(Reposted) Adventure ke Sukamade dan Merubetiri. bag. 2


Ringkasan cerita yang lalu :

Pukul 18.47 WITA Bli Boncel akhirnya telah bergabung bersama kami. Dan kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Gilimanuk. 

Perjalanan ke Gilimanuk dari Bajra akan kami tempuh kurang lebih 2 jam dan menyeberang sekitar 45 menit sehingga estimasi kami tiba di Ketapang kurang lebih pukul 21.17 WITA dan dilanjutkan ke Hotel Surya di Jajag sekitar 1 ½ jam lagi dan kami harapkan bisa tiba di Hotel Surya Jajag sekitar pukul 22.00 WITA.

Kami beruntung jalanan belum terlalu padat oleh bus malam dan truk yang akan berangkat ke Jawa juga. Sehingga perjalanan relative lebih lancar. Dalam perjalanan kami bergerak dengan kecepatan rata-rata 70 kilometer perjam, sehingga tidak terlalu melelahkan bagi kami.

Pukul 19.57 WITA kami tiba di Pelabuhan Gilimanuk dan beruntung tidak ada antrean yang panjang. Kami segera masuk dan pelataran menuju tiket box dan membayar tiket seharga Rp.98.000,- dan segera memasuki perut Ferry yang akan menyeberangkan kami ke Ketapang.  Ferry ini ternyata sudah hampir penuh ketika empat mobil kami memasuki perutnya. Hanya menunggu 10 menit ferry yang kami tumpangi terasa mulai bergerak  berangkat menyeberangi laut Jawa.  Kami menunggu di dek atas sambi lngobrol mengenai perkembangan KTI Bali dan akltifitas yang akan kami laksanakan kedepan nanti. Saking asyiknya ngbrol tak terasa kami akan segera berlabuh beberapa saat lagi setelah trompet ferry berbunyi.

Pukul 21.37 WITA ferry telah bersandar didermaga dan penumpang mulai keluar dari perut ferry. Saya keluar diikuti oleh penumpang lain turun di tanah Jawa.  Setelah kami semua berkumpul dan line up, kami bergerak menuju Hotel Surya Jajag. Pak Iwan Sentani menelpon dan menanyakan kondisi dan posisi terakhir kami.

Jajag akan kami tempuh kurang labih 1 jam dari Ketapang, untuk mengejar waktu kami putuskan untuk terus bergerak agar bisa tiba di Jajag secepatnya mengingat Pak Iwan Sentani,  Pak Yoyok, Pak Dani dan beberapa teman KTI Jember lainnya menanti kami di Hotel Surya.

Pukul 11.17 WITA akhirnya kami tiba di Hotel Surya Jajag. Pak Iwan, Pak Yoyok, Pak Dani dan Pak Bambang Widodo dari 4 X 4 Kebo Liar Team Banyuwangi menyambut kami di halaman parkir.

Setelah memarkir kendaraan masing-masing, kami turun dan bersalam-salaman dengan teman-teman yang menyambut kami dan membahas rencana perjalanan esok pagi. Karena malam sudah cukup larut, sudah pukul  22.30 WITA akhirnya teman-teman KTI Jember pamitan pulang dan akan berkumpul lagi esok pukul 08.00 WITA.

Perjalanan dari Jajag ke Merubetiri, Sukamade

Malam itu kaim tidur cukup nyenyak dikamar hotel Surya Jajag. Hotel ini memiliki halaman yang cukup luas, namun sayang kelihatannya maintenance-nya kurang sehingga terkesan kotor dan kurang rapi. Dengan sewa semalam sebesar Rp.110.00,-  kamarnya miskin fasilitas, hanya ada TV 21 inchi model lama, kamar mandi yang tidak dipersiapkan. Saya mesti menguras bak sebelum mandi karena bak sangat kotor oleh debu dan sarang laba-laba. Namun sejak awal saya sudah mempersiapkan diri untuk tidak akan komplain kepada diri sendiri seburuk apapun fasilaitas yang didapat dikamar. Toh cuma bermalam di hotel semalam saja.

Begitulah, setelah mandi saya mengetuk pintu kamar Pak Agus Pendit yang bersebelahan untuk keluar mencari makan. Di hotel Surya ternyata tidak ada makanan utnuk supper. Jadilah kami keluar ke warung tenda terdekat yang berjarak kurang lebih satu kilometer saja kearah selatan dari hotel Surya, Jajag dengan mengendarai si Hitam, kami satu mobil begerak ke arah selatan mencari tempat makan terdekat.  Karena malam sudah sangat larut dan kelihatannya sudah banyak kedai makan yang mulai tutup akhirnya kami mutuskan makan yang ada saja. Saya mengemudikan si Hitam  bergerak perlahan-lahan sambil melihat kekiri kanan untuk mencari kedaimakan yang masih buka.

Setelah bergerak beberapa meter akhirnya kami putuskan untuk berhenti disebuah kedai tenda yang menjual sate kambing, sate ayam dan masakan cina. Ada tiga buah rombong dan tenda terpal yang dipasang dipinggir jalan dengan 2 buah meja panjang dengan deretan kursi plastik yang cukup bersih.

Kami duduk disisi meja yang berhadapan Pak Agus Pendit duduk disebelah kanan saya berhadapan dengan istrinya dan saya berhadapan dengan Anak saya Dewinta serta istri saya disebelahnya. Tidak banyak pilihan menu yang bisa kami pilih. Akhirnya karena memang sudah sangat lapar sejak tadi sore, saya memesan sate dan gulai kambing,  sementara istri saya memesan sayur hijau. Pak Agus dan istri memesan sate ayam dan cap cay goreng.  Berhubung perut memang sudah sangat lapar, makanan yang kami santap terasa nikmat juga di tengah malam itu.  Waktu telah menunjukkan pukul 12.15 WIB ketika kami selesai makan malam yang terlambat.

Sampai dihotel kami langsung berpisah masuk ke kamar masing-masing dan tidur cukup nyenyak. Karena perjalanan  yang sebenarnya baru akan dimulai esok hari.  Saya berusaha memicingkan mata untuk tidur namun tak dapat, akhirnya saya biarkan fikiran melayang-layang sampai capai dan akhirnya saya tertidur ketika sayup-sayup saya mendengar suara azan dikumandangkan dikejauhan.

Saya terbangun ketika mendengar suara mesin distarter. Walau mata masih terasa sepat, saya paksakan diri untuk bangun, sementara anak gadis saya rupanya sudah terbangun sejak tadi namun masih leyeh-leyeh di tempat tidur disamping istri saya yang tampak masih tidur lelap.  Saya bangkit dari tempat tidur dan membuka  pintu kamar.

Rupanya pak Wiranto dan anaknya sudah bangun dan sedang membersihkan kaca depan Trooper kuningnya. Tak berapa lama Bli Ketut Boncel juga keluar dari kamarnya dan ikut-ikutan mengambil ember kecil dan mulai membersihkan Stallion 4 X 4 nya. Akhirnya saya juga tergelitik dan ikut mengambil ember dan membersihkan si Hitam dari embun dan air hujan yang rupanya sempat turun tadi malam. Sambil membersihkan kendaraan masing-masing kami membicarakan route yang kan kami lalui ke Sukamade. 

“Selamat pagi pak…” tiba-tiba terdengar suara yang asing bagi saya menyapa.

Saya mebalikkan badan dan membalas sapaan itu dengan Selamat pagi juga, sambil membalikkan badan.

Seorang pria setengah umur yang sepertinya keturunan Tionghoa berdiri didepan saya mengenakan celana pendek dan sepatu kets putih dengan singlet putih juga.

“Dari mana pak.?” tanyanya lagi.

“Kami dari Bali pak.” Jawa saya. “Bapak sendiri dari mana…?” kata saya. “Lagi liburan pak..” tanya saya lagi.

“Saya dari Waru pak.”  “Iya lagi liburan.” Jawabnya.

“Ini ada acara apa pak.? Acara rally ya..?” tanyanya lagi.

“Oh ngga pak. Kami juga sedang liburan.” “Kami hendak liburan di Merubetiri, Sukamade disini.” Jawab saya lagi.

“Merubetiri,Sukamade itu dimana pak…? tanyanya lagi.

“Oooh ma’af pak saya juga belum tahu. Cuma kata teman-teman disini yang akan jadi penunjuk jalan daerah itu ada di sebelah tenggara Banyuwangi”.  “Dari sini kurang lebih 65 kilometer. Cuma mesti pakai jip atau SUV yang four wheel, karena jalannya rusak berat dan agak ekstrem untuk kendaraan jenis biasa.”  kata saya lagi.

(bersambung)

Salam dari Bali

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s