(Reposted) Adventure ke Sukamade dan Merubetiri. bag.4


Ringkasan cerita yang lalu :

Pukul 8.45 WITA anak  dan istri saya selesai berenang dan kembali ke kamar untuk berkemas-kemas. Sementara kami Pak Agus Pendit, Pak Wiranto dan anaknya Ican, Bli Ketut Boncel masih duduk di kantin menunggu kedatangan teman-teman dari KTI Jember, KTI Surabaya, Lumajang Jeep Club dan Kebo Liar 4 X 4 Team dari Banyuwangi.

Beberapa kendaraan mulai berdatangan, FJ40 abu-abu dan FJ40 Hitam baru saja memasuki halaman hotel disusul oleh Taft GT, JImny Siera Biru, Land Rover Abu-abu bermesin diesel juga memasuki halaman hotel. Land Rover ini ternyata dibawa oleh pak Bambang Widodo seorang teman dari Kebo Liar 4 X 4 Banyuwangi yang akan menjadi leader perjalanan kali ini. Demikianlah teman-teman yang ikut acara Sukamade Adventure Tour ini mulai berdatangan. Saya catat adalah sebagai berikut :

KTI Bali menurunkan 4 mobil yang terdiri dari saya dan keluarga denga nsi Hitam,  Pak  Agus Pendit dan istri dengan KIA Army truck 4×4, Pak Wiranto dan anaknya Ican denga Trooper kuningnya, Bli Ketut Boncel dengan dengan Keluarganya dengan Stallion4 X 4 nya yang gagah berani. He he he he…  Trooper somewhere yang baru beberapa hari kembali dari TIAOR III diCikidang kemarin dulu.

KTI Surabaya diwakili oleh  Mas Zaenal dan Mas Asep, Mas Wenda dan pasangannya dengan 2 Trooper  bermesin diesel 4JB1T.

KTI Jember menurunkan 6 mobil yang terdiri dari  3 Tooper , 1 Chevy Luv 4×4 Pickup bermesin Diesel, 1 Taft Rocky, dan 1 Jimny.Siera dengan spek off road yang kelihatannya cukup advance.

LJC Lumajang dengan 5 mobil  2 FJ40  Hardtop dan 3 Jimny 4 X 4 yang dijokiin oleh Pak Budi, Pak Rio dan Mas Iwan cs.

Team Leader Banyuwangi menurunkan 8 Mobil yaitu  2 Land Rover long, 1 Taft GT,  1 Jimny Kutrik, 2 JImny SJ410, 1 FJ40 Canvas Hijau metalic, dan ada 1 J20 Gladiator pick up 4×4 warna merah maroon metallic dengan velg 23 inchi chrome yang membawa ATV dan motor trail.

Total ada 25 kendaraan yang akan turing ke Sukamade nanti. Rencana keberangkatan pukul 9.00 WIB atau 10 WITA nampaknya akan molor, karena salah satu panitia belum tiba di hotel Surya Jajag. Kami menunggu sekitar 25 menit lagi.

Akhirnya setelah menunggu sampai 20 menit, panitia memutuskan untuk segera berangkat agar tidak terlalu kemalaman di jalan nanti.

Sebelum START, Mas Bambang Widodo dari Kebo Liar 4 X 4 Banyuwangi yang dipercaya sebagai leader memberikan briefing singkat mengenai tata cara berkonvoi di jalan dan dilanjutkan dengan berdo’a bersama agar selamat sampai tujuan hingga kembali ke rumah masing-masing nanti.

Usai briefing tepat pukul 9.40 WITA kami mulai bergerak  dari Hotel Surya Jajag-Banyuwangi. Diiringi guyuran hujan gerimis mulai turun. Dengan tertib  satu persatu meninggalkan area parkir hotel saya mendapat kehormatan untuk start kedua setelah leader  diikuti oleh rekan- KTI-Bali yang lain, KTI-Surabaya, LJC Lumajang, Komunitas Adventure Banyuwangi. Kami berkonvoi dengan 25 mobil, dan tiap-tiap peserta mendapat kenang-kenangan berupa sticker PENYU ber-SIMEX

Petualangan seruakan segera di mulai..!  Dimulai dengan  perjalanan on-road selama 30 menit sepanjang 25 Km menuju Sarongan. Agar tidak jenuh, panitia berbelok memasuki  area Perkebunan Sungai Lembu. Perkebunan ini adalah milik PTPN yang ditanami pohon karet dengan luas areal sekitar  2500 Ha, dengan struktur tanah liat yang cenderung lembab dan licin.

Begitu memasuki trek pertama rute offroad Sukamade Adventure Tour ini kami sudah dihadang oleh 2 sungai sedalam kurang lebih 80 cm dan ber-arus cukup deras dengan lebar sungai sekitar 8 atau 10 meter. Untuk mobil sekelas Trooper memang sangat aman menyeberanginya, apalagi mobil KIA truk Army 4×4 milik Pak Agus Pendit dengan bekal restoran berjalan di dalamnya. He He He… Dengan mudah menyeberang diikutioleh kendaraan yang lainnya. Cukup aman. Disini semua kendaraan lolos tanpa ada masalah.

Sekitar pukul 12.30 waktu Trooper Hitam kami telah menembus jauh ke dalam hutan karet.  Dengan  konvoi kendaraan yang cukup panjang banyak membuat perjalanan kami terasa lambat. Di trek ini waktu kami banyak tersita karena di trek offroad ini terdapat  banyak sekali parit-parit yang cukup dalam dan lebar sehingga tanjakan dan tikungan disini menjadi sangat licin dan ditambah turunan yang curam membuat kami mesti berhati-hati agar tidak masuk jurang yang menunggu dikiri atau kanan trek  yang harus kita lalui.

Penduduk sekitar mengatakan bahwa semalaman habis diguyur hujan lebat, sehingga trek yang tadinya cukup soft berubah jadi ekstrem dan sanagt licin. Terlihat lumpur dan genangan air di sepanjang trek sehingga kami diharapkan mengaktifkan 4 X 4  untuk melintas di beberapa titik licin dan curam.

Di trek ini ada 2 mobil ditarik di trek tanjakan terjal yang menikung tajam, setelah kami ketahui ternyata si Taft Biru itu tidak memiliki sistem penggerak di keempat rodanya. Two Wheel only…!!!! Tentu kami tidak mau ambil resiko karena di sisi kanan tebing dan disisi kiri adalah jurang yang dalam menunggu kami jika terjadi kesalahan. Berkat kerjasama team, akhirnya semua kendaraan berhasil lewat dengan selamat. Semua Trooper berhasil lolos dengan mulus tanpa ada masalah. Top markotop deh driver-nya.  He he he he….

Team recovery dadakan tanpa dikomando segera dengan sigap mengambil strap dan mencari wiching point. Recovery di trek ini adalah awal perjalanan menuju Sukamade.  Salut untuk kerja sama semua teman-teman persertaSukamade Adventure Tour yang di prakarsai oleh Komunitas Trooper Indonesia Jember. Nafas adventure-nya sangat terasa.  

Namun sayang ada 1 mobil balik kanan alias pulang karena 4WD-nya  bermasalah sehingga tidak berani melintas karena medan yang cukup berat. hiks. Namun rasa lelah setelah menarik seling dan strap dapat terobati oleh  semangat dan kekompakan teman-teman sehingga trek yang cukup bejat itu dapat dilalui dengan aman dan selamat. 

Setelah melewati rute melelahkan beberapa parit lebar dan 4 buah sungai dan jalanan licin di hutankaret itu akhirnya kami tiba di Pasar Sarongan – Rajeg Wesi Digital clock di console box si Hitam telah menunjukkan pukul 16.24 WITA. Akhirnya rombongan diajak beristirahat sejenak, melepas lelah, acara ngopi dan santai-santai.

Daribeberpa penduduk yang sering ke Merubetiri, kami mendapat berita bahwa  3 Sungai di Sukamade sedang banjir dengan air setinggi dagu orang dewasa, sedangkan untuk menuju lokasi Sukamade kita harus menyeberangi sungai tersebut. Kaerna itu kami mendiskusikan dengan team leader dan jika banjir masih tingi, kami semua akan mendirikan tenda camping ditepi sungai, dan baru akan menyeberang setelah air surut, namun demikian kami tetap berdoa agar banjir itu tidak terjadi. 

Tiba di Teluk Ijo Pantai Rajegwesi

Tepat 17.00 WITA kami melanjutkan perjalanan. Dari pasar Sarongan kami akan berkendara kurang lebih 3 jam lagi menyusuri jalan pedesaan yang  melalui jalur tepi pantai Rajegwesi dan Teluk Ijo.

Pemandangan di Telok Ijo PantaiRajeg Wesi ini sangat elok dengan latar belakang laut dan pantai yang membatasi daratan Rajeg Wesi dengan laut selatan pulau Jawa bagian Timur dan dikelilingi oleh gunung dan hutan lindung Merubetiri.  Pemandangan yang benar-benar masih asli, udara yang segar dan cuaca yang sangat cerah membuat kami tetap bersemangat untuk terus berjalan mengejar waktu yang sudah semakin sore dan di depan kami masih akan melalui jalur ektrem yang mendaki dengan trek makadam yang berliku dengan jurang dalam disisi kiri kanan trek.  Perjalanan kami masih harus melalui jalan terjal berbatu yang cukup panjang menuju Merubetiri, Sukamade ini.

 Jalan yang kami lalui teramat rusak. Tampaknya memang jarang dilalu kendaraan roda empat. Hal itu bisa terlihat dari tingginya rumput yang tumbuh di badan jalan, terutama ditengah-tengah alur jalan. Jalanan hanya dikeraskan dengan bebatuan besar dan ditempatkan tidak beraturan sehingga cukup sulit untuk dilalui kendaraan biasa.

(bersambung)

Salam dari Bali

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

Advertisements

(Reposted) Adventure ke Sukamade dan Merubetiri. bag. 3


Ringkasan cerita yang lalu :

Oooh ma’af pak saya juga belum tahu. Cuma kata teman-teman disini yang akan jadi penunjuk jalan daerah itu ada di sebelah tenggara Banyuwangi”.  “Dari sini kurang lebih 65 kilometer. Cuma mesti pakai jip atau SUV yang four wheel, kaena jalannya rusak berat dan agak ekstrem untuk kendaraan jenis biasa.”  kata saya lagi.

“Lha ini mobilnya memang 4 X 4 ya.?” katanya lagi sambil mendekat kearah si Hitam yang sedang saya bersihkan kaca depannya.

“Iya pak. Ini 4 X 4.” Jawab saya.

“Lha ini apa bukan Kijang ya…?” tanyanya lagi membuat saya tersenyum.

Oalah. Mungkin si Hitam ini terlihat seperti Kijang yang di body lift kaya Kijang ALTO ya. Hi hi hi…

“Bukan Pak, ini Isuzu Trooper. Memang sudah 4 X 4 dari sononya.” Kata saya lagi menjelaskan.

“Ini bensin atau solar..?”  tanyanya lagi penasaran.

“O ya. Ini bensin pak, tapi ada juga yang solar kok.” “Trooper bensin mulai dibuat awal tahun 1991 sampai tahun 1996, saat pabrik perakitannya di bongkar untuk memproduksi Opel Blazer. Trooper solar dibuat mulai tahun 1984 sampai tahun 1990. Pada tahun-tahun awal diperkenalkan Trooper 3 pintu dengan Short Wheel Base. Sedikit lebih panjang dan lebih lebar dari Daihatsu Taft. Kemudian disusul dengan diperkenalkannya Trooper dengan Long Wheel Bases denga 4 Pintu mulai tahu 1985 akhir sampai dengan tahun 1988. Namun Karena tuntutan pasar, Long Wheel Based kemudian dikembangkan menjadi 5 pintu” kata saya lagi menjelaskan panjang lebar.

“Kalau konsumsi BBM nya bagaimana pak.?”  tanya bapak itu lagi.

“Kalau yang solar cukup ekonomis pak. 1 liter bisa untuk menempuh 9 sampai 12 km. Dengan asumsi mesin sehat terawat.  Namun pada jamannya, banyak orang mengeluh karena tenaga Trooper diesel sangat payah dan bolot. Tentu saja kurang bertenaga karena tenaga mesin diesel yang Normal Aspirated hanya mampu menghasilkan tenaga 55 PS.  Akhirnya Isuzu mengeluarkan mesin versi bensin denga tenaga 112 PS seperti yang saya pakai ini pak. “Namun konsumsi BBM mesin bensin ini juga agak boros. 1 liter hanya mampu menempuh 6 sampai 7 km saja.”  kata saya lagi.

“Wah modelnya bagus pak. Gagah dan kelihatannya kokoh ya.” Katanya lagi.

“Iya lumayan pak dengan harga kendaraan yang murah meriah, cukup sepadan.” Kata saya lagi.

“Itu yang versi diesel pak. “ kata saya sambil menunjuk Trooper Pak Wiranto yang sedang di bersihkan.

“Baik pak terimakaih atas penjelasannya.” Saya mau ngobrol sama bapak itu dulu ya.”  katanya sambil menunjuk pak Wiranto.

“Baik pak.  Silahkan.” Kata saya sambil melipat lap Kanebo yang sudah selesai saya pergunakan.

Tiba-tiba anak saya keluar kamar dan minta diantar untuk berenang. 
Saya bergegas menyelesaikan membersihkan si Hitam dan mengantar anak saya ke kolam renang di halaman tengah hotel Surya Jajag ini.

Sambil mengantar anak saya ke kolam renang, saya sempatkan diri untuk melihat-lihat sekitar hotel Surya Jajag ini. Kolam renangnya cukup luas dan bersih. Tampak sudah banyak anak-anak diantar orang tuanya masing-masing yang berenang. Ada yang sedang dilatih oleh guru privatnya dan ada juga yang sekedar berendam.

Saya tinggal anak dan istri saya ditemani oleh Mbak Irma istri pak Agus Pendit  di kolam renang. Sementara saya kembali ke kamar untuk mandi dan mengemasi barang-barang bawaan danmemasukkannya ke bagai. Tampaknya pak Agus Pendit juga sudah selesai mandi dan sedang memasukkan barang-barang bawaan ke truk KIA 4 X 4 nya.

Setelah mandi saya duduk di kursi di depan kamar ketika Pak Agus mengajak saya untuk sarapan di kantin restaurant di sebelah kolam renang. Kami beranjak ke kantin dan duduk di meja ditengah ruangan. Kami memesan nasi rawon dan menyerahkan kupon sarapan kepada petugas. Sambil menikmati sarapan kami membahas perjalanan dan rute yang akan kami lalui. Dari Pak Agus Pendit yang telah sempat beberapa kali ke Sukamade saya mengerti bahwa kami akan menyeberangi 5 buah sungai yang cukup lebar dan 2 buah parit yang juga lebar.

Dan berharap tidak turun hujan. Karena jika hujan turun cukup lebat air sungai akan naik cukup tinggi dan kami akan sulit untuk menyeberangi sungai yang berair deras dan dalam. Sementara kebanyakan peserta masih mengandalkan kendaraan dengan tinggi yang standard.

Pukul 8.45 WITA anak  dan istri saya selesai berenang dan kembali ke kamar untuk berkemas-kemas. Sementara kami Pak Agus Pendit, Pak Wiranto dan anaknya Ican, Bli Ketut Boncel masih duduk di kantin menunggu kedatangan teman-teman dari KTI Jember, KTI Surabaya, Lumajang Jeep Club dan Kebo Liar 4 X 4 Team dari Banyuwangi.

(bersambung)

Ikuti terus cerita petualangan KTI Bali ya…

Salam dari Bali

Dewa

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Adventure ke Sukamade dan Merubetiri. bag. 2


Ringkasan cerita yang lalu :

Pukul 18.47 WITA Bli Boncel akhirnya telah bergabung bersama kami. Dan kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Gilimanuk. 

Perjalanan ke Gilimanuk dari Bajra akan kami tempuh kurang lebih 2 jam dan menyeberang sekitar 45 menit sehingga estimasi kami tiba di Ketapang kurang lebih pukul 21.17 WITA dan dilanjutkan ke Hotel Surya di Jajag sekitar 1 ½ jam lagi dan kami harapkan bisa tiba di Hotel Surya Jajag sekitar pukul 22.00 WITA.

Kami beruntung jalanan belum terlalu padat oleh bus malam dan truk yang akan berangkat ke Jawa juga. Sehingga perjalanan relative lebih lancar. Dalam perjalanan kami bergerak dengan kecepatan rata-rata 70 kilometer perjam, sehingga tidak terlalu melelahkan bagi kami.

Pukul 19.57 WITA kami tiba di Pelabuhan Gilimanuk dan beruntung tidak ada antrean yang panjang. Kami segera masuk dan pelataran menuju tiket box dan membayar tiket seharga Rp.98.000,- dan segera memasuki perut Ferry yang akan menyeberangkan kami ke Ketapang.  Ferry ini ternyata sudah hampir penuh ketika empat mobil kami memasuki perutnya. Hanya menunggu 10 menit ferry yang kami tumpangi terasa mulai bergerak  berangkat menyeberangi laut Jawa.  Kami menunggu di dek atas sambi lngobrol mengenai perkembangan KTI Bali dan akltifitas yang akan kami laksanakan kedepan nanti. Saking asyiknya ngbrol tak terasa kami akan segera berlabuh beberapa saat lagi setelah trompet ferry berbunyi.

Pukul 21.37 WITA ferry telah bersandar didermaga dan penumpang mulai keluar dari perut ferry. Saya keluar diikuti oleh penumpang lain turun di tanah Jawa.  Setelah kami semua berkumpul dan line up, kami bergerak menuju Hotel Surya Jajag. Pak Iwan Sentani menelpon dan menanyakan kondisi dan posisi terakhir kami.

Jajag akan kami tempuh kurang labih 1 jam dari Ketapang, untuk mengejar waktu kami putuskan untuk terus bergerak agar bisa tiba di Jajag secepatnya mengingat Pak Iwan Sentani,  Pak Yoyok, Pak Dani dan beberapa teman KTI Jember lainnya menanti kami di Hotel Surya.

Pukul 11.17 WITA akhirnya kami tiba di Hotel Surya Jajag. Pak Iwan, Pak Yoyok, Pak Dani dan Pak Bambang Widodo dari 4 X 4 Kebo Liar Team Banyuwangi menyambut kami di halaman parkir.

Setelah memarkir kendaraan masing-masing, kami turun dan bersalam-salaman dengan teman-teman yang menyambut kami dan membahas rencana perjalanan esok pagi. Karena malam sudah cukup larut, sudah pukul  22.30 WITA akhirnya teman-teman KTI Jember pamitan pulang dan akan berkumpul lagi esok pukul 08.00 WITA.

Perjalanan dari Jajag ke Merubetiri, Sukamade

Malam itu kaim tidur cukup nyenyak dikamar hotel Surya Jajag. Hotel ini memiliki halaman yang cukup luas, namun sayang kelihatannya maintenance-nya kurang sehingga terkesan kotor dan kurang rapi. Dengan sewa semalam sebesar Rp.110.00,-  kamarnya miskin fasilitas, hanya ada TV 21 inchi model lama, kamar mandi yang tidak dipersiapkan. Saya mesti menguras bak sebelum mandi karena bak sangat kotor oleh debu dan sarang laba-laba. Namun sejak awal saya sudah mempersiapkan diri untuk tidak akan komplain kepada diri sendiri seburuk apapun fasilaitas yang didapat dikamar. Toh cuma bermalam di hotel semalam saja.

Begitulah, setelah mandi saya mengetuk pintu kamar Pak Agus Pendit yang bersebelahan untuk keluar mencari makan. Di hotel Surya ternyata tidak ada makanan utnuk supper. Jadilah kami keluar ke warung tenda terdekat yang berjarak kurang lebih satu kilometer saja kearah selatan dari hotel Surya, Jajag dengan mengendarai si Hitam, kami satu mobil begerak ke arah selatan mencari tempat makan terdekat.  Karena malam sudah sangat larut dan kelihatannya sudah banyak kedai makan yang mulai tutup akhirnya kami mutuskan makan yang ada saja. Saya mengemudikan si Hitam  bergerak perlahan-lahan sambil melihat kekiri kanan untuk mencari kedaimakan yang masih buka.

Setelah bergerak beberapa meter akhirnya kami putuskan untuk berhenti disebuah kedai tenda yang menjual sate kambing, sate ayam dan masakan cina. Ada tiga buah rombong dan tenda terpal yang dipasang dipinggir jalan dengan 2 buah meja panjang dengan deretan kursi plastik yang cukup bersih.

Kami duduk disisi meja yang berhadapan Pak Agus Pendit duduk disebelah kanan saya berhadapan dengan istrinya dan saya berhadapan dengan Anak saya Dewinta serta istri saya disebelahnya. Tidak banyak pilihan menu yang bisa kami pilih. Akhirnya karena memang sudah sangat lapar sejak tadi sore, saya memesan sate dan gulai kambing,  sementara istri saya memesan sayur hijau. Pak Agus dan istri memesan sate ayam dan cap cay goreng.  Berhubung perut memang sudah sangat lapar, makanan yang kami santap terasa nikmat juga di tengah malam itu.  Waktu telah menunjukkan pukul 12.15 WIB ketika kami selesai makan malam yang terlambat.

Sampai dihotel kami langsung berpisah masuk ke kamar masing-masing dan tidur cukup nyenyak. Karena perjalanan  yang sebenarnya baru akan dimulai esok hari.  Saya berusaha memicingkan mata untuk tidur namun tak dapat, akhirnya saya biarkan fikiran melayang-layang sampai capai dan akhirnya saya tertidur ketika sayup-sayup saya mendengar suara azan dikumandangkan dikejauhan.

Saya terbangun ketika mendengar suara mesin distarter. Walau mata masih terasa sepat, saya paksakan diri untuk bangun, sementara anak gadis saya rupanya sudah terbangun sejak tadi namun masih leyeh-leyeh di tempat tidur disamping istri saya yang tampak masih tidur lelap.  Saya bangkit dari tempat tidur dan membuka  pintu kamar.

Rupanya pak Wiranto dan anaknya sudah bangun dan sedang membersihkan kaca depan Trooper kuningnya. Tak berapa lama Bli Ketut Boncel juga keluar dari kamarnya dan ikut-ikutan mengambil ember kecil dan mulai membersihkan Stallion 4 X 4 nya. Akhirnya saya juga tergelitik dan ikut mengambil ember dan membersihkan si Hitam dari embun dan air hujan yang rupanya sempat turun tadi malam. Sambil membersihkan kendaraan masing-masing kami membicarakan route yang kan kami lalui ke Sukamade. 

“Selamat pagi pak…” tiba-tiba terdengar suara yang asing bagi saya menyapa.

Saya mebalikkan badan dan membalas sapaan itu dengan Selamat pagi juga, sambil membalikkan badan.

Seorang pria setengah umur yang sepertinya keturunan Tionghoa berdiri didepan saya mengenakan celana pendek dan sepatu kets putih dengan singlet putih juga.

“Dari mana pak.?” tanyanya lagi.

“Kami dari Bali pak.” Jawa saya. “Bapak sendiri dari mana…?” kata saya. “Lagi liburan pak..” tanya saya lagi.

“Saya dari Waru pak.”  “Iya lagi liburan.” Jawabnya.

“Ini ada acara apa pak.? Acara rally ya..?” tanyanya lagi.

“Oh ngga pak. Kami juga sedang liburan.” “Kami hendak liburan di Merubetiri, Sukamade disini.” Jawab saya lagi.

“Merubetiri,Sukamade itu dimana pak…? tanyanya lagi.

“Oooh ma’af pak saya juga belum tahu. Cuma kata teman-teman disini yang akan jadi penunjuk jalan daerah itu ada di sebelah tenggara Banyuwangi”.  “Dari sini kurang lebih 65 kilometer. Cuma mesti pakai jip atau SUV yang four wheel, karena jalannya rusak berat dan agak ekstrem untuk kendaraan jenis biasa.”  kata saya lagi.

(bersambung)

Salam dari Bali

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Adventure ke Sulamade dan Merubetiri. bag. 1


Dear KTI friends and all of our loyal visitors…

Saya kembali mengunjungi sobat semua untuk berbagi cerita mengenai perjalanan kami ke Merubetiri, Sukamade. Pada tanggal 7 sampai dengan 9 March 2009 yang baru lalu. Tour yang diberi title Sukamade 4×4 Adventure 2009 ini digelar oleh rekan-rekan kita dari Komunitas Trooper Indonesia Jember ini bertujuan untuk memberi pengalaman unik dan juga sekaligus berwisata ke Sukamade dimana kita bisa menyaksikan secara langsung penyu-penyu yang bertelur dan turut serta mengadakan pelepasan tukik (anak penyu yang baru berusia 2 sampai5 hari) ke laut di pantai Merubetiri untuk menjaga dan melestarikan penyu di tanah air kita tercinta ini. Tour adventure ke Sukamade ini juga merupakan undangan ayng pernah dilontarkan oleh mas Iwan dariKTI Jember saat beliau datang ke Bali dalam rangka HUT KTI Bali yang ke 3 yang kami laksanakan di Bali Outbound Farmstay, Baturiti. Tabanan, Bali.

Ikutilah cerita selengkapnya berikut ini…..

Sebenarnya undangan dari teman-teman kita KTI Jember agak mendadak. Saya menerima sms dari bli Boncel yang sedang dalam perjalanan pulang dari TIAOR III kemarin. Walau agak mendadak saya memang sejak lama sudah berencana dan mempunyai obsesi tersendiri untuk mengunjungi Merubetiri ini.

Hmmmm… Merubetiri dan Sukamade sudah sering saya dengar dan sering juga saya baca artikelnya di hampir setiap edisi Bali & Beyond magazine yang kebetulan saya sempat baca hampir setiap edisinya di kantor.

Begitulah, begitu ada udnangan dari Mas Iwan Sentahi dariKTI Jember, saya mulai menyiapkan segala sesuatunya, dan saya menyampaikan undangan ini kepada teman-teman KTI Bali lainya.

Akhirnya terdaftar 4 kendaraan yang akan ikut dalam tour ini yakni, saya  dan keluarga dengan Trooper Hitam, Bli Bncel dankeluarga dengan Sallion 4 X 4 nya, Pak Wiranto dengan Trooper muka Cherokee-nya dan Pak Agus Pendit dengan KIA Truk 4 X 4 nya army look-nya.

Kami berangkat dari Denpasar secara sporadis, karena masing-masing masih mempunyai kesibukan yang mesti dikerjakan dan berjanji akan ketemu di Bajra, sekitar 60 km arah barat Denpasar di jalan raya Denpasar – Gilimanuk. Kami berangkat sekitar pukul 16.00 WITA.

Saya sendiri berangkat lebih awal dari rumah. Berangkat pukul 16.10 WITA dari rumah menuju kampong halaman di desa Sam Sam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan untuk melihat tukang yang sedang mengerjakan proyek rumah still Bali untuk rumah tinggal kami saat hari tua nanti. Dijalan Pak Agus Pendit sempat menelpon saya dan menanyakan posisi saya. Dan saya jelaskan kalau saya sudah berangkat dan berjanji untuk menunggu Pak Agus di perempatan dijalan utama untuk berkonvoi ke Bajra dimana kami akan menunggu Bli Boncel dan Pak Wiranto untuk selanjutnya berkonvoi ke Gilimanuk.

Pukul 16.21 WITA saya sudah tiba diproyek di kampong halaman dan meninjau pondasi rumah yang seang dikerjakan. Proyek rumah tinggal yang sedang saya bangun ini berlokasi sekitar 300 meter dari jalan raya utama Denpasar – Gilimanuk di lahan seluas 1.200 meter persegi. Saat ini sedang mengerjakan pondasi rumahnya.  Rencananya akan ada 4 bangunan yang terpisah. Satu bangunan di sisi utara yang disebut balai Bandung yang berukuran 8 X 9 meter yang biasanya dipakai untuk “mebaosan” membicarakan segala sesuatu urusan adat. Balai Bandung ini hanya mempunyai 1 kamar tidur dan satu ruang bebas di depannya, sementara di depannya adalah teras yang cukup luas umumnya berukuran 3 X 8 meter persegi dengan tiang dan kuda-kuda atau orang Bali menyebutnya “Mayong” yang diukir dengan ukliran halus timbul bermotif dedaunan dan bunga-bunga yang kami sebut “bun-bunan” dan biasanya di lapisi dengan cat warna emas yang disebut “Prada” dengan kombinasi cat warna merah. Balai Bandung mempunyai tinggi lantai paling tinggi diantara semua bangunan yang ada. Idealnya lantai Balai Bandung adalah setinggi  120 centimeter dari halaman dengan anak tangga sebanyak 3, 5 atau 7 anak tangga tergantung tinggi yang lantai bangunan.

Semetara ditengah halaman akan dibangun “Balai Astapeta” adalah balai Bali yang mempunyai tiang penyangga sebanyak 8 tiang dan satu “Taban” atau tempat tidur yang juga di ukir halus dengan ukiran motif dedaunan dan bunga “bub-bunan”. Balai ini biasanya dipakai untuk tempat mengatur sesajen disaat hari raya besar Hindu seperti Galungan, Kuninan Nyepi dan upacara manusa yadnya lainnya seperti, upacara akil balik anak-anak dan lain sebagainya. Tinggi lantai balai “Asta peta” ini biasanya mulai100 centimeter sampai 120 centimeter disesuaikan dengan tinggi bali Bandung dan balai lainnya.

Sementara di sisi timur adalah bangunan rumah tempat tinggal yang umumnya ditempati oleh anak-anak dan keluarga yang baru dibentuk.

Disebelah sisi selatan adalah dapur bebas dan bangunan yang paling dekat dengan pintu gerbang dan “Kuri Agung” adalah bangunan yang dipakai untuk Garase dengan luas 10 X 5 meter degnan atap setinggi 3.5 meter. Ini saya rancang untuk mampu menerima Jeep yang tingginya sampai 3 meter. He he hehe.. Maklum masih senang melihat jip yang tinggi.

Sementara di pojok timur laut adalah “Pemerajan” atau Pura pribadi untuk keluarga saya pribadi.

Dan di belakang Balai Bali yang diebut Bale “Astapeta” rencananya akan didirikan lumbung padi sebagai simbol kemakmuran, tentu dengan harapan keluarga kami bisa memperoleh kemakmuran. Bale Astapeta adalah Bale Bali untuk mengadakan upacara “Manusa yadnya” bagi umat Hindu mulai dari siraman sejak ibu mengandung janin yang sudah berumur 7 bulan kandungan, Upacara mepetik, atau upacara 100 hari setelah kelahiran bayi yang kami sebut “Telu bulanan” adalah upacara 105 hari setelaha sang bayi lahir, kemudian upacara akil balik anak yang dari kanak-kanak menjadi remaja, upacara potong gigi atau metatah, pernikahan anak dan sebagainya yang merupakan yadnya untuk umat Hindu. “Manusa  Yadnya” adalah korban suci untuk manusia Hindu.

Begitulah sekilas proyek yang sedang saya kerjakan di kampung halaman untuk ahri tua kami kelak. He he he he.

Alright, back to the topic our Adventure Tour to Sukamade. Pukul 17.37 WITA pak Agus Pendit  menelepon saya dan memberi tahu bahwa beliau sudah sampai di By pass Kediri yang hanya 2 kilometer dari proyek rumah saya.

Karenanya, saya segera meninggalkan lokasi proyek dan menunggu di jalan utama. Hanya beberapa menit menunggu tampak KIA Army look meluncur dari arah timur dan menepi tepat didepan saya. Dari radio komunikasi yang telah kami sepakati frekwensinya di143.000 Mhz saya persilahkan Pak Agus Pendit untuk segera bergerak dan kami akan menunggu Bli Boncel dan Pak Wiranto di Bajra. Hari sudah menjelang magrib ketika kami memasuki daerah Meliling, sekitar 8 kilomeer dari kota Tabanan yang terkenal dengan tikungan tajam dengan tebing dan jurang dikiri kanannya. Tak heran di daerah ini sering terjadi kecelakaan fatal.

Entah berapa truk dan tronton yang memuat semen, keramik, kayu, truk kargo dan  truk yang mengirim mie instant yang terbalik atau menabrak tebing di daerah ini.  Kecelakaan fatal seperti itu terjadi lebih sering karena kesalahan pengemudinya yang memuat barang melebihi kapasitas angkut truknya. Coba saja kita perhatikan di jalur ini, truk memuat barang melebihi tinggi bak pengangkutnya, semakin bertambah berbahaya jika kita mengikuti dibelakangnya, mengingat truk–truk itu juga sudah berumur dan kemampuan mesin yang tidak memadai, membuatny abersusah payah saat menanjak ditikungan tajam dengan tebing atau jurang disisinya. Dan terjadilah kecelakaan fatal. Hampir setiap minggu ada saja truk yang terbalik di sepanjang jalur ini.

Namun kami beruntung tidak berpapasan dengan truk-truk yang seperti itu disepanjang jalur ini. Dan kami terus melaju dengan kecepatan sedang sambil sesekali berkomunikasi dengan pak Agus Pendit untuk menghilangkan kejenuhan.

Akhirnya pukul 18.09 WITA kami tiba di Bajra dan berhenti di depan warung kecil untuk menunggu Bli Boncel dan Pak Wiranto.

Setelah menunggu kurang lebih 20 menit tampak Pak Wiranto dengan Trooper Kuningnya mendekat dan menepi dan berhenti tepat dibelakang Trooper Hitam saya.  Pak Wiranto dan anaknya Ican turun dan mendatangi kami yang tengah duduk di warung dan bergabung bersama kami. Semenara kami masih mesti menunggu Bli Boncel yang ternyata ketinggalan tas pinggang yang berisi semua dokumen-dokumen penting yang mesti dibawanya, sehingga mesti kembali kerumah, padahal dia sudah lumayan jauh dari rumahnya, jadilah keberangkatan kami agak molor dari waktu yang di sepakati.

(bersambung)

Ikuti terus cerita perjalanan ke Sukamade dan Merubetiri ini..

salam dari Bali

dewa

DK999YQ

Silent-H-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta. bag. 5


Ringkasan cerita yang lalu :

Kami segera masuk kehalaman pura dan menghaturkan sesajen Pejati yang kami bawa dari Bali. Pemangku Pura menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk mengambil tempat untuk bersila dan melakukan persembahyangan.

Setelah beliau mengucapkan mantera diringi dengan irama genta bajra. Kami melakukan persembahyangan dengan khidmat dan khusuk. Suasana sangat khidmat dan terasa damai.

Setelah selesai bersembahyang kami masih mengambil beberapa gambar lagi dan kemudian meninggalkan Bromo untuk melanjutkan perjalanan ke Yogya melalui Gunung Penanjakan disisi sebelah utara Gunung Bromo.

Dari lautan pasir kami memandangi gunung Penanjakan yang terlihat sangat tinggi, yang membut kami agak ragu apakah Trooper kami mampu menanjak dengan tanjakan terjal berliku seperti itu.

Seperti biasa saya kebagian juru kunci sekalian mengawasi teman-teman KTI Bali lainnya yang mulai merayap naik dan memonitor keadaan di depan melalui radio komunikasi.

Yang pertama kali naik adalah Pak Budi dengan 4 JB1T tanpa masalah. Bahkan tidak mengaktifkan 4WDnya. Disusul oleh Agung Wira dengan Trooper bensin Hijaunya, naik tanpa masalah,  Pak Ketut Sugiata dengan Trooper diesel 85 mesin standard, berhasil naik tanpa kesulitan.

Kemudian giliran Pak Wayan Murya naik dengan Stallion Hijaunya, namun beberapa saat kemudian di radio komunikasi terdengar suara Pak Wayan Murya panik, menyampaikan bahwa si Stallion tidak mampu naik dan kehabisan nafas ditikungan tajam dengan tanjakan terjal dengan  sudut inclinasi sekitar 60 derajat. Pak Wayan terdengar sangat panik. Saya berusaha menenangkan dan memberi tahu agar tetap tenang dan menarik rem tangan dan memasukkan perseneleng 1. Sementara Pak Agus Pendit dengan Land Cruiser VX putih akan mengevakuasi dengan menarik Stallion Pak Wayan ke atas. Saya menyiapkan sling dan menyerahkannya kepada Pak Agus, Pak Yudi juga menyerahkan tali nylon yang dibawanya untuk membantu evakuasi, dan Pak Budi juga memberikan strap untuk memperkuat sling dan tali.

Beberapa saat terdengar di radio komunikasi bahwa Pak Wayan sudah berhasil ditarik dan melaju keatas Gunung Penanjakan terus melewati tanjakan terjal sampai semuanya terlihat aman.

Setelah itu giliran saya naik. Setelah memasang handle 4WD saya naik perlahan-lahan. Tikungan demi tikungan, tanjakan demi tanjakan kami lewati dengan tenang dan akhirnya berhasil sampai di puncak Penanjakan tanpa kesulitan. Saya segera masuk dalam barisan dan line up sebelum kembali konvoi. Jam telah menunjukkan pukul 12.30 WITA. Sementara kami masih berada di Penanjakan dan perjalanan ke Yogya masih membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam lebih. Hal ini saya sampaikan kepada semua teman-teman KTI Bali untuk segera bersiap dan bergerak menuju Yogya. Namun kami agak ragu karena Pak Wiranto sebagai Tour Leader juga agak bingung setelah membaca peta yang dibawa. Dari peta yang kami baca kami rencananya akan melewati Nongkojajar, Sawojajar. Tosari  dan tembus ke Purwodadi.

Beruntunglah ada penduduk yang menawarkan jasanya untuk menjadi penunjuk jalan kearah Nongkojajar dan Sawojajar sehingga akhirnya kami bisa ketemu jalan arah ke Purwodadi.

Setelah masuk jalan kearah Purwodadi Pak Urip yang menjadi penunjuk jalan itu berbalik arah meninggalkan kami setelah kami beri uang lelah dan uang bensin secukupnya.

Selanjutnya kami akan melaporkan perjalanan KTI Bali ke Yogyakarta.  Tetaplah mengikuti situs kami Trooper-Indonesia Bali di da-trooper-bali.com.….

Dewa Juli/07

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta. bag. 4


Ringkasan cerita yang lalu :

Hari mulai siang dan Digital clock di Trooper kami menunjukkan pukul 11.40 WITA, dan matahari bersinar sangat terik ketika rombongan kami tiba di depan Pura Gunung Bromo. Sebenarnya kami masih ingin lebih mendekat lagi kearah kaldera puncak tertinggi Gunung Bromo, namun mengingat keterbatasan waktu, kami akhirnya berhenti dikaki gunung saja dan kembali bergerak kearah pura Bromo.

Kami segera masuk kehalaman pura dan menghaturkan sesajen Pejati yang kami bawa dari Bali. Pemangku Pura menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk mengambil tempat untuk bersila dan melakukan persembahyangan.

Setelah beliau mengucapkan mantera diringi dengan irama genta bajra. Kami melakukan persembahyangan dengan khidmat dan khusuk. Suasana sangat khidmat dan terasa damai.

Setelah selesai bersembahyang kami masih mengambil beberapa gambar lagi dan kemudian meninggalkan Bromo untuk melanjutkan perjalanan ke Yogya melalui Gunung Penanjakan disisi sebelah utara Gunung Bromo.

Dari lautan pasir kami memandangi gunung Penanjakan yang terlihat sangat tinggi, yang membut kami agak ragu apakah Trooper kami mampu menanjak dengan tanjakan terjal berliku seperti itu.

Seperti biasa saya kebagian juru kunci sekalian mengawasi teman-teman KTI Bali lainnya yang mulai merayap naik dan memonitor keadaan di depan melalui radio komunikasi.

Yang pertama kali naik adalah Pak Budi dengan 4 JB1T tanpa masalah. Bahkan tidak mengaktifkan 4WDnya. Disusul oleh Agung Wira dengan Trooper bensin Hijaunya, naik tanpa masalah,  Pak Ketut Sugiata dengan Trooper diesel 85 mesin standard, berhasil naik tanpa kesulitan.

Kemudian giliran Pak Wayan Murya naik dengan Stallion Hijaunya, namun beberapa saat kemudian di radio komunikasi terdengar suara Pak Wayan Murya panik, menyampaikan bahwa si Stallion tidak mampu naik dan kehabisan nafas ditikungan tajam dengan tanjakan terjal dengan  sudut inclinasi sekitar 60 derajat. Pak Wayan terdengar sangat panik. Saya berusaha menenangkan dan memberi tahu agar tetap tenang dan menarik rem tangan dan memasukkan perseneleng 1. Sementara Pak Agus Pendit dengan Land Cruiser VX putih akan mengevakuasi dengan menarik Stallion Pak Wayan ke atas. Saya menyiapkan sling dan menyerahkannya kepada Pak Agus, Pak Yudi juga menyerahkan tali nylon yang dibawanya untuk membantu evakuasi, dan Pak Budi juga memberikan strap untuk memperkuat sling dan tali.

Beberapa saat terdengar di radio komunikasi bahwa Pak Wayan sudah berhasil ditarik dan melaju keatas Gunung Penanjakan terus melewati tanjakan terjal sampai semuanya terlihat aman.

Setelah itu giliran saya naik. Setelah memasang handle 4WD saya naik perlahan-lahan. Tikungan demi tikungan, tanjakan demi tanjakan kami lewati dengan tenang dan akhirnya berhasil sampai di puncak Penanjakan tanpa kesulitan. Saya segera masuk dalam barisan dan line up sebelum kembali konvoi. Jam telah menunjukkan pukul 12.30 WITA. Sementara kami masih berada di Penanjakan dan perjalanan ke Yogya masih membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam lebih. Hal ini saya sampaikan kepada semua teman-teman KTI Bali untuk segera bersiap dan bergerak menuju Yogya. Namun kami agak ragu karena Pak Wiranto sebagai Tour Leader juga agak bingung setelah membaca peta yang dibawa. Dari peta yang kami baca kami rencananya akan melewati Nongkojajar, Sawojajar. Tosari  dan tembus ke Purwodadi.

Beruntunglah ada penduduk yang menawarkan jasanya untuk menjadi penunjuk jalan kearah Nongkojajar dan Sawojajar sehingga akhirnya kami bisa ketemu jalan arah ke Purwodadi.

Setelah masuk jalan kearah Purwodadi Pak Urip yang menjadi penunjuk jalan itu berbalik arah meninggalkan kami setelah kami beri uang lelah dan uang bensin secukupnya.

Selanjutnya kami akan melaporkan perjalanan KTI Bali ke Yogyakarta.  Tetaplah mengikuti situs kami Trooper-Indonesia.info….

Dewa Juli/07

DK999YQ

Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta. bag. 3


Ringkasan cerita yang lalu :

Setelah menurunkan barang seperlunya, kami segera masuk kamar untuk beristirahat. Sementara waktu telah menunjukkan pukul 01.55 WITA atau 00.55 WIB. Dan semua Trooperist dan keluargaya masing-masing masuk kamar untuk berisitrahat untuk menjaga stamina dalam menempuh perjalanan panjang esok hari.

Esok hari kami berencana mengexplore Gunung Bromo dan lautan pasirnya……

Penjejelajahan di Bromo…

Setelah berisitirahat kurang lebih 4 jam semalam, pukul 06.15 WITA atau 05.15 WIB saya terjaga, walau berupaya untuk tidur lagi namun kebiasaan bangun pagi membuat mata ini tidak mau untuk disuruh tidur lagi.

Karena itu saya segera menendang selimut dan membuka gorden untuk melihat ke luar, ternyata matahari sudah tampak memerah di ufuk timur. Saya buka pintu kamar dan turun ke halaman untuk  meregangkan otot yang terasa agak kaku karena duduk mengemudi selama 9 jam. Brrrr…. Ternyata udara masih sangat dingin, saya yang hanya mengenakan T-shirt agak menggigil. Namun udara dingin saya lawan dengan mengadakan stretching pada sendi dan otot, sehingga rasa dingin berkurang.

Tampak Pak Ketut Sugiatha, Pak Wayan Murya dan IB Budi juga telah bangun dan menghidupkan mesin Troopernya. Beberapa saat kemudian tampak Pak Agus Pendit, Agung Wiratama, Pak Wiranto dan Pak Yudi juga telah bangun memasukkan barang-barang bawaan yang diturunkan tadi malam.

Kami berbincang-bincang sejenak mengenai rencana penjelajahan di Bromo yang akan kami lakukan pagi ini. Kami harus membatasi waktu di Bromo hingga kurang lebih pukul 11. 00 WITA.

Setelah mandi dan berbersih bersih diri, pukul 07.15 WITA kami telah menyantap sarapan pagi berupa nasi goreng dan secangkir teh manis hangat.

Seperti hari sebelumnya, kami makan dengan cepat dan segera berkemas-kemas untuk bergerak menjelajahi Gunung Bromo.

Pukul 07.45 WITA kami telah diatas Trooper yang bergerak naik kearah Gunung Bromo. Dari informasi staff hotel Sukapura, Gunung Bromo ada 20 km di depan dan bisa ditempuh kurang lebih 35 menit. Altimeter di Trooper kami masih menunjuk ke angka 1.450 yang berarti kami berada pada ketinggian 1.450 meter diatas permukaan laut. Jalanan sempit  terus menanjak dan berkelok-kelok tajam, dengan pemandangan alam yang cukup indah dikiri-kanan. Lembah dan ngarai, jalan di tepi jurang terus kami lewati dan beberapa rumah penduduk pegunungan tengger mulai tampak.

Mayoritas penduduk pegunungan Tengger ini memeluk agama Hindu. dengan total populasi kurang lebih 14.000 jiwa. Hal itu tampak dari setiap rumah yang kami lewati terdapat pelinggih dan masih tampak Penjor yang terpasang dimasing-masing rumah penduduk untuk merayakan Hari Raya Kuningan yang baru saja lewat tanggal 7 Juli 2007 kemarin. Nama Tengger diambil dari Nama belakang putri Roro Anteng salah satu putri dari Kerajaan Majapahit yang menentang orang tuanya karena berbeda pendapat  dan melarikan diri kemudian menikah dengan Joko Seger. Setelah menikah beberapa lama, kedua pasangan itu Roro Anteng dan Joko Seger tidak dikarunia anak, yang mana membuat mereka berputus asa dan dalam keputus asaannya itu, mereka mendaki Gunung Bromo untuk bertapa dan memohon kepada Hyang Widhi agar mereka segera di karuaniai anak. Dalam tapa semedinya Hyang Widhi menampakkan diri dan berjanji membantu mereka agar segera mendapatkan momongan, tetapi dengan satu syarat bahwa mereka bersedia  mempersembahkan anaknya yang terakhir kepada Hyang Widhi. Singkat cerita mereka telah dikaruniai 24 orang anak. Dan ketika anak terakhir mereka yang diberi nama Kusuma lahir, Roro Anteng mengingkari janjinya untuk mempersembahkan anak tersebut kepada Hyang Widhi. Hal itu membuat Hyang Widhi murka dan menyemburkan api dan lahar dari kawah Gunung Bromo dan membakar setiap apapun yang dilaluinya sampai akhirnya Roro Anteng dan Joko Seger melaksanakan janjinya mempersembahkan anaknya Kusuma ke kawah Gunung Bromo. Ketika anak itu dilempar ke dalam kawah, terdengar suaranya yang mengingatkan kepada penduduk Tengger untuk selalu melaksanakan upacara persembahan itu setiap tahun yang kemudian dikenal dengan Yadnya Kesada yang terus dilaksanakan sampai saat ini.

Gunung Bromo dipercaya oleh masyarakat Tengger sebagai Gunung suci dimana  setiap tahun penduduk Tengger melaksanakan Yadnya yang dikenal dengan Yadnya Kesada yang dilaksanakan setiap bulan ke 10 tahun Caka pada saat bulan Purnama. Upacara Yadnya Ke Sada di mulai dari Pura disebelah utara Gunung Bromo dan berakhir di puncak Gunung Bromo.

Begitulah sekilas cerita tentang Gunung Bromo yang tersohor itu.

Penjelajahan Bromo.

Penjelajahan ke puncak Gunung Bromo mutlak harus dengan kendaraan four wheel karena medan yang dilewati cukup berat yang berupa lautan pasir tebal yang mana akan sangat berat bagi kendaraan yang tidak mempunyai gerak 4 roda atau four wheel drive. Begitulah yang kami dengar dari penduduk setempat yang kerap menjadi host atau penunjuk jalan bagi para pelancong yang ingin menjelajahi keindahan Gunung Bromo.

Kami terus bergerak keatas semakin tinggi dan Alti meter telah menunjuk ke angka 1.950 meter. Sesekali kami berpapasan dengan beberapa kendaraan FJ 40 yang membawa penumpang turun dari Gunung Bromo  sehabis menyaksikan Sunrise atau terbitnya matahari dari atas Gunung Bromo. Digital clock di console box Trooper kami menunjukkan angka 09.25 WITA. Beberapa saat kemudian kami di arahkan memasuki terminal. Kami sempat berisitrahat sejenak sambil melihat pemandangan sekeliling.  Setelah line up kami bergerak dan memasuki pos penjaggaan dan setelah membeli tiket retribusi masuk  seharga Rp.4.000,- per orang kami segera masuk dan menyusuri jalan masuk yang sedang di beton dengan konstruksi besi. Besi beton berseliweran disana sini yang membuat kami harus ekstra hati-hati melewatinya,  salah salah bisa menggores bodi Trooper kami. Jalanan terus menurun terjal dan licin karena banyak pasir dan kerikil yang ditempatkan teronggok sembarangan oleh kontraktor pelaksana.  Beberapa saat kemudian kami sampai di lautan pasir yang terdekat.

Dilautan pasir ini para Trooperist mulai beraksi dengan menggeber Troopernya bekelling sebelum saya meminta kepada teman-teman untuk segera berkumpul karena kita akan mengadakan persembahyanngan bersama di Pura Gunung Bromo. Namun sebelumnya, Pak Budi mengajak kami ke Beji atau Sumber air Suci yang terletak kurang lebih 7 km di sebelah utara Gunung dan Pura.melewati padang sabana dan lautan pasir luas  Rombongan bergerak kearah utara dengan melewati lautan pasir sehingga debu pasir beterbangan membuat pandangan kedepan agak terbatas.

Pemandangan di lautan pasir ini sungguh menakjubkan. Sekeliling kita hanyalah pasir dan alang-alang. Sementara beberapa penduduk lokal menawarkan kesempatan berkuda kepada kami.

Temperatur udara di siang hari cukup panas dan masih mampu membuat kulit kita terbakar, namun pada malam hari suhu turun sangat extreme antara 5 derajat pada musim dingin dan sampai 9 derajat celcius pada musim panas.

Kami mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan di Lautan Pasir Bromo sambil terus melanjutkan perjalanan ke Beji untuk mengambil air suci dan bersembahyang disana.

Kurang lebih 20 menit kemudian kami tiba di Beji tempat air suci dan setelah menghaturkan persembahan sesajen Pejati yang kami bawa dari Bali, kami bersembahyang bersama memohon keselamatan dan perlindungan dari Ida Hyang Widhi agar kami selamat dalam perjalanan hingga kembali pulang ke Bali.

Setelah selesai sembahyang bersama di Pura Beji, kami segera tancap gas menuju Pura Bunung Bromo sehingga debu kembali mengepul dimana-mana. Jarak 7 km kami tempuh dalam waktu kurang lebih 15 menit mengingat jalan pasir tebal yang kami lewati membuat Trooper kami agak berat sehingga kecepatan tidak bisa lebih dari 40 km perjam.

Hari mulai siang dan Digital clock di Trooper kami menunjukkan pukul 11.40 WITA, dan matahari bersinar sangat terik ketika rombongan kami tiba di depan Pura Gunung Bromo. Sebenarnya kami masih ingin lebih mendekat lagi kearah kaldera puncak tertinggi Gunung Bromo, namun mengingat keterbatasan waktu, kami akhirnya berhenti dikaki gunung saja dan kembali bergerak kearah pura Bromo.

Kami segera masuk kehalaman pura dan menghaturkan sesajen Pejati yang kami bawa dari Bali. Pemangku Pura menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk mengambil tempat untuk bersila dan melakukan persembahyangan.

(bersambung)

Ikuti terus cerita perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta.

salam dari Bali

Dewa

DK999YQ
Silent-Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta. bag. 2


Ringkasan cerita yang lalu :

Beberapa saat Pak Ketut Sugiata, Pak Wiranto dan Pak Wayan Murya melintas didepan saya, disusul oleh, Agung Wiratama, Agus Mahendra Pendit, dan terakhir IB. Budi. Tenyata Pak Yudi tidak ada dalam rombongan. Hal ini sedikit mengganggu fikiran saya, sebaba bagaimanapun juga sebagai ketua KTI Bali saya merasa bertanggung jawab secara moral jika ada hal-ha yang terjadi yang menimpa salah satu anggota KTI Bali yang berangkat ke Yogya ini. Saya coba kontak ke teman-teman yang lain dan mendapat info bahwa Pak Yudi dan keluarganya telah brangkat mendahului rombongan untuk mencari saya untuk mengambil antenna Larsen yang saya siapkan untuk radionya. Namun setelah saya panggil-panggil di radio, tidak juga menjawab. Kekhawatiran semakin menjadi-jadidalam diri saya, namuntidak saya ungkapkan kepada teman-teman yang lain, khawatir akan mengganggu fikiran teman-teman yang lain, sehingga saya memutuskan untuk menunggu barangkali akan menunggu di tempat lain, atau mungkin juga mendahului dan menunggu dipelabuhan Gilimanuk.

Pukul 14.25 WITA kami sudah bergerak kearah barat menuju pelabuhan Gilimanuk kurang lebih 99 km kearah barat kota Tabanan. Jika perjalanan lancar menurut estimasi, kami akan tiba di pelabuhan Gilimanuk kurang lebih pukul 16.45 WITA.

Cuaca tampak cerah seolah merestui perjalanan panjang kami,  sinar matahari bersinar terang. Kami semua sangat gembira bisa berangkat sesuai dengan rencana. Sepanjang perjalanan kami senantiasa saling berkomunikasi untuk mengetahui kondisi dari masing-masing Trooper kami beserta awak kabin yang turut serta. Sejauh ini perjalanan cukup lancar dan tidak ada hambatan yang berarti. Kami melaju dengan kecepatan rata-rata 80 ke 90 km perjam dengan tetap menjaga ketertiban dan keamanan diri sendiri dan orang lain  dengan selalu mamatuhi rambu-rambu lalu lintas. Ini penting untuk memberi contoh kepada para anggota dan juga pengguna jalan lain untuk selalu menjaga keamanan diri dan orang lain selama kita berkendara.

Pukul 15.45 WITA kami tiba di Pura Rambut Siwi, Jemberana dan mengadakan persembahyangan memohon keselamatan agar kami senantiasa dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi selama perjalan kami ke Yogya hingga kembali pulang ke Bali.

Pura Rambut Siwi ini adalah salah satu pura tertua di Bali, di percayai lebih tua dari Pura terbesar di Bali yaitu Pura Besakih. Rambut Siwi adalah tempat pertama kalinya Dang Hyang Nirartha menginjakkan kaki di tanah Bali. Pura Rambut SIwi ini adalah  peninggalan Dang Hyang Nirartha atau yang sering disebut Pedanda Sakti Wawu Rauh. Beliau inilah yang menyebarkan agama hindu dari Jawa ke Bali. Konon menurut cerita sastra kuno, kurang lebih pada tahun 1821 Sebelum Masehi pada saat masa keemasan Kerajaan Medang Kemulan beliau menyeberangi selat Bali dengan mengendarai pelepah daun kelapa, dan karena ombak yang sangat besar beliau mampir di Rambut Siwi ini dan mengajarkan ajaran Hindu kepada masyarakat setempat yang saat itu masih menganut faham animisme ataupun menyembah berhala.

Selepas mengajarkan agama Hindu dan tata cara bercocok tanam Dang Hyang Nirartha hendak meneruskan perjalanan menyusuri pantai selatan Pulau Bali, namun masyarakat memohon kepada beliau untuk tinggal. Untuk memenuhi harapan masyarakat, maka beliau memotong beberapa helai rambutnya dan meninggalkannya di sebuah batu yang kemudian oleh penduduk setempat dibuatkan monument atau yang biasa disebut pelinggih, dan akhirnya untuk selalu mengenang kehadiran Dang Hyang Nirartha di Jemberana, nama pelinggih itu diberi nama Rambut Siwi dan akhirnya sampai dengan saat ini menjadi salah satu pura sad kahyangan yang disungsung oleh umat Hindu se Bali. Demikian sekilas mengenai Pura Rambut Siwi,Jembrana.

Beberapa angota KTI tampak minum dan ada beberapa yang makan di warung di seberang pura, sambil menunggu anggota lain yang masih bersembahyang.

Seperti yang telah direncanakan, ternyata tepat pukul 16.55 WITA kami sudah memasuki parkir pelabuhan Gilimanuk. Dan sayup sayup terdengar Pak Yudi memanggil rombongan kami dan menginformasikan bahwa dia dan keluarga telah menunggu di parkir pelabuhan sejak pukul 16.00 WITA. Berarti 1 jam lebih awal dari kami.

Setelah membeli tiket penyeberangan seharga Rp.80.000,- permobil, kami bersiap masuk ke perut ferry untuk menyeberang ke pelabuhan Ketapang. Semua awak Trooper turun dan naik ke deck atas Ferry untuk menunggu tiba di seberang. Ombak tampak tidak terlalu besar sehingga saya fikir akan lebih cepat merapat ke pelabuhan Ketapang.

Pukul 17.33 WITA ferry sudah  membuang sauh dan bergerak menuju pelabuhan Ketapang. Menurut informasi sebelumnya penyeberangan Gilimanuk – Ketapang membutuhkan waktu kurang lebih 30 – 45 menit. Jadi estimasi tiba di Ketapang kurang lebih pukul 18.03 WITA. Namun tidak sampai 25 menit ternyata kami telah tiba di Ketapang. Penyeberangan yang sangat cepat menurut saya.

Setelah keluar dari ferry kami semua kembali line up untuk berkonvoi kearah utara menyusuri pantai utara menuju ke Gunung Bromo. Waktu telah menunjukkan pukul 20.35 WITA atau 19.35 WIB. Waktunya untuk makan malam.

Setelah berkoordinasi akhirnya kami makan malam dengan menu nasi rawon di warung Bu Harti beberapa kilo meter sebelum Bajulmati.

Kami makan dengan sangat cepat karena harus mengejar waktu agar bisa tiba di penginapan Sukapura, Bromo tidak terlalu arut malam.

Selesai makan malam, kami segera berangkat, kali ini kami tidak akan berhenti kecuali mengisi bahan bakar si Trooper. Kami melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km perjam mengingat jalanan yang mulai agak ramai oleh bus malam dan truk dengan trailer. Digital clock di console box perseneleng Trooper kami menunjuk ke angka 08.45 WITA karena sejak dari Bali kami tidak menyesuaikan jam di Tooper kami ke waktu Indonesia Barat atau WIB.

Kami berhenti di Bondowoso untuk mengisi bahan bakar. Hampir semua Trooper kecuali Pak Yudi dan Pak Wayan Murya yang tidak mengisi bahan bakar. Setelah selesai mengisi bahan bakar, kami bergerak lagi dengan Pak Wiranto sebagai ujung tombak, karena beliaulah yang hafal jalan dan sejak awal rapat persiapan keberangkatan ke TIG VII dan diskusi di Bali ditunjuk sebagai Tour Leader KTI Bali ke TIG VII Yogya ini.

Kami terus bergerak kearah barat mengikuti Pak Wiranto kearah Pasuruan dan berbelok kearah Gunung Bromo. Saya melirik trip meter yang telah menunjukkan angka 367 km. Berarti kami telah menempuh perjalanan sejauh 367 km meter dari Denpasar. Sambil berkoordinasi via radio komunikasi saya tanya Pak Wiranto kira-kira kita sampai pukul berapa. Estimasi beliau kemungkinan kami akan tiba di Penginapan Sukapura tempat kami menginap menjelang dini hari.

Awak kabin sudah sepi tidak banyak yang bercakap-cakap, karena sebagian besar dari mereka telah tertidur. TInggal para driver yang saling berkoordinasi  menginformasikan kondisi jalan dan keadaan sekitar.

Pukul 00.54 WITA kami memasuki desa Sukapura dan berhenti di SPBU Sukapura untuk mengisi bahan bakar mengingat setelah SPBU ini pak Wiranto sebagai Tour Leader tidak tahu persis dimana SPBU terdekat. Karena itu belia nmenyarankan mengisi full tangki Trooper kami sebelum memasuki Hotel Sukapura.  Setelah semua Trooper mengisi bahan bakar, kami bergerak ke Hotel Sukapura yang hanya beberapa ratus meter dari SPBU Sukapura.

Kami tiba dihotel Sukapura pukul 01.20 WITA.  Alti meter di Trooper yang menunjukkan ketinggian desa Sukapura berada pada 1.450 meter diatas permukaan laut. Tidak heran udara sangat dingin. Kurang lebih 16 derajat Celcius. Hal ini membuat kami segera mengambil jakcket mauopun sweater untuk menjaga badan kami tetap hangat.   Tour Leader kami Pak Wiranto segera ke Lobby untuk registrasi dan mengambil kunci kamar.

Saya melihat-lihat ke sekeliling hotel. Hotel Sukapura ini mempunyai 40 kamar dengan bangunan berlantai 2. Dengan membayar Rp.125.000,- kita dapat menginap semalam lengkap dengan makan pagi berupa nasi goreng untuk dua orang.

Setelah menurunkan barang seperlunya, kami segera masuk kamar untuk beristirahat. Sementara waktu telah menunjukkan pukul 01.55 WITA atau 00.55 WIB. Dan semua Trooperist dan keluargaya masing-masing masuk kamar untuk berisitrahat untuk menjaga stamina dalam menempuh perjalanan panjang esok hari.

Esok hari kami berencana mengexplore Gunung Bromo dan lautan pasirnya……

Dewa-Juli/07

DK999YQ

Hi-Roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VII Yogyakarta. bag.1


Perjalanan TIG VII Yogyakarta

Seperti yang yelah direncanakan jauh-jauh hari KTI Bali akan berangkat untuk mengikuti Trooper Indonesia Gathering VII di Yogya dengan menyertakan 8 Trooper  ke Yogyakarta. Trooper Indonesia Gathering atau TIG ke VII yang dipusatkan di Bumi perkemahan Wonogondang di kaki Gunung Merapi, Yogya.  Artikel perjalanan ini akan kami bagi menjadienam episode  yaitu Perjalanan ke Gunung Bromo, Penjelajahan di Lautan Pasir Gunung Bromo, Perjalanan menuju Yogya, Perjalanan menuju Surabaya dan terakhir adalah Perjalanan kembali dari Surabaya menuju  Denpasar.

TIG VII akan di mulai dari tanggal 9 – 12 Juli 2007, namun demikian beberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, Cilegon, Semarang dan Yogyakarta.berangkat lebih dahulu dari jadwal. Dari pantauan di millis KTI Jakarta berangkat tanggal 7Juli 2007 pagi hari melalui Telaga Menjer, dan Guci, sementara KTI Yogyakarta dan Semarang telah mendahului diYogya untuk mempersiapkan segala sesuatunya demi lancarnya TIG VII ini.

KTI Bali sendiri rencananya akan berangkat pada tanggal 7 Juli 2007 sehabis sembahyang di Pura masing-masing. Mengingat tanggal 7 Juli itu adalah hari raya Kuningan yang merupakan hari raya besar umat Hindu Bali.

Setelah melalui diskusi dan kesepakatan bersama, akhirnya kami KTI Bali memutuskan untuk berangkat tanggal 7 Juli 2007 pukul 13.30 dari Denpasar.

KTI Bali rencananya akan berangkat dengan 7 Trooper dan 1 Stallion dan 1 Land Cruiser Putih, yaitu Dewa Dwipayana, Agung Wiratama, Agus Mahendra Pendit, I B Budi, Yudi, Ketut Sugiatha, Masihi Wiranto, Wayan Murya, dan Wiwin Gunawasika.

Namun saat-saat terakhir keberangkatan tanggal 7 Juli 2007 ternyata Wiwin tidak bisa ikut berangkat karena malam sebelumnya tanggal 6 Jli 2007 jam 02.00 subuh masih sangat  sibuk dalam even Grand final pemilihan Putri Bali yang akan mewakili Bali ke Pemilihan Putri Indonesia yang akan datang, sehingga tidak mungkin untuk dipaksakan berangkat. Karena itu yang jadi berangkat adalah 7 Trooper dan 1 Stallion 4X2 milik Pak Wayan Murya..

Beberapa minggu sebelum keberangkatan masing-masing Trooper mengalami pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan mulai dari mesin, kaki-kaki, lampu-lampu dan yang lain-lainnya.

Sementara Trooper Pak Budi malah dicangkokin mesin 4 JB1T. Dan hebatnya hanya dipasang dalam waktu relatif singkat. Mesin datang dari Jakarta tanggal 12 Juni 2007 dan tanggal  15 Juni mesin sudah naik ke bodi Trooper, setelah diadakan penyesuaian dengan berbagai assesori seperti AC, Altenator, up grade rem, knalpot dan asesori yang lain di sana sini, tanggal  2 Juli 2007 si Coklat milik Pak Budi siap di test jalan., walau pun untuk sementara tanpa kap mesin, karena kap mesin sedang mengalami operasi untuk menambah air scoope intercooler. Project ini benar-benar kilat. Semalam sebelum berangkat ke Yogya Kap mesin baru selesai terpasang. Jadi secara keseluruhan si Coklat belum sempat di test jalan dengan kondisi jalan yang buruk, karena baru sempat di test di jalan raya saja. Namun dnengan modal nekat Pak Budi tetap membawa si Coklat berangkat ke TIG VII Yogya dengan kondisi apa adanya.

Lain si Coklat lain juga dengan si Hijau milik Agung WIratama yang juga sedang menjalani eksperiment dengan pencangkokan turbo pada Trooper Hijaunya. Mengingat Turbo selama ini diketahui hanya cocok diapplikasi pada kendaraan bensin yang teklahmenggunakan injeksi bukan karburator. Nah Trooper Hijau Agung Wiratama masih menganut system karburator untuk supply bahan bakar ke ruang bakar mesin Trooper yang berkode ZD1. Tentu dengan supply bahan bakar akan membuat applikasi turbo membutuhkan beberapa penyesuaian yang cukup memakan waktu karena masih try and error. Begitulah si Hijau masuk ke rumah tune up hampir dua bulan lamanya. Namun sampai saat-saat terakhir keberangkatan belum juga menemukan setting yang pas untuk performace optimalnya. Namun karena waktu yang mendesak dan keinginan yang kuat dari Agung Wiratama untuk membawa serta si Hijau, sang tuner dari Maju Mandiri akhirnya melepas si Hijau untuk ikut berangkat ke Yogya dengan beberapa catatan yan harus di ikuti oleh Agung Wiratama selama mengendarai si Hijau. Dan jadilah kami berangkat ke Yogya.

Rute yang kami tempuh adalah melalui jalur tengah karena kami juga akan bermalam di Gunung Bromo.

Saya berangkat terlebih dahulu dari Denpasar karena hendak sembahyang terlebih dahulu di Kampung kakek di Tabanan. Saya dan keluarga berangkat pukul 10.15 dari Denpasar dan tiba di rumah kakek pukul  10.45 WITA. Setelah bersembahyang bersama, kami menunggu rombongan KTI Bali dari Denpasar  yang akan melintas di jalanutama didepan rumah kakek.

Pukul 13.55 WITA saya memantau rombongan KTI Bali dari Denpasar melalui radio komunikasi pada frequensi 143.120 Mhz yang ternyata sudah mendekat. Saya segera pamitan dengan sanak keluarga di kampung dan menunggu teman-teman KTI Bali di pinggir jalan raya utama.

Beberapa saat Pak Ketut Sugiata, Pak Wiranto dan Pak Wayan Murya melintas didepan saya, disusul oleh, Agung Wiratama, Agus Mahendra Pendit, dan terakhir IB. Budi. Tenyata Pak Yudi tidak ada dalam rombongan. Hal ini sedikit mengganggu fikiran saya, sebaba bagaimanapun juga sebagai ketua KTI Bali saya merasa bergtanggung jawab secara moral jika ada hal-ha yang terjadi yang menimpa salah satu anggota KTI Bali yang berangkat ke Yogya ini. Saya coba kontak ke teman-teman yang lain dan mendapat info bahwa Pak Yudi dan keluarganya telah brangkat mendahului rombongan untuk mencari saya untuk mengambil antenna Larsen yang saya siapkan untuk radionya. Namun setelah saya panggil-panggil di radio, tidak juga menjawab. Kekhawatiran semakin menjadi-jadidalam diri saya, namuntidak saya ungkapkan kepada teman-teman yang lain, khawatir akan mengganggu fikiran teman-teman yang lain, sehingga saya memutuskan untuk menunggu barangkali akan menunggu di tempat lain, atau mungkin juga mendahului dan menunggu dipelabuhan Gilimanuk.

 (bersambung)

dewa

DK999YQ
Silent-Hi-roof-Black-Trooper

(Reposted) Perjalanan KTI Bali ke TIG VIII Jawa Timur. bag. 7 selesai


Ringkasan cerita yang lalu :

Pukul 00.57 WIB saya dengar lamat-lamat beberapa kendaraan memasuki halaman parkir hotel didepan kamar. Saya mengintip lewat jendela dan tampak Agung Wira, Gusmang, Pak Frans dan Bli Boncel turun dari kendaraan sambil bercakap-cakap.

Akhirnya saya keluar kamar dan menanyakan kondisi si Hijau yang dijawab oleh Agung Wira bahwa hanya ada masalah kecil saja, hanya saja tidak ada yang tahu dimana masalahnya.

Saya kembali kekamar dan beristirahat 

 

Penanaman 1.000 pohon di Gunung Bromo

Kesokan harinya pukul pukul 06.11 WIB saya sudah terbangun dan ketika melongok keluar tampak Pak Wiranto dan Ican anaknya sudah membersihkan Trooper Hitamnya. Hari ini kami akan kembali berkumpul di Lava View untuk menanam 1.000 pohon cemara gunung di areal taman cagar alam Gunung Bromo beberapa ratus meter di belakang Hotel Lava View.

Saya turun dari kamar ke pelataran parkir hotel Sukapura ini untuk melihat-lihat kondisi siHitam dan juga kendaraanteman-teman yang lan.  Sejauh ini si Hitam sehat-sehat saja. Air radiator saya cek dan tidak ada penurunan sama sekali sejak diisi dari Bali, begitupun oli mesin. Dari deepstik terlihat oli masih tetap tidak berkurang dan viscosity atau kekentalanyapun masih sangat bagus. Kebetulan oli baru diganti beberapa minggu lalu karena sudah saatnya. Saya perhatikan juga keempat ban dan ban cadangannya. Si Hitam ini masih memakai Bridgeston 31 “ A/T yang lumayan sudah cukup berumur. Hampir 5 tahun..!!!  Dan kondisinya masih terbilang bagus. Sekitar 80%. Padahal sejak dibeli ban ini sudah sering diajak blusukan masuk hutan, masuk ke trek Lumpur tanah merah yang lumayan berat sehingga kaki kiri si Hitam ini sempat keseleo karena salah posisi ketika di winch untuk keluar dari cerukan yang cukup dalam saat fun off road di hutan lindung di Baturiti, Bedugul. Ban ini juga yang mengantar saya ke TIG VI, Bali, ke Bromo sebelum TIG VII Yogya ketemuan dengan teman-teman KTI Surabaya di Tanjung Perak dan sekarang ke TIG VIII.

Saya hanya menambah air di washer tank karena tinggal setengahnya, setelah dipakai untuk membersihkan kaca sepanjang perjalanan kemarin.

Selesai memeriksa kondisi si Hitam, saya kembali ke kamar untuk sarapan pagi yang telah disediakan oleh hotel. Sarapan pagi berupa nasi goerng dan secangkir teh manis.

Sehabis sarapan dan membersihkan diri, kami bersiap-siap untuk check out dan bergerak ke atas menuju ke Lava View untuk bergabung dengan teman-teman yang akan menanam pohon di lereng gunung itu.

1000 pohon cemara gunung di tanam dilereng gunung dibelakang Hotel Lava View. Dari halamam hotel ini kita bias melihat pemandangan di lautan pasir di bawah.  Suasana pagi yang mulai hangat menambah eloknya pemandangan di bawahsana. Sianr matahari pagi yang keemasan membuat pemandangandi bawah dilautan pasir berkilau dan semakin elok.

Penanaman 100 pohon  dimulai secara simbolis oleh Kepala Kehutanan setempat dan kemudian diikuti oleh seluruh peserta TIG VIII dan dalam waktu 2 jam seluruh pohon telah selesai di tanam.

Akhirnya acara TIG VIII selesai sudah dankami bersiap siap untuk kembali ke tanah Bali dena sejuta kenagnan manis yang tak mungkin terlupakan…

Semoga kebersamaan seperti ini akan terus berlanjut diantara keluarga besar KTI seluruh Indonesia.

salam kompak kebersamaan dari kami di Bali

dewa

DK999YQ

Silent-Hi-roof-Black-Trooper