

Ikuti terus kelanjutan ceita perjalanan KTI Bali ke  TIG VIII Jawa Timur, karena banyak cerita untuk menmbah pengalaman anda.

salam dari bali.

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s