(Repost) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Jawa Timur,bag. 3


Ringkasan cerita yang lalu :

Saya mencari parkir yang diujung dekat dengan pintu keluar yang terlihat masih agak kosong.  Setelah semuanya turun, saya ditemani Pak Hadi mencari kantor home stay ini untuk melapor dan meminta kunci kamar. Kami disambut oleh Pak Sugiarto dan Ibu Rum yang bertugas untuk  mengelola home stay ini.

“Kekurangan kamar”

Sambil berjalan ke kantor home stay ini saya melihat berkeliling areal. Areal home stay ini luasnya kurang lebih 3.000 meter termasuk lahan yang dibeton dan disemen yang dipakai untuk menjemur biji kopi sebelum diproses lebih lanjut. Sekeliling areal dipagari dengan tembok dan sebagian dengan terali besi dengan gapura khas model Jawa Timur di pintu masuknya.

Ada kolam hias kecil didepan loby bangunan utama dan aneka tanaman hias dan tanaman perdu penutup tanah sehingga arealnya cukup asri untuk sebuah home stay dipegunungan. Bangunan utama terletak ditengah-tengah halaman dan terlihat sanagt tua namun cukup terawat. Di lis plang atap masih tertera tahun pembuatan bangunan utama itu. Tertulis tahun 1894. Didominasi warna merah terakota dan off white dengan atap dari seng membuat bangunan utama jadi tampak mencolok di tengah-tengah areal itu karena lebih tinggi dibandingkan dengan bangunanlain disekitarnya..

Bangunan utama ini didirikan lebih tinggi dari bangunan lainnya dan ada gorong-gorong dengan diameter kurang lebih 90 centimeter sehingga cukup untuk seorang dewasa bersembunyi dibawahnya. Sementara lantai bangunan ini juga dibuat cukup tinggi, sekitar 180 centimeter dari halamannya. Ada 11 anak tangga untuk naik ke lantai bangunan utama ini. Cukup tinggi ya.

Menurut  bapak Sugiarto yang sempat berbincang-bincang dengan saya, dulu saat dibangun oleh Belanda di daerah itu mungkin banyak binatang buas dan sering terndam banjir di saat hujan lebat, sehingga arsitek Belanda membangun bangunan utama itu dengan ketinggian yang cukup untuk menghindari binatang buas dan air yang menggenang tinggi.

Bangunan utama ini memiliki 6 kamar yang besar dengan perlengkapan yang lebih baik dari kamar yang kami dapatkan dibagian belakang. Bangunan utama ini dihubungkan dengan koridor yang beratap dengan bangunan kamar di belakang dimana kantor home stay juga memakai salah satu ruangan disana. Di pinggir atap banguna utama dibibir bawah lantai tersusun satu set meja makan dengan beberpa kursi yang rupanya dipakai untukmenyiapkan sarapan pagi bagi tamu-tamu yang menginap disana.

Di belakang bangunan utama ada 14 kamar lagi. Berderet dari arah sisi kiri ke kanan. Namun tampaknya yang siap ditempati hanya 9 kamar karena yang 5 kamar lagi terlihat berantakan dan sedang dalam pengerjaan.

Kamar di ujung di sisi sebelah kiri berhadapan dengan kolam renang yang cukup besar dan ada semacam “Jakuzi” kolam kecil untuk berendam air hangat dimana terlihat uap air mengepul dari dalamnya.

Pak Sugiarto yang menemani menjelaskan bahwa itu adalah kolam air panas  untuk berendam. Air panas itu berasal dari air panas alam yang dialirkan dari mata air panas Gunung Ijen yang mengandung belerang.  Katanya suhu air panas itu kurang lebih 40 derajat.  Nanti kalau urusan pembagian kamar sudah selesai saya coba berendam di air belerang yang hangat itu.

Ibu Rum ini belum terlalu tua. Mungkin sekitar 37 tahun, dengan tinggi sekitar 160 centimeter. Saya dan Pak Hadi melapor ke kantornya yang terletak di depan bangunan utama peninggalan Belanda  dibagian belakang.

“Maaf Pak kamar yang tersedia hanya 7 kamar. Tapi yang sudah siap saat ini baru 3 kamar. Yang 4 kamar lagi mungkin baru siap nanti sore kurang lebih 2 jam lagi.” katanya.

“Lho mbak. Pesanan kami kan ada 9 kamar mbak.” Kata saya.

“Maaf sekali Pak. Ternyata ada inspeksi mendadak dari atasan kami ajudan menteri perkebunan dan rombongan sehingga kamar yang telah kami siapkan untuk rombongan bapak terpaksa kami berikan kepada ajudan Bapak Menteri dan rombongannya, sehingga jumlah kamar yang tersedia hanya itu saja.” Kata mbak Rum.

“Waduh bagaimana ya. Kok kami tidak diberi tahu sebelumnya kalau kamar yang tersedia hanya 3 kamar. sehingga kami tidak bingung seperti sekarang ini.” Kata saya.

Ternyata kamar yang benar-benar siap cuma 3 kamar, sementara yang 4 lagi sedang dalam proses pengerjaan, belum ada kasur dan kamar mandinya punbelum selesai juga. 

Dari 3 kamar yang ada, 1 kamar sudah dipakai istri saya yang sudah tidak tahan menahan sakit dan akhirnya tertidur setelah minum obat terakhir yang masih tersisa. 1 kamar dipakai oleh pak Hadi dan keluarganya dan yang 1 kamar lagi dipakai oleh istri Agung Wira dan istri Gusmang dan anak-anaknya. Sementara kami para prianya masih berkutat diluar membicarakan yang terbaik bagi kami semua

“Kalau sejak awal kami diberi tahu, tentu kami akan siap dengan kondisi seperti ini.” kata saya lagi.

Saya coba berunding dulu dengan teman-teman. Nanti saya datang lagi kesini mbak.” kata saya lagi sambil keluar ruangan.

Saya menemui Pak Yudi, Pak Wiranto dan Pak Ketut Boncel untuk mendiskusikan masalah itu.

Setelah berkumpul dengan teman-teman yang lain saya sampaikan masalah yang ada dan mencari solusi yang terbaik untuk kami semua.

Pak Ketut Boncel  dan Pak Yudi siap untuk pasang tenda jika seandainya tidak ada kamar juga.

Sempat terjadi ketegangan antara Pak Yudi dan Pak Wiranto karena masing-masing saling bersikukuh dengan pendapatnya untuk mencari solusi yang terbaik bagi kami.

Hari sudah menjelang magrib saat kami berembug itu.  Sudah pukul 18.45 WITA namun ternyata kami belum mendapatkan kesepakatan apakah akan buka tenda ataukah mau pakai kamar.

Setelah hampir satu jam berdiskusi dan berargumentasi, akhirnya atas permintaan Pak Wiranto yang tidak mau menempati kamar yang baru selesai dan masih berbau cat akhirnya beliau memutuskan untuk mencari hotel terdekat di Bondowoso atau di Probolinggo.

Mengingat hari yang telah gelap dan jalanan yang sepi dan agak berbahaya, maka kami meminta agar Pak Wiranto ada yang menemani.

“Biar saya saja yang ikut Pak.” Kata Pak Frans tiba-tiba.

“Oke kalau Pak Frans mau menemani, silahkan.” “Kalau tidak ada yang menemani biar saya yang menemani.” Kata pak Yudi pula.

“Baik kalau sudah semua sepakat. Kita putuskan Pak Wiranto dan Pak Frans untuk pergi ke hotel terdekat di Bondowoso ataupun di Probolinggo.” Akhirnya saya memutuskan.

“Tapi sebelum berangkat kita makan bersama-sama dulu.” Kata saya sambil berlalu untuk melihat Pak Hadi dan teman-teman yang lain yang sedang membakar ikan dihalaman pabrik kopi disebelah.

Cukup malam ketika kami makan malam bersama. Sudah pukul 20.15 WITA.

Kami makan bersama dipinggir kolam renang dengan hidangan nasi putih, sayur lodeh dan ikan tuna bakar dengan sambal terasi pedas.

Makan bersama seperti itu ternyata terasa sangat nikmat. Saat-saat bersama seperti inilah yang sering membuat saya teringat dan rindu teman-teman KTI Bali.  Walau makan hanya dengan lauk yang sederhana, namun karena makannya bersama membuat semuanya terasa nikmat.

Akhirnya pukul 20.38 WITA Pak Wiranto dan Pak Frans berangkat ke Bondowoso dankami berjanji untuk menjemput esok pagi untuk kemudian berangkat bersama-sama ke Bromo.

“Hati-hati dijalan pak. Jalanan rusak dan gelap.” “Kalau ada apa-apa mohon kabari kami ya.” Kata saya saat Pak Wiranto bergerak meninggalkan penginapan.

Sepeninggal Pak Wiranto dan Pak Frans kami masih duduk-duduk di depan meja makan sambil minum bir dan Arak Bali GGH produksi Singaraja yang dibawa Pak Ketut Boncel.

Saat itu ada beberapa kendaraan yang mendekat. Rupanya ada tamu yang baru tiba dari tour dan menginap disini. Beberpa dari mereka kemudian berenang di kolam renang di depan kami dan beberpa orang memilih berendamdi kolam air hangat. Kami memeperhatikan mereka yang berenang sambil ngobrol seputar perjalanan kami dan masalah kekurangan kamar yang baru saja kami hadapi. Kami sedikit menyesal karena Pak Wiranto tidak mau kompromi untuk tetap bersama kami di sisni dan berbagi kamar.

Tapi apa mau dikata. Semua itu adalah hak beliau untuk memilih yang terbaik menurut beliau.

“Hei hei Yande mau ngapain itu…?” tiba-tiba Gusmang berteriak sambil tertawa.

Kami menoleh kearah Yande yang datang dari kamarnya. Dia Cuma mengenakan celana renang dan bertelanjang dada.

“Yande mau ngapain neh.” Kata Pak Ketut Boncel juga.

“Saya mau berendam neh” katanya.

“Wha ha ha ha. Malam-malam begini berendam. Tadi diajakin ga mau.” tawa Gusmang semakin menjadi.

“Ah Yande itu mau berendam, bersama perempuan Taiwan itu kaleee…” tawa Pak Ketut Boncel lagi.

Memang ada beberapa turis Taiwan perempuan yang berendam dikolam air hangat itu.  Cantik-cantik juga. He he he…

Kami masih ngobrol sampai larut malam sambil sesekali memperhatikan Yande yang ikut berbaur dengan turis-turis wanita Taiwan berendamdikolam air hangat itu.

6 botol bir plus satu botol Arak Bali GGH  habis kami tenggak. Udara terasa semakin dingin ditambah hujan rintik rintik membuat kami mesti mengakhiri obrolan kami.

“Yande sudahan dulu. Berhenti berendam nya.” Kata Pak Ketut Boncel sambil bangun dari tempat duduk.

“Iya.” “Ini juga mau selesai”. “Enak lo berendam disini malam-malam.” katanya sambil bangkit dari kolam.

“Enak karena ada yang nemenin atau memang enak.” Kata Gusmang sambil tertawa.

Akhirnya pukul 23.17 WITA kami pergi kekamar masing-masing untuk beristirahat karena besok pag isetelah sarapan kami akan bergerak lagi menuju Probolinggo, untuk bertemu dengan teman-teman KTI dari seluruh Indonesia namun sebelumnya jika memungkinkan kami akan mampir dulu di rumah Pak Irwan salah seorang anggota KTI Bali yang kebetulan istrinya pindah tugas dan untuk sementara waktu menetap di Probolinggo.

Begitulah kami pun segera masuk kamar masing-masing untuk berisitrahat agar bisa segar kembali besok.

Perjalanan dari Blawan ke Bondowoso.

 

( bersambung )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s