(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta. bag. 3


Ringkasan cerita yang lalu :

Setelah menurunkan barang seperlunya, kami segera masuk kamar untuk beristirahat. Sementara waktu telah menunjukkan pukul 01.55 WITA atau 00.55 WIB. Dan semua Trooperist dan keluargaya masing-masing masuk kamar untuk berisitrahat untuk menjaga stamina dalam menempuh perjalanan panjang esok hari.

Esok hari kami berencana mengexplore Gunung Bromo dan lautan pasirnya……

Penjejelajahan di Bromo…

Setelah berisitirahat kurang lebih 4 jam semalam, pukul 06.15 WITA atau 05.15 WIB saya terjaga, walau berupaya untuk tidur lagi namun kebiasaan bangun pagi membuat mata ini tidak mau untuk disuruh tidur lagi.

Karena itu saya segera menendang selimut dan membuka gorden untuk melihat ke luar, ternyata matahari sudah tampak memerah di ufuk timur. Saya buka pintu kamar dan turun ke halaman untuk  meregangkan otot yang terasa agak kaku karena duduk mengemudi selama 9 jam. Brrrr…. Ternyata udara masih sangat dingin, saya yang hanya mengenakan T-shirt agak menggigil. Namun udara dingin saya lawan dengan mengadakan stretching pada sendi dan otot, sehingga rasa dingin berkurang.

Tampak Pak Ketut Sugiatha, Pak Wayan Murya dan IB Budi juga telah bangun dan menghidupkan mesin Troopernya. Beberapa saat kemudian tampak Pak Agus Pendit, Agung Wiratama, Pak Wiranto dan Pak Yudi juga telah bangun memasukkan barang-barang bawaan yang diturunkan tadi malam.

Kami berbincang-bincang sejenak mengenai rencana penjelajahan di Bromo yang akan kami lakukan pagi ini. Kami harus membatasi waktu di Bromo hingga kurang lebih pukul 11. 00 WITA.

Setelah mandi dan berbersih bersih diri, pukul 07.15 WITA kami telah menyantap sarapan pagi berupa nasi goreng dan secangkir teh manis hangat.

Seperti hari sebelumnya, kami makan dengan cepat dan segera berkemas-kemas untuk bergerak menjelajahi Gunung Bromo.

Pukul 07.45 WITA kami telah diatas Trooper yang bergerak naik kearah Gunung Bromo. Dari informasi staff hotel Sukapura, Gunung Bromo ada 20 km di depan dan bisa ditempuh kurang lebih 35 menit. Altimeter di Trooper kami masih menunjuk ke angka 1.450 yang berarti kami berada pada ketinggian 1.450 meter diatas permukaan laut. Jalanan sempit  terus menanjak dan berkelok-kelok tajam, dengan pemandangan alam yang cukup indah dikiri-kanan. Lembah dan ngarai, jalan di tepi jurang terus kami lewati dan beberapa rumah penduduk pegunungan tengger mulai tampak.

Mayoritas penduduk pegunungan Tengger ini memeluk agama Hindu. dengan total populasi kurang lebih 14.000 jiwa. Hal itu tampak dari setiap rumah yang kami lewati terdapat pelinggih dan masih tampak Penjor yang terpasang dimasing-masing rumah penduduk untuk merayakan Hari Raya Kuningan yang baru saja lewat tanggal 7 Juli 2007 kemarin. Nama Tengger diambil dari Nama belakang putri Roro Anteng salah satu putri dari Kerajaan Majapahit yang menentang orang tuanya karena berbeda pendapat  dan melarikan diri kemudian menikah dengan Joko Seger. Setelah menikah beberapa lama, kedua pasangan itu Roro Anteng dan Joko Seger tidak dikarunia anak, yang mana membuat mereka berputus asa dan dalam keputus asaannya itu, mereka mendaki Gunung Bromo untuk bertapa dan memohon kepada Hyang Widhi agar mereka segera di karuaniai anak. Dalam tapa semedinya Hyang Widhi menampakkan diri dan berjanji membantu mereka agar segera mendapatkan momongan, tetapi dengan satu syarat bahwa mereka bersedia  mempersembahkan anaknya yang terakhir kepada Hyang Widhi. Singkat cerita mereka telah dikaruniai 24 orang anak. Dan ketika anak terakhir mereka yang diberi nama Kusuma lahir, Roro Anteng mengingkari janjinya untuk mempersembahkan anak tersebut kepada Hyang Widhi. Hal itu membuat Hyang Widhi murka dan menyemburkan api dan lahar dari kawah Gunung Bromo dan membakar setiap apapun yang dilaluinya sampai akhirnya Roro Anteng dan Joko Seger melaksanakan janjinya mempersembahkan anaknya Kusuma ke kawah Gunung Bromo. Ketika anak itu dilempar ke dalam kawah, terdengar suaranya yang mengingatkan kepada penduduk Tengger untuk selalu melaksanakan upacara persembahan itu setiap tahun yang kemudian dikenal dengan Yadnya Kesada yang terus dilaksanakan sampai saat ini.

Gunung Bromo dipercaya oleh masyarakat Tengger sebagai Gunung suci dimana  setiap tahun penduduk Tengger melaksanakan Yadnya yang dikenal dengan Yadnya Kesada yang dilaksanakan setiap bulan ke 10 tahun Caka pada saat bulan Purnama. Upacara Yadnya Ke Sada di mulai dari Pura disebelah utara Gunung Bromo dan berakhir di puncak Gunung Bromo.

Begitulah sekilas cerita tentang Gunung Bromo yang tersohor itu.

Penjelajahan Bromo.

Penjelajahan ke puncak Gunung Bromo mutlak harus dengan kendaraan four wheel karena medan yang dilewati cukup berat yang berupa lautan pasir tebal yang mana akan sangat berat bagi kendaraan yang tidak mempunyai gerak 4 roda atau four wheel drive. Begitulah yang kami dengar dari penduduk setempat yang kerap menjadi host atau penunjuk jalan bagi para pelancong yang ingin menjelajahi keindahan Gunung Bromo.

Kami terus bergerak keatas semakin tinggi dan Alti meter telah menunjuk ke angka 1.950 meter. Sesekali kami berpapasan dengan beberapa kendaraan FJ 40 yang membawa penumpang turun dari Gunung Bromo  sehabis menyaksikan Sunrise atau terbitnya matahari dari atas Gunung Bromo. Digital clock di console box Trooper kami menunjukkan angka 09.25 WITA. Beberapa saat kemudian kami di arahkan memasuki terminal. Kami sempat berisitrahat sejenak sambil melihat pemandangan sekeliling.  Setelah line up kami bergerak dan memasuki pos penjaggaan dan setelah membeli tiket retribusi masuk  seharga Rp.4.000,- per orang kami segera masuk dan menyusuri jalan masuk yang sedang di beton dengan konstruksi besi. Besi beton berseliweran disana sini yang membuat kami harus ekstra hati-hati melewatinya,  salah salah bisa menggores bodi Trooper kami. Jalanan terus menurun terjal dan licin karena banyak pasir dan kerikil yang ditempatkan teronggok sembarangan oleh kontraktor pelaksana.  Beberapa saat kemudian kami sampai di lautan pasir yang terdekat.

Dilautan pasir ini para Trooperist mulai beraksi dengan menggeber Troopernya bekelling sebelum saya meminta kepada teman-teman untuk segera berkumpul karena kita akan mengadakan persembahyanngan bersama di Pura Gunung Bromo. Namun sebelumnya, Pak Budi mengajak kami ke Beji atau Sumber air Suci yang terletak kurang lebih 7 km di sebelah utara Gunung dan Pura.melewati padang sabana dan lautan pasir luas  Rombongan bergerak kearah utara dengan melewati lautan pasir sehingga debu pasir beterbangan membuat pandangan kedepan agak terbatas.

Pemandangan di lautan pasir ini sungguh menakjubkan. Sekeliling kita hanyalah pasir dan alang-alang. Sementara beberapa penduduk lokal menawarkan kesempatan berkuda kepada kami.

Temperatur udara di siang hari cukup panas dan masih mampu membuat kulit kita terbakar, namun pada malam hari suhu turun sangat extreme antara 5 derajat pada musim dingin dan sampai 9 derajat celcius pada musim panas.

Kami mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan di Lautan Pasir Bromo sambil terus melanjutkan perjalanan ke Beji untuk mengambil air suci dan bersembahyang disana.

Kurang lebih 20 menit kemudian kami tiba di Beji tempat air suci dan setelah menghaturkan persembahan sesajen Pejati yang kami bawa dari Bali, kami bersembahyang bersama memohon keselamatan dan perlindungan dari Ida Hyang Widhi agar kami selamat dalam perjalanan hingga kembali pulang ke Bali.

Setelah selesai sembahyang bersama di Pura Beji, kami segera tancap gas menuju Pura Bunung Bromo sehingga debu kembali mengepul dimana-mana. Jarak 7 km kami tempuh dalam waktu kurang lebih 15 menit mengingat jalan pasir tebal yang kami lewati membuat Trooper kami agak berat sehingga kecepatan tidak bisa lebih dari 40 km perjam.

Hari mulai siang dan Digital clock di Trooper kami menunjukkan pukul 11.40 WITA, dan matahari bersinar sangat terik ketika rombongan kami tiba di depan Pura Gunung Bromo. Sebenarnya kami masih ingin lebih mendekat lagi kearah kaldera puncak tertinggi Gunung Bromo, namun mengingat keterbatasan waktu, kami akhirnya berhenti dikaki gunung saja dan kembali bergerak kearah pura Bromo.

Kami segera masuk kehalaman pura dan menghaturkan sesajen Pejati yang kami bawa dari Bali. Pemangku Pura menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk mengambil tempat untuk bersila dan melakukan persembahyangan.

(bersambung)

Ikuti terus cerita perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta.

salam dari Bali

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s